
Hello! Im an artic!
Sekarang dirinya puas setelah memiliki putrinya serta cucu-cucunya.
“Tapi Nona Wu kelihatannya sakit hati sekali!” Du Jing berkata.
Hello! Im an artic!
“Bisa kah?” Pei Lingfeng teringat kalau wanita itu pergi ke “Penungguan” tak hanya sekali. Orang itu adalah cinta pertamanya, kenapa ia bisa sakit hati?
Du Jing tidak berkata lagi, sementara tatapan Pei Lingfeng jadi jauh. Di dunia ini tak ada pertemuan tanpa perpishan. Kekasihnya pada akhirnya akan menjadi temannya. Takutnya Wu Jingxuan bahkan tak ingin berteman dengannya! Setelah menahannya selama lima tahun, masa muda wanita itu sudah tidak ada lagi, takutnya ia pasti benci sekali padanya!
Malam di restoran “Penungguan”, suasana terang benderang.
Tak terasa, Wu Jingxuan datang kemari. Ia pernah bilang dirinya takkan datang kesini lagi. Tapi ia tetap datang, padahal tahu kalau tidak ada kemungkinan lagi untuknya, tapi ia masih datang untuk melihatnya sekilas.
Hello! Im an artic!
Hanya saja ia tidak masuk, hanya menatapnya dari sudut yang jauh.
Ia tidak berhutang apapun pada Pei Lingfeng, tapi malah berhutang pada Mi Le. Wu Jingxuan menghela nafas. Mungkin inilah nasib, orang-orang terpaksa tunduk pada nasib mereka. Orang sekuat apapun terpaksa menunduk, apalagi wanita lemah sepertinya.
Ketika ia tengah tertegun, ia melihat seorang pria dan wanita berjalan keluar dari pintu restoran. Pria itu tinggi dan tengah mengenakan jas, sementara wanitanya kecil dan mengenakan baju musim dingin berwarna putih. Ia memeluk lengan pria itu dengan mesra, keduanya berbicara sambil tertawa.
Wu Jingxuan tertegun. Pria itu adalah Mi Le, sementara wanita itu adalah Gong Tianer. Sedari awal ia sudah tahu Gong Tianer cukup menyukai Mi Le, tapi tak disangka akan secepat ini.
Sekarang mereka sudah bergandengan tangan.
Ia tersenyum pahit. Kalau begitu dirinya tenang, ia bisa pergi dengan tenang.
Ia bersembunyi di belakang sebuah tiang.
“Kakak Mi, kita pergi melihat bintang, oke?” Suara Gong Tianer manis, berkata manja, “Langit di Gunung Xi lebih jelas, kita pergi melihat disana saja!”
Mi Le tidak berkata banyak, hanya “Oke!”
Melihat bintang! Romantis sekali. Sudah berapa lama dirinya tidak melihat bintang. Wu Jingxuan tersenyum, sudut bibirnya membentuk senyum pahit.
“Cepat sedikit kakak Mi, cepat! Aku ingin melihat bintang!”
“Berhati-hati sedikit, memang pakaian yang kau kenakan sekarang cukup tebal?” Mi Le tak berdaya, melihat wanita yang tengah menggoyangkan lengannya. Ia menyentuh hidungnya, berkata lembut, “Bagaimana kalau kau demam?”
“Tak bawa baju! Kalau dingin ya sama seperti sebelumnya, bersembunyi dibalik baju besar kakak Mi…” Berkata sampai sini, Gong Tianer terdiam, wajahnya memerah, “Bawa baju besar itu?”
“Di dalam mobil, memang sengaja dipersiapkan untuk melihat bintang!” Mi Le tertawa, “Kalau kau tak keberatan kita pakai bersama!”
“Ah…”
“Ah apa?”
“Benci sekali pada kakak Mi!” Gong Tianer memasukkan kepalanya ke dalam pelukan Mi Le, keduanya berdiri di depan tiang.
Ia melihat Gong Tianer masuk ke dalam pelukan Mi Le, lalu melihat tangan Mi Le yang membeku sesaat di udara sebelum memeluk pinggang Gong Tianer.
Hati Wu Jingxuan langsung mencelos, mereka berdiri di depan tiang, sementara dirinya berdiri di belakang tiang. Rasanya ia bisa mendengar suara helaan nafas Mi Le, hatinya berdenyut sakit.
Benar!
Memang sudah waktunya ia mencari pacar baru, mana bisa ia mengharapkannya terus menunggunya seorang?
__ADS_1
Beberapa tahun ini,dirinya selalu berada disisi pria lain. Sementara Mi Le sendirian. Perasaan ini cukup untuk disimpan Wu Jingxuan seumur hidupnya, bagaimana mungkin ia melarang pria itu untuk tidak mencari pasangan seumur hidupnya?
Sekarang ia sudah bebas, tapi dirinya kotor sekali. Mana punya hak untuk berdiri di hadapannya?
“Kakak Mi, aku suka suka suka sekali padamu!” Tubuh Mi Le membeku, wajahnya menampakkan ekspresi yang rumit. Mungkin dirinya sudah benar-benar harus melupakan dan memulai hidup baru.
Ia membelai rambut Gong Tianer yang halus, sementara wanita itu juga masuk ke dalam pelukannya, mencium wangi sabun yang bercampur dengan rokok dalam dirinya, “Tianer, ayo kita pergi!”
“Ya!” Wajah Gong Tianer memerah malu. Ia menjinjit dan mengecup bibir Mi Le dan berlari cepat ke depan.
Wu Jingxuan melihatnya, sementara Mi Le melongo. Kemudian ia melihat Mi Le mengelus bibirnya dan terus menggeleng, “Tianer, pelan sedikit, nanti jatuh!”
“Hehe..” terdengar suara tawa milik Gong Tianer.
Lalu Mi Le berlari mengejarnya dengan langkah besar-besar…
Dari awal sampai akhir, Mi Le tidak menyadari keberadaan sosok di belakang tiang.
Wu Jingxuan tersenyum. Ia tersenyum tulus, tapi senyumnya juga penuh dengan kesepian, agak pahit, tapi ia benar-benar berbahagian untuk Mi Le. Ia menanyai dirinya sendiri, kalau posisinya berganti dirinya, Wu Jingxuan, apakah dirimu masih akan terus menunggu orang yang telah menjauh pergi darimu?
Jawabannya tidak.
Cinta kedua orang bagai lilin makan malam. Setelah pernah manis sekali, hanya akan tersisa rasa dingin. Dan setelah lilin makan malam padam, tak peduli kau tetap berdiri seberapa lama di tempat, pelayan takkan memberimu lilin yang baru lagi, hanya akan menyuruhmu membayar dan lalu pergi…
Mungkin inilah cinta!
Wu Jingxuan tersenyum sambil pergi. Kali ini, hatinya tidak lagi memiliki beban.
Hanya saja ketika ia menengadah, ia melihat Mi Ling. Dirinya agak kaget, “Mi Ling?”
Tatapan Mi Ling jatuh pada wajah Wu Jingxuan. Ia menyadari senyum Wu Jingxuan tenang sekali, lalu ia melirik pada kedua sosok yang beranjak pergi itu, “Memang kau tidak mencintai kakakku lagi kah?!”
Tatapan Wu Jingxuan berkilat sesaat, mengangguk, “Ya, aku tak lagi mencintainya!”
Mi Ling menghela nafas, “Kukira jika melihat pemandangan seperti itu malah akan membuatmu tak berdaya, tapi tak disangka kau malah tenang sekali. Nona Xuan Jing, kalau kau masih ingin memiliki masa depan dengan kakakku, sekarang cepat kejar. Mungkin masih ada kesempatan!”
Wu Jingxuan menggeleng dengan pasti, “Tidak, sedari awal aku sudah tak mencintainya!”
Meski jika berkata seperti ini sama artinya dengan berbohong pada dirinya sendiri, tapi Wu Jingxuan memutuskan untuk lupa. Sedari awal dirinya sudah tidak berhak. Ia telah menjadi kekasih Pei Lingfeng selama lima tahun, dan mereka telah bersama selama enam tahun, ia masih punya hak apa untuk berdiri di depan Mi Le? Pria itu membutuhkan wanita yang bersih, bukan seperti dirinya yang telah ternodai.
“Ayo kita pergi minum bir!” Mi Ling berkata.
Wu Jingxuan kaget, ia tidak pernah melihat Mi Ling yang sebegitu kesepian, maka ia berkata dengan penuh perhatian, “Mi Ling, minum bir tidak bagus untuk tubuh. Kau sedang sedih kah?”
“Tidak ! Aku segera menelepon Xiao Xue, kita pergi minum bersama saja! Meski kau tak lagi mencintai kakakku, tapi aku tetap suka denganmu. Kak Jingxuan, tak peduli kau jadi kakak iparku atau bukan, aku tetap suka denganmu! Aku tak benci lagi padamu!” Selesai mengatakannya, Mi Ling menelepon.
Hati Wu Jingxuan terasa hangat, dalam matanya terdapat bulir air mata.
“Xiao Xue, ini aku Mi Ling. Ayo keluar minum bir, aku dan Jingxuan segera pergi menjemputmu!” Mi Ling berkata.
Mu Xue tertegun sebentar di seberang telepon, begitu mendengar suara Mi Ling ia merasa kaget. Kemudian mendengar suaranya yang begitu kesepian, ia makin merasa aneh, Mu Xue teringat kalau ia belum menceritakan dirinya yang keguguran, hatinya sakit. “Mi Ling, sekarang aku tidak bisa!”
“Kenapa tak bisa?” Mi Ling bertanya, nadanya terburu-buru, “Apa kau tengah bersama Qin Yinuo? Memang kau tidak bisa membagi sedikit waktumu untukku?”
“Bukan begitu Mi Ling, aku tak tahu harus bagaimana memberitahumu, aku keguguran!” Nada suara Mu Xue jadi muram, hampir tak terdengar, tapi Mi Ling masih bisa mendengarnya.
“Sialan, kenapa bisa, kau di rumah kah? Aku pergi mencarimu!”
“Bukan, aku di, di rumah ayahku!”
__ADS_1
“Bukannya ayahmu itu sudah meninggal?”
“Ayah kandungku!”
“Oh! Ya ampun, tak peduli lagi, kau beritahu aku alamatnya. Aku pergi mencarimu!” Mi Ling saking khawatirnya sampai hendak bertemu dengan Mu Xue sekarang juga.
**
Ketika Wu Jingxuan mendengar kabar Mu Xue yang keguguran, ia juga kaget. Ia khawatir akan tubuhnya, maka Wu Jingxuan ikut bersama mobil Mi Ling untuk pergi menjenguk Mu Xue.
Di vila keluarga Pei, Wu Jingxuan bukannya belum pernah datang. Ia selalu tinggal di vila ini, sehingga ia sama sekali tak menyadari kalau Mu Xue adalah anaknya Pei Lingfeng.
Ketika dirinya dan Mi Ling muncul bersama di rumah keluarga Pei, ia melihat belasan bodyguard yang berpakaian jas hitam-hitam tanpa ekspresi berdiri di salah satu sudut taman.
“Jangan-jangan Xiao Xue punya ayah yang berupa seorang kepala preman?” Mi Ling kaget sekaligus menghela nafas, mobilnya belum masuk, hanya beradda di depan pintu, dan bodyguard berjas hitam langsung maju.
“Numpang tanya, apakah ini adalah Nona Mi Ling?”
Mi Ling dan Wu Jingxuan turun dari mobil, sementara Mi Ling tertegun, “Benar!”
“Harap ikut masuk denganku!” Bodyguard itu melirik sekilas pada Wu Jingxuan, seolah agak kaget.
“Ini adalah temanku!” Mi Ling berkata, “Tak boleh masuk kah?”
Mi Ling terkejut lagi. Aura seperti ini bukannya terlalu berlebihan? Tak disangka Xiao Xue akan punya ayah yang sekaya ini, cukup dilihat dari vilanya langsung tahu kalau mereka bukan keluarga biasa. Dan lagi para bodyguard ini, hah, benar-benar terlalu berlebihan.
Sang bodyguard melirik sekali lagi pada Wu Jingxuan, tanpa mengatakan apapun. Ia hanya berbicara melalui walkie talkie, “Tuan Du, nona Wu juga datang!”
Kemudian Du Jing keluar dari dalam vila.
Begitu melihat Du Jing, Mi Ling tertegun, ekspresinya agak bingung. Tatapan matanya juga berkilat sekilas, seolah tengah menyembunyikan sesuatu.
Tatapan Du Jing jatuh pada wajah Mi Ling, bertanya pada Wu Jingxuan, “Nona Wu, kenapa kau bisa datang?”
Wajah Wu Jingxuan memucat, ia hampir tak percaya. Menunjuk ke dalam vila dan berkata dengan suara bergetar, “Du Jing, apa ini tempatnya?”
Du Jing tidak berbohong, “Ya!”
“Aku mau pulang!” Wu Jingxuan membalikkan tubuh dan pergi.
“Kak Jingxuan, kau mau kemana? Xiao Xue kan didalam, kita masih bertemu dengannay!” Mi Ling menariknya. Entah kenapa dengannya. Tapi mereka kan sudah datang, kalau mau langsung ya tidak sopan.
“Benar, Nona Wu, masuklah!” Du Jing berkata dengan muram.
Wu Jingxuan tak berdaya. Ia menarik nafas dalam-dalam, hanya mengikuti mereka untuk masuk.
Ia berdiri di ruang tamu. Ketika melihat pria yang terduduk di sofa tengah ruang tamu, Wu Jingxuan tertegun.
Sementara Pei Lingfeng juga kaget, ia langsung berdiri.
Mi Ling bertanya ketika memasuki pintu, “Xiao Xue dimana?”
Tatapan Pei Lingfeng jatuh pada wajah Wu Jingxuan, membalikkan badannya dengan perlahan, “Du Jing, bawalah Nona Mi untuk pergi mencari Xiao Xue!”
“Baik, paman!”
Mi Ling kaget sekali. Pria yang kelihatannya agak ganteng, kulitnya yang terawat, tubuh yang tinggi dan besar. Di bawah kemeja putihnya, ia keliahtannya semakin ramping dan muda. Meski usianya paruh baya, tapi wajahnya sempurna sekali, ia terlihat lembut. Bulu matanya yang panjang dan lebat hitam pekat, matanya yang lembut tersenyum. Dirinya penuh dengan daya tarik yang memabukkan.
Kata orang pria berumur tiga puluh paling memesona, tapi begitu melihat Pei Lingfeng, Mi Ling terpaksa mengubah pemikirannya. Ternyata pesona diri tidak terbatas akan usia. Mungkin berdasarkan pertambahan usia, pesona diri orang juga akan bertambah. Sementara aura tubuh Pei Lingfeng menampakkan aura yang anggun dan seolah penuh dengan pengalaman hidup, membuat orang-orang merasa kalau dirinya berbeda, atau kata lainnya ia memiliki pesona seorang “Pria tua”.
__ADS_1
Mi Ling benar-benar hampir tak percaya, bertanya sambil tertegun, “Anda adalah ayahnya Xiao Xue?”
Pei Lingfeng tersenyum tipis, mengangguk.