AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 169 Taktik Siapa


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Qin Yinuo, aku bisa jalan sendiri!” Posisinya seekarang ini memalukan sekali. Kedua kakinya dipisahkan, dililitkan di pinggangnya. Dan lagi sepasang tangan Qin Yinuo diletakkan di pantatnya, maka dirinya hanya bisa melingkarkan tangannya di leher Qin Yinuo, menahan agar dirinya tidak jatuh.


“Aku mau menggendongmu!” Ia berkata. Tatapannya berkilat, namun tersirat sebuah kesedihan di dalamnya.


Hello! Im an artic!


Mu Xue agak khawatir, maka ia bertanya pelan, “Kau punya masalah apa?”


Qin Yinuo menggendongnya hingga ke atas kasur, lalu meletakkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Qin Yinuo menutupi tubuhnya, bergumam, “Aku menginginkanmu. Sangat amat ingin.”


Nafas Qin Yinuo dekat sekali, membuatnya geli.


“Tapi, kemarin malam bukannya…” Mu Xue memerah malu sambil mengernyitkan wajahnya.


Hello! Im an artic!


Qin Yinuo menggesekkan hidungnya di leher, bibirnya menyentuh kulitnya, “Aku takut!”


“Apa?” Sepertinya Mu Xue tidak mendengar jelas, lalu bertanya lagi, “Kau bilang apa?”


“Tak ada!” Ia berkata.


Ini sama sekali berbeda dengan dirinya yang biasa, sebenarnya ada apa?


Mu Xue agak curiga. Ketika melihatnya lagi, barulah ia sadar kalau wajahnya berada di depan matanya. Tak sampai lima senti meter. Qin Yinuo menatapinya begitu saja dalam diam, matanya yang hitam berkilat terang. Kemudian ketika Mu Xue tertegun, nafas Qin Yinuo langsung mengarah padanya, membuat Mu Xue tak bisa mengelak.


Ciumannya datang dengan begitu cepat. Bossy sekaligus lembut, membuat orang tenggelam di dalamnya…


“Istriku, kau cantik sekali!” Ia bergerak berirama, suaranya berubah jadi serak dan menghanyutkan.


Wajahnya mendekatinya, sementara Mu Xue langsung memejamkan matanya, wajahnya memerah. Ia tengah malu, bagai seorang gadis yang belum berpengalaman!


Di dalam sebuah vila di Kota Lu.


Sebuah hall utama berdekorasi mewah.

__ADS_1


Lampu menerangi hall, seorang pria tengah duduk di atas sofa dengan sebuah cerutu di tangannya. Kelihatannya ia seperti menunggu seseorang. Ia menghembuskan asap melingkar dengan anggun, sementara hall vila tersebut perlahan jadi penuh dengan bau cerutu.


Pria itu memiliki bahu yang lebar, lengan yang kokoh. Bisa terlihat kalau ia punya postur tubuh yang lumayan.


“Tuan, Anda masih ada perintah apa?” Pelayan berjalan mendekat, bertanya dengan penuh hormat.


Pria itu menghirup cerutunya sesaat, lalu memngeluarkan sebuah amplop. Sepertinya di dalamnya terdapat uang yang tidak sedikit, “Xu Sao, besok sudah natal. Kuberi kau libur tiga hari, tunggu telepon dariku! Sekarang kau sudah boleh pergi dari sini!”


“Baik!” Xu Sao menerima amplop itu dan pergi.


Pria itu melihat waktu jam tangan untuk sesaat dan mengerutkan wajahnya, terus merokok.


Setengah jam kemudian, sebuah taksi berhenti di luar pintu vila. Seorang wanita yang memakai topi dan kacamata hitam melirik sekeliling dengan berhati-hati, berkata pada sopir dengan dingin, “Kau pergilah dulu!”


“Baik!”


Ia melirik sekali lagi ke sekeliling, setelah memastikan tidak ada orang barulah ia memasuki vila.


Melihat wanita yang berjalan masuk, pria yang duduk di sofa itu tersenyum. Saat ini barulah sang wanita melepaskan topi dan kacamata hitam, menampakkan rambut panjangnya, wanginya yang segar tercium. Ia memiliki wajah yang cantik dan dingin, selain wajahnya yang terlalu dingin, wajahnya malah cantik sekali.


“Kau terlambat!” Pria itu berkata dengan murung.


Wanita itu berjalan mendekat, duduk di seberang sang pria. Ia meregangkan tubuhnya dengan malas, kakinya yang panjang memutar perlahan, “Keadaan kakakku tak terlalu baik, sehingga menunda sedikit waktu. Kau memanggilku kemari untuk apa?”


Wanita itu melirik sekilas pada pria yang duduk di sofa. Ia tertawa ringan sesaat, melihat kemeja hitam pria itu yang menampakkan bentuk tubuhnya. Sementara di kerahnnya yang terbuka menampakkan otot yang kuat berwarna kecoklatan.


“Kakakmu masih bisa sembuh kah?” Pria itu mengerutkan alisnya, suaranya terhitung dingin.


Wajah wanita itu dingin dan menyiratkan sebuah ketidakberdayaan. Sementara di tatapannya berkelebat sebuah rasa benci, “Tak tahu! Mungkin tak bisa sembuh lagi! Masalah ini, aku akan menghitungnya perlahan dengan Qin Yinuo…”


Pria itu tertawa dingin sebentar, lalu mengangkat bahunya, menghirup cerutunya dengan anggun, “Kau sudah kalah!”


“Belum tentu!” Wanita itu tertawa dingin, “Dan kau telah bekerja untuknya selama ini, apa keuntunganmu?”


“Dia sudah jatuh cinta pada Mu Xue!” Pria itu menaikkan bahunya, berjalan mendekat. Tatapannya penuh dengan penghinaan, “Sementara belakangan Zeng Li sedang panas-panasnya dengan Zeng Yangyang, sepertinya dia sudah jatuh cinta pada Zeng Yangyang!”


“Bukannya kau ada diluar negeri?” Wanita itu mengerutkan wajahnya dan bertanya, “Kau tahu semuanya?”

__ADS_1


“Kaget?” Pria itu duduk di samping wanita tersebut, mengulurkan tangan untuk menariknya masuk ke dalam pelukannya.


“Tak salah!” Wanita itu keluar dari pelukannya.


“Jangan bergerak!” Tatapan pria itu jadi kasar dan tanga besarnya menekan pundak wanita itu dengan keras, tenaganya seolah bisa menghancurkan tulangnya jadi berkeping-keping.


“Ouch–” Wanita itu berteriak sesbentar, tubuhnya kesakitan. “Yan, lepaskan. Kau membuatku sakit!”


“Kau wanita bodoh, sudah kalah masih keras kepala!” Setelah pria itu menatapi wanita itu selama sesaat, ia melepaskan tangan besarnya. Kemudian mendorong wanita itu menjauh. “Sekarang kau masih punya satu kesempatan untuk memisahkan Qin Yinuo dan Mu Xue. Tapi kalau pun berhasil, dia takkan mau bersama kakakmu lagi!”


“Aku tahu! Mungkin kakakku takkan sembuh lagi, ada yang lebih mencintai kakakku dibanding Qin yinuo. Tapi kakakku tidak tahu. Aku hanya ingin memisahkan Qin Yinuo dengan Mu Xue, membuat hidup mereka menderita. Ini adalah hutangnya pada kakakku!” Wanita mendengus dingin sesaat dan mendekat. Tangan kecilnya masuk ke dalam dada pria itu, bagai seekor ular yang membuka kancingnya satu per satu.


Bibir pria itu membentuk senyuman, tidak menghentikan maksud wanita itu, “Senangkan aku sebagai gantinya!”


“Mau berapa lama?” Wanita itu bertanya dengan tubuh yang bergetar.


“Tiga hari tiga malam!” Tatapan gelap pria itu jadi senang, “Aku sudah kelaparan lama sekali!”


Bibir wanita itu berkedut, “Baik! Tiga hari tiga malam, aku berjanji untuk mengenyangkanmu! Tapi kau harus membantuku…”


Bibir pria itu membentuk senyum tak berbahaya, tapi kata-katanya malah dingin sekali, “Tentu, pertukaran yang adil!”


“Aku tak pernah tahu tubuhku sebegitu memikatnya, bisa membuatmu tergila-gila. Sudah enam tahun, Yan, kau mau wanita seperti apa? Kenapa menginginkanku?” Ia mengulurkan tangan lentiknya untuk diletakkan di depan pria itu. Nadanya yang manja sekaligus dingin menyiratkan sedikit kemesraan serta kebingungan.


“Ini bukannya sesuai dengan yang kau suka? Membuat pria tergila-gila padamu, menampilkan daya pikatmu!” Pria itu tertawa rendah, bibirnya yang seksi membelai telinganya.


Telinga wanita itu membawa rasa panas dan membuat tubuhnya yang sensitif bergetar. Bibir seksi wanita itu tersenyum. Ia tidak tahu tidak ada pria yang bisa menahan daya tariknya, kecuali Zeng Li.


Tangan kecilnya bergerak membuka kancing di depan dada sang pria, satu demi satu kancing terbuka, menampilkan dadanya yang seksi…


***


Ketika Qin Yinuo terbangun, hari sudah malam.


Ia dan Mu Xue telah berguling di atas ranjang lama sekali, sekarang Mu Xue sudah kelelahan.


Di kegelapan, ia menoleh menatapi wanita itu. Tampak sosoknya yang samar-samar terlihat damai. Wajah kecilnya yang kelelahan. Tatapan Qin Yinuo menyiratkan kesediha. Meski ia memilikinya dengan mendalam, tapi ia masih tidak tenang. Ia harus menikahinya secepatnya, hanya dengan begitu ia bisa tenang.

__ADS_1


Sementara Mu Xue yang tengah terlelap tidak melihat ekspresi Qin Yinuo saat ini. Ia juga tidak tahu akan keresahannya dalam hati.


__ADS_2