
Hello! Im an artic!
Song Yin ingin menangis melihat anak ini diam-diam bertelepon, dia benar-benar cerdik, sangat pintar, ternyata dia diam-diam menghubungi ibunya tanpa memberitahu Han Lie, bisa juga begitu?
Diam-diam menutup teleponnya, berhati-hati mematikan ponselnya, meletakkannya kedalam saku, membalikkan badan tiba-tiba melihat Song Yin, seketika membesarkan mulutnya. “Tante, kamu diam-diam mendengar aku berbicara!”
Hello! Im an artic!
“Aku bukan sengaja!” Song Yin berbicara sambil tersenyum, berjalan kesampingnya, mengambil posisi berlutut, tatapannya dan Mo Mo sejajar. “Tante salah, benar bukan sengaja!”
“Mo Mo berpikir sejenak, mengangguk. “Aku memaafkanmu, namun tante harus merahasiakannya, dilarang memberitahu daddyku persoalan ini!”
“Kenapa?”
“Karena mummy tidak ingin membiarkan daddy tau!”
Hello! Im an artic!
“Tapi daddymu sangat khawatir!”
“Mummy bilang, harus menunggu daddy sangat sangat sangat sangat khawatir baru pulang, kembali sekarang tidak ada posisi!”
Song Yin terkejut, ketidakberdayaan melintas diwajahnya, ternyata anak ini sedang membantu mummy dan daddy, mengangguk, dengan serius berjanji : “Baik, tante tidak akan mengatakan sekata pun!”
“Aku percaya dengan tente!” Mo Mo tersenyum.
“Song Yin, Mo Mo, dimana kalian? Cepat datang bantu-bantu!”
Song Yin dan bibi Qian menyiapkan meja makan, taplak meja dilempar keatas meja makan kayu bulat, udara yang segar, bercampur dengan aroma makanan yang sedap, rasanya sangat menusuk, dan menggoda selera makan orang.
Membalikkan badan, dibalik cahaya yang redup, sosok bayangan Yu Jinglan yang tegap membuat orang menghela nafas, Tuhan sangat pengasih, wajahnya memang sudah sangat tegas, malah memberinya lagi bayangan yang begitu panjang.
Yu Jinglan membalik rangka besi di atas arang yang terbuat dari kayu pinus, dan tidak lupa mengoleskan bumbu pada seluruh permukaan domba.
Han Lie merokok di samping, sambal merokok sambil memerintah : “Di bagian ini masih belum teroles bumbu, benar, sana! Sana lagi!”
Yu Jinglan tidak sabar, alisnya mengerut, menaburkan segenggam garam : “Kamu asal memerintah, bagaimana jika kamu yang memanggang, aku yang memberitahumu?”
“Sudahlah, anggap saja aku tidak berbicara!” Han Lie memegang hidungnya, tersenyum berkata pada Song Yin yang sedikit jauh : “Song Yin, kamu bantu dia saja, Lan sangat sulit dilayangi, kamu mana bisa bertahan padanya!”
Song Yin mendengus, iya, emosi Yu Jinglan sangat besar, Song Yin tersenyum dan berjalan kearahnya, melihat wajah busuknya Yu Jinglan , dan keringat karena panasnya api panggangan, seketika mengerti mengapa dia begitu emosi. Memang lagi musim panas, ditambah lagi barbekyu, sangat panas, jidatnya semua berkeringat, Song Yin tersenyum lembut, mengeluarkan sapu tangannya, dengan lembut menyeka keringat dikeningnya. “Perlu kubantu?”
Ekspresi Yu Jinglan menjadi datar karena kelembutan Song Yin, dia sudah mau mati terbakar, sangat panas, memanggang dengan begitu susah payah untuk makan bersama, malah diperintah Han Lie kesana dan kemari, sungguh membuat orang emosi.
Yu Jinglan mengecap bibirnya, wajahnya busuk, tampak emosi kekanak-kanakkan diwajah tampannya, diam dan membiarkan Song Yin menyeka keringatnya, dan tidak lupa membalik dagingnya. Tunggu selesai menyeka, tatapannya juga sudah berubah menjadi lembut, menatap Song Yin dengan dalam, tidak berbicara.
Song Yin berada di sampingnya, kemudian mengambil sikatnya, “Kakak Yu, biar aku yang mengolesnya, kamu mundur sedikit, kamu tinggal membalikkannya saja.”
Song Yin juga mengambil semua kursi menyuruh Yu Jinglan mundur sedikit, menghindari pemanggangan.
__ADS_1
Yu Jinglan menolehkan kepala melihat ke meja makan, tidak ada orang, Han Lie dan Mo Mo tidak tau kemana.
Setelah Song Yin meratakan bumbu, ia melihat ada keringat dikening Yu Jinglan lagi, membantunya menyeka lagi, bertanya dengan perhatian : “Sangat panas ya? Keluar begitu banyak keringat!”
Yu Jinglan mengerutkan kening, merangkulnya, memeluknya kedalam pelukannya. Song Yin tidak menghindar, dipeluk olehnya dan dicium. Hingga dia tidak ada tenaga melanjutkannya, meminta ampun dengan suara rendah. “Kakak Yu, panggang daging!”
Yu Jinglan baru melepaskannya, setelah itu, wajah Song Yin terasa panas, mulai berkeringat dikeningnya.
Yu Jinglan menatapnya, senyuman aneh tiba-tiba muncul dikeningnya, menarik tangan Song Yin, menciumnya, baru melepaskannya. Ciuman seperti itu sangat mesra membuat jantung Song Yin berdebar kencang, ia panik dan membuang wajahnya.
Seketika, hanya terdengar suara gemerisik api arang, mencicit.
Song Yin mengoles bumbunya lagi, aroma barbekyu semakin menggoda.
Yu Jinglan duduk diatas kursi, merokok, memutar perlahan.
Song Yin membalikkan badan melihatnya, menggigit bibirnya, mau berbicara namun terhenti.
Siapa sangka Yu Jinglan mengerti pemikirannya. “Ada apa langsung katakan!”
Song Yin melihat rokok ditangannya, berkata dengan suara rendah : “Apa kamu tidak bisa mengurangi merokok?”
Yu Jinlan terdiam, menggenggam erat rokok ditangannya, dan dia menghisapnya lagi, menatap Song Yin. “Kamu mau mengurusku?”
Song Yin tau dia salah paham, menggelengkan kepala. “Aku bukan mau mengurusimu, namun merokok tidak baik untuk kesehatan, lebih baik kamu menguranginya!”
“Kenapa aku harus mendengarmu?” Yu Jinglan bertanya balik, juga tidak jelas apa intonasinya.
“Aku mau merokok!” Yu Jinglan mengeluarkan asap putih, menghalangi tatapan senyumannya.
Song Yin sedikit canggung, sekali lagi merasa dia sangat kekanak-kanakkan. “Kamu tidak boleh tidak menjaga kesehatanmu, mama, mama kamu bisa khawatir.”
“Kamu bisa khawatir?” Satu tangannya mengapit rokoknya, dan satu tangannya lagi membalik panggangan, wajah tampannya tersenyum.
Tubuh tingginya bergerak, duduk tegap, bersandar kearah Song Yin.
Song Yin sedikit bersalah, ingin bilang khawatir, namun kata itu tersangkut dimulut, malu untuk berbicara, karena dia hanya akan menertawakannya, sudut bibirnya terangkat.
“Kamu tidak mengawatirkanku?” Yu Jinglan mengerutkan alisnya.
“Kamu berkeringat lagi!” Song Yin menyeka keringatnya lagi, dan sekalian mengalihkan topik pembicaraan.
Yu Jinglan malah menahan pergelangan tangannya, Song Yin menaikkan pandangannya dengan panik, senyuman Yu Jinglan sombong : “Apa sangat sulit bilang hawatir?”
Seluruh tubuhnya diseret kedalam pelukannya, Song Yin melonggarkan tangannya, sapu tangannya terjatuh ke lantai, abu rokok di sela jarinya juga terjatuh kelantai, satu tangannya lagi tidak lupa membalik panggangan.
Tangan Yu Jinglan menahannya dengan erat, Song Yin mencium bau rokok yang familiar, Yu Jinglan memeluknya dengan erat.
“Jika kamu mengawatirkanku, aku tidak akan merokok!” Terdengar suara serak pria itu, suaranya sangat dekat.
__ADS_1
Song Yin tertegun, maksudnya?
Yu Jinglan menundukkan kepala mencium wajahnya, sayang sekali, sedikit kekanak-kanakan, berkata dengan suara rendah : “Jika kamu tidak mengawatirkanku, aku akan merokok! Merokok hingga mati!”
Takut Yu Jinglan tidak melepaskan dirinya, Song Yin menaikkan pandangannya dengan panik, melihat Mo Mo berlari dari kejauhan, bergegas berkata : “Aku mengawatirkanmu, aku mengawatirkanmu! Kakak Yu, cepat lepaskan aku, Mo Mo sudah datang!”
“Wah! Paman dan tante lagi bermain ciuman ya!” Mo Mo berteriak dari kejauhan.
Song Yin semakin berusaha melepaskan diri, Yu Jinglan tidak melepaskannya, seperti sengaja membuatnya malu, satu tangannya memeluk Song Yin, satu tangannya lagi tidak lupa kerjaannya, menempelkan dahinya ke dahi Song Yin, menyeka semua keringatnya ke dahinya, keringat keduanya bercampur menjadi satu.
Mo Mo juga tidak peduli dengan situasi mereka saat ini, langsung berlari, membesarkan matanya dan berteriak : “Tante malu, paman Yu, tante menginjak kakimu! Hahahaha… ”
“Mo Mo… ” Song Yin berteriak dengan pelan.
“Tante, tidak perlu malu, aku tidak akan menertawakan kalian.” Mo Mo si hantu kecil.
Song Yin menginjak kaki Yu Jinglan baru berhasil melepaskan diri dari pelukannya, dan saat ini, Yu Jinglan tersenyum dan berdiri, mengenakan sarung tangan tebal, dan menarik rangka besi keatas. “Daging sudah siap, sudah bisa makan!”
Makan malam di penggunungan yang nyaman, Han Lie menaikkan gelas alkoholnya, menyulang Yu Jinglan Song Yin dan Mo Mo, hanya saja dalam gelas Mo Mo berisi jus stroberi yang di produksi sendiri, dan dalam gelas Yu Jinglan Han Lie dan juga Song Yin adalah anggur yang dibuat sendiri.”
“Aroma alkohol ini sangat enak!” Yu Jinglan mencicipinya. “Keterampilan membuat anggurmu semakin hebat!”
Song Yin juga merasa lumayan, rasanya berbeda dengan anggur yang biasa dibeli, anggur yang biasa dibeli seperti ada rasa sepat, namun anggur yang dibuat sendiri tidak, rasanya halus, sekali coba sudah tau bahwa ini adalah anggur.
Daging bakarnya enak, anggurnya manis, stroberi yang segar, sangat meningkatkan selera.
Yu Jinglan memotong daging, meletakkannya pada piring Song Yin. “Ini yang paling empuk, coba!”
“Aaa! Paman Yu pilih kasih, aku juga mau yang empuk, aku adalah anak kecil, paman Yu bahkan tidak menjaga anak kecil.”
“Bocah busuk, bukankah aku sudah memberikan yang besar padamu tadi? Habiskan dulu yang dipiringmu! Jangan menyisa.” Yu Jinglan tidak peduli apa yang dikatakan orang lain.
“Aku sini sudah tidak ada daging, Lan!” Han Lie juga ikut meminta. “Potongkan sepotong untukku!”
“Potong sendiri, pisau tertancap di atas daging, kamu tidak ada tangan?” Yu Jinglan meliriknya, tidak membantu.
Song Yin menundukkan kepala, juga tidak berbicara. Hanya merasa hubungan mereka sangat lucu, sebentar-sebentar berantem. Kedua pria ini memang kelihatan seperti teman yang sangat baik, namun keduanya sering berantem, dan Song Yin hanya bisa diam.
Han Lie melirik Yu Jinglan dengan lembut, tersenyum lembut, senyuman tenang berlalu seperti angin musim semi, “Lan, kamu semakin tidak gagah!”
“Maaf, kegagahanku hanya kepada wanita!”
“Oh, benarkah?” Nada Han Lie sangat menghina, tertawa pelan dan berkata. “Sejak kapan kamu pernah gagah pada wanita?”
“Tante, apakah paman Yu gagah padamu? Tadi sepertinya aku melihat . . . . ” Mo Mo mengerutkan kening mungilnya, “Tadi aku melihat paman Yu kamu mencium tante, tante tidak memberikanmu menciumnya, tidak mendapat izin pada wanita terlebih dulu langsung melakukannya, sedikitpun kamu tidak gagah!”
Seketika, ketiga orang itu diam melihat Mo Mo berbicara tanpa henti, wajah Song Yin semakin merah.
Yu Jinglan sedikit canggung, “Mo Mo, boleh makan banyak, namun tak boleh berbicara banyak! Apakah daddymu tak pernah mengajarkannya?”
__ADS_1
Yu Jinglan mengulurkan tangannya, menepuk kepala Mo Mo dengan tidak segan, kemudian melihat Song Yin yang menunduk didepannya dengan sedikit kesal. Mungkin merasa sedikit malu, Song Yin menaikkan gelasnya dan meneguk anggurnya, menyembunyikan rasa malunya.
“Paman Yu, kamu jangan memukul kepalaku, jika aku berubah menjadi bodoh, kamu harus mengasuhku!” Mo Mo menatap Yu Jinglan dengan kesal, wajah mungil tampannya berlagak seperti orang dewasa, “Paman Yu, menjadi pria tidak boleh terlalu sesuka hati, jika mau mencium wanita harus meminta izin terlebih dulu, jangan karena menjadi suami orang, dan bertindak sesuka hati!”