
Hello! Im an artic!
Kepala Mu Xue terasa sangat sakit dan pusing, “Pusing sekali! Panas sekali! Aku merasa terbang.”
Tuan rubah melihat Mu Xue yang sedang mabuk. Dia berbisik di telinga tuan rubah, “Aku menginginkan anakku!”
Hello! Im an artic!
Tuan rubah bergumam, “Aku akan mengembalikannya kepadamu. Ku harap kamu tidak membenciku!”
Mu Xue yang sedang mabuk melihat tuan rubah melepaskan topengnya. Laki-laki yang berdiri depannya adalah atasannya sendiri, Qin Yinuo!
“Pak …,” ujar Mu Xue yang tidak sadarkan diri karena mabuk.
“Panggil aku Nuo!” Ujar Qin Yinuo.
Hello! Im an artic!
“Nuo … Nuo … Nuo …,” Mu Xue mengulang-ulang nama tersebut.Qin Yinuo menggendong Mu Xue ke dalam kamar, “Lihat aku!” perintah Qin Yinuo sambil memegang dagu Mu Xue. “Pak ….”
“Panggil namaku, Nuo!”
“Nuo,” Mu Xue mengulang nama tersebut.
Qin Yinuo menarik tangan Mu Xue kemudian mencium bibirnya, berlanjut ke leher sambil memeluknya erat.
__ADS_1
Malam ini Qin Yinuo seperti seekor kuda liar. Dia tidak tidur semalaman.
Ketika pagi hari, Mu Xue terbangun. Dia tidak melihat seorang pun di sebelahnya. Dia berpakaian kemudian bersiap meninggalkan tempat itu.
“Nona, tuan berpesan untuk mengantar nona pulang dan kembali menjemput nona pada hari selasa!” ujar paman supir.
Mu Xue menganggukkan kepalanya. Di dalam perjalanan Mu Xue bertanya, “Paman, apakah kamu pernah melihat wajah dari tuan tersebut?”
Paman supir menggelengkan kepalanya, “Tidak, dia hanya meneleponku.” Ketika sampai di depan gang, dia melihat Ceng Li, “Ceng Li, kenapa berada di sini?”
Mu XUe mempersilahkan Ceng Li untuk mampir ke rumahnya.
“Paman Li!” sapa Chengcheng, “Lama tidak berjumpa, paman semakin tampan saja!”
“Hahahaha,” Ceng Li tertawa mendengar godaan Chengcheng.
“Aku hanya merasa bosan di rumah. Chengcheng paman membawakanmu hadiah!”
Ceng Li mengeluarkan banyak sekali mainan.
“Wah, Ceng Li. Ini terlalu banyak! Sungguh terlalu merepotkanmu!” ujar Mu Xue.
“Jangan berkata seperti itu! Chengcheng apakah kamu suka?”
“Wah, banyak sekali! Suka, suka! Terima kasih paman!” ujar Chengcheng yang kemudian melanjutkan ucapannya, “Paman apakah kamu menyukai mamiku?”
__ADS_1
“Tentu saja. Paman menyukai wanita,” jawab Ceng Li.
“Wah paman terlalu playboy. Paman tidak cocok dengan mami!” ujar Chengcheng. “Ah? Bagaimana kalimat itu bisa keluar dari anak berusia 5 tahun seperti mu?” ujar Ceng Li.
“Paman, bisakah kita membicarakan sesuatu?”
“Tentu saja!”
“Paman, jika paman hanya ingin bermain-main tolong jangan mempermainkan mamiku. Aku tidak ingin ada seorang pun yang menyakitinya!” pinta Chengcheng sambil menepuk pundak Ceng Li.
“Wah! Tenang saja, paman adalah seorang lelaki yang bertanggung jawab!”
“Aku akan mempercayai pamana kali ini! Jika paman berlaku baik, aku akan mengijinkanmu untuk mendekati mami!” ujar Chengcheng dengan senyum lebar, “Lagi pula aku juga cukup menyukaimu, paman.”
Bab selanjutnya Bab 58 Hadiah
“Waktunya makan! Ayo cuci tangan!” perintah Mu Xue.
“Paman ayo cuci tangan!” ajak Chengcheng.
Setelah mencuci tangan mereka duduk untuk menyantap makanan tersebut.
“Oh ya hari selasa nanti aku ingin membawa Chengcheng menghadiri rapat pembukaan untuk game yang dia ciptakan.”
“Hari selasa?” tanya Mu Xue.
__ADS_1
“Paman, apakah aku bisa bertemu dengan paman Da Niao? Bawa aku untuk bertemu dengannya,” tanya Chengcheng.