AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 131 Segalanya Telah Berlalu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Meski sudah tahu dari awal kalau ia akan melihat adegan mesra, dan ia telah mempersiapkan diri dari awal, tapi begitu benar-benar melihatnya, ia tetap sakit hati.


Rasanya hatinya sakit bagai ditusuk-tusuk, air matanya jatuh tanpa disadari. Adegan mesra itu telah melukainya!


Hello! Im an artic!


Mu Xue rasa tenaga seluruh tubuhnya terisap habis, tatapannya masih tetap berada di sosok Qin Yinuo dan Mo Yilan. Keduanya tengah berciuman, mereka pernah semesra itu. Hal ini benar-benar menyakiti hatinya!


Tapi Mo Yilan yang sekarang malah selemah ini, mungkin setelah dirinya sembuh, ia akan kembali menjadi wanita cantik yang disukai siapapun. Dan mungkin Qin Yinuo akan kembali bersamanya.


Mungkin benar kata Mo Yihui, dirinya akan menjadi masa lalu Qin Yinuo!


Tiba-tiba ada sebuah sosok yang menutupi dirinya yang melihat adegan itu, seseorang duduk di depannya.


Hello! Im an artic!


Menyebalkan! Pikirnya. Ia menengadah, malah melihat sesosok pria ganteng bertubuh tinggi yang duduk di depannya, dan ia memberikan sehelai tisu padanya.


Mu Xue tertegun, baru sadar kalau dirinya tengah mengalirkan air mata.


Ia langsung menutup albums foto itu, lalu meletakkannya ke atas meja. Ia tidak menerima tisu tersebut, malah menyekanya dengan tangan, berkata dengan pelan, “Tuan Han, kenapa Anda bisa ada disini!”


Han Lie tidak mengatakan apapun, malah mengambil album tersebut dan membukanya–


“Tuan Han, itu benda milikku!” Mu Xue mengulurkan tangan untuk merebutnya.


Han Lie malah menghindar, meliriknya dengan dingin, berkata, “Aku hanya tengah melihat benda apa yang membuat wanita cantik ini menangis!”


Mendengarnya, Mu Xue mengerutkan wajahnya. Ia duduk dan tak mengatakan apapun, membiarkan Han Lie membuka album tersebut.


Ia memejamkan mata sambil menghirup nafas dalam-dalam, hatinya kesal.


Qin Yinuo sebegitu cintanya dengan Mo Yilan, ia tak bisa melupakan hal itu. Pertama kali ia menerima teleponnya, ketika memanggilnya “Laner!” nada suaranya lembut sekali. Ternyata kalau mencintai seseorang, ia benar-benar akan sangat peduli dengan hal-hal itu!


Kenapa dirinya sepelit ini? Kenapa hatinya sesedih dan sesakit ini, padahal dirinya tahu hal ini telah berakhir, tapi ia masih sedih! Padahal ia tahu Mo Yihui sengaja membuat dirinya meninggalkan Qin Yinuo, tapi ia masih sakit hati.


Han Lie membuka album tersebut hingga akhir. Raut wajahnya semakin mengeras. Sampai lembar terakhir, tangannya memegang album itu dengan erat, jelas-jelas hendak merobek album itu.


Mu Xue menengadah melihat wajahnya yang berkedut, wajah gantengnya yang muram jadi terlihat makin mengerikan, “Tuan Han? Anda tak apa-apa?”


Mendengar perhatian Mu Xue, sudut bibir Han Lie terangkat. Tapi ia hanya tersenyum dingin, tatapannya menyapu dingin, lalu ia menutup album itu dengan keras, meletakkannya di atas meja. “Sepertinya ini adalah foto-foto Presiden Qin si Qin Yinuo dengan mantan pacarnya!”


“Anda juga kenal dengan Nona Mo?” Mata Mu Xue membesar. Mo Yilan sepertinya sudah pergi tiga tahun lamanya, kenapa Han Lie bisa kenal dengannya? Ia menatapi pria itu dengan curiga, namun kemudian melihat album yang dipegangnya jadi berubah bentuk! Tenaganya tidakkah terlalu berlebihan?


“Bagaimana perasaanmu setelah melihatnya?” Tatapan Han Lie terkunci di wajahnya.


Ia tertegun, menarik nafas dalam-dalam dan berkata jujur, “Sakit hati sekali!”


“Oh?”


“Tapi sekarang sudah tidak apa-apa!” Ia tersenyum, senyumnya tipis sekali, sementara kedutan alisnya terlihat sedih. Ia berkata pelan, “Menurutku kalau sudah berlalu ya berlalu, seharusnya hargai saja kebahagiaanku saat ini. Foto lama hanya mewakili masa lalu, apalagi foto ini bukan Qin Yinuo yang menyimpannya. Ini adalah benda milik Nona Mo Yilan. Ini adalah pemberian adiknya, ia ingin aku meninggalkan Qin Yinuo. Tapi kurasa orang yang dicintai Qin Yinuo saat ini adalah diriku. Memang tak ada yang bisa menghapus masa lalu, aku juga tidak bisa memutar balik waktu, jadi sebaiknya kuacuhkan saja.”


“Benar-benar bisa berlalu kah?” Han Lie bertanya dengan suara rendah, seolah tengah menanyakan Mu Xue, namun seolah juga tengah menanyakan dirinya sendiri.


“Hehe, ketika senyuman kekasihmu pada orang lain menusuk perasaanmu, ada berapa banyak orang yang bisa mengacuhkannya? Kalau bilang tidak peduli itu tak mungkin, tapi kalau kau peduli memangnya bisa bagaimana lagi? Dibandingkan dengan diriku yang mencintainya, meski dulu cintanya bersemi, tapi sekarang juga jadi tak berharga lagi!”

__ADS_1


“Nona Mu! Kau tahu tidak, sebenarnya ada sesuatu yang penting sekali di dunia ini. Ini adalah memori. Ada orang yang tak bisa lepas dari memori, kalau kedepannya mereka saling mencintai satu sama lain lagi, kau masih bisa berkata seperti ini kah?”


Hati Mu Xue berkedut. Tanpa sadar ia menengadah, tatapannya bertemu dengan Han Lie. Tatapan pria itu bagai lubang tak berdasar, seolah bisa menembus isi hati Mu Xue. Maka ia segera menepis tatapannya, “Aku akan merestui mereka!”


Ia tersenyum dingin, “Kalau benar semudah itu, untuk apa kau menangis diam-diam?”


Hati Mu Xue melompat-lompat cepat. Pria ini terlalu mengerikan, ia bisa melihat menembus isi hatinya. Ya, dirinya memang semudah ini, tapi itu hanyalah dirinya yang tengah menghibur diri sendiri agar ia tak peduli. Tapi sebenarnya hatinya sakit sekali!


Mu Xue mengambil album itu, dan tatapan Han Lie berubah. “Kalau kau tak ingin melihat foto-foto itu, lebih baik berikan saja padaku! Aku suka mengoleksi foto pria ganteng dan wanita cantik seperti itu!”


“Kalau Tuan Han suka foto-foto seperti ini lebih baik cari orang lain saja. Ada yang lebih ganteng dari pria ini, kalau foto ini tak bisa!” Mu Xue tersenyum tipis. Ia tak suka nada bicara Han Lie yang terasa kosong seperti ini.


“Memang kau ingin menyimpannya, lalu mengeluarkannya untuk menikmatinya terkadang?” Ia bertanya.


Pertanyaan seperti ini lagi, sikap bossy-nya membuat Mu Xue merasa aneh.


Memang ini ada hubungannya dengan dirinya?


Mu Xue tetap tenang, berkata pelan, “Tuan Han, ini adalah masalah pribadiku. Aku hendak bagaimana mengurusi album ini adalah masalahku!”


Han Lie menengadah menatapnya.


Diantara mereka ada meja makan. Ekspresi Han Lie yang dingin berubah jadi aneh. Ia hanya menatapi Mu Xue, wanita seperti ini membuatnya kaget. Sikapnya pas, dan sepasang matanya cerah dan jernih!


“Selamat tinggal Tuan Han!” Mu Xue berdiri, memasukkan album ke dalam tasnya dan membalikkan badan untuk pergi.


Ia menatapi sosoknya sambil duduk di atas kursi. Rambutnya yang tebal telah menghalangi penglihatannya, sementara senyum di wajahnya terlihat sadis.


Mu Xue keluar dari restoran Hai Huang. Angin dingin bertiup membuatnya gemetar. Ia rasa hatinya kosong sekali, kosongnya sampai sakit.


Ia menunduk melihat album dalam tasnya. Tatapannya yang hambar berubah jadi penuh dengan rasa sakit. Bagaimana mungkin tak peduli? Kalau mencintai seseorang maka pasti menginginkan keseluruhan orang itu, mengetahui masa lalu orang lain, ia tahu dirinya tak bisa mengubah kenyataan ini, sehingga hatinya sakit.


Dari Qin Yinuo!


Hatinya bergetar. Setelah ragu sesaat, ia menerima telepon tersebut. Terdengar suara menggoda dari seberang, “Kau sedang ngapain, istriku?”


“Di jalan!” Mu Xue menarik sudut bibirnya membentuk senyum pahit, suaranya tidak terdengar senang. “Kalau tak ada apa-apa, aku tutup dulu teleponnya!”


Tanpa memberi pria itu kesempatan untuk berbicara, ia memutus telepon tersebut.


Ia harus bagaimana dengan album ini? Berpura-pura tidak tahu atau mengembalikannya pada Mo Yihui, atau memberikannya pada Qin Yinuo?


Ia harus menutupi kebenaran ini dengan sengsara dan terus bersama Qin Yinuo, atau pergi dari Qin Yinuo? Lalu menikmati rasa sakit dari patah hati.


Mu Xue melongo di tengah jalan, menyadari jalan pikirannya sendiri semakin sempit!


Ketika Han Lie keluar dari Hai Huang, ia melihat sosok yang kesepian itu. Sosok yang kecil, lemah, tapi malah menampakkan kegigihan, sama seperti hasil penyelidikannya sebelumnya. Ia adalah wanita yang kuat, sementara Qin Yinuo tak pantas bersama wanita seperti ini.


Ia berjalan maju dengan langkah besar-besar ke sampingnya. Ia agak tertegun melihat rasa sakit yang terpancar dari wajah wanita itu. Wajahnya berkedut,kelihatannya sedang ragu.


“Bagaimana kalau pergi minum bersama?” Nada suaranya jadi lebih lembut.


Wanita itu tertegun, menenangkan hatinya. “Kenapa kau keluar?”


“Tak tenang dengannmu!” Ia menatapi wanita tersebut. Tatapannya dalam, meski tatapannya tidak tajam lagi, tapi Mu Xue tetap merasakan keanehan yang terpancar di dalamnya.


Teleponnya berdering lagi. Mu Xue melihat kalau telepon itu masih berasal dari Qin Yinuo, maka kali ini ia langsung memutus telepon tersebut.

__ADS_1


“Mau pergi minum segelas?” Han Lie terus bertanya.


“Apa tujuanmu?” Ia langsung bertanya, “Tuan Han, kenapa menurutku tujuanmu ini tidak benar? Kalau kau punya tujuan maka katakanlah, aku lelah sekali~!”


Ia menaikkan alisnya. “Kalau kubilang aku suka padamu, kau akan percaya kah?”


Ia tertawa ringan, “Tak percaya!”


“Kalau begitu sudahlah, ayo pergi! Hanya minum segelas! Dan di siang bolong begini, memangnya aku bisa berbuat apa?” Han Lie tersenyum, kemuraman di wajahnya langsung menghilang. “Aku hanya ingin mengobrol, semudah itu!”


Entah kenapa, saat ini Mu Xue rasa orang di depannya ini adalah orang yang telah kesepian terlalu lama, bahkan rohnya pun terasa kesepian.


Mu Xue tak berkata apa-apa, hanya mengangguk.


“Kalau begitu kita kembalilah ke Hai Huang!” Han Lie berkata.


Merekam kembali ke Hai Huang, lalu memilih tempat duduk di dekat jendela, sementara pelayan membawakan kopi untuk mereka.


“Maaf, aku tak minum kopi!” Mu Xue berkata, “Harap berikan segelas air putih untukku!”


Han Lie menengadah menatapnya, tatapannya berkelip. “Kau ini sungguh mudah untuk dirawat, cukup dengan segelas air putih!”


Mu Xue tertegun, ia diam sekali.


Teleponnya berdering lagi, masih dari Qin Yinuo. Entah kenapa dirinya tak ingin menerima telepon tersebut. Ia tak bisa mengungkapkan is hatinya, seolah sengaja membuat pria itu khawatir.


“Tak menjawab teleponmu?” Han Lie menaikkan alisnya.


“Nomor tak dikenal, tak perlu diangkat!” Mu Xue langsung memutus telepon tersebut.


“Telepon dari Qin Yinuo kan?” Han Lie tersenyum tipis, lalu meminum seteguk kopi. “Ia khawatir sekali denganmu! Sungguh pria yang penuh dengan perasaan, baik cinta lama atau baru pun tak ingin lepas tangan!”


Mu Xue tertegun, lalu menghindari tatapannya dengan was-was. Ia tak suka nada Han Lie ketika membicarakan hubungannya dengan Qin Yinuo, sangat merendahkan, dan lagi terdapat suatu emosi tak jelas di dalamnya.


“Apa hubunganmu dengan hal ini?” Mu Xue bingung.


“Bukannya sudah kubilang, aku tertarik padamu!” Ia mengerdipkan matanya.


Alis Mu Xue langsung lurus menjadi sebuah garis, matanya membelalak besar.


“Hehe, bercanda. Jangan dianggap serius.” Han Lie mengerdipkan matanya, “Aku hanya penasaran bagaimana dirimu menghadapi masalah ini, karena aku juga pernah menghadapinya!”


“Apa?”


“Aku juga pernah merasakan kekasihku yang menyimpan foto dirinya dengan mantannya, dan aku juga mengetahui hal itu tanpa sengaja. Aku, peduli sekali!” Ia berkata.


“Pacarmu menyimpan foto mantan kekasihnya?” Mu Xue mencerna informasi ini, seolah tidak berani memercayainya, “Kau seganteng ini, kenapa pacarmu masih bisa menyimpan foto mantannya?”


“Kau bukannya juga cantik sekali?”


“Tapi ini kan bukan foto yang disimpan Qin Yinuo, ini Nona Mo yang menyimpannya!” Mu Xue menjelaskan. “Mantan pacar kekasihmu ganteng kah?”


“Tak merasa!” Ia berkata dengan nada merendahkan.


“Kalau begitu kenapa mereka bisa putus?”


Han Lie menunduk, tidak berkata-kata.

__ADS_1


“Tuan Han, kalau kau mencintainya, maka hargailah. Apalagi masa lalu sudah berlalu. Yang kau cintai kan dirinya, siapapun punya masa lalu!” Mu Xue tahu dirinya tak bertenaga untuk menenangkan dirinya sendiri, karena dirinya masih belum bisa menerima hal ini, dan masih membujuk orang lain pula.


__ADS_2