AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 330 Panggilan Telepon di Malam Hujan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Sepertinya kamu tidak pernah datang mencariku ketika sedang senang!” Yu Jinglan tersenyum. “Duduk lah, aku pergi mandi dulu, hari ini sedikit lelah!”


“Hm! Aku pergi ambil alkohol!” Mu Xue berjalan ke arah lemari berisi alkohol, mengambil sebotol brandy, kemudian dua gelas, dia berjalan ke bar, duduk, menuangkan segelas, dan mencicipinya sendiri.


Hello! Im an artic!


Terdengar suara air mengalir dari kamar mandi, Mu Xue menoleh melirik, berpikir sejenak, kemudian kembali minum lagi.


10 menit kemudian, Yu Jinglan keluar dengan mengenakan jubah mandi, rambutnya masih meneteskan air, mengambil handuk mengeringkan rambutnya. “Bagaimana kabar Nian Nian?”


“Bersama dengan ibu, lumayan baik, namun aku malah berpikir, apakah aku sendiri sangat egois, membiarkannya di Jepang, dia masih begitu kecil, seharusnya berada di sisiku!”


“Kalau begitu, jemput dia kembali!”


Hello! Im an artic!


“Namun saat ini…. ” Mu Xue berhenti berbicara.


Yu Jinglan terdiam, matanya melihat wajah Mu Xue, ia mengangguk setuju, “Kamu telah berkoban, suatu saat nanti ia akan mengerti. Berikan dirimu kesempatan, juga berikan dia kesempata, dan beri Nian Nian kesempatan.”


“Lan, menurutmu, jika sejak awal aku menikah denganmu, maka apa yang akan terjadi sekarang?” Mu Xue mendorongkan segelas alkohol untuknya, dan menghabiskan miliknya.


“Tidak tau, sulit ditebak.”


Mu Xue menatap Yu Jinglan dengan erat, takut kelewatan ekspresi wajahnya.


“Jangan lihat aku, aku benar tidak tau, dan yang paling penting adalah kamu tidak pernah berpikiran untuk menikah denganku.” Yu Jinglan melambaikan tanganya, juga meneguk alkoholnya. “Bercanda boleh, tapi apa rencanamu selanjutnya?”


“Jika mau mendengar perkataan jujur, aku tidak tau, aku benar tidak tau!” Mu Xue menggelengkan kepala, tersenyum dangkal pada wajah putihnya, merentangkan tangan menaikkan bahu, dan terus minum.


“Orang, sangat sulit melihat jelas hati dirinya sendiri!” Yu Jinglan tersenyum datar, meletakkan gelas alkohol pergi ambil baju, kembali ke kamar dan mengganti baju, baru kembali, Mu Xue masih sedang minum.


“Jika tidak rela, kembali saja ke Jepang!”


“Yakin tidak menjadikan Song Yin sebagai catur lagi?” Tanya Mu Xue.


Yu Jinglan diam tak menjawab, “Sudah malam, kamu sudah bisa kembali istirahat di kamarmu!”


“Lan, kamu sedang menghindari pertanyaanku.”


“Seperti yang kamu katakan, dia tidak bersalah!” Yu Jinglan terdiam sejenak, kemudian berkata dengan datar.


Menganggukkan kepala, Mu Xue tersenyum pelan, seperti sedikit kesepian, “Besok aku pulang ke Jepang, mungkin harus tinggal beberapa waktu.”


“Bagus juga, semoga kamu menjadi tukang reparasi cinta yang baik, memperbaiki hubungan cintamu menjadi sempurna.”


“Barang yang sudah pecah, mana mungkin bisa di perbaiki?” kamu tau, masalahnya tidak pada diriku, namun pada dirinya!”


“Dia juga butuh waktu!”


“Baiklah, aku pergi dulu!” Menggelengkan kepala. “Selamat malam, sayang!”


“Penerbangan jam berapa, aku antar kamu!”


“Jam 6 pagi, aku sudah membawa koper!” Mu Xue tersenyum datar.


“Kalau begitu, aku antar kamu!”

__ADS_1


“Tidak perlu!” Mu Xue sudah berjalan pergi.


Yu Jinglan memandang bayangan punggungnya, selalu terlihat acuh tak acuh, selalu begitu, tidak terlihat emosinya, selalu begitu elegan, sedikit kerutan kesedihan diantara alisnya, hatinya tidak tega. “Xue!”


“Hm?” Mu Xue berdiri didepan pintu, menolehkan kepala. “Kenapa?”


“Jika tak dapat bertahan, kembalilah!”


Mu Xue menatap Yu Jinglan , tersenyum dan berkata, “Tentu saja, masih akan kembali dan mengganggumu, jangan lupa kamu adalah ayah dari Nian Nian, siapa suruh kamu mau menjadi ayahnya, kami ibu dan anak akan selalu mengganggumu! Selamanya!”


“Datang saja!”


“Kamu terlalu murah hati, tidak takut wanita yang kamu cinta cemburu?” Sambil berbicara, Mu Xue sambil mengedipkan matanya, membalik tubuhnya dan berjalan keluar dari kamarnya.


Yu Jinglan menggelengkan kepala, wanita yang dicinta?!


Yu Jinglan mengerucutkan bibirnya, duduk dan merokok di sofa. Tangannya menggenggam ponselnya, matanya bersinar, menekan beberapa kata di ponsel dan mengirimnya.


Malam hari di apartemen Li Yuan, ponsel Song Yin berdering mendapat sebuah pesan, hanya beberapa kata yang sederhana : “Sudah tidur?”


Song Yin sedang berbaring dan melamun di Kasur, mendapat pesan dari Yu Jinglan , tidak tau kenapa hatinya gemetar, ia mengetik beberapa kata, kemudian menghapus lagi, pada akhirnya ia tak mengatakan apa-apa, menutup ponselnya, kemudian berbaring dan menatap langit-langit.


Malam, sangat panjang.


Jam 5 pagi, Yu Jinglan mengetuk pintu Mu Xue, tidak ada pergerakan dari dalam, tidak ada yang membukakan pintu, kemudian dia bertanya ke receptionist, “Nona Mu sudah pergi sejak jam 3 subuh!”


Tidak membiarkannya mengantar, Yu Jinglan menggelengkan kepala, juga bukan tidak bertemu lagi, Yu Jinglan juga tidak mempermasalahkannya.


Namun berita hiburan utama hari itu membuat Yu Jinglan terkejut. Judul utamanya ternyata adalah Presiden Yu grup membuka kamar di Hong Jing bersama ibu dari putra haramnya.


Judul utamanya begitu mencolok, Yu Jinglan mengerutkan alisnya membawa koran, tatapannya menjadi tajam.


Song Yin juga melihatnya, dia melihat judulnya tertulis : Wanita bemarga Mu, masuk ke Hong Jing lebih awal, presiden Yu pulang sekitaran jam 10, keduanya minum di hotel hingga jam 3 subuh, wanita bermarga Mu barulah pergi… .


Melihat berita seperti ini, hati Song Yin sedikit kacau.


Tidak tau kenapa ada rasa sakit dalam hatinya, seperti sebuah rasa sakit yang tak dapat ia jelaskan. Air matanya terjatuh, raut wajah muram di wajahnya yang lembut dan cantik.


Apa yang terjadi semalam? Ini hanya gosipan atau benar ada kejadian seperti itu?


Tiba-tiba hatinya menegang, perasaannya saat ini sangat kacau, hanya ingin sendirian.


Membuang koran ke dalam tempat sampah, Song Yin berdiri sendirian di halaman kampus, merasa sangat kesepian.


Di jendela lantai atas, ada seseorang mengepalkan erat tangannya, sangat jauh, tapi sepertinya dia merasakan tatapan Song Yin sangat kasihan, menderita, tidak tega dan juga masalah yang dihadapinya.


Pada akhirnya ia kembali ke ruang kelas dengan tidak senang, sebenarnya datang atau tidak juga tak bermasalah, karena sebentar lagi sudah mau wisuda, sisa beberapa hari sudah mau sidang, kemudian ia sudah benar-benar wisuda, meninggalkan gedung kampus ini.


Berjalan pelan keluar halaman kampus, sinar matahari terpancar di tubuhnya, namun senyuman membuat tubuhnya terasa dingin.


Berjalan keluar halaman sekolah, berjalan tanpa tujuan di jalan, menemui wajah yang sedikit familiar, mengerutkan alisnya, Song Yin tertegun sejenak, sedikit bingung, akhirnya ia mengenalinya. “Luo Weihan?”


“Iya aku!” Luo Weihan tersenyum pelan, “Kebetulan sekali, bertemu di dekat kampus.”


“Kamu tidak memakai kacamata, aku hampir tidak mengenalimu.” Song Yin baru menyadarinya ada yang tidak beres, ia tidak memakai kacamatanya. Namun Luo Weihan terlihat lebih menyegarkan seperti ini, seperti seorang wanita jahat.


Dia sangat lembut dan putih!


Song Yin tertawa.

__ADS_1


Lu Weihan mengangkat alisnya. “Kenapa kamu tertawa?”


“Aku iri dengan kulitmu, sangat putih!” Song Yin menghela nafasnya.


Lu Weihan memucat, raut wajahnya sedikit tidak alami, “Sudah lama tak berjumpa, duduk sebentar yuk!”


Song Yin berpikir ia juga merasa bosan sendirian, hanya menunggu waktu skripsi, menganggukkan kepala. “Yuk!”


Keduanya berjalan ke kios minuman depan kampus, Song Yin memesan milkshake semangka, Luo Weihan memesan segelas kopi, keduanya duduk berhadapan disana, kios kecil itu sangat berciri khas, sudah dibuka selama bertahun-tahun di depan kampus.


“Song Yin, baru-baru ini melihat kamu bermesraan dengan Yu Jinglan , kelihatannya sangat saling mencintai!” Luo Weihan mengaduk kopinya, berkata dengan pelan, seperti ada maksud lain, juga seperti sedang mencari topik pembicaraan.


Tersenyum pelan, Song Yin berkata, “Hm, iya, mesra itu dibuat!”


Song Yin menyindir sesuatu, namun Luo Wei han menegangkan tubuhnya setelah mendengar. “Kalian kelihatannya sangat cocok!”


“Terima kasih!” Tersenyum pelan, juga tidak banyak berbicara, Song Yin meminum milkshakenya dengan sedotan, aroma susu dipadukan dengan jus semangka dingin, rasanya sangat menyegarkan, mencerminkan perasaannya saat ini, walaupun sedikit sedih, namun masih tersenyum. Ia berpikir sudah lama berada di sisi Yu Jinglan , ia juga sudah belajar untuk tidak mengekspresikan perasaannya di wajah, mungkin saja sudah dipelajari sejak awal.


Tangan Luo Weihan yang menggenggam cangkir kopi juga menguat, juga ikut tersenyum. “Melihatmu begitu baik, aku sangat ikut bahagia.”


“Apa kamu tidak baik?” Song Yin menatapnya.


“Masih bisa dilewati!”


“Beberapa waktu ini tidak menjadi ojek?”


“Tidak, laporannya sudah ditulis, akan dilaporkan minggu ini, mungkin saja kamu sudah bisa melihatnya!”


“Kalau begitu aku harus melihatnya dengan baik!”


Keduanya duduk sebentar di kios minuman itu, Luo Weihan bilang bahwa dia masih ada kerjaan, pamit lebih dulu.


Song Yin juga ikut berjalan keluar.


“Baik, byebye.”


Song Yin melihat Luo Weihan menyebrang jalan, melambaikan tangannya, dia yang diujung jalan membalikkan badannya. Berjalan pelan ke halte, bus. Melewati banyak toko perhiasan sepanjang jalan, ada mainan yang lucu, gantungan ponsel ada sepasang beruang lucu, Song Yin masuk dan membeli sepasang, ia teringat ia hanya bisa menggantung satu, dan yang satunya lagi harus disimpan dan kesepian di pojokkan.


Menggantung gantungan beruang putih pada ponsel, Song Yin berdiri di belakang barisan antrian bus. Hatinya sedikit sakit, semalam, ia sudah menyetujui Yu Jinglan untuk kembali bersamanya?


Ia bilang, dia bukan catur, namun adalah wanitanya, dia adalah salah satunya, atau satu-satunya?


Kenapa dia mau menajdi satu-satunya? Apakah ia sedikit serakah?


Berkeliling di jalan, dikenal oleh beberapa orang, ia adalah istri Yu Jinglan , tiba-tiba merasa bosan, seorang diri membeli bahan-bahan makanan kembali ke apartemen Li Yuan.


Ketika malam tiba, tiba-tiba turun hujan petir, melihat semakin deras.


Karena hujan petir ini, hatinya berubah semakin sedih dan kehilangan arah.


Hujan di luar semakin deras, melihat jam di ponsel, sudah jam 7 malam, memasak mi, makan sedikit, teringat adegan beberapa waktu lalu makan bersama orang itu, hatinya sedikit sakit.


Langit semakin gelap, hujan ini sudah tidak akan berhenti, malah semakin deras, seperti sudah bersiap untuk bermalam. Mengganti baju tidur yang bersih, membersihkan tempat tidur, Song Yin baru berbaring.


Subuh, tatapannya gelap gulita, hanya terdengar suara hujan, ternyata hujannya masih belum berhenti.


Di balik tirai, ia seperti terisolasi dari dunia ini, seolah-olah tidak mendengar suara diluar. Tiba-tiba ponselnya berdering, Song Yin tertegun, mengira adalah panggilan dari Yu Jinglan , namun melihat adalah nomor tidak dikenal, ia kecewa, ternyata adalah nomor tidak dikenal, ragu mau mengangkatnya atau tidak, beberapa saat kemudian, ia mengangkatnya.


Terdengar suara hujan yang deras dari telepon itu, Song Yin memanggil, namun tidak ada yang membalas. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara pria yang aneh : “Kapan cerai dengan Yu Jinglan ?”

__ADS_1


Tiba-tiba jantung Song Yin berkedut, muncul rasa mengerikan dan aneh didalam hatinya.


__ADS_2