
Hello! Im an artic!
Menutup teleponnya, Qin Yinuo memincingkan mata tajamnya. Ia melongo ke luar jendela, melihat Xiao Xue dan Han Lie yang berjalan bersama, entah apa yang dikatakan mereka! Melihat mereka yang bersama, rasanya agak menyilaukan mata!
Pria itu, sosoknya pasti tidak semudah itu. Ia mendekati Xiao Xue atas tujuan apa?
Hello! Im an artic!
Mobilnya mengikuti pelan, kecepatannya lambat sekali.
Mu Xue berjalan bersama Han Lie, sementara Han Lie bertanya tanpa sengaja, “Kemarin kalian kemana, kenapa rasanya terburu-buru sekali? Kau bahkan tidak pergi kerja!”
“Oh! Ada teman yang sakit!” Mu Xue mengerutkan bibirnya, asal ngomong.
“Wanita dalam foto itu kah?” Tubuh Han Lie menegang, ia berhenti, “Mo Yilan?”
Hello! Im an artic!
Mu Xue tertegun, menengadah dengan curiga, “Kau bagaimana tahu?”
Tatapan Han Lie berkelip, “Aku cuma menebak. Sakitnya parah kah?”
Mu Xue mengangguk, “Ya, parah! Ada masalah dengan sarafnya! Dengar-dengar karena KDRT.”
“Karena KDRT?” Nada suara Han Lie meninggi, jadi agak emosi.
Mu Xue juga tertegun, menatapinya dengan bingung, “Ya, aku melihat banyak sekali luka bakar di tangannya, seperti bekas rokok. Jelas sekali kalau suaminya pernah kejam sekali padanya! Dan pantas juga ia selalu merindukan pacarnya sebelumnya, si Qin Yinuo. Memikirkan bagaimana Qin Yinuo bersikap lembut padanya, pantas saja ia selalu merindukannya!”
Mata Han Lie menegang, “Sekarang kesadarannya bagaimana?”
“Tak terlalu baik!” Mu Xue menggeleng, menyadari dirinya sudah berkata terlalu banyak, tiba-tiba berkata, “Tuan Han, ini adalah privasi orang lain. Aku tidak seharusnya asal berkata, kau juga jangan asal ngomong!”
Han Lie terjebak dalam pikirannya.
“Tuan Han?” Mu Xue berteriak.
“Eh?” Han Lie terseedar, “Kau bilang apa?”
Mu Xue menghela nafas, “Tuan Han bengong!”
“Maaf!” Han Lie meminta maaf dengan tulus, “Ayo pergi makan bersama. Pas sekali sekarang adalah jam makan. Aku yang mentraktirmu, hitung-hitung sebagai tambalan kemarin!”
Qin Yinuo terus mengikuti mereka. Di dalam mobil, tangannya merapat menjadi tinju. Ia melihat Mu Xue dan Han Lie berjalan masuk ke dalam restoran Hai Huang.
“Tuan muda, perlu masuk untuk lihat-lihat?” Sang sopir bertanya.
“Tak perlu!” Wajah Qin Yinuo menunduk, tegang sekali. Ia melihat ke arah Hai Huang dengan dingin, “Tunggu disini saja!”
Sang sopir menghentikan mobil di sebuah tempat yang bisa melihat ke arah jendela. Qin Yinuo melihat melalui kaca jendela. Ia bisa melihat Mu Xue tengah tertawa bersama Han Lie, entah apa yang dikatakan mereka.
Semakin dilihat, ia semakin sadar kalau hatinya semakin mengerut. Ternyata hanya dengan melihatnya tersenyum pada pria lain, hatinya bisa semengerut ini, sesakit ini, cemburunya sampai menggila!
Kalau membandingkan hati dengan hati, ketika ia melihat fotonya yang berciuman dengan wanita lain, pasti akan semakin sakit. Ternyata ketika membandingkan hati mereka berdua, Qin Yinuo sadar, dirinya tidak sekuat wanita itu, ia tidak bisa tersenyum!
Rasanya ia benar-benar menerobos masuk dan menariknya keluar, lalu memeluknya dengan erat dan memberitahunya jangan tersenyum pada pria lain, jangan! Tapi kata Mu Xue, untuk sementara mereka takkan saling bertemu.
Ia jadi murung, namun tidak berani bergerak maju. Ia hanya bisa melihat mereka dari jauh. Kecemburuan membara dalam hatinya, rasanya hampir membuatnya sesak.
**
“Tuan Han, kau pasti cinta sekali pada mantan kekasihmu! Atau mungkin cintamu padanya lebih dalam dibanding cintanya padamu. Sehingga kau baru bisa seterluka ini!” Mu Xue berkata.
Han Lie hanya ingin mencari orang untuk menjadi teman bicaranya, pas sekali Mu Xue juga sedang kebosanan, maka ia akan menjadi pendengarnya sekali lagi. Lalu, mereka datang makan.
“Aku tidak tahu apakah diriku benar-benar mencintainya!” Ia menggeleng, suaranya semakin dalam, lalu menampakkan sebuah rasa keseepain, “Aku hanya kecewa sekali padanya! Segalanya telah berlalu, aku dan dirinya sudah seharusnya memiliki hidup baru!”
__ADS_1
“Pria setia sepertimu sudah jarang ada, kau pasti akan bisa mendapatkan kebahagiaanmu!” Mu Xue menenangkannya.
Mata gelap Han Lie bergejolak, mengatakan sesuatu yang membuat orang bingung, “Untukku, kebahagiaan adalah sesuatu yang terlalu mahal.”
Mu Xue tertegun. Kata-kata ini masuk ke dalam hatinya. Untuk siapapun, kebahagiaan adalah sesuatu yang berharga, ia juga tidak kebahagiaannya ada dimana! Atau mungkin ia terlalu rakus. Ia berkata pelan, “Mungkin tak seharusnya berharap terlalu banyak!”
Tiba-tiba ia merasa bagai telah menemukan seorang teman lama, dan mereka tengah membicarakan arti dari kebahagiaan. Mu Xue langsung tersenyum dalam-dalam, tiba-tiba merasa dirinya tua sekali. Semakin banyak hal yang ia mengerti.
“Kita termasuk teman, kan?” Han Lie menengadah, menatap Mu Xue. Lalu ia mengelap bibirnya dengan tisu dengan gerakan yang anggun.
Mu Xue tertegun, lalu mengangguk. Ia baru memikirkan hal ini, tak disangka Han Lie mengatakannya duluan, “Termasuk!”
Meski ia tidak terlalu suka berteman dengan lawan jenis, tapi kalau ada satu atau dua teman lawan jenis juga lumayan.
Saat ini, telepon Mu Xue berdering. Ia merasa aneh, karena ini adalah telepon dari Mo Yihui, sebelumnya ketika meneleponnya, ia sudah menyimpan nomor ini.
“Maaf, aku angkat telepon dulu!” Mu Xue berkata.
Han Lie mengisyaratkannya untuk menelepon dengan gerakan tangan.
“Nona Mo, anda mencariku ada apa?” Mu Xue bertanya dengan nada rendah.
“Mu Xue, tak kusangka perilakumu sekejam ini. Kau membuat Qin Yinuo tak menemui kakakku sama sekali! Kalau kakakku kenapa-kenapa, aku takkan melepaskanmu!” Suara Mo Yihui mengancam, langsung menusuk-nusuk telinga Mu Xue.
“Nona Mu, aku tak mengerti apa yang kau katakan. Kenapa Qin Yinuo tak bertemu dengan kakakmu lagi?”
Mendengarnya, ekspresi Han Lie juga mematung. Ia menatap ke arah Mu Xue.
“Aku tak tahu apa yang kau katakan, aku tak mengerti soal Qin Yinuo. Kau bilang apa? Kakakmu menghilang?” Nada suara Mu Xue jadi khawatir, “Kenapa bisa?”
Han Lie menengadah, agak melongo.
Mu Xue memutus teleponnya, mengerutkan alisnya.
“Mo Yihui bilang Yilan menghilang ya?” Han Lie langsung berkata.
Han Lie langsung berdiri, mengeluarkan tas kulitnya dan mengeluarkan uang, “Maaf, aku hendak pergi mencarinya!”
“Ah!” Mu Xue tertegun, “Kau kenal dengannya?”
“Tak sempat menjelaskan. Nona Mu, kau pulanglah sendiri!”
“Tidak, aku juga mau pergi mencarinya!” Mu Xue juga ikut berdiri, keduanya keluar dari restoran dengan tergesa-gesa.
Begitu Qin Yinuo melihat mereka keluar, ia juga bersiaga, “Cepat ikuti mereka!”
Saat ini telepon Qin Yinuo juga berdering, “Apa? Kenapa bisa hilang? Kau cepat bawa orang pergi cari! Aku juga pergi!”
Qin Yinuo melihat Mu Xue menaiki mobil Han Lie, dan mobil itu melesat ke arah mansion Ming Chang.
Mobil Qin Yinuo juga melesat ke arah sana.
Mu Xue menelepon lagi ke nomor Mo Yihui, “Nona Mo, kakakmu sudah pergi berapa lama? Kenapa ia bisa keluar?”
“Baik, aku tahu!”
Tangan Han Lie yang memegang setir mengerat, “Apa katanya?”
“Katanya sudah hilang kira-kira sudah satu jam. Semuanya tengah mencarinya! Mungkin tadi ia berjalan keluar dari mansion, atau mungkin ia masih ada di daerah sekitar sana!”
Ketika mobil Han Lie dan Qin Yinuo tiba di bawah mansion Ming Chang. Mu Xue membuka pintu dan melihat Qin Yinuo yang turun dari mobil, keduanya tertegun.
Qin Yinuo berlari mendekat, “Kau kenapa datang?”
“Nona Mo hilang!” Mu Xue menjelaskan.
__ADS_1
Han Lie malah berkata, “Mungkin ia belum keluar lama dari sini, aku pergi cari dulu! Kita tetap berhubungan. Ini nomorku. Nona Mu, kita mencari berpencar!”
“Baik!” Mu Xue mengangguk, melirik sekilas pada kartu nama itu dan menyimpannya.
Qin Yinuo malah menariknya, “Kau bersamaku!”
“Tidak sempat, segera temukan Nona Mo dulu. Nona Yihui juga akan mencarinya. Kita berpencar, yang penting adalah menemukannya dulu. Nanti kalau sudah gelap susah carinya, aku cari sebelah sini!”
Mu Xue menunjuk ke arah jalanan di luar daerah, mulai berjalan kesana.
“Xiao Xue!” Qin Yinuo meneriakinya.
“Ya?” Ia menoleh.
“Hati-hati!” Qin Yinuo berpesan dengan tergesa-gesa.
“Tahu!” Mu Xue mengangguk. Ia tidak sempat mengatakan apapun, semuanya pergi mencari Mo Yilan.
Han Lie berlari cepat sekali. Mu Xue tidak tahu kenapa ia setergesa-gesa itu, tapi ia benar-benar curiga. Hubungan Han Lie dengan Mo Yilan sepertinya tidak biasa.
Jalannya cepat sekali. Di jalanan, ia tidak akan melewatkan setiap orang yang lewat, apalagi wanita, ia akan meneliti mereka.
Ia terus berjalan sampai ke sebuah gang. Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan nyaring dari gang itu, amat memekakkan telinga. Mu Xue segera berlari kesana, “Nona Mo, kaukah itu?”
Tidak ada orang? Mu Xue tertegun melihat gang yang kosong. Jangan-jangan tadi hanya lelucon orang. Baru hendak memutarkan tubuhnya, ia menabrak seseorang, maka ia langsung meminta maaf, “Maaf.”
Sambil mengelus hidung yang tertabrak, Mu Xue meminta maaf sambil mengalirkan air mata. Ketika ia menengadah, wajahnya langsung pucat pasi, “Kalian siapa?”
“Kak, satu lagi wanita. Yang ini lebih cantik dibanding yang tadi!” Seorang preman bertubuh tinggi mengulurkan tangannya untuk menarik lengan Mu Xue. Ia memincingkan matanya pada tubuh Mu Xue yang menggoda.
“Kalian siapa?” Mu Xue langsung kaget, kenapa bisa bertemu preman.
“Ah–” Terdengar suara teriakan lagi dari gang yang lebih dalam.
Itu Mo Yilan!
Wajah Mu Xue pucat pasti, ia langsung menoleh, melihat di dalam gang itu ada wanita yang tengah berteriak, “Jangan pukul aku, jangan bakar aku–”
“Kalian lepaskan dia! Tubuhnya sakit!” Mu Xue berkata dengan terburu-buru, “Jangan kagetkan dia!”
“Hah! Lepaskan? Yang kami mau ini wanita. Baru keluar dari kantor dan lagi lapar. Jarang-jarang dapat satu, mana mungkin kami lepaskan?” Dari belakang terdengar suara serak, bersamaan dengan itu seorang pria bertubuh besar berjalan maju. Ia botak dan wajahnya kejam.
“Cepat tarik dia masuk. Kalau dapat satu lagi wanita, kalian masing-masing dapat seorang! Mainkan ia selama tiga hari!” Salah satu dari mereka berkata.
Ketika mendengar kata-kata mereka, wajah Mu Xue semakin memucat.
“Jangan bakar aku–” Mo Yilan terus berteriak, melawan bagai orang gila. Mereka berdua ditarik orang masuk ke dalam.
Melihat lengannya dipegang oleh tangan yang kotor, ketakutannya langsung meledak. Mu Xue langsung berteriak melengking, “Lepaskan aku! Kalian binatang, lepaskan!”
Ketakutan Mu Xue langsung memuncak, wajahnya pucat pasi.
“Plak” sesaat, ia ditampar oleh mereka. Bau darah langsung megucur, kepalanya langsung pusing.
Yang memukulnya adalah preman yang muda. Ia meneriakinya dengan galak, “Sialan, teriak apaan! Kakak-kakak disini akan memuaskanmu sampai kau tak bisa berteriak!”
“Hah! Ini nih kucing seksi, kakak suka yang seksi!” Nada suara nakal membuat Mu Xue semakin ketakutan.
Mu Xue ditarik mereka masuk ke dalam sebuah taman. Lalu Mo Yilan juga dibuang ke dalam sini.
“Nona Mo!” Mu Xue berteriak dengan khawatir.
Mo Yilan sudah kehilangan ketenangannya. Ia bergulung, baju di tubuhnya sudah dirobek-robek.
“Mereka berbuat apa padamu?” Mu Xue tidak sempat memedulikan rasa sakit di wajahnya, langsung memeluk Mo Yilan. “Jangan takut, Qin Yinuo akan datang menolong kita!”
__ADS_1
Mo Yilan bergetar, tubuhnya kaku.
“Sialan, cepat tarik mereka masuk ke rumah!” Ada yang menarik Mu Xue.