AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 590 Kamu Memiliki Masalah Di Pikiranmu!


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Feng Baiyi terkejut, dan jantungnya seakan seperti sudah tersengat dengan parah.


“Kenapa? Kenapa?” Suaranya yang tegas penuh dengan kebencian dan terdengar sangat memilukan. “Aku bukan objek pelampiasanmu!”


Hello! Im an artic!


Air mata mengalir dari matanya, Su Yan tersedak kesakitan. Dia merasa teraniaya, hatinya sedih, semua jenis emosi bercampur menjadi satu. Dia tidak menyukai perasaan ini, seperti binatang buas, apa yang dia pikirkan tentang dia?


Feng Baiyi mengangkat tangannya dan menyentuh wajahnya dengan lembut. Air mata mengalir ke ujung jarinya dan jatuh ke telapak tangannya, “Kamu menangis? Apakah kamu tidak ingin aku menyentuhmu?”


Rasa sakit di tubuhnya tidak dapat membuatnya menangis. Hanya karena sikapnya yang seperti itu, dia yang tidak mempedulikan semuanya. “Aku tidak mau disentuh olehmu! Pergi! Feng Baiyi, pergi!”


“Tidak mengijinkanku untuk menyentuhmu, lalu siapa yang menyentuhmu?” Rasa masam yang telah ditekan di antara dadanya kembali melonjak tak terkendali.


Hello! Im an artic!


“Siapapun kecuali dirimu!” Dia membalasnya sambil kesakitan. “Kamu bajingan, kamu tidak manusiawi!”


Air mata membasahi seluruh wajahnya dan mengaburkan pandangannya.


Su Yan meluncur turun dari kursi, noda darah mengalir di pahanya, mengejutkan ……


Ketika dia melihat noda merah darah cerah mengotori lantai yang putih. Seluruh tubuhnya tiba-tiba tersenyum sedih dan tertawa. Tetapi tawa itu mengandung rasa sakit dan kesedihan tiada berkesudahan.


Feng Baiyi pun juga ketakutan dengan akibat yang telah dia perbuat. Dia mengulurkan tangannya ingin menariknya, tetapi dihempaskan oleh Su Yan. “Kamu masih menginginkannya? Apakah kamu masih ingin menyiksaku? Baiklah, terserah dirimu, ambillah!”


Tanpa ekspresi apa pun di wajahnya, Su Yan hanya memandangnya dengan tatapan yang sangat tajam. Dia tidak lagi mengeluarkan ekspresi yang kesakitan, rasa sakit di pikirannya sudah melampaui rasa sakit yang ada pada tubuhnya.


“Bonekaku –– Aku ––” Feng Baiyi ingin menjelaskan dan meminta maaf. Tetapi karena ego dari seorang pria membuatnya tidak jadi mengucapkan apa pun. Dia hanya memeluknya dengan tiba-tiba, “Aku bantu kamu membersihkannya!”


Ketika dia memeluknya, Su Yan segera gemetar, seperti anak kecil yang tidak berdaya dan kebingungan, “Aku tidak membutuhkanmu!”


Hati Feng Baiyi tiba-tiba menjadi sedikit tersesat. Wanita ini tidak pernah bertingkah aneh seperti ini sebelumnya. Dengan buru-buru ia segera memeluk tubuh kurusnya, dagunya mengusap rambutnya yang berantakan dengan penuh kasih. Dia menundukkan kepalanya, mendekati telinganya lalu berbisik: “Ayo pergi mandi, anak baik! Aku tidak akan mengganggumu lagi!”


“Aku benci padamu!” Dia membenci dirinya yang tiba-tiba menjadi lembut lagi. Tubuhnya sakit, hatinya juga sakit.


“Huu ––” Dia tidak bisa menahan isak tangis pelan yang keluar dari tenggorokannya, pedih dan memilukan. Membuat hati Feng Baiyi semakin lebih pedih. Sebuah isak tangis yang samar terdengar di atas kepala wanita itu, dan penyesalan tak terbatas tersebut mengalir keluar.


Dia membawanya ke kamar mandi, mencuci bersih noda darah tersebut. Melihat bekas luka yang ditinggalkan olehnya pada tubuhnya yang putih bersih tersebut, membuatnya merasa bahwa dia terlalu berlebihan.


Dan Su Yan, mungkin karena dia baru saja mengalami pendarahan dan ditambah tubuhnya yang kekurangan darah akibat menstruasi. Dia merasa sedikit pusing di kepalanya, dan rasa sakit di dadanya membuatnya merasa sangat lelah dan kedinginan ……


Memejamkan mata, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan dunianya menjadi sunyi.


Feng Baiyi duduk di tepi tempat tidur, menatap penuh kasih ke arah Su Yan yang sedang tertidur dengan tenang. Dia tampak begitu mungil saat ini, begitu menyedihkan. Matanya merah dan bengkak, mulutnya juga merah dan bengkak, dan lehernya penuh dengan bekas gigitannya.


Su Yan tidur sepanjang sore hingga pada pagi berikutnya.


Kepusingan, dan kemudian tubuhnya mulai terasa ……

__ADS_1


Sakit! Sakit sekali! Rasanya seperti terkoyak, rasa sakit itu sampai menusuk ke hati. Su Yan merasakan dirinya berada dalam sebuah pelukan yang hangat, tetapi seluruh tubuhnya terasa sangat kesakitan. Sungguh tidak nyaman!


Feng Baiyi langsung dapat merasakan begitu ada pergerakan darinya. Dia membuka matanya dengan canggung dan melihat orang yang ada di sampingnya. Bulu mata yang tipis dan keriting itu berkedut dua kali, membuka matanya perlahan.


“Sudah bangun?” Feng Baiyi masuk ke dalam pelukannya, dengan panik menghisap wajahnya yang pucat: “Bonekaku, apakah masih sakit?”


Su Yan sedikit mengerutkan keningnya. Adegan kemarin kembali muncul di depan matanya. Hatinya bergetar dan dia hanya diam.


Dalam pelukannya,, dia tidak bereaksi sama sekali. Tidak meronta atau pun menangis. Tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan tidak bergerak seperti tak bernyawa.


Feng Baiyi panik ketika tidak mendengar suara.


Dia menundukkan kepala menatapnya, tatapannya terlihat kosong.


Feng Baiyi tampak seperti telah dihujani dari kepala oleh sebuah baskom yang berisi penuh dengan air es, dengan seketika membekukan hatinya yang panas.


Dia tidak menatapnya!


Keheningannya membuatnya merasakan rasa panik yang belum pernah dia alami sebelumnya; ketidakpeduliannya membuatnya merasakan sakit yang belum pernah dia alami sebelumnya; wajahnya yang tanpa ekspresi membuatnya merasakan frustrasi yang belum pernah dia alami sebelumnya, semuanya menebasnya dengan tajam langsung ke hatinya.


Su Yan tidak peduli padanya, hatinya sedikit sunyi, mengapa dia tiba-tiba menjadi begitu mengerikan?


Setelah mengalami kejadian kemarin, dia tiba-tiba menyadari bahwa dia sedikit takut menghadapinya. Dia takut padanya! Dia takut dia akan melukai dirinya sendiri seperti itu lagi.


“Bonekaku?” Feng Baiyi menggerakkan bahunya saat melihatnya yang diam saja.


Dia akhirnya mengangkat matanya, menatap matanya yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.


Su Yan terkejut untuk sesaat. Mata tersebut dipenuhi dengan kekhawatiran dan emosi lain yang saling bercampur aduk menjadi sati. Tetapi, dia tiba-tiba menjadi takut, takut dia yang salah melihatnya. Orang yang telah berbuat seperti itu kepadanya, bagaimana dia bisa mengkhawatirkannya seperti itu?


Air mata kembali menetes jatuh keluar dari matanya lagi. Air matanya jatuh di tangan Feng Baiyi. Pria itu tertegun, dan menghela nafas di dalam hati.


“Silahkan anda keluar!” Su Yan berkata dengan suara dingin, sedikit gemetar.


Feng Baiyi tercengang, bingung untuk beberapa saat. Dia mengepalkan tangannya, lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar dengan perlahan.


Feng Baiyi berpikir bahwa Su Yan tidak akan pergi ke sekolah lagi. Dia sudah menyiapkan sarapan, dan mengetahui bahwa dia masih ada kelas di sore hari. Tetapi, setelah Su Yan bangun, dia segera menyegarkan diri. Tanpa melihatnya sedikit pun, dia langsung membawa ranselnya mengganti pakaian lalu pergi begitu saja!


Feng Baiyi melihat ke arah jam, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Sang supir menelepon dan mengatakan bahwa sang nyonya tidak mengijinkannya untuk mengantarnya ke sekolah. Dia pergi ke sekolah naik bus sendirian.


Feng Baiyi merasa sedikit lega, karena mengetahui dia benar pergi ke sekolah. Mungkin selesai kelas nanti suasana hatinya akan semakin membaik. Tetapi, siapa pria itu kemarin?


Feng Baiyi kembali berpikir keras ketika dia mengetahui melalui telepon bahwa orang yang ditemui oleh Su Yan kemarin adalah orang yang sama dengan yang ditemui olehnya di pusat perbelanjaan hari itu.


Su Yan menaiki kendaraan umum seorang diri dan menolah supir Feng Baiyi. Dia tahu bahwa ada seseorang yang melindunginya secara diam-diam, dan dia selalu ada cara untuk mencegahnya agar dia tidak diikuti. Dia tidak ingin hidup penuh dengan pengawasan, dia menginginkan kebebasan.


Ketika bus tiba di sekolah, dia keluar dari kendaraan. Melihat sebuah mobil yang mengikuti tidak jauh dari dirinya. Dia bergoyang-goyang di bawah halte sekolah, lalu menggunakan kesempatan yang ada untuk kembali naik ke bus.


Tetapi orang yang mengikutinya tersebut terlihat seperti kebingungan. Dia tidak melihat siapa pun, mengira dia telah memasuki sekolah, mobil itu pun juga ikut masuk ke dalam area sekolah, hanya untuk mengetahui bahwa dia ternyata bolos sekolah.

__ADS_1


Ketika Feng Baiyi menerima telepon dan mengetahui bahwa dia bolos dari kelas, dia baru menyadari akan keseriusan dari masalah ini.


Su Yan tidak pergi ke sekolah.


Dan ponselnya juga telah dimatikan ketika Feng Baiyi mencoba menghubunginya.


Setelah melacak keberadaannya, dia baru merasa tenang setelah mengetahui bahwa dia berada di tempat Guan Xiaojin.


Su Yan sedang bermain dengan Momo di rumah Guan Xiaojin. Anak kecil tersebut terlihat sangat bersemangat, dan dia juga sudah sembuh dari flu. Anak tersebut terus menerus belajar berbicara, sungguh menyenangkan.


“Momo, Sayangku, ayo tersenyum!” Su Yan menjentikkan jarinya.


Momo melompat-lompat dari kereta berjalan miliknya penuh dengan semangat. Dia tertawa cekikian riang sekali, sama sekali tidak menyadari akan pahitnya kehidupan di dunia.


“Hahaha ……” Su Yan tertawa senang. “Sayang, kenapa kamu begitu bahagia? Tante boleh tukar tempat denganmu tidak? Tante akan menaruh jiwa tante padamu, dan kamu menaruh jiwamu pada tante, oke? Aku berubah jadi anak kecil sepertimu, ya?”


“Hehehe ……” Si kecil tertawa sampai air liurnya keluar.


“Ada apa?” Guan Xiaojin bertanya penuh dengan perhatian: “Apa yang terjadi?”


“Tidak ada!” Su Yan menggelengkan kepalanya. “Semuanya baik-baik saja!”


“Baik, tetapi kamu tidak pergi ke kelas?” Guan Xiaojin memiliki firasat yang buruk sejak dia datang ke tempatnya.


Su Yan menghela nafas, “Kakak kelas, menurutmu apakah pria lebih memiliki sisi kemanusiaan? Atau sisi hewan liar?”


Guan Xiaojin terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. “Ada apa? Tiba-tiba berkata seperti itu, bukankah pria itu semuanya binatang?”


“Hanya iseng ingin bertanya saja, kamu bisa berpura-pura aku tidak mengatakannya!” Su Yan kembali tertawa, tidak terlihat tidak bahagia. “Ya! Hahahaha …… Pria adalah binatang!”


“Kamu memiliki masalah di dalam pikiranmu!” Guan Xiaojin menepuk bahu Su Yan, “Su Yan, kita sebenarnya sangat mirip. Semakin kita memiliki banyak masalah, semakin pula kita berusaha untuk menutupinya. Aku dapat memahaminya kalau kamu tidak ingin membicarakannya. Aku tahu kamu pasti mengalami sesuatu. Meskipun kamu sedang tertawa saat ini, sudut bibirmu penuh dengan kesedihan!”


“Kakak kelas, apakah kamu tidak bisa jangan melakukan ini? Aku hanya tidak mengerti, seseorang yang selalu bersikap lembut kepadamu tiba-tiba berubah menjadi seseorang yang sama sekali tidak aku kenali. Bahkan dia juga tidak menjawabnya meski aku sudah bertanya kepadanya, bukankah itu sangat aneh?”


“Mungkin ada kesalahpahaman!”


“Salah paham?” Su Yan mengerutkan keningnya.


“Eeee ––” Tiba-tiba Momo menjerit, dan langsung menarik perhatian dari kedua wanita itu.


“Ya! Bayi kesayanganku sedang protes karena kita hanya ngobrol berduaan saja dan tidak mempedulikanmu!” Su Yan memanggilnya lalu segera memeluk dan menggendong Momo, “Sini, tante gendong! Sayang, kalau sudah dewasa nanti jangan jadi pria yang jahat ya! Kamu harus patuh, jadilah pria yang sopan, mencintai istrimu, dan manjakan istrimu pada saat dia sedang menangis. Kalau kamu tidak bisa membujuknya dengan baik, berarti kamu harus berlutut dan memohon belas kasihan! Mengerti tidak?”


“Berlutut dan memohon ampun? Guan Xiaojin terkekeh, “Kamu sedang memperlakukan pria seperti anjing! Pria lebih baik mati daripada harus meninggalkan martabat dan egonya! Selain itu, apabila seorang pria memohon belas kasihan, pria itu pasti tidak menarik. Aku berani mengatakan kamu pasti akan menendangnya! Menurut info dari koran, Feng Baiyi tidak akan pernah melakukan itu!”


“Kita jangan membahas orang itu, oke?” Su Yan berbalik dan memohon kepadanya.


Guan Xiaojin melihatnya seperti ini pun akhirnya berhenti berbicara.


Su Yan bermain dengan Momo hampir sepanjang hari. Ketika malam tiba, Momo sudah bersiap untuk tidur, dan Guan Xiaojin sudah mengusirnya. “Pulanglah, bicara baik-baik dengannya. Jika ada kesalahpahaman, maka selesaikanlah! Jangan disimpan di dalam hati! Kakak bukan tidak ingin kamu ada di sini, tetapi tidak ingin kamu menyimpan rasa sakit itu di dalam hati!”


Su Yan mengangguk, “Baiklah, aku pulang!”

__ADS_1


Berjalan keluar dari gang yang gelap, dia melihat sebuah mobil Veyron hitam diparkir di seberang gang. Su Yan terkejut, itu adalah mobil Feng Baiyi.


Dan dia, tidak pergi menghampiri.


__ADS_2