
Hello! Im an artic!
Menutup ponselnya, hanya satu kalimat itu, membuat Song Yin terbeku. Ini adalah orang yang kemarin, orang yang menculiknya.
Ia membanting ponselnya ke Kasur, saat ini, rasa ketakutan menyerangnya, seolah-olah hanya tersisa dia sendiri di dunia ini, sekelilingnya gelap gulita, ia merasa hidupnya tidak ada arah, tidak ada tujuan, hanya tersisa dia sendiri.
Hello! Im an artic!
Terasa rasa kesepian dan ketakutan yang sama sekali belum pernah ia rasakan.
Ini adalah telepon ancaman, menyuruhnya untuk cerai dengan Yu Jinglan .
Tiba-tiba ada kilat di luar, kemudian terdengar suara petir. Song Yin yang tadinya tidak takut dengan kilat petir, namun malam ini, malam ini ia merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Menerima telepon seperti ini di tengah malam, seluruh tubuh dia gemetar. Menutup wajahnya dengan selimut, menahan nafas dalam kegelapan, dia hanya bisa menutup telinganya, namun petir itu membuatnya hampir berteriak.
Hello! Im an artic!
Kemudian, ponselnya berdering lagi. Tidak berani mengangkat, kali ini ia sungguh tak berani mengangkatnya.
Suara deringan ponsel itu terus berdering, Song Yin tidak mengangkatnya, dalam kegelapan, dia mengulurkan tangannya, mendorong ponselnya kebawah Kasur, seolah-olah itu adalah seekor binatang buas.
Ponselnya terus berdering, sepertinya jika ia tidak mengangkatnya teleponnya tidak akan berhenti berdering.
Song Yin menggertakkan giginya, tiba-tiba dia mengumpulkan semua energinya dan menghempaskan selimut, turun kebawah Kasur, mengambil ponselnya, tidak melihat layar ponsel, langsung mengangkatnya dan berteriak : “Dasar mesum, aku sudah bilang mau cerai dengan Yu Jinglan , kamu jangan meneleponku lagi!”
“Hallo . . . . .”
Saat terdengar suara dari balik ponselnya, Song Yin terbengong, hatinya berdebar kencang, hanya mendengarnya berkata : “Yin Yin, apa yang kamu katakan?”
“…. ”
Ternyata adalah dia, Yu Jinglan , kenapa harus dia.
“Yin Yin, siapa yang meneleponmu? Ada yang mengancammu?” Suara Yu Jinglan sangat mendesak, sangat khawatir.
“…. ” Tiba-tiba air mata Song Yin terjatuh, menggigit bibirnya, tidak membiarkan suara tangisannya terdengar.
“Yin Yin, kamu sedang menangis?”
“….” Wu wu, ia sudah menggigit bibirnya hingga terluka, dan tidak mengeluarkan suara tangisannya.
“Kamu tunggu aku, aku segera tiba!” Suara Yu Jinglan sangat rendah, terdengar sangat panik, ia bahkan tidak menutup teleponnya.
“Tidak, kamu jangan datang, kita bercerai saja, aku sangat lelah, sungguh sangat lelah!” Song Yin merintih, “Kamu jangan datang…”
“Apa yang terjadi? Siapa yang mengancammu?”
Terdengar lagi suara petir, Song Yin gemetar. “Kamu jangan datang, aku hanya ingin cerai denganmu, aku mau cerai!”
Walaupun saat ini mendengar suara Yu Jinglan , Song Yin tidak ingin menutupnya, ingin membiarkan suara ini menemaninya, namun Song Yin takut, orang itu meneleponnya menyuruhnya untuk cerai dengan Yu Jinglan , Song Yin sungguh sangat takut.
__ADS_1
Kemarin sangat berbahaya sekali.
Ia menyalakan lampu, cahaya di ruangan membuatnya merasa lebih baik.
“Siapa yang meneleponmu?” Suara Yu Jinglan rendah, menjadi lebih cemas. “Simpan nomornya, tunggu aku!”
Telepon dimatikan, Song Yin ingin menyuruhnya tidak perlu datang, tapi hanya membutuhkan 3 menit, pintu terbuka, Song Yin mendengar suara kunci, seluruh tubuhnya gemetar, meringkuk di Kasur.
Pintu kamar terbuka, bayangan Yu Jinglan yang besar muncul di hadapannya, rambutnya basah karena kehujanan, Song Yin tau masih ada jarak antara mobil ke gedung apartemen, hujan sangat lebat, baju di tubuhnya juga basah, tiba-tiba Song Yin menyadari sesuatu, bertanya : “Tadi kamu dibawah?”
Yu Jinglan berdiri disana, ekspresi wajahnya sangat dalam, tidak bergerak dan terus menatapnya. “Tadi ada yang meneleponmu, dan mengancammu untuk cerai denganku?”
Tiba-tiba Song Yin gemetar, tanpa sadar menurunkan bahunya, “Kamu pergi saja, jangan datang mencariku lagi, aku tidak bisa bersama denganmu.”
Song Yin sungguh takut.
“Kamu cepat pergi!”
Tapi, detik setelahnya, Yu Jinglan memeluknya, menenggelamkan semua suaranya.
“Wu wu!” Yu Jinglan mencium Song Yin dengan kuat, dalam keadaan menakutkan, semuanya kacau balau, hanya dapat merasakan bibir Yu Jinglan diatas bibirnya, menciumnya dengan kuat, mengambil semua nafasnya.
Song Yin meletakkan tangannya di dadanya dengan panik, melarang Yu Jinglan untuk mendekatinya, namun Yu Jinglan meraih tangan Song Yin dengan satu tangan, dan meletakkannya kebelakangnya, dan satu tangannya lagi memeluk pinggang rampingnya.
Seketika, pelukan yang hangat, membuat Song Yin kehilangan seluruh tenaganya. Juga tiba-tiba teringat dengan perkataan ayah, apakah kamu ingin melihat Yu Jinglan masuk ke penjara?
Ada kedutan dalam hatinya, hatinya dilema!
“Ada aku, tak perlu takut!” Jeda sesaat, Yu Jinglan berbicara pelan di telinganya. “Aku akan melindungimu…”
Otaknya kosong beberapa detik, hanya bisa menatapnya dengan bengong, semua perlawanannya tak berguna, hanya bisa membiarkan Yu Jinglan melakukan yang ia mau.
Bibir Yu Jinglan menjelajahinya dengan bebas, gairah yang kuat seperti ombak.
Langsung membaringkannya ke tempat tidur.
Song Yin merasa dunia berputar, hanya merasakan jari dan lidahnya berkeliaran diseluruh tubuhnya, tubuh gemetar dengan perasaan panas dan dingin bergantian.
Dalam ciuman Yu Jinglan , perlahan-lahan tubuh Song Yin menjadi tidak tegang.
Setetes air mata menetes keluar, semua kesulitannya, ketidaknyamanan, berubah menjadi air mata, tiba-tiba Yu Jinglan berhenti, ia mencium dahinya, memeluknya, “Katakanlah, telepon dari siapa, tau siapa orangnya?”
Song Yin tersentak, menggelengkan kepala, “Dia, dia pernah menculikku kemarin, namun tidak melukaiku, ia menyuruhku untuk cerai denganmu, waktunya seminggu, namun sudah seminggu kita belum juga cerai…”
Dia mendengar, kemudian berdiri dan melepaskan mantelnya, memeluk Song Yin lagi. “Serahkan padaku, serahkan masalah ini padaku, nomornya?”
Yu Jinglan mencari ke sekeliling, mengambil ponsel Song Yin, mencari nomornya. “Yang ini? Nomor sebelum aku?”
Song Yin gemetar, menganggukkan kepala. “Iya!”
Yu Jinglan melihat kembali nomor itu, sudah menghapalnya. Jika ia tidak salah menebak, nomor ini tipe nomor sekali pakai, sama sekali tidak dapat ditelusuri siapa orangnya. Namun ia tau, sepertinya ia harus mencari Luo Weihan.
__ADS_1
Bertambah satu orang di sisi, ternyata terasa tidak begitu menakutkan. Apalagi kenyamanan yang dipancarkan tubuh Yu Jinglan , membuat Song Yin merasa nyaman, mungkin karena kelelahan setelah insomnia berhari-hari, membuat Song Yin tertidur dengan pulas, hanya teringat ia merangkul leher Yu Jinglan dengan erat saat tidur, seperti takut kehilangan sesuatu saat bermimpi.
Ketika bangun dipagi hari, cahaya matahari menembus tirai, terasa ada orang yang menekan punggungnya dengan dada, mengulurkan tangannya melewati pinggang rampingnya, kemudian memeluknya dengan erat.
Dagu yang sedikit berkumis menggosok lehernya yang mulus, terasa sedikit gatal dan geli. Tiba-tiba hati Song Yin gemetar, ia teringat sesuatu.
Teringat kejadian semalam, ia menjadi kesal, bergegas mau berdiri. Namun orang dibelakangnya malah memeluknya dengan erat.
“Kakak Yu, lepaskan aku!” Secara tidak sengaja melihat baju tidurnya masih terpakai dengan rapi, ia menghela nafasnya.
“Pagi!” Kata Yu Jinglan .
Postur seperti ini membuat Song Yin terasa bingung dan canggung.
“Yin Yin… ” Yu Jinglan tersenyum pelan, kelihatannya suasana hatinya lumayan baik, bahkan suaranya terdengar lebih hangat, dan wajah tampannya sempurna bagai dewa.
Wajah Song Yin memerah, memalingkan tatapannya, menghindar, mengerutkan alisnya, tak berani melihat Yu Jinglan .
Baru saja mau berdiri, Yu Jinglan menariknya, memaksanya untuk kembali ke postur yang tadi, dan wajah Yu Jinglan tertutupi oleh rambut panjang Song Yin.
“Kakak Yu… ” Song Yin merasa dia perlu mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu belum sempat dikeluarkan, tangan besar Yu Jinglan sudah menutup mulut kecilnya.
“Jika kamu masih mau membahas soal cerai, maka tidak perlu dibicarakan lagi!” Suara Yu Jinglan serak-serak basah, suara bangun tidurnya sangat menawan.
Song Yin menghela nafas kaget, dia membayangkan sangat banyak adegan diantara mereka, membayangkan pertengkaran antara mereka, mungkin Yu Jinglan akan menghinanya, namun tidak pernah terbayangkan, dirinya tidur didalam pelukannya, begitu tenang, sepanjang malam, Song Yin tidur dengan begitu pulas, apa jangan-jangan alasannya karena ada Yu Jinglan disisinya? Sehingga dia bisa tidur dengan begitu tenang.
Ia menarik tangannya, menatap matanya, ia melihat dekat wajahnya, wajahnya berjarak 10 cm didepannya, bibirnya tampak tersenyum namun tidak tersenyum : “Kamu tidur sangat nyenyak tadi malam!”
“Aku tidak tau.” Suara Song Yin sedikit serak, terasa sedikit malu. “Kamu cepat berdiri!”
Song Yin mencoba mendorongnya, tidak ingin posisi begini dan begitu dekat.
Yu Jinglan mengerutkan alisnya, malah bertanya, “Lapar tidak. Aku bawa kamu pergi makan.”
“Tidak, aku tidak mau!” Song Yin menggelengkan kepala, matanya tertuju pada ponsel, tiba-tiba teringat dengan kejadian tadi malam, wajahnya memucat.
Yu Jinglan melihat raut wajahnya, mengerti rasa traumanya, menghela nafas, memeluknya, “Biar aku yang mengurusnya!”
“Kamu tau siapa?” Song Yin berkata dengan suara rendah : “Bagaimana kamu menyelesaikannya? Dia mengenakan topeng! Seharusnya dia adalah orang yang kukenal, namun sayangnya aku tidak tau siapa dia!”
“Kamu tidak percaya dengan kemampuanku?” Hati Yu Jinglan menegang, paling tidak suka ada orang meragukan kemampuannya, apalagi seorang wanita, berkata dengan kesal : “Orang lain menyuruhmu cerai, kamu langsung cerai?”
Song Yin menggelengkan kepala.
Tiba-tiba dia teringat dengan perkataan ayah, ia juga tak bisa melihat Yu Jinglan dimasukkan kedalam penjara oleh ayahnya, namun ia juga tidak suka dengan perasaan yang plin plan, ia benar sangat bingung, tidak tau harus bagaimana, paling tidak suka dengan sifat membingungkan seperti ini, tidak terpikir dirinya sendiri dalam keadaan seperti ini saat ini.
“Kamu pulang saja dulu!” Song Yin berkata. “Bukankah kamu mau bekerja?”
“Kamu mengusirku?” Tatapan Yu Jinglan dingin, raut wajahnya dingin tak berperasaan, tersenyum pelan, bahkan dia sendiri tidak tau harus berkata apa, amarah menekan dadanya, dia mencibir, “Tadi malam masih menarikku dan tak mau melepaskanku, pagi hari tiba, langsung mengusirku? Siapa yang memelukmu dan menghiburmu tadi malam? Apakah kamu masih ada hati nurani?”
Song Yin terbengong, sikapnya seperti ini, sungguh sangat membuat orang marah, tadinya Song Yin masih merasa berterima kasih ada kedatangannya semalam, namun Yu Jinglan malah begitu mengejeknya sekarang, Song Yin menertawakan dirinya untuk sementara waktu. “Jadi apa yang kamu mau?”
__ADS_1
Yu Jinglan baru menyadari perkataannya sedikit kelewatan, mengecap bibirnya, merendahkan intonasinya. “Kapan kamu sidang?”