
Hello! Im an artic!
Nyaris secara naluriah, dia mendorong Song Yin dari tebing sebelum dia sempat berpikir terlebih dahulu.
“Ah—” Song Yin tidak punya waktu untuk merespons, tubuhnya sudah terjun ke bawah dengan kecepatan tinggi.
Hello! Im an artic!
“PONG—” Tangki bahan bakar meledak! Xing Jiabai belum sempat membawa Song Sitong ke sana!
Ledakan yang memekakkan telinga membuat Song Yin yang masih melayang di udara tercengang, dia berteriak sedih: “Kakak Xing, Kakak——”
Pada detik ledakan menggelagar, Song Sitong mendorong Xing Jiabai yang hendak mendorongnya itu hingga jatuh ke lantai dan menghalang di atas, ledakan dahsyat menyebabkan punggungnya diterpa puing-puing kaca mobil, “Uh—Jiabai? Apakah kamu baik-baik saja?”
“Sitong? ” Xing Jiabai berbalik dan memeluk Song Sitong.
Hello! Im an artic!
Dia merasakan sepenuhnya bahwa detik terjadinya ledakan, Sitong menyerbu ke dirinya dan menyelamatkan dirinya, “Apakah kamu baik-baik saja?”
Keduanya terkapar di tepi tebing.
“Aku…” Song Sitong tersenyum, dia tiba-tiba menyemburkan seteguk darah mengucur, lalu terengah-engah. “Aku…”
“Sitong” Xing Jiabai tercengang, dia mengulurkan tangan untuk memeluk Sitong, darah melumuri permukaan tangannya, “Ah—kamu terluka?”
“Aku… aku…” Song Sitong ingin mengatakan sesuatu, tetapi darah langsung keluar dari mulutnya begitu dia berbicara.
Tubuh Xing Jiabai gemetaran, dia berteriak dengan tergesa-gesa: “Sitong, kamu jangan menakut-nakuti aku, kamu terluka di bagian mana?”
“Aku… uh…” Song Sitong merintih kesakitan, darah terus mengalir keluar dari mulutnya. Punggungnya terdapat sebuah lubang darah yang diakibatkan oleh tancapan pecahan kaca. Darah segar mengucur keluar dari lubang tersebut. Xing Jiabai menemukannya. Punggung Sitong terluka, apakah terkena paru-paru? Apakah paru-parunya terluka? Apakah arteri pulmonalisnya terluka? Kenapa ada begitu banyak darah?
Sitong yang berlumuran darah dan tampak menyedihkan masih memuncratkan darah dari mulut, “Aku… tidak bisa bertahan lagi…”
Song Sitong terengah-engah, dia memegang erat tangan Xing Jiabai dengan satu tangan, “Beri tahu, beri tahu Jianyi, suruh… dia cari gadis lain yang baik untuk dinikahi…”
“Sitong…” Xing Jiabai tersedak. “Tidak, tidak, aku akan membawamu ke rumah sakit!”
Xing Jiabai buru-buru meraih tangan Song Sitong, menoleh, memandang api yang berkobar, kemudian melihat lima mobil lainnya, mereka semua tampak tercengang di dalam mobil.
Tapi tidak ada yang berhenti, mobil-mobil itu melaju pergi dengan cepat.
“Kembali! Kembali ke sini untuk menyelamatkan orang!” Xing Jiabai meraung keras.
“Jia, Jiabai…” Teriak Song Sitong. “Aku tidak kuat lagi… aku benar-benar… tidak bisa bertahan lagi… Jangan menyalahkan dirimu sendiri… aku sangat bahagia… Sungguh!”
“Sitong, aku akan membawamu ke rumah sakit!” Xing Jiabai tersedak oleh isak tangisnya, matanya merah, tangannya penuh dengan darah Song Sitong, begitu banyak dan terlihat sangat menakutkan. Dia memegang tangan Song Sitong dengan wajah pucat. Dia ingin memenggendongnya, tapi Song Sitong berteriak: “Jangan sentuh aku!”
“Sitong? Ayo ke rumah sakit, ayo ke rumah sakit sekarang juga! ” Xing Jiabai tidak punya waktu untuk memedulikan Song Yin lagi.
“Aku… aku benar-benar tidak bisa bertahan lagi… Kumohon… jangan sentuh aku… ” Song Sitong menggelengkan kepala.
“Sitong, bagaimana mungkin aku tidak menyelamatkanmu? Kenapa kamu begitu bodoh? Kenapa kamu melindungiku?” Jika Song Sitong tidak menyerbu ke arahnya, mungkin dia yang mati hari ini. Song Sitong menyelamatkan dirinya. Song Sitong baru saja bersama dengan Jianyi, dia baru saja memutuskan untuk tinggal di Amerika Serikat. Jika dia meninggal, dirinya benar-benar tidak berani membayangkan hal itu.
“Aku sudah bilang… setetes, setetes… budi… bakal dibalas berkali-kali lipat…” Song Sitong tersenyum, mungkin menurutnya kematian adalah kelegaan terbaik. “Aku sangat bahagia, jangan sedih… Beri tahu Jianyi, aku meninggal dengan bahagia…”
Tiba-tiba, saat itu, terdengar bunyi sirine mobil polisi yang keras.
Xing Jiabai seolah menemukan penyelamat, “Mobil polisi sudah datang, mobil polisi sudah datang, Sitong, polisi akan membawamu ke rumah sakit!”
“Aku agaknya tidak bisa bertahan lagi…”
__ADS_1
Mobil polisi akhirnya tiba.
Yu Jinglan dan Jianyi berada di dalam mobil itu, polisi yang memberi tahu mereka. Ketika melihat Song Sitong berlumuran darah, Jianyi hampir menjadi gila. Dia berlutut di sampingnya dan mengeluarkan raungan keras: “Tongtong—”
Song Sitong berlinangan air mata kebahagiaan karena dirinya masih bisa bertemu Jianyi sebelum meninggal.
“Jianyi—” Song Sitong memanggilnya dengan gugup.
Mendengar suara Song Sitong, Jianyi yang berlutut di sana memegangi wajahnya dengan tangan gemetaran.
Darah yang mengejutkan membuat seluruh tubuh Jianyi rapuh. Dia menatap Song Sitong, merasakan sakit hati yang sulit untuk pulih. Dia menatapnya dengan mata penuh kasih sayang, seperti melihat jiwa satu sama lain, seperti melihat orang terakrab di dunia.
“Tongtong, Tongtong, Tongtong…” Dia berseru dengan sedih, sekali demi sekali, sedemikian menderita.
“Aku… Jianyi… Aku sangat baik… Sangat baik… Jangan sedih…” Song Sitong mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Jianyi, nadanya sangat ringan seolah sedang menceritakan hal-hal biasa.
“Tongtong, ayo ke rumah sakit, ke rumah sakit!” Jianyi menggendong Song Sitong.
“Kenapa ini bisa terjadi?” Yu Jinglan juga kaget saat melihat pemandangan seperti itu. Dia memegang bahu Xing Jiabai dan bersuara gemetaran, “Di mana Yinyin?”.
Xing Jiabai tertegun, dia tiba-tiba teringat Song Yin, “Yinyin lompat ke laut, cepat selamatkan dia!”
“Sialan!” Nyaris tanpa berpikir, Yu Jinglan langsung melompat dari tebing, sementara Xing Jiabai berteriak kepada Jinyi dan Song Sitong yang entah bisa bertahan hidup atau tidak, “Sitong, aku tolong Song Yin dulu, kamu harus bertahan dan tunggu aku kembali!”
Song Sitong, gadis ini membuatnya sakit hati!
Setetes budi dibalas berkali-kali lipat memang pepatah yang tidak salah, tetapi dirinya tidak pernah berbudi apapun terhadap dia, kenapa dia malah begitu bodoh hingga mengorbankan diri untuk menyelamatkannya? Xing Jiabai ikut melompat ke laut.
Beberapa mobil polisi datang. Melihat pemandangan seperti itu, pemimpin yang menangani kasus tersebut segera mengambil walkie-talkie dan berkata: “Kirim seseorang ke pantai, sekarang juga!”
Yu Jinglan jatuh ke laut, tenggelam ke dasar laut, lalu terapung lagi. Begitu tubuhnya menyembul di permukaan laut, dia langsung meninggikan suaranya dan berteriak, “Yinyin? Yinyin?”
Tapi keheningan melapisi laut, tidak ada orang, dimana Yinyin? Dimana Yinyin-nya?
“Yinyin?”
Begitu muncul ke permukaan, Xing Jiabai langsung bertanya, “Apakah tidak ada orang? Di mana Song Yin?”
“Sial, ke mana dia pergi?”
“Dia melompat ke bawah!” Xing Jiabai juga terbengong!
Mungkinkah.
Dia benar-benar tidak berani memikirkannya lagi!
Keduanya berenang ke tepi pantai. Song Yin tidak ditemukan, ke mana dia pergi?
Tebingnya hanya setinggi belasan meter, seharusnya tidak mengancam nyawa! Tapi Song Yin malah hilang!
Di dalam mobil polisi.
Song Sitong memegang tangan Jianyi, mulut masih memuntahkan darah. “Jianyi, aku tidak bisa bertahan lagi…”
Melihat Song Sitong berlumuran darah dan mulut juga sedang memuntahkan darah, jantung Jianyi seolah dicabut keluar dari dada, sangat sakit. Dia akhirnya menyadari bahwa dia benar-benar tidak bisa hidup tanpa Song Sitong. Jika dia kehilangan Song Sitong, hidupnya akan lebih sengsara daripada mati! Apakah ini yang dinamakan cinta? Dia jatuh cinta padanya? Ketika dia akhirnya menyadari hal itu, Song Sitong malah mau meninggalkannya? Meninggalkannya untuk selamanya?!
“Tidak, Tongtong!” Jianyi menggelengkan kepala. “Jangan tidur, tolong jangan tidur, kita pasti akan panjang umur, jangan tinggalkan aku, tolong jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu, Tongtong, aku jatuh cinta padamu, tolong jangan tinggalkan aku!”
Air mata membasahi mata Song Sitong ketika dia mendengar Jianyi mengungkapkan cinta padanya.
Emosi melonjak, dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Dia mencoba untuk menstabilkan napas, tetapi tidak peduli bagaimana dia berusaha, dia tetap tidak berhasil. Dia merasa sangat tidak nyaman, dia hampir kehabisan napas. Dia sangat sedih, tetapi juga sangat bahagia.
__ADS_1
Jianyi merasakan semacam ketidakberdayaan ketika melihat Song Sitong memuntahkan darah serta luka di belakang punggung tidak henti mengalirkan darah. Tubuh lesu yang gemetaran menunjukkan kerapuhnya saat ini.
Rapuh.
Jianyi yang sekarang sangat rapuh.
Polisi melajukan mobil dengan sangat mantap. Semua orang yang berpengalaman tahu bahwa Song Sitong tidak akan bisa selamat. Pecahan kaca menghantam arteri, dia bakal meninggal! Dia mungkin akan meninggal di perjalanan menuju rumah sakit! Namun berdasarkan prinsip perikemanusiaan, polisi tetap melaju menuju rumah sakit untuk menghibur orang yang masih hidup.
Jianyi juga tahu bahwa Song Sitong agaknya tidak akan selamat. Dia membenamkan kepalanya di samping leher Song Sitong dengan tak berdaya, seluruh tubuhnya gemetar.
Pundak Song Sitong merasakan bahwa napas yang teratur itu adalah milik Jianyi.
Rambut Jianyi membelai pipinya, rasa gatal yang menggairahkan. Aroma sabun di sekujur tubuh Jianyi yang bercampur dengan aroma sampo lemon menerpa pangkal hidungnya.
Pada momen itu, dunia terasa hening. Dia berkata dengan susah payah: “Cari gadis lain yang baik.”
“Tidak—” Jianyi menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Kamu, pilihanku dalam hidup ini adalah kamu! Tongtong, jangan tinggalkan aku. Kamu tidak boleh begitu kejam. Kamu tidak boleh meninggalkanku ketika aku baru tahu aku mencintaimu…”
“Jangan biarkan aku pergi dengan tidak tenang, ya?” Suara Song Sitong begitu lirih dan tak berdaya dalam mengisi momen hening ini. “Aku tidak mau kamu sendirian… aku sungguh… sangat senang… terima kasih… Jianyi!”
“Tongtong… Jangan tinggalkan aku!” Gumam Jianyi, suara tercekat itu terdengar di telinga Song Sitong.
“Senang mengenalmu…” Song Sitong tersenyum.
Jianyi mengangkat kepala. Melihat air mata Jianyi menetes di wajahnya, Song Sitong tersentak dan membatukkan darah.
“Berjanjilah padaku… cari gadis lain yang baik… berjanjilah padaku!”
Jianyi menatapnya, air mata bergulir dan menetes di pipinya, lalu bercampur dengan darahnya. “Tongtong!”
“Berjanjilah padaku!”
Song Sitong begitu mendesak, mungkin karena dia merasa dirinya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Bibirnya membentuk senyuman, menatap Jianyi dengan penuh harap, “Berjanjilah padaku — tolong—”
Selanjutnya, suasana memasuki keheningan sejenak. Air mata Jianyi menetes dalam jumlah yang tak terkira. Air mata dan darah bercampur dan tidak dapat dipisahkan lagi.
Setelah sekian lama, Jianyi akhirnya tersedak sambil mengangguk, “Aku akan, aku akan mencari gadis yang baik! Tapi, itu bukan Song Sitong! Siapapun tidak akan bisa menggantikan Song Sitong!”
Air mata mengungkapkan kerapuhannya.
Song Sitong berusaha mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata Jianyi. “Jianyi, jangan menangis—”
“Jangan tinggalkan aku! Song Sitong, kita harus menjadi kekasih sepanjang masa, tidak, kita harus menjadi kekasih untuk selamanya. Bagaimana boleh kamu meninggalkanku?” Jianyi bergidik, suaranya tercekat: “Siapa yang mengizinkanmu meninggalkanku? Siapa yang mengizinkan? Aku tidak mengizinkannya! Aku tidak mengizinkan kamu meninggalkanku, apakah kamu mendengarnya?”
Jari-jari mereka terjalin satu sama lain. Semua cinta dan benci, suka dan duka, terkunci pada momen ini dan tidak akan berakhir!
Song Sitong tersenyum, senyuman indah itu bermekaran di bibirnya, “Jianyi… selamat tinggal… Terima kasih atas kebahagiaan yang telah kamu berikan padaku… Kehidupan selanjutnya, aku akan mencintaimu dengan tulus…”
Selamat tinggal! cintaku!
Mata Song Sitong perlahan memejam…
Kesadarannya perlahan-lahan menghilang…
Selamat tinggal, Jianyi, cintaku. Di kehidupan selanjutnya, aku akan mencintaimu dengan tulus!
Air mata Jianyi jatuh di wajah Song Sitong.
“Tongtong, jangan tidur, tolong, jangan tinggalkan aku!” Jianyi bergumam di dekat telinga Song Sitong, tersedak. Dia memeluknya dengan erat, “Jangan tinggalkan aku…”
Pada akhirnya, Song Sitong tidak bisa bernapas lagi, napasnya berangsur-angsur menghilang!
__ADS_1
Jianyi yang berlinangan air mata menciumnya, “Tongtong, aku tidak mengizinkanmu pergi. Aku tidak akan mencari siapapun. Kalau kamu berani pergi, aku bakal melajang sepanjang hidup!”
Namun, napas Song Sitong telah terhenti…