
Hello! Im an artic!
Ke arah podium, Su Yan melihat bahwa Mu Siyuan ada di sana. Pada saat ini dia baru mengetahui bahwa acara amal akan dilakukan pada malam ini. Ternyata ini semua diatur oleh Mu Siyuan .
Dan Mu Siyuan saat ini sedang berbicara dengan pembawa acara.
Hello! Im an artic!
Setelah beberapa saat, terdengar suara bip, dan seluruh isi aula seketika menjadi hening.
“Kepada para hadirin sekalian. Merupakan suatu kehormatan bagi saya dapat mengundang anda semua pada malam ini ……” Mu Siyuan berdiri di atas podium dan mulai berpidato. Su Yan keluar lagi dari ruangan, dia tidak tertarik dengan acara pelelangan amal. Dan dia sedang tidak berminat untuk membuatnya tertarik saat ini.
Dia datang ke atap lagi, melihat langit malam, dan merasa sangat kesepian.
Rong Hanchi berjalan ke Feng Baiyi sambil memegang gelas anggur, dan mata kedua pria itu saling bertemu.
Hello! Im an artic!
Feng Baiyi mengangkat matanya dan menatap Rong Hanchi, lalu bertanya dengan cara yang aneh dan dingin: “Apa?”
“Yanyan saat ini sedang sakit, apakah kamu tahu itu?!” Rong Hanchi hanya mengucapkan kata-kata ini. “Tidak ada yang menjaganya beberapa hari ini, oleh karena itu dia tinggal bersamaku!”
Feng Baiyi terkejut sesaat, bibirnya mengerucut, lalu tertawa sinis. “Aku lihat dia bermain dengan sangat puas!”
“Feng Baiyi, kamu jangan tidak tahu diri!” Rong Hanchi memperingatkannya lalu bangkit dan berjalan menuju atap.
Hanya itu yang bisa dia lakukan. Meski dia ingin meninjunya untuk menghancurkan kesombongannya, tetapi jika dia benar-benar melakukannya, dia khawatir akan membuat Yanyan semakin sedih! Rong Hanchi tersenyum dengan pahit, bagaimanapun juga dia harus menjaga kebahagiaan Su Yan. Tidak peduli siapa pun itu, dia harus menjaga kebahagiaannya!
Feng Baiyi memikirkan dengan serius mengenai percakapan yang baru saja dia lakukan. Kemudian ia berjalan keluar dan menelepon. “Selidiki keberadaan nyonya beberapa hari ini. Selidiki dengan lebih teliti, aku ingin segera mengetahuinya!”
Rong Hanchi melihat sosok yang sedang kesepian tersebut di atap sedang bersandar di pagar. Matanya penuh dengan kelembutan dan bercampur dengan emosi yang kompleks. Dia mengepalkan tinjunya, melepaskannya lagi. Melepaskan tubuhnya yang berat, dan merilekskan diri lalu berjalan menghampiri.
“Yanyan? Apakah kamu ingin berdansa?”
Su Yan menoleh dan melihat ke arah kakak Chi, dan tersenyum: “Tapi aku tidak bisa!”
“Aku ajari!” Kata Rong Hanchi dan meraih tangannya. Keduanya kembali ke dalam aula. Acara pelelangan tersebut sepertinya telah berakhir, tetapi Feng Baiyi menghilang. Iringan lagu dansa terdengar, lalu Su Yan dipeluk menuju lantai dansa oleh Rong Hanchi.
Setelah beberapa saat, telepon Feng Baiyi berdering, dia berada di luar aula dan menjawab telepon. “Tuan muda, nyonya memberikan surat ijin dan surat rawat inap di rumah sakit. Dua hari yang lalu dia mengalami keracunan makanan, dan dirawat selama satu malam di rumah sakit ……”
Feng Baiyi tidak mendengarkan kalimat-kalimat selanjutnya, dia merasa tertekan tidak terkendali. Keracunan makanan? Sial, apa yang sebenarnya dia lakukan? Rasa penyesalan yang luar biasa datang membanjiri dirinya. Feng Baiyi lalu menghisap dalam-dalam rokoknya, lalu melangkahkan kakinya menuju aula.
Ternyata, dia benar-benar adalah orang yang salah! Mu Siyuan benar!
Di lantai dansa, Su Yan berada di pelukan Rong Hanchi, wajahnya terlihat linglung sehingga hampir kram. “Tidak, kakak Chi, aku tidak bisa. Kakimu bengkak karena terinjak olehku! Sakit tidak?”
“Tidak sakit!” Rong Hanchi menggelengkan kepalanya dengan acuh tak acuh. “Ayo, anggap ini sebagai latihan!”
Dia tidak suka melihatnya sendirian di luar begitu kesepian, itu akan menyakiti hatinya. Oleh karena itu, dia menariknya masuk lalu mengajaknya berdansa. “Pasti bisa, kamu sangat pintar. Pasti bisa mempelajarinya, ikuti langkah kakiku!”
“Tapi semua orang menonton, aku tidak mau berdansa! Aku tidak bisa, aku hanya akan membodohi diriku sendiri!” Su Yan mengglengkan kepalanya.
Orang-orang di sekitar benar-benar sedang menonton mereka, dan mereka semua terkejut bahwa dia tidak bisa menari. “Jangan pedulikan omongan orang lain! Kita tetap lakukan apa yang sedang kita lakukan!” Rong Hanchi memegang pinggangnya, dan tangan yang satunya meraih tangannya lalu diletakkan di pundaknya mengatur postur untuk menari lagi.
“Ikuti langkahku.” Suara Rong Hanchi terngiang di telinganya. Su Yan lalu memeluknya dan bercanda-canda di lehernya. “Tidak! Aku tidak ingin berdansa lagi. kakak Chi, aku tidak mau!”
__ADS_1
Rong Hanchi menggelengkan kepalanya tak berdaya, “Yanyan, jangan bercanda!”
“Aku benar-benar tidak ingin berdansa!” Su Yan menggelengkan kepalanya dengan menyedihkan.
Orang-orang di lantai dansa tiba-tiba disingkirkan oleh Feng Baiyi yang masuk ke lantai dansa. Rong Hanchi terkejut melihat ekspresi di wajah Feng Baiyi yang tampak penuh dengan tekanan. Dia berjalan begitu saja, melangkah, menunggu hingga Su Yan merasa ketika sebuah hembusan angin bertiup di belakangnya. Lengannya sudah dipegang oleh seseorang, tangan itu terasa sangat besar, tiba-tiba dia menoleh dan melihat Feng Baiyi.
“Ikut denganku!” Feng Baiyi berkata dengan sungguh-sungguh, menariknya untuk pergi!
Su Yan tertegun dan menggelengkan kepalanya: “Aku tidak mau! Kakak Chi, aku tidak ingin pergi dengannya!”
Ketika Rong Hanchi mendengar ini, dia segera meraih tangan Su Yan. “Ayo pergi ke atap dan berbicara!”
Jadi, ketiganya pergi ke atap.
“Bonekaku, pulanglah denganku!” Feng Baiyi menolak untuk melepaskannya.
“Aku tidak mau pergi!” Su Yan tetap menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin menghadapi orang gila seperti ini yang berubah-ubah menjadi panas dan dingin sesuka hatinya. Beberapa saat yang lalu dia masih bersikap dingin kepadamu bahkan sampai mengolok-olok dirimu, dan berubah menjadi lembut dan penuh kasih sayang pada saat berikutnya.
“Bonekaku, ada yang ingin kukatakan!” Feng Baiyi menatapnya dalam-dalam, sebelum berpaling kepada Rong Hanchi, “Tolong keluar dulu!”
Hati Su Yan seketika menjadi tegang.
Mata Rong Hanchi bertanya pada Su Yan, tetapi dia tidak menjawab.
Kemudian Rong Hanchi memilih untuk melepaskan tangannya yang lain dan berkata, “Yanyan, aku ada di aula!”
Hanya ada dua orang yang tersisa di atap. Su Yan terdiam tak berbicara, cahayanya sangat redup, dan sinar mata dari Feng Baiyi dipenuhi dengan rasa prihatin. Tiba-tiba dia mengullurkan tangannya dan memeluknya. Pada saat Su Yan sedang meronta ingin melepaskan diri darinya, Feng Baiyi menundukkan kepalanya dan mencium bibirnya. Lidahnya masuk ke dalam dan menyentuh lidahnya. Aroma tembakau bercampur dengan bau sampanye dan juga dengan nafas maskulinnya yang unit masuk begitu saja ke dalam mulutnya.
Juga, rasa rindu.
“Uh –– Tidak –– Mau ––” Dia mendorongnya dengan kasar, tidak ingin takluk olehnya, tidak akan!
“Bonekaku!” Feng Baiyi menciumnya dengan hebat untuk waktu yang lama. Ia menggunakan ciuman itu untuk menafsirkan pikiran dan rasa sakitnya. “Maafkan aku!”
Su Yan tertegun, hatinya melompat, lalu berkata. “Meminta maaf untuk apa?”
“Kamu keracunan makanan? Pagi itu, di rumah sakit apakah kamu keracunan makanan?” Dia menatapnya dalam gelap. Meskipun cahayanya sangat redup, tetapi wajahnya masih terlihat sangat pucat. Pantas saja dia bisa muncul di rumah sakit pagi-pagi buta. Pantas saja dia berkata bahwa dia sedang tidak sehat dan memintanya untuk mengantarnya pulang!
Namun ––
Apa yang dia lakukan?
Hatinya dipenuhi dengan penyesalan yang tak terbatas. Penyesalan yang ia rasakan dari awal. Dia benar-benar bajingan, dia terlarut di dalam kecemburuan. “Bonekaku ––”
Ia mengulurkan tangannya dan memeluknya lagi. Dia langsung memeluknya dalam-dalam. Su Yan benar-benar terperangkap olehnya, dan hembusan nafasnya yang panas menyebar ke lehernya. “Boneka, apakah kamu membenciku?”
Su Yan merasakan sesak di hatinya, tersenyum pahit, lalu menggelengkan kepala dan mendorongnya. “Lepaskan!”
“Boneka!” Feng Baiyi mengerutkan keningnya.
Nada suara Su Yan sangat datar. “Lepaskan aku!”
“Bonekaku!” Feng Baiyi terkejut, tidak dapat bereaksi untuk sesaat, lalu melepaskannya.
Tanpa memandangnya sekali pun, Su Yan berkata dengan dingin: “Aku bukan orang yang dapat diperlakukan dengan seenaknya olehmu. Datang ketika dipanggil, dan pergi ketika diusir. Selamat tinggal!”
__ADS_1
Dia berbalik lalu hendak pergi!
“Bonekaku!” Feng Baiyi tiba-tiba memeluknya dari belakang, memerangkapnya di dalam pelukannya. “Kamu benar-benar membenciku? Bukankah begitu?”
“Tidak berani!” Su Yan menggertakkan giginya lalu mendengus dingin. “Aku tidak cinta atau pun benci kepadamu!”
Dia berjuang, tidak ingin takluk olehnya. Dia mencoba sekuat tenaga untuk berbicara dengan tenang.
Sedangkan orang yang ada di belakangnya tersebut malah menundukkan kepalanya lalu menggigit daun telinganya tanpa malu-malu, menyebabkan dirinya bergetar hebat.
“Feng Baiyi, lepaskan aku!” Nada suara Su Yan bergetar, tetapi dia berusaha mencoba menangkan dirinya sendiri.
“Tidak!” Dia terus melahap daun telinganya, menggigit dengan lembut, dan mendesah di telinganya dengan lembut dan dominan: “Aku tidak akan melepaskanmu, dan tidak akan melepaskanmu lagi!”
Su Yan tertawa kecil, dengan senyum pahit di mulutnya, “Maaf Feng Baiyi, aku masih ingin pergi bermain. Aku benar-benar tidak ada waktu untuk menemanimu menjadi gila!”
“Bonekaku!” Mata Feng Baiyi menegang. Su Yan ternyata menggunakan kata-katanya sendiri untuk menyerang balik kepada dirinya, “Apakah kesehatanmu sudah lebih baik? Apakah kamu masih merasa tidak nyaman? Mari kita pulang, ya?”
“Tidak! Itu adalah rumahmu! Bukan rumahku!” Su Yan mendengus dengan dingin, “Aku tidak punya rumah!”
Memikirkan hari ketika dia keracunan makanan dengan menyedihkan. Pria itu berada di kamar pasien dan memberi makan Chen Huilun dengan lembut. Sedangkan dia, dia harus bertahan dari rasa sakitnya karena keracunan makanan. Hatinya merasa sangat tersiksa. Air mata keluar begitu saja, dan menetes di tangan Feng Baiyi. Tangan Feng Baiyi semakin memeluk pinggangnya dengan erat. “Ayo pulang! Bonekaku jangan menangis!”
“Enyah kau!” Su Yan mencoba sekuat tenaga untuk menelan kembali air matanya. Wajahnya yang putih menahan perasaannya yang sudah luluh lantak, dan suaranya tidak lagi terdengar berbelas kasih. “Enyah kau, aku tidak menginginkanmu lagi! Aku benci padamu!”
“Bonekaku, maafkan aku, aku memang pantas untuk mati!” Nada suara yang lembut tersebut mengungkapkan emosinya, penyesalan yang tiada akhir.
Su Yan dipeluk olehnya, dan air matanya kembali jatuh tak berdaya. Su Yan tiba-tiba mengambil tangan besar pria itu lalu menggigitnya.
Feng Baiyi terkejut, tidak mencoba melepaskan diri, hanya berbisik lembut dengan mulut di telinganya. “Jika kamu membenciku, gigitlah dengan keras!”
Su Yan menghentikan gigitannya. Punggung tangannya terlihat jelas sebuah bekas gigitan yang dalam, tetapi tidak sampai robek. Dia tidak lanjut untuk menggigitnya dengan keras. Air matanya mengalir ke bawah. Feng Baiyi merasakan perih di hatinya ketika merasakan sebuah sensai hangat dan basah dari air matanya tersebut. Ekspresinya penuh dengan penyesalan. “Gigit, selama kamu senang!”
Tiba-tiba dia menghempaskan tangannya yang besar tersebut, lalu berteriak dengan rapuh: “Lepaskan aku! Aku tidak ingin melihatmu malam ini!”
Dia tertegun, “Kalau besok?”
“Besok juga tidak mau!” Dia menggigit bibirnya.
“Kalau begitu kamu pergi saja!” Tiba-tiba dia melepaskannya dengan penuh rasa sakit. Matanya menyala-nyala seperti terbakar dan memancarkan kilauan cahaya yang kompleks.
Su Yan mengatupkan mulutnya, menegakkan punggungnya, dan benar-benar berjalan keluar.
“Apa kamu benar-benar pergi?!” Dia berteriak di belakangnya, dan tiba-tiba mengulurkan tangan lalu memeluknya, “Tidak peduli apakah kamu membenciku atau apa pun. Malam ini, kita pulang ke rumah!”
Dia sudah gila, dia sudah tidak peduli apa yang terjadi dan segera menggendong Su Yan dan langsung pergi ke aula.
“Lepaskan aku!” Su Yan berteriak.
“Kalau kamu bergerak lagi, nanti pantatmu akan kelihatan!” Ucapnya mengingatkan saat dia melihat kakinya yang meronta-ronta. Kakinya yang putih dan jenjang tersebut terlihat sampai keluar.
Karena dia sedang mengenakan gaun, sebuah gaun pendek dan imut. Dan benar, dia tidak lagi meronta-ronta.
Di aula, Rong Hanchi memperhatikan Feng Baiyi berjalan dari atap dengan Su Yan di pelukannya. Untuk sesaat, dia merasa lega, tetapi sangat masam. Rong Hanchi tidak mengatakan apa-apa saat matanya bertemu dengan Feng Baiyi. Dia berbalik lalu berjalan keluar.
“Kakak Chi!” Su Yan yang melihat Rong Hanchi yang hendak pergi segera ingin meminta bantuan. Namun, Rong Hanchi hanya memberinya senyuman dan berjalan keluar dari aula.
__ADS_1
Feng Baiyi menggendongnya langsung ke mobilnya, lalu membawanya kabur dari pesta.
Telepon Su Yan berdering. Su Yan yang melihat telepon dari Rong Hanchi langsung segera menjawab telepon tersebut dan berteriak: “Kakak Chi, aku ingin pergi ke rumahmu!”