
Hello! Im an artic!
Ini adalah pertama kalinya Feng Baiyi melihatnya terlihat sangat pemalu. Kepalanya menunduk sampai ke dadanya. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi, ketika dia hendak bertanya lagi, telepon tiba-tiba berdering.
“Halo!” Feng Baiyi berkata dengan suara yang dalam.
Hello! Im an artic!
“Yi! Lain kali jangan biarkan Su Yan datang ke departemen amal lagi. Song Yan sang wanita mesum ini dengan teganya membiarkan Su Yan menonton film porno!” Ucap Mu Siyuan memberitahukan kepadanya melalui telepon. “Jaga baik-baik adikku, jangan sampai dia belajar menjadi tidak baik!”
Feng Baiyi terdiam untuk sesaat, lalu menatap kepada Su Yan tanpa sadar. Pantas saja wajahnya begitu merah, tidak heran dia terlihat sangat terengah-engah, ternyata begitu! ……
(Tidak dapat dideskripsikan) ……
Pukul setengah tujuh malam.
Hello! Im an artic!
Feng Baiyi mengantar Su Yan menuju Universitas D, mobilnya diparkirkan oleh di depan gedung desain. “Aku akan menunggumu di sini, segera turun setelah kelas usai!”
“Tapi itu akan memakan waktu satu setengah jam! Waktu akan menunjukkan pukul setengah sembilan malam ketika aku keluar!” Maksud dari perkataannya adalah, apakah dia akan terus menunggu?
“Aku akan menunggumu!” Katanya dengan sungguh-sungguh. “Belajar dengan baik!”
“Baiklah!” Su Yan turun dari mobil dengan tenang. Dia berbalik untuk melihat Feng Baiyi, dan dia kembali kepada dirinya yang selalu dingin seperti biasa. Terlihat seperti hanya mengantarnya karena searah dengan acuh tak acuh.
Dia cemberut, “Apakah kamu tidak ingin mengatakan apa-apa?”
Feng Baiyi menatap ke arahnya. Langit semakin gelap, dan kemudian dia berkata: “Kemarilah!”
Dia berjalan ke jendela mobilnya dan membungkuk.
Dia mengulurkan tangannya, meraih kepalanya dan mencium bibir kecilnya. “Kamu adalah wanitaku! Ini yang ingin aku katakan!”
Wajah Su Yan tersipu lalu dia mengerutkan hidung kecilnya, “Mengerti!”
Kemudian, dia berbalik dengan manis dan pergi ke kelas.
Suasana hatinya sudah lega, tampaknya langkahnya sudah tidak terlalu berat lagi, dan dia berjalan ke lift sambil bersenandung dengan riang.
Feng Baiyi terus menunggu di luar gedung sekolah, dan kelas telah berakhir pada pukul setengah sembilan malam. Dia terus menunggu, tetapi dia merasa sangat bahagia.
Telepon berdering, dia mengangkatnya dan berkata dengan serius ke telepon: “Katakan!”
“Tuan muda! Hasil penyelidikan hanya menunjukkan bahwa Zuo Shaofeng adalah seorang taipan real estate yang baru dikembangkan di kota Q. PT. Zuo Shi Xin Cheng Shi didirikan pada dua tahun yang lalu. Hanya dalam waktu dua tahun yang singkat, Zuo Shaofeng dapat menduduki peringkat pertama dalam bidang usaha real estate di kota Q. Dia mendapatkan dukungan dari pemerintah, dan menjalankan semua proyek perencanaan dari pemerintah. Menurut data, dia pernah mengembara di Amerika Serikat selama tujuh tahun, kemudian dia masuk ke jurusan keuangan internasional di Universitas Harvard, dan memperoleh gelar sarjana ganda dalam jurusan bisnis administrasi dan teknik keuangan dalam kurun waktu empat tahun. Adapun mengenai keraguan anda mengenai identitas dirinya yang lain, kami masih belum menemukan hasil apa pun! Dia mengubah namanya menjadi Zuo Shaofeng saat dia menyelinap masuk ke Amerika Serikat, dan namanya yang sebelumnya masih belum ditemukan oleh kami. Kami mencurigai bahwa ada seseorang yang secara khusus sengaja menghancurkan seluruh dokumen mengenai dirinya di masa lampau!”
“Mengerti!” Feng Baiyi berkata dengan sungguh-sungguh: “Terus ikuti pergerakannya!”
“Siap!”
Telepon dimatikan!
Feng Baiyi kembali mengeluarkan ponselny yang lain, seperti sebuah alat komunikasi khusus dan kemudian memutar nomor jarak jauh internasional: “Ini aku!”
Terdengar sebuah tawa tua yang disertai dengan sedikit candaan dari sana: “Bocah tengik, kenapa kamu mencariku?”
“Apakah Zuo Shaofeng adalah orangmu?” Feng Baiyi bertanya terus terang.
“Uh! Zuo Shaofeng? Zuo Shaofeng! Bocah tengik, bagaimana aku bisa kenal dengan Zuo Shaofeng? Siapa Zuo Shaofeng? Seharusnya di sana sudah malam hari, bukan? Kamu menghubungiku hanya untuk menanyakan apakah aku mempunyai hubungan dengan Zuo Shaofeng?” Suara di sisi lain telepon terdengar sangat tidak puas. “Mengapa aku harus memberitahumu?”
“Kalau kamu tidak mengenalnya, dan apabila aku melukainya, aku tidak akan bertanggung jawab!” Mata Feng Baiyi berkilat-kilat, dan dia berkata dengan suara yang dalam: “Kamu yakin kamu tidak mengenalnya?”
“Melukainya? Hahaha …… Yi, kamu belum tentu adalah lawannya!” Terdengar gelak tawa yang angkuh dari sana. “Zuo Shaofeng tidak lebih buruk darimu!”
“Jadi dia adalah orangmu?”
“Ya! Jika kamu tidak ingin mengambil alih, aku berencana untuk membiarkannya untuk mewarisi usahaku, dan memperluas kekuasaanku!”
“Aku mengerti! Biarkan dia yang mengambil alih usahamu, aku akan menutup telepon!” Feng Baiyi hendak menutup telepon.
“Hei –– Jangan ditutup!” Ucapnya berteriak terburu-buru.
Feng Baiyi menunggu.
“Aku dengar kamu sudah menikah. Dan pasanganmu adalah perempuan kecil yang kamu taksir sewaktu kamu masih kecil! Yi, orang yang dingin sepertimu dapat bertindak begitu romantis? Aku tidak tahu apakah anak itu memenuhi syarat sebagai istri dari seorang ketua!”
__ADS_1
“Membosankan!” Memikirkan Su Yan, Ekspresi di wajah Feng Baiyi kembali melembut. “Aku sudah bilang tidak ingin menjadi ketua!”
“Ya, sangat membosankan! Pikirkan kembali, Yi, tidak ada lagi yang lebih pantas darimu!”
“Aku tidak mau!”
“Bocah tengik, apakah menurutmu posisi ketua dapat diduduki oleh siapa saja yang menginginkannya?”
***
“Selamat tinggal!” Feng Baiyi berkata dengan suara yang dalam lalu menutup telepon begitu saja. Dia duduk di dalam mobil sambil mengatupkan mulutnya. Ya, dia sudah menikah. Meskipun metodenya tidak terlalu pintar, tetapi dia tidak pernah gagal untuk meraih apa yang diinginkannya.
Waktu dengan cepat tiba pada saatnya pulang sekolah. Feng Baiyi turun dari mobil, dan pergi ke lobi lantai satu secara langsung, menunggu gadis kecil yang turun dari lift.
Sosok yang besar tersebut menunggu di bawah bayang-bayang koridor lantai satu. Ia tidak ingin menimbulkan sensasi di sekolah, tetapi dia juga ingin menjemput wanita kecilnya tersebut. Sungguh kontradiktif.
Sekumpulan orang turun dari lift, dia tidak melihat Su Yan.
Feng Baiyi memandang lift dengan gelisah, mengapa dia masih belum turun?
Feng Baiyi menyalakan rokoknya dengan cemas, bersandar di samping. Matanya yang dalam penuh dengan kekhawatiran. Tetapi dia tidak berani untuk langsung naik ke atas, karena takut melewatkan dirinya. Gadis kecil sialan, dia sungguh khawatir.
Meskipun dia tahu bahwa dia hanya sedang belajar, tahu bahwa dia baik-baik saja. Tetapi melihat siswa lain yang pergi, dia merasa sangat khawatir dan benar-benar tidak ingin dia sekolah. Pada saat ini, dia sangat ingin mengikatnya ke sisinya tanpa membiarkannya pergi kemana pun. Tetap bersama dengannya dan menjadi wanita kecilnya.
Di bayangi oleh asap rokok, matanya yang dalam tersebut tiba-tiba meredup. Feng Baiyi menyipitkan matanya dan melihat sosok yang berlari di pintu keluar tangga. Sialan! Itu adalah Su Yan, puntung rokok tersebut dibuang olehnya ke tanah, dan sosoknya yang ramping tersebut segera berlari menghampirinya dengan cepat seperti angin puyuh.
Dia mengangkat kepalanya, dan melihat Su Yan yang berlinang air mata.
“Bonekaku, kenapa kamu menangis?” Tatapan Feng Baiyi yang gelisah tertuju pada wajahnya, dia terlihat sangat khawatir dengannya.
“Feng Baiyi!” Su Yan mengangkat kepalanya, menatap wajah akrab Feng Baiyi, dan membenamkan kepalanya dalam-dalam di pelukannya. Untuk sesaat dia seperti telah kehilangan keberaniannya. “Aku tidak mau sekolah lagi, boleh tidak?”
“Kenapa tidak ingin?” Tanyanya.
Dia tidak tahu apa yang telah terjadi.
“Aku akan menjadi kutu beras sepanjang hidupku, boleh tidak?” Tanyanya lagi dengan nada yang memelas.
“Ada apa?” Dia mengulurkan tangannya lalu memeluknya. “Nanti ceritakan setelah sampai di rumah!”
Keduanya masuk ke dalam mobil. Sebelum menyalakan mobil, dia menemukan bahwa wanita itu sedang menggenggam erat ujung pakaiannya. Ekspresinya yang menyedihkan terlihat seperti sebuah boneka yang ditelantarkan oleh orang lain, terlihat sangat menyedihkan.
Kemudian, dia bersandar kepadanya. “Apakah aku bodoh?”
“Uh! Siapa yang bilang kamu bodoh?” Dia bertanya dengan lembut. Feng Baiyi menghela nafas, dan dengan lembut memberikan kecupan di dahi Su Yan. “Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?”
Su Yan mendongak dan menatapnya, “Kata dosen, aku bodoh!”
“Dosen?” Feng Baiyi mengerutkan kening, “Apakah ada dosen yang rendahan seperti itu? Beraninya mengatakan bahwa muridnya sendiri bodoh! Dosen seperti itu tidak layak menjadi seorang pengajar! Besok aku akan mengajukan keluhan, dan mengganti dosennya untukmu!’
Su Yan menatap wajahnya, melihatnya yang mengkritik dosen tersebut, tiba-tiba dia tersenyum. “Hehe, senangnya memiliki seorang suami! Tetapi dosen itu sangat baik, aku yang terlalu bodoh.”
Setelah berbicara, dia melingkarkan lengannya di lehernya dan menciumnya dengan mesra di wajahnya, membuat Feng Baiyi tertegun untuk sesaat.
“Sebenarnya dosen itu juga tidak salah! Aku yang terkadang sangat bodoh. Bisa-bisanya aku masih membela orang lain ketika aku disakiti olehnya. Itu sebabnya dosen mengatakan aku bodoh!” Katanya sambil tersenyum. “Hari ini ada orang yang menarik kursiku, dia ingin mempermalukan diriku dan membuatku terjatuh. Setelah itu, dosen pun mengetahuinya lalu memarahinya, tetapi aku malah membela orang itu. Dosen mengatakan bahwa dia belum pernah melihat murid yang sebodoh diriku. Sudah jelas sedang dianiaya oleh orang lain, tetapi malah membela orang tersebut!”
Ketika Feng Baiyi mendengar ini, hatinya merasa terasa sakit. “Siapa yang ingin membuatmu jatuh? Sakit tidak?”
“Tidak sakit!” Dia menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu kenapa kamu menangis?” Dia sangat bersedih, dan berpikir bahwa dia harus menyelidiki hal ini. Sial, ada orang yang berani untuk menganiaya bonekanya.
“Aku hanya merasa sedikit kesepian. Semua orang tidak menyukaiku!” Dia mengatupkan mulutnya.
“Itu karena semua orang iri padamu!” Dia berkata dan teringat kembali akan berita pada waktu itu, teringat kembali akan dirinya yang sudah merupakan salah satu bagian dari keluarga Rong, dan lalu hanya bisa menghela nafas. “Kamu tidak akan sendirian. Mereka yang iri padamu tidak layak menjadi temanmu! Bukankah kamu memiliki Guan Xiaojin sebagai temanmu? Teman baik cukup satu atau dua orang saja!”
Dia mendengarkan kata-katanya yang sabar, melihat dagunya yang tampan, dan tiba-tiba ingin memiliki tempat untuk berpulang. Tetapi dia ketakutan, dia sangat takut untuk kehilangan! Sebenarnya dia telah memberikannya tempat untuk berpulang, tetapi dia selalu takut itu semua akan tiba-tiba menghilang! Kehilangan!
Feng Baiyi tersenyum hangat kepadanya. Tangannya yang ramping membelai pipinya dengan kehangatan, dan berbisik: “Jangan berpikir macam-macam. Seusai sekolah, langsung datang ke kantor. Kamu tidak akan sendirian bersama denganku. Aku juga tidak akan membiarkanmu merasa kesepian!”
Kalimatnya yang terakhir terdengar sangat ambigu sehingga membuat wajah Su Yan memerah.
Senyum di mata Feng Baiyi semakin dalam, dan suaranya parau. “Istriku, ayo pulang!”
Telepon Feng Baiyi berdering segera setelah mereka meninggalkan Universitas D.
__ADS_1
Dia menjawab panggilan tersebut, lalu berkata dengan nada yang dingin: “Huilun, ada apa?”
Dia tidak tahu apa saja yang dikata di sana!
Su Yan tertegun untuk sesaat ketika mendengar kata Huilun disebut olehnya. Lalu dia mendengar Feng Baiyi berkataa lagi: “Ya, besok adalah akhir pekan. Perusahaan baik-baik saja, tetapi aku ingin membawa bonekaku pergi! Kamu jaga diri baik-baik! Semoga cepat sembuh! Kita tidak akan pergi ke rumah sakit besok! Lusa pun juga tidak!”
Su Yan mengerutkan keningnya, lalu mendengar Feng Baiyi berkata lagi: “Huilun, kamu tidak perlu memikirkan biayanya. Bonekaku adalah istriku, jadi aku yang akan membayarnya! Aku benar-benar meminta maaf atas segala kerugian yang telah kamu alami!”
Setelah berbicara, dia menutup telepon lalu mengemudi dengan tenang.
“Feng Baiyi, terakhir saat kamu bersikap dengan lembut kepada Chen Huilun apakah hanya karena berpura-pura saja di hadapanku?” Setelah ragu-ragu untuk waktu yang lama, Su Yan akhirnya tidak bisa menahan diri lagi lalu bertanya kepadanya.
Feng Baiyi diam tak bersuara, bibirnya pun dikerutkan olehnya dan menampilak sebuah senyuman tipis di sudut bibirnya.
“Apakah kamu berbohong padaku?” Dia bertanya lagi.
“Besok kemana kita akan pergi bermain?” Dia membuka mulutnya.
“Ha! Apakah kita benar-benar tidak akan menjenguk Chen Huilun besok? Kamu baru saja mengatakan bahwa kamu tidak akan pergi esok hari dan juga pada hari berikutnya. Apakah dia ingin kamu pergi menjenguknya?”
“Tidak pergi!” Dia langsung menjawabnya. “Sudah ada perawat khusus yang menjaganya, tidak usah khawatir!”
“Mengapa kamu sangat santai?” Dia sedikit curiga, dan tiba-tiba mengerutkan keningnya dan berkata dengan tidak puas: “Pria itu mengerikan. Beberapa saat sebelumnya dia dapat bertindak dengan sangat lembut kepada seorang wanita, tetapi kemudian dapat berubah menjadi cuek dan kejam pada saat berikutnya!”
Dia menggelengkan kepanya tertawa. “Bonekaku, apakah kamu sedang membela wanita lain karena tidak diperlakukan dengan adil?”
“Bagaimanapun itu, kamu adalah orang yang berdarah dingin!” Katanya marah.
Pria itu mengulurkan tangannya, meraih tangan mungilnya sambil memegang kemudi dengan tangannya yang satu. “Bonekaku, kita harus saling mempercayai di masa depan, oke? Apa pun yang kita lakukan, kita akan saling percaya satu sama lain!”
“Kamu yang tidak suka mempercayaiku!” Tuduhnya.
“Tidak akan lagi!” Katanya.
“Ya! Bagus! Tapi apakah kamu benar-benar layak untuk ku percaya?” Dia kembali bertanya-tanya. “Siapa yang tahu kapan kamu akan memanfaatkan diriku sama seperti kamu yang memanfaatkan Chen Huilun?”
“Aku tidak akan memanfaatkanmu!” Ucapnya, “Sampai mati pun tidak akan!”
“Mari kita lihat dulu! Lihat performa darimu! Jika performa mu tidak bagus, aku akan kembali kepada kakak Chi dan tinggal di sana. Sekarang aku punya dua orang kakak!”
“Bonekaku?” Su Yan sudah memakan habis Feng Baiyi. Feng Baiyi hanya bisa memandangi wanita kecil yang ada di sampingnya tersebut dengan frustrasi. Ia meremas tangan mungilnya dan berkata dengan mendominasi: “Aku adalah keluargamu, selanjutnya jangan pernah merindukan orang lain!”
“Feng Baiyi, apakah kamu bahagia?” Su Yan tiba-tiba berkata sambil mengaitkan tangan Feng Baiyi dan menjalin jari-jarinya.
Dia meremas tangannya erat, dan bertanya balik. “Apakah kamu merasa bahagia?”
“Tidak tahu!” Jawabnya jujur.
Matanya bersinar. “Tidak bahagia?”
Dia mengerutkan kening, bertanya dengan ragu: “Mengapa kamu ingin menikah denganku?”
“Karena kamu adalah bonekaku!” Sekali lagi, dia menggunakan alasan yang sama.
“Kenapa kamu memanggilku dengan panggilan boneka Su?” Su Yan mengerutkan kening dan bertanya.
Dia masih tidak mengatakan apa-apa, mungkin Su Yan sudah tidak ingat lagi. Akan lebih baik lagi apabila dia tidak dapat mengingatnya, sebuah kenangan yang terlalu gelap. Lupa, sebenarnya adalah semacam bentuk dari kebahagiaan! Dia tidak ingin dia tidak bahagia!
“Gadis bodoh kecilku, hari-hari yang akan datang masih sangat panjang. Kamu pasti akan selalu bahagia! Bayi penasaranku, sekarang suamimu ingin menyetar dengan tenang. Kamu jangan terlalu antusias, tetapi aku tidak keberatan jika nanti kamu begitu antusias setelah kita pulang ke rumah dan berada di atas ranjang!” Dia menjawab dengan suara yang dalam, yang juga merupakan janji darinya. Feng Baiyi menggenggam tangan kecilnya, dan kebahagiaan terlihat mulai mengalir dari matanya yang dalam. Dia akan membuatnya bahagia selamanya.
Hari sabtu, di apartemen.
“Xiao Baibai, jangan ganggu aku, aku sangat lelah!” Suaranya yang serak terdengar mengandung sebuah makna yang kesal karena tidak ingin diganggu. Su Yan memejamkan mata dan melambaikan tangan menepis tangan serigala yang terus mengganggunya, lalu ia berbalik dan terus menggumam.
Feng Baiyi melirik ke arah jam, waktu telah menunjukkan pukul sebelas siang. Dengan senyum di sudut mulutnya, dia setengah berbaring di atas tubuh Su Yan masih mengulurkan tangannya dengan gelisah ke arah pakaiannya menyentuh kulit halusnya yang membuat pembuluh darah bergejolak tersebut.
“Bukankah kamu mengatakan ingin pergi bermain? Bagaimana kamu bisa pergi bermain kalau kamu tidak bangun?”
“Lelah! Lelah sekali” Teriaknya bulan. “Jangan datang lagi, aku sungguh lelah!”
“Baiklah! Selamat tidur!” Dia menghela nafas, melepaskannya lalu mencium keningnya.
“Tidak! Aku ingin pergi bermain!” Su Yan terduduk dengan mata mengantuk dan mengusap matanya. Dia sangat kesal mengapa dia suka sekali dengan tidur, sungguh mengantuk, tetapi itu semua karena dia yang tidak membiarkannya tidur, membuatnya sangat kelelahan.
Selimut kain tersebut meluncur jatuh ke bawah piyamanya, dan pakaian kusutnya tersebut menempel pada lekuk dadanya dengan sempurna. Melayang naik turun seiring dengan irama nafasnya.
__ADS_1