
Hello! Im an artic!
Dihadapkan dengan tuduhan itu, Mu Siyuan terkejut. “Gadis kecil, bagaimana aku bisa disalahkan untuk hal ini? Yang di gosipkan denganmu itu adalah Feng Baiyi, oke? Di mana salahku padamu?”
“Siapa yang menyuruhmu pergi begitu saja kemarin, sehingga aku hampir ditahan di restoran!” Su Yan teringat bahwa lelucon yang terpaksa dia buat kemarin tentang menyebut Feng Baiyi suaminya, hari ini menjadi kenyataan. Tiba-tiba ada api yang membara di hatinya.
Hello! Im an artic!
“Yah, aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi kemarin. Aku tiba-tiba ada urusan mendadak. Aku akan mentraktir mu lain kali. Ngomong-ngomong, apa yang terjadi padamu? Wartawan bilang kamu menikah dengan Feng Baiyi?” Mu Siyuan tidak percaya kalau itu benar.
“Itu semua gosip, apa kamu tidak mengerti gosip?” Su Yan tidak mau mengakuinya. Pernikahan itu juga pernikahan paksa. Dia bahkan tidak pergi ke departemen pendaftaran pernikahan, jadi itu tidak sah. Sampai mati pun dia tidak akan mengakuinya!
Mu Siyuan melihat Su Yan yang seperti itu dan kemudian melihat sejumlah reporter yang ditahan di luar lobi, “Sepertinya itu bukan gosip tanpa dasar!”
“Mu Siyuan , semua ini karena dirimu!” Su Yan tidak bisa menahan amarahnya.
Hello! Im an artic!
“Apa salahku padamu?” Mu Siyuan benar-benar merasa di fitnah.
“Nona MudaSu, Presiden memintamu untuk pergi ke lantai 88, ruangan Presiden!” Pada saat ini, seorang resepsionis tiba-tiba berjalan ke hadapan mereka.
“Aku?” Su Yan menunjuk dirinya sendiri. “Bagaimana dia tahu aku di sini?”
“Iya, Presiden menelepon dan menyuruhmu naik!”
“Aku tidak mau!” Su Yan langsung menolak.
Mu Siyuan dan karyawan bagian resepsionis, Kak Li tertegun, berani melanggar perintah Presiden, apakah tidak takut mati?
Begitu Su Yan melihat tatapan bingung Kak Li, dia tiba-tiba menyadari bahwa tindakannya tampak terlalu berlebihan. Bagaimanapun, itu adalah perintah Presiden, dia bisa tidak bisa menolaknya. “Oh, oke, terima kasih Kak Li, aku akan segera pergi ke atas!”
Tapi hatinya terus mengutuk Feng Baiyi. Dia tidak menyangka, begitu dia muncul di kantor, Feng Baiyi langsung mengetahuinya.
“Aku akan ke atas juga!” Mu Siyuan ingin melihat apa yang sedang terjadi.
“Baiklah, ayo pergi bersama-sama!” Keduanya memasuki lift.
Di lantai delapan puluh delapan, sekretaris menahan mereka, “Direktur Mu, Presiden bilang, dia hanya ingin menemui Nona MudaSu seorang!”
“Kenapa?” Mu Siyuan tercengang.
Sekretaris itu tersenyum ringan. “Ini perintah dari Presiden!”
Su Yan mengangkat bahunya, “Aku masuk dulu!”
Tetapi ketika dia berjalan ke arah pintu ruangan Presiden, dia tiba-tiba membeku dan hatinya mulai tegang. Sampai akhirnya pintu terbuka, pria jangkung itu meraih Su Yan dan menyeretnya masuk.
Mu Siyuan pun mengambil kesempatan itu untuk berteriak: “Yi, aku juga ada di sini!”
Tapi dia hanya di jawab dengan suara pintu yang menutup.
Sekretaris itu tersenyum, mengangkat bahu dan kembali ke tempat duduknya.
Mu Siyuan bergumam sendirian, “Benar-benar runtuh, benteng yang kuat ini telah jatuh!”
Su Yan yang ditarik ke dalam ruangan pun tercengang. Sosok jangkung dengan aroma yang tidak asing itu mengepungnya. Ciuman yang bertubi-tubi itu menghampirinya, mencium bibirnya dan merebut napas.
Feng Baiyi mengendus aroma di mulutnya, menggosok berkali-kali ke bibirnya dan menyemprotkan napas ke wajahnya. Napsu dan kelembutan Feng Baiyi membuat Su Yan gemetaran.
“Um…” Su Yan mendorongnya, menciumnya begitu dia masuk, “Dasar mesum, Feng Baiyi!”
“Panggil suamiku!” Napasnya terengah-engah, sambil memeluknya.
Su Yan terus melawan, menghindari pelukannya, tetapi dia tidak menyangka bahwa Feng Baiyi malah menggendongnya ke sofa. Dia bergerak naik turun di pelukan Feng Baiyi, merasa kesal, ingin menghindar, berteriak dengan suara lembut: “Dasar kamu mesum! Kamu Cabul! Dasar gila… ”
“Sayang, jangan bergerak, kalau tidak kamu akan menanggung akibatnya…” Suara Feng Baiyi begitu lembut hingga meleleh di telinganya.
“Mesum!” Su Yan tidak berani bergerak lagi, tapi tatapannya menjadi serius, suaranya suram. “Katakan, kenapa kamu menyuruhku kemari?”
__ADS_1
“Dikepung oleh wartawan?” Tanyanya, “Apa yang kamu katakan?”
“Tidak mengatakan sepatah kata pun!” Dia terus menatap ke lampu dan tetap diam.
“Kenapa kamu tidak mengakui bahwa kamu adalah Nyonya Feng?”
“Kenapa aku harus mengaku?” Dia terus melawan, “Turunkan aku!”
Dia berbicara sambil duduk di pangkuan Feng Baiyi
Feng Baiyi akhirnya melepaskannya, “Kenapa kamu tidak mengakuinya?”
“Sampai mati pun aku tidak akan mengakuinya! Ini semua bukan keinginanku!” Su Yan mengangkat dagunya dan menatap Feng Baiyi dengan sangat cemberut, jika dia meremehkan statusnya sebagai Nyonya Feng, apa yang bisa Feng Baiyi lakukan?
Feng Baiyi tidak banyak berbicara, hanya berkata: “Malam ini kita pulang untuk makan malam, Ling’er dan Rong Hanchi juga akan pulang! Ini perintah dari kakek!”
“Aku tidak akan pergi!” Su Yan langsung menggelengkan kepalanya. Jika dia bertemu dengan Kak Chi, dia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya, terutama sekarang dia telah menikah dengan Feng Baiyi sialan ini! Tiba-tiba menikah!
Ketika dia memikirkannya, dia pun kesal. Jika kakek meminta untuk kembali dan makan bersama, haruskah dia pergi juga?
“Jika kamu tidak pergi, kamu akan terus-terusan dibombardir oleh kakek, aku khawatir kamu tidak akan bisa tahan!” Feng Baiyi hanya berbaik hati memperingatkannya.
“Apa maksudmu?” Su Yan tercengang.
“Jika kamu tidak pergi, aku khawatir lain kali, kamu bukan hanya akan diserbu oleh wartawan saja!”
“Maksudmu, reporter hari ini datang karena kakekmu?” Su Yan duduk di kursi kerja Feng Baiyi, meletakkan kedua kakinya di atas meja, seolah-olah dia adalah bos.
Feng Baiyi mendongak dan menatapnya. Dia yang biasanya selalu memberi perintah, saat melihat Su Yan yang duduk di kursinya, dia malah merasa Su Yan begitu manis, dia pun sedikit melamun, “Ya, benar!”
“Kakekmu benar-benar membosankan!” Su Yan mendengus. “Untuk apa kamu menyuruhku kemari?”
“Bukankah aku menyuruhmu untuk tinggal di rumah?” Kata Feng Baiyi.
“Aku kemari untuk mencari Mu Siyuan , untuk membuat perhitungan padanya!” Dia mengangkat matanya dengan dingin dan melirik Feng Baiyi yang sedang bersikap lembut, “Aku benci kamu melacak keberadaanku!”
Feng Baiyi hanya sedikit terkejut, tiba-tiba tidak bisa berkata-kata.
Feng Baiyi melirik meja itu. Dia meminta seseorang untuk mengantarkan meja itu hari ini, meja itu disiapkan untuk Su Yan. Jam pelajaran di univeritas tidak banyak, hanya sekitar tiga jam pelajaran setiap harinya. Dia tidak akan membiarkan Su Yan berkeliaran di waktu luangnya. Tentu saja, Su Yan harus menyelesaikan tugas kuliahnya di depan matanya.
Su Yan berjalan ke arah meja merah muda dengan gambar kartun kelinci lucu itu dan duduk di kursi dengan gambar kartun yang sama. “Benar-benar menyenangkan!”
Bagaimanapun dia masih anak-anak!
Feng Baiyi menghela napas, “Apakah kamu menyukainya?”
“Umm, cukup menarik!” Kata Su Yan. “Kenapa ada di kantormu? Sangat tidak cocok dengan suasana kantormu, bukan?”
“Untukmu!” Katanya.
“Untukku?” Dia heran.
Feng Baiyi berjalan mendekat dan bersandar di meja belajar itu, lalu menatapnya. “Kamu adalah anakku!”
Su Yan tersipu malu, “Kamu memanfaatkanku?”
Feng Baiyi menariknya naik dan memeluknya erat, terdiam sesaat. Ada banyak hal yang ingin dia katakan di dalam hatinya, tapi pada akhirnya, dia hanya memeluk Su Yan. Su Yan merasakan detak jantung yang berdegup kencang saat telinganya menempel di dada Feng Baiyi.
“Hei! Lepaskan!” Su Yan mendorong tubuh Feng Baiyi dengan acuh tak acuh, tapi Feng Baiyi tidak melepaskannya, terus memeluknya dengan erat, lalu dia duduk di kursi gambar kartun dan Su Yan kembali duduk di atas kakinya.
Su Yan mengerutkan kening dan menatap wajah Feng Baiyi, dia sangat bingung, mencoba melihat niat Feng Baiyi dari ekspresi wajahnya, tetapi dia tidak bisa apa-apa.
Feng Baiyi juga menatapnya dengan tenang, suaranya juga menjadi lembut, “Apa yang kamu lihat?”
Feng Baiyi terus memeluknya, jadi kenapa dia tidak bisa terus menatapnya?
Tiba-tiba dia berkata, “Kamu menyiapkan meja ini di kantormu bukan untuk menyuruhku terus bersamamu setelah selesai kelas, kan?”
Tatapan kagum melintas di mata Feng Baiyi. “Untungnya, tidak terlalu bodoh!”
__ADS_1
“Kenapa?” Su Yan bertanya lagi, bertanya dengan polos. “Aku tidak ingin terus melihatmu!”
“Meskipun kamu tidak ingin melihatku, kamu juga harus tahan!” Katanya.
“Tidak masuk akal!” Su Yan mencibirkan keluhannya. “Meskipun meja ini sangat lucu dan aku sangat menyukainya, tapi ketika aku melihatmu, aku merasa mual!”
Feng Baiyi mengangkat alisnya, “Apakah aku sangat menjijikkan?”
Su Yan menatapnya, meskipun dia terlihat sangat tampan, tidak menjijikkan, tapi Su Yan tetap membohongi hati nurani dan berkata: “Ya!”
“Bukankah istri harus terus bersama suaminya?” Tanya Feng Baiyi.
“Siapa istrimu?”
“Kamu!”
“Aku bukan istrimu! Kamu yang memaksaku! Aku bukan istrimu! Apakah kamu kira kamu sangat hebat? Semua orang harus mendengarkan dan menuruti perintahmu?”
“Aku tidak merasa aku sangat hebat…”
“Lalu kenapa kamu terus memaksakan keinginanmu pada orang lain!”
“Jika kamu patuh, apakah aku masih akan memaksaka?”
Su Yan benar-benar merasa Feng Baiyi sudah gila, dia malah melontarkan pertanyaan sebagai jawabannya! “Pertanyaannya adalah kenapa dia harus mendengarkannya?! Aku tidak menginginkannya!”
Feng Baiyi menatapnya dengan dingin, tidak merasa bahwa jawabannya bermasalah. Jika Su Yan tidak mendengarkannya, maka dia akan mendengarkan siapa! “Tidak apa-apa jika orang lain tidak mendengarkan perintahku, tetapi kamu tidak boleh!”
“Mengapa?”
“Karena kamu adalah istriku!”
“Aku bukan istriku!”
“Kamu istriku!”
“Kamu yang memaksaku, dasar penjahat rendahan!” Dia kesal jika memikirkan bahwa Feng Baiyi telah mengajukan surat nikah secara pribadi. “Aku bukan orang yang bisa kamu tindas sesukamu atau orang yang akan mendengarkan semua perintahmu. Jangan salah paham!”
Melihat ekpresi Su Yan yang tidak mau mengalah, Feng Baiyi menekankan amarahnya di dada, wajahnya menjadi semakin suram, menatapnya cukup lama dan akhirnya memutuskan untuk menelan amarahnya saat ini, lalu berkata, “Ayo pergi makan dulu!”
“Tidak mau!” Su Yan memutar kepalanya dengan keras kepala, artinya dia tidak ingin mendengarkan perintahnya, dia tidak akan mendengarkan perintahnya. Feng Baiyi, jangan keluarkan watak bosmu di hadapanku!
“Sayang…” Feng Baiyi menurunkan suaranya, tidak ada kekesalan di matanya, yang tersisa hanyalah kasih sayang. Melihat penampilan Su Yan yang mengajaknya bertengkar, kemarahannya pun telah lama menghilang. Apalagi saat melihat mata besar di wajah kecil itu menatapnya dengan tatapan menantang, amarahnya benar-benar menghilang dalam sekejap.
Dia mengulurkan tangannya dan memeluk Su Yan dengan erat, Su Yan ingin menolak, tapi dia justru semakin memeluknya erat-erat dan berkata, “Sayang, tidak ada yang bisa menolak perintahku, menurutlah, jangan membuatku marah!”
“Kamulah yang membuatku kesal!” Su Yan sangat marah, merasa bahwa tidak peduli apa yang dia perdebatkan, Feng Baiyi selalu bisa membuatnya mengatakan kata-kata itu kembali ke awal, seolah-olah dia belum pernah mengatakannya!
Feng Baiyi menundukkan kepalanya untuk mencari mulut Su Yan, tapi Su Yan menghindar ke kiri dan ke kanan, dia tidak akan memberikan bibirnya, berkata: “Aku tidak ingin kamu mencium, aku tidak mencintaimu, aku membencimu… Um…”
Tapi akhirnya bibir itu tetap tertangkap oleh Feng Baiyi, ujung lidahnya masuk dan bergerak-gerak. Setelah waktu yang lama, dia akhirnya melepaskannya, terengah-engah, “Sayang, kamu benar-benar membenciku?”
“Huh!” Su Yan membuang muka, bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia benar-benar membenci pria ini?
Berpikir sampai kepalanya sedikit terasa sakit, dia pun mengertakkan gigi. “Ya, benci, benci, sangat benci!”
Feng Baiyi melihat jam, sudah hampir waktunya, “Ayo pergi, pergi belanja pakaian!”
“Kenapa ingin pergi membeli pakaian?”
“Untuk pulang dsn makan malam!”
“Kenapa harus membeli pakaian saat pulang untuk makan malam?”
“Sayang, apakah kamu akan bertanya seratus ribu kenapa?”
“Huh!” Dia pun memilih untuk diam, tapi dia masih kesal.
Feng Baiyi membungkuk dan mencium mulut kecilnya lagi, “Tidak boleh cemberut, lain kali cemberut sekali, cium sekali!”
__ADS_1
Su Yan berkedip dan menatap wajahnya dari samping. Su Yan merasa bahwa dadanya terus meluap-luap. Hidungnya terasa perih, air mata mulai mengalir di matanya, tiba-tiba dia menangis.