AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 140 Kehilangan Anak


__ADS_3

Hello! Im an artic!


“Ah–” Kedua wanita itu berteriak bersamaan, suara mereka melengking.


Ketika tengah melawan, Mu Xue menendang bagian bawah orang di sampingnya. Setelah ia kesakitan, ia langsung menampar wajahnya, “Wanita gila satu ini ingin membunuhku ya?”


Hello! Im an artic!


“Ah–”


Teriakan pria itu mengagetkan Mo Yilan hingga berteriak nyaring. Ekspresi wajahnya menggila, berteriak gagap, “Jangan bakar aku–”


Pria bertubuh tinggi mengerutkan alisnya, “Wanita ini gila!”


“Buang dia keluar, cuma mau yang satu ini!” Salah satunya berkata.


Hello! Im an artic!


Karenanya, Mo Yilan dibuang keluar.


Maka taman ini hanya tersisa Mu Xue seorang. Di wajahnya sudah tercetak dua tamparan. Ia melawan dan hendak lari, tapi pintunya dihalangi salah satu dari mereka. Sementara Mo Yilan terus berteriak diluar.


Jangan gugup, jangan gugup!


“Sebenarnya kalian mau bagaimana?” Mu Xue menenangkan hatinya, memutuskan untuk menghadapi mereka dengan tenang. Ia mulai menyembunyikan tangannya di belakang, mencari kesempatan untuk mengeluarkan handphone.


Beberapa pria itu merasa aneh, tak disangka wanita yang tengah berteriak menggila bisa langsung menenangkan diri seperti ini, maka mereka tertawa dingin, “Nona, kami ingin mempermainkanmu. Sudah lama kami tidak memiliki wanita, kami ingin melampiaskan diri!”


“Kalian bisa mencari orang yang melakukan bisnis ini, bukan mencariku!”


“Yang itu terlalu kotor, kami suka wanita baik-baik!”


“Kalian tak takut akan hukum kah?” Mu Xue agak gugup, ia telah mendapatkan handphone.


“Pemerkosaan tidak akan dapat hukuman mati! Hukum beberapa tahun kan sudah keluar! Dan lagi kami beberapa mempermainkanmu, kau berani lapor polisi kah? Kau tak takut tak punya bertemu orang lagi kedepannya?” Salah satunya terkekeh, ekspresinya penuh dengan ancaman dan kebencian.


Tangan kotor yang bau itu langsung memegang wajah Mu Xue. Ia membuang mukanya, handphone dalam pegangan tangannya langsung jatuh ke lantai.


“Sialan, masih berani macam-macam!” Tidak tahu siapa yang berteriak, handphonenya ditendang melayang.


Entah tangan siapa yang terjulur dan merobek kerah baju Mu Xue. Suara robekan terdengar, bajunya terbuka, menampakkan baju bulu yang ia pakai di dalam.


“Ah–tolong!” Penderitaan menghantuinya, air matanya mengalir jatuh tanpa suara. Mu Xue melawan dengan bergerak-gerak, dadanya yang penuh di belakang baju bulunya menggoda para pria itu.


Ia melawan dengan semakin menggila. Ia tidak punya handphone lagi, maka ia hanya bisa melawan tidak membiarkan tangan kotor mereka menyentuh dirinya.


Saat ini tiba-tiba ia merasa dirinya bodoh sekali, kenapa ia bisa berlari sendirian kemari untuk mencari orang?


Hari perlahan menggelap, ketakutannya makin besar. Ketika melawan ia terus berteriak, entah siapa yang melayangkan tendangan ke arah perutnya. Tiba-tiba wajahnya memucat, sebuah rasa sakit langsung menghantuinya, rasanya ia bisa pingsan.


“Ah–sakit sekali!” Mu Xue langsung jatuh berlutut di lantai, teriakkanya melengking. Sebuah rasa panas mengalir keluar dari antara kakinya.


Mu Xue merasakan rasa sakit dari perutnya. Giginya digertakkan, keringat dingin mengalir keluar. “Bayiku, tolong…bayiku…”


“Ah! Bos, sepertinya dia ini ibu-ibu hamil!” Entah siapa yang berteriak.


“Sialan, kita sesial ini kah?” Melihat wanita yang berteriak sengsara sambil memeluk perutnya di lantai, para pria tersebut berhenti merobek bajunya.

__ADS_1


“Tolong bayiku…” Ia bergumam. Mu Xue merasakan sakit yang bisa membuatnya pingsan.


“Brak” sesaat, dan pintu telah ditendang hingga terbuka!


Semuanya tertegun, mereka melihat seorang pria tinggi berdiri disana. Mata birunya menampakkan kedinginan, bagai tatapan dewa kematian.


“Han Lie, tolong aku!” Mu Xue hanya bisa mengatakan satu kalimat, lalu pingsan. Ia jatuh di atas lantai, banyak sekali darah yang mengalir, celana putihnya terus mengeluarkan darah segar…


Sialan! Wajah Han Lie murung, warna darah segar itu mengagetkannya. Terlalu banyak darah, hati Han Lie juga ikut sakit.


Ia dan Mo Yihui mencari kesini dalam waktu bersamaan. Yang ada diluar adalah Mo Yilan. Ia tak sempat mengatakan apapun, lalu mendengar suara teriakan di dalam. Ia memberikan Mo Yilan pada Mo Yihui, lalu Han Lie langsung menendang pintu hingga terbuka. Tapi tak disangka ia akan melihat pemandangan seperti ini.


“Kalian telah melukainya!” Ia mendengus dingin. Ia langsung melayangkan tendangan ke arah mereka.


“Sialan, kami juga takkan mengira kalau ia adalah ibu-ibu hamil! Ayo pergi kawan-kawan, jangan cari masalah!” Seseorang berkata, lalu beberapa orang itu langsung berlari keluar.


Han Lie menatap Mu Xue yang terbaring di lantai, tidak sempat mengejar orang-orang itu.


“Mu Xue, kau tak apa-apa?” Ia menggendongnya, nada suaranya khawatir. “Hei! Sebenarnya kau kenapa!”


“Han Lie, tolong bayiku..” Mu Xue berkata dengan pucat.


Han Lie melototinya dengan kaget, “Kau hamil?”


Tak sempat mengatakan apapun, Mu Xue sudah memejamkan matanya, kemudian ia jatuh dalam kegelapan.


“Kuantar dia ke rumah sakit!” Ia menggendongnya dan berlari kelaur dengan cepat.


Mo Yihui dan para suster khusus tengah menenangkan Mo Yilan. Ketika Han Lie menggendong Mu Xue keluar, tatapannya jatuh pada sosok yang terus menggulungkan diri dan beraliran air mata. Ketika menatapnya, tatapannya penuh dengan kesedihan.


“Han Lie, kenapa kau bisa ada disini?” Emosi Mo Yihui juga tidak stabil.


Kemanapun ia pergi selalu meninggalkan tetes darah. Sepanjang perjalanan, darah itu terus menetes.


Mo Yihui menatapi sosok mereka yang pergi. Tiba-tiba ia melongo, kenapa bisa terluka separah itu, apa Mu Xue akan mati?


Ketika Qin Yinuo dan sopirnya mencapai tempat ini, Mo Yihui masih belum selesai menenangkan Mo Yilan.


Qin Yinuo tak tahu apa yang telah terjadi disni. Begitu melihat Mo Yilan sudah didapatkan, ia lega.


“Cepat antar ia pulang!” Ia berkata dan mulai menelepon. Ia menelepon Mu Xue. Hari sudah hampir gelap, ia agak tidak tenang.


Tapi,malah terdengar dering handphone dari dalam taman.


Qin Yinuo curiga, sebuah perasaan akan sesuatu yang tidak baik muncul.


Ia masuk ke dalam taman dengan tergesa-gesa, melihat handphone yang tergeletak di dalam. Dan lagi ada tas Xiao Xue. Lalu ia melongo menatapi taman kosong yang penuh dengan darah, rasanya hatinya hendak mencelos…


Qin Yinuo melongo menatapi darah di lantai. Ia hanya merasa tatapannya menggelap, hampir pingsan.


“Xiao Xue, Xiao Xue!” Ia berteriak dengan ketakutan, “Kenapa ada darah?”


“Tuan Qin, tadi nona itu sudah digendong ke rumah sakit oleh tuan itu!” Sang suster khusus berlari kemari untuk memberitahunya.


“Ke rumah sakit? Dirinya terluka kah?” Qin Yinuo melihat darah di depannya. Warna merah yang mengejutkan, hatinya kesakitan, “Ia tidak apa-apakah?”


“Tuan Qin, nona itu penuh dengan darah. Darahnya selalu menetes, kau lihat saja dimana-mana ada darah!” mata sang suster memerah. Ia tidak pernah melihat darah sebanyak ini, lalu menunjuk jejak darah, terisak, “Ketika tuan itu menggnedongnya sang nona sudah pingsan, tidak tahu apa yang terjadi!”

__ADS_1


“Ah–” Qin Yinuo memukulkan tinjunya ke dinding bagai orang gila. Matanya yang dalam penuh dengan warna merah darah itu. Kepalan tinjunya yang penuh dengan darah juga tidak terasa sakit lagi.


“Tuan jangan seperti ini. Cepat pergilah ke rumah sakit, mungkin masih bisa diselamatkan!” Sang suster menghentikan Qin Yinuo yang tengah menyakiti dirinya sendiri.


Sementara tinjunya yang berlumuran darah menunjukkan seberapa sakit hatinya sekarang.


“Apa dia akan kenapa-kenapa?” Qin Yinuo bergumam mempertanyakan. Seolah tengah menanyai sang suster, namun seolah tengah menanyai dirinya sendiri.


Ia melongo begitu saja menatapi darah di depan matanya. Rasanya hatinya sakit luar biasa, membekukan segala emosi lainnya.


“Tuan muda!” Sang sopir juga berlari kemari. Begitu melihat begitu banyak darah ia langsung bergetar, berlari pergi memungut tas dan handphonenya kemari.


“Ke rumah sakit!” Qin Yinuo pergi bagai angin, sementara sang sopir juga mengikutinya dengan segera.


Qin Yinuo tak pernah sekalut ini. Perasaan berat menimpa hatinya, sedari awal ia sudah sesak nafas. Bagaimana mungkin wanita itu bisa mengalirkan sebegitu banyak darah?


Ia sudah bilang untuk melindunginya, tapi apa yang dilakukannya? Kenapa ia selalu membiarkan wanita itu terluka? Terluka secara psikis maupun psikologis, dirinya benar-benar pantas mati!


Saat ini, rasanya seluruh darah di tubuhnya telah membeku. Ia menggunakan seluruh kesadarannya untuk mengulang sebuah kalimat, ia takkan kenapa-kenapa, takkan kenapa-kenapa.


Namun kekhawatiran di hatinya semakin melebar, kenapa ada darah sebanyak itu? Darah segar yang mengejutkan muncul sekali lagi di pikirannya, menyakiti hatinya yang sudah mati rasa sedari awal.


Sepanjang perjalanan, hai Qin Yinuo bercampur aduk, “Lebih cepat lagi, lebih cepat!”


“Baik!” Sang sopir terus menambah kecepatan mereka, dan mobil melaju bagai anak panah, terus menyalip mobil-mobil lain.


Kenapa dirinya menurutinya tadi, kenapa ia tidak berada di sisinya? Kenapa kalau ada masalah ia selalu melupakan wanita itu? Kenapa ia tak berpikir panjang?


Ia hanya berharap agar Tuhan tak membawanya pergi. Ia bersumpah, takkan lagi melepaskan tangannya. Meski wanita itu membencinya, ia akan mengelilinginya, akan menahannya untuk selalu di sisinya! Memastikan dirinya aman.


Ia takkan membiarkannya pergi dari sisinya lagi. Sekali, cukup sekali saja, ia takkan membiarkannya pergi dari sisinya.


Terdapat rasa tak berdaya dalam kesengsaraan Qin Yinuo, kenapa bisa begitu? Ini salahnya!


Otaknya berputar cepat. Tangannya yang berdarah-darah, dan wajahnya yang dingin penuh dengan perasaan bersalah. Ia takkan melepaskan orang yang telah melukainya, ia pasti akan mencabik-cabik orang yang telah melukainya itu.


Asal Xiao Xue selamata, ia tak memiliki permintaan lain lagi seumur hidup ini. Asal ia selamat!


 


Di rumah sakit.


Ketika Mu Xue didorong ke dalam ruang operasi, sang dokter memberitahu Han Lie, “Tuan, istrimu keguguran!”


Karena keadaan yang darurat dan butuh tandatangan untuk operasi, Han Lie hanya bisa menandatanganinya. Untuk sementara ia berperan jadi suami Han Lie, “Ia benar-benar hamil?”


“Benar, tapi bayinya tidak selamat. Darah yang mengalir sudah dihentikan, sementara tubuhnya lemah dan butuh dirawat baik-baik. Dan lagi suasana hati pasien sedang sedih, sehingga tuan harus membujuknya dengan berhati-hati!” Sang dokter berpesan.


Han Lie tertegun, matanya yang biru jadi makin dalam, menampakkan suasana hati yang kacau.


Seharusnya dirinya merasa senang, itu anak Qin Yinuo kan? Sekarang anak Qin Yinuo tidak ada lagi, bukannya dirinya seharusnya senang?


Tapi begitu melihat Mu Xue didorong keluar dari ruang operasi, wajahnya yang pucat pasi membuat hatinya mulai khawatir lagi. Sialan, kalau wanita ini keguguran apa hubungannya dengan dirinya, untuk apa dirinya khawatir.


Ia bahkan meninggalkan Mo Yilan, bahkan tidak bisa menatapi Mo Yilan dengan teliti dan langsung kemari.


Ia mengeratkan tinju di samping tubuhnya, hati Han Lie penuh dengan penyesalan.

__ADS_1


Di dalam ruang pasien, Mu Xue berbaring diam di atas kasur bersprei kotak-kotak biru. Wajahnya yang pucat pasi tidak berekspresi, seolah ia tidak menyadari rasa sakit di tubuhnya lagi. Ia berbaring disana bagai boneka yang tercabik-cabik, diam sekali, tatapannya kosong, matanya terbuka lebar, dan entah ke arah mana ia melihat. Kalau bukan karena ada suara nafas yang lemah, orang pasti akan mengira ia sudah mati.


__ADS_2