
Hello! Im an artic!
Ia berusaha melepaskan pegangan tangannya, tapi Qin Yinuo malah memegang tangannya erat-erat, suaranya terdengar jauh dan kecil, “Baik! Aku tahu kau butuh waktu, aku takkan mengganggumu!”
Mendengar suaranya yang seperti ini, hati Mu Xue bergejolak ingin menangis.
Hello! Im an artic!
Qin Yinuo pergi, sosoknya terlihat sedih dan kesepain.
Ia tahu dirinya mungkin akan kehilangan Mu Xue, tapi tak menyangka akan secepat ini!
Di dalam kamar tak ada orang lain, ia bersandar di sudut dinding dan terjatuh. Ia memeluk dirinya sendiri dan mulai menangis. Kenapa kematian ayahnya ada hubungannya dengan Qin Yinuo? Kenapa?–
Di Perusahaan Qin.
Hello! Im an artic!
Qin Yinuo kembali bekerja.
Ia mengubur dirinya dalam tumpukan dokumen, mencoba menggunakan kesibukan kerja untuk mematikan perasaan di sarafnya.
Sudah tiga hari!
Xiao Xue tidak meneleponnya, dirinya juga tidak berani menelepon. Ia takut dirinya akan mendapat jawaban untuk putus, ia tahu Mu Xue butuh waktu, tapi akan jadi bagaimana akhirnya, ia tak berani memikirkannya.
Di tangannya ada rokok yang mengepulkan asap putih dan memenuhi ruangan.
Bahkan ketika Zeng Li mengetuk pintu dan masuk ia bahkan tak tahu, dirinya tetap tenggelam dalam pikirannya, bagai telah kehilangan roh.
“Nuo! Ada apa denganmu? Datang kerja tiba-tiba, sebelumnya bukannya kalau mati pun kau tak mau datang kerja?” Ini sudah hari ketiga Zeng Li bertanya seperti ini.
Tapi, tetap tak ada jawaban dari Qin Yinuo.
“Hei! Apa ada masalah diantara dirimu dan Xiao Xue? Lebih baik malam nanti aku mengajaknya, kita sudah lama tak berkumpul, gimana kalau pergi minum bir?” Zeng Li menyarankan.
Qin Yinuo terus merokok, tidak mengatakan apapun.
“Kalau begitu ya begitu saja! Langsung kuajak Mi Lei dan Gong Tianer, kau dan Xiao Xue, lalu aku dan Yangyang! Kita berenam pergi karaoke! Tak mabuk tidak usah pulang!”
Mu Xue mendapat telepon dari Zeng Li, katanya malam hendak pergi karaoke. Tapi Zeng Li tidak bilang bersama siapa, ia hanya bilang Yangyang dan Tianer juga akan pergi, maka Mu Xue juga tidak menolak.
Sudah tiga hari!
Otaknya kacau, Pei Lingfeng dan Wu Jingxuan juga sudah tahu tentang penyebab kematian Mu Nanbe. Pei Lingfeng tak mengatakan apapun, hanya menepuk-nepuk bahu Mu Xue.
Wu Jingxuan malah membujuknya, “Xiao Xue, ada beberapa hal yang kalau sudah berlalu, biarkanlah berlalu! Jangan diperhitungkan lagi, kalau tidak kehidupanmu akan lelah sekali!”
Tapi begitu memikirkan ayah kesayangannya Mu Nanbei meninggal karena Qin Yinuo, memikirkan bagaimana beberapa tahun ini ia tak berani menampakkan dirinya, memikirkan bagaimana ia hanya memerintah orang lain untuk mengurus kecelakaan itu, memikirkan bagaimana ia menyetir ketika mabuk, hatinya sedih!
Sepulang kerja, Qin Yinuo tidak pergi menjemput Mu Xue.
Ia takut kalau dirinya menjemputnya, Mu Xue tak mau pergi.
Mungkin sedari awal Zeng Li tahu ada celah diantara mereka, maka ia menjemput Mu Xue dan Gong Tianer dengan penuh berani, seemntara Qin Yinuo dan Mi Lei masuk dulu ke dalam ruangan KTV.
“Belakangan ini bagaimana?” Mi Lei menyalakan sebatang rokok dan bertanya.
__ADS_1
Qin Yinuo juga merokok, kedua pria itu duduk di atas sofa dan mulai merokok, “Tidak baik! Kau?”
“Aku juga tak baik!” Senyuman Mi Lei terlihat tidak berdaya, “Jingxuang benar-benar telah melepaskan masa lalu, Tianer juga kehilangan ayahnya dan Tante Mei, kukira dia akan membutuhkanku. Tapi aku menyadari dirinya semakin kuat sekarang, dia juga tak ingin bertemu denganku!”
“Nanti juga ketemu, Zeng Li pergi menjemputnya dan Xiao Xue!”
“Kalian kenapa?”
“Susah dijelaskan!” Qin Yinuo menghembuskan asap rokok, ekspresinya kesepian.
Ketika Zeng Li datang membawa ketiga wanita, Qin Yinuo dan Mi Lei sudah memenuhi asbak dengan puntung rokok.
Begitu masuk, Mu Xue dan Gong Tianer langsung tertegun.
Tatapan Qin Yinuo yang penuh hangat dan kasih jatuh pada wajah Mu Xue. Ia sudah makin kurus, wajahnya yang bulat sekarang jadi kurus. Qin Yinuo rasa hatinya terus merasa kesakitan, setiap jengkal otot di tubuhnya menginginkan Mu Xue.
Gong Tianer juga agak kaget, tapi kemudian ia langsung tersenyum, “Kakak Qin, kakak Mi, tak kusangka kalian juga datang!”
Mu Xue hanya melirik sekilas pada Qin Yinuo. Tangannya dikepalkan, ia tidak berbbicara, hendak memutar tubuhnya dan langsung pergi, tapi Tianer malah menariknya, “Kakak, malam ini kita bernyanyi bersama, kalau tak mabuk tak usah pulang!”
Zeng Li dan Yangyang juga langsung berkata, “Ya, ya. Jarang-jarang kita berkumpul, tak mabuk tak pulang!”
Maka Mu Xue hanya bisa duduk, tapi tak melirik sedikit pun pada Qin Yinuo.
Tatapan Mi Lei juga jatuh pada tubuh Tianer. Tapi wanita itu memindahkan tatapannya dan langsung bertatapan dengan Mi Lei. Ia hanya tersenyum, tak peduli sedikit pun, seolah tak pernah ada apapun diantara mereka. Sekarang Tianer hanya menganggap Mi Lei sebagai teman, dingin dan jauh.
Sejak kematian ayah dan Tante Mei, ia menerima telepon dari pengurus rumah. Ada kejadian sebegitu besar, tapi Tianer malah tidak meneleponnya.
Ia mencoba untuk memeluk dan menenangkannya, tapi Tianer menjauh darinya. Menolak peukannya, menolak untuk ditenangkannya. Sikapnya yang menjauh dan sungkan membuat Mi Lei tak terbiasa untuk suatu ketika. Tapi Tianer malah berkata kan sudah putus dan tak pernah mencintainya, untuk apa berpura-pura? Jangan dipaksakan!
Suasana di dalam ruangan agak dingin.
Tatapan Qin Yinuo dan Mi Lei penuh dengan dilema, maka Zeng Li hanya bisa berteriak keras-keras, “Yo! Kalian ingin menyanyi lagu apa? Mau minum bir apa? Yangyang, cepat nyalakan musik!”
“Oh, iya!” Yangyang langsung menyalakan layar dan menyalakan musik yang penuh dengan semangat.
Tapi di ruangan ini tenang sekali, saking tenangnya hanya ada suara musik.
Mu Xue dan Gong Tianer duduk di sudut sofa lain, lalu Tianer berbisik di telinga Mu Xue, “Kakak, ada apa denganmu dengan kakak Qin?”
Mu Xue mengedutkan bibirnya, menggeleng.
Maka Qin Yinuo hanya bisa duduk dan terus menatapi wajah yang lembut dan putih itu. Sejujurnya wajah itu penuh dengan eskpresi keras. Maka ia mengisap rokoknya, matanya menyipit, apakah wanita itu tidak mau mengindahkannya lagi?
Gong Tianer juga menyadari ada masalah diantara Xiao Xue dan Qin Yinuo, tapi Xiao Xue tidak mengatakannya, dirinya juga tak bisa bertanya. Maka ia hanya bisa berdiri dan mengabil mic lalu bernyanyi. Ia bukan lagi gadis yang selalu bersembunyi dalam perlindungan, dirinya hanya bisa menghadapi kenyataan dengan kuat!
Ia bernyanyi sambil tersenyum, menghadapi semuanya sambil tersenyum!
Mu Xue tiba-tiba merasa agak pengap, maka ia bangkit dan pergi.
***
Zeng Li langsung menyenggol Qin Yinuo untuk sesaat, menyuruhnya keluar.
Qin Yinuo mengisap rokok dan berdiri dalam diam, lalu keluar.
Mu Xue berdiri di luar ruangan dan menarik nafas dalam-dalam, namun pintu tiba-tiba terbuka. Ia tertegun selama seesaat, menatapi kedatangannya. Rokoknya tergantung di mulutnya, dan Qin Yinuo menatapinya, suaranya yang rendah terdengar, “Kau jadi makin kurus!”
__ADS_1
Mu Xue tak berkata-kata, membalikkan tubuhnya dan pergi. Melihat wajahnya itu, ia tak tahu harus bagaimana menghadapinya. Bagaimana ia bisa lupa kalau dirinya adalah orang yang telah mencelakai ayahnya!
“Xiao Xue! Bisa kita berbicara?” Qin Yinuo bertanya ketika ia membalikkan badannya.
“Aku tak punya kata-kata!”
Nada suaranya yang dingin menyakiti hati Qin Yinuo, suara seraknya terdengar hancur dan membuat orang mengasihaninya. “Xiao Xue, bisa kita berbicara?”
Qin Yinuo berusaha untuk tersenyum, tapi hatinya masih sakit. Ia menatapi Mu Xue dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan.
Mu Xue menghela nafas panjang dalam hati. Hatinya berkedut. Ketika melihat ekspresi Qin Yinuo, ia masih merasa sakit hati.
Mereka masih bisa bersama kah? Takutnya tidak.
Meski dirinya juga sangat dilema dan sangat kesakitan, tapi ia tetap mencintainya. Karena ia memang mencintainya.
Tiba-tiba Qin Yinuo mengulurkan tangannya dan menariknya ke pojokan tangga. Disini tak ada orang, cocok untuk berbicara.
“Maaf, ini salahku.” Di sudut yang tenang, Qin Yinuo tetap mengulurkan tangan untuk mengelus wajah Xiao Xue seperti biasa, tapi ia malah menghindarinya.
“Tak ada yang perlu dikatakan. Dan lagi jaga dirimu baik-baik, tak perlu serapuh ini. Dan lagi hubungan kita telah berakhir. Aku sudah memikirkannya lama sekali, kurasa aku tak bisa bersama denganmu. Jika bersamamu, aku merasa diriku bersalah pada ayah! Aku tak bisa mengecewakannya!”
Mu Xue menarik kembali tangannya dari pengangannya. Ia menatapi Qin Yinuo tanpa perasaan. Ia berkata dengan tenang. Sudah banyak hal yang terjadi, tidak ada kesempatan untuk menoleh kembali.
“Xiao Xue, memang ayahmu meninggal karenaku. Tapi ini bukan salahku semua. Dia benar-benar sudah mabuk!” Tangannya yang membeku di udara ditarik kembali dengan perlahan, Qin Yinuo berkata dengan sakit hati.
“Dia tak pernah minum bir!” Mu Xue bergumam, “Bagaimana aku bisa tahu kalau itu adalah tipuan dari pihak kepolisian?”
“Bagaimana mungkin aku berbuat seperti itu? Xiao Xue, ada bukti dari jasadnya! Hal itu tak bisa dipalsukan!” Tatapan Qin Yinuo yang dalam jatuh pada Mu Xue dengan penuh kasih, ia berkata dengan lembut, “Xiao Xue, berikan aku satu lagi kesempatan, oke?”
“Maaf.” Ia menghela nafas panjang dan menggeleng, “Aku tak bisa bersama denganmu. Aku tak bisa mengecewakan ayahku. Kalau bersamamu, aku akan merasa bersalah, sedih!”
Sebenarnya kalau tidak bersama ia juga sedih, kenapa Tuhan selalu mempermainkan manusia?
“Xiao Xue, kita masih punya anak! Kalau kau berbuat seperti ini, lalu bagaimana dengan Tian Yu?”
Punggung Mu Xue membeku. Benar, bagaimana dengan Tian Yu? Bagaimana dengan Cheng Cheng? Cheng Cheng telah menerima Qin Yinuo dengan susah payah. Ia bisa melihat bagaimana Cheng Cheng menyukai Qin Yinuo, dan Tian Yu juga tak bisa lepas dari maminya!
Tapi…
Benar-benar tak bisa bersama.
“Xiao Xue, bisakah kau memaafkanku demi anak-anak?” Wajah Mu Xue tetap dingin, sementara Qin Yinuo memohon dengan sepenuh hati. Nadanya yang datar menyiratkan kesengsaraan, ia menekan rasa sedihnya ke dalam tulang-tulangnya, ia tak ingin kehilangannya.
Mu Xue tersenyum sedih, “Aku tak membencimu. Aku hanya tak bisa bersamamu dengan tenang! Maaf!”
Ia tak ingin menangis, tapi air matanya malah terus jatuh. Mu Xue tersenyum dengan menguatkan dirinya, tangannya yang putih bergetar untuk menyeka air matanya, tapi ia malah berkata dengan penuh kesengsaraan pada Qin Yinuo, “Lebih baik akhiri saja hubungan kita.”
Saat ini, ia amat berharap bisa masuk ke dalam pelukannya. Dadanya yang hangat dan tenang pernah menjadi tempat favoritnya. Tapi sekarang, diri mereka perlahan menjauh, semuanya sudah berakhir.
Tubuh Qin Yinuo bergetar, ia menengadahkan kepalanya sambil terisak. Sepasang matanya yang memerah penuh dengan air mata, “Maaf Xiao Xue! Semua ini adalah salahku! Kalau, kalau ini benar-benar adalah keinginanmu, maka aku akan menjauh darimu!”
“Benar-benar maaf, biarkan aku peluk dirimu sekali lagi.” Qin Yinuo mengulurkan tangan dan memeluk tubuh Mu Xue sekuat tenaga, ia memeluknya dengan erat.
Kalau ketika itu ia tidak keras kepala, tidak sengaja melawan truk itu, mungkin saat ini tidak akan…
“Qin Yinuo, jaga dirimu baik-baik.” Mu Xue menatapi dalam-dalam pria yang sengsaranya luar biasa itu, lalu melepaskan diri dari pelukan Qin Yinuo, berbalik dan pergi.
__ADS_1
“Xiao Xue!” Terdengar suara teriakan dengan hati yang hancur. Mu Xue membalikkan badannya dan air matanya berjatuhan. Lalu ia membalikkan badannya dan berlari masuk ke dalam pelukan Qin Yinuo, ia mengulurkan tangannya dan memeluk tubuhnya dengan erat-erat.
Ia membiarrkan air matanya berjatuhan di dadanya, satu per satu tetesan jatuh di dada Qin Yinuo, “Qin Yinuo, lepaskanlah tanganmu.”