AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 166 Melihat Penganiayaan


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Pikirnya, mungkin Jingxuan benar-benar tidak lagi mencintai Mi Lei. Mungkin ada hal-hal yang jika berlalu benar-benar telah berlalu! Kalau Jingxuan berdampingan disisi ayahnya, mungkin benar-benar lebih baik.


“Xiao Xue, kau sudah pulang ya!” Pei Lingfeng senang sekali begitu melihat putrinya.


Hello! Im an artic!


Begitu Wu Jingxuan melihat Xiao Xue, ia langsung berjalan mendekat, menarik tangannya dan bertanya dengan penuh perhatian, “Xiao Xue, kau baik-baik saja?”


Mu Xue tahu ia mengkhawatirkan masalah kemarin, hatinya merasa hangat dan ia mengangguk, “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja!”


Pei Lingfeng menegakkan kepalanya dengan penuh perhatian. Setelah sempat bertatapan dengan Qin Yinuo, ia berjalan ke depan Xiao Xue. “Aku takkan lepas tangan tentang masalah kemarin. Tak ada orang yang boleh menindas putriku! Xiao Xue, bilang saja, kita harus bagaimana menghukum Gong Tianer!”


“Ayah masih belum melepaskannya?” Xiao Xue tertegun.


Hello! Im an artic!


“Ayahmu mau menunggumu datang baru memutuskan!” Wu Jingxuan berkata.


“Presiden, lepaskanlah Gong Tianer. Aku tidak ingin berhubungan sedikit pun dengan keluarga mereka. Kedepannya kita takkan bertemu dengan anggota keluarga mereka lagi, oke?”


Pei Lingfeng sama sekali tidak menyangka, “Kau memaafkannya semudah ini?”


Mu Xue tahu siapa yang dimaksudnya, “Aku dan dirinya sudah berbeda jalan sedari awal!”


**


Begitu Gong Tianer dilepaskan, dirinya sudah kelaparan setengah mati. Ia tidak makan semalaman.


Orang-orang Gong Peixin sudah mencari semalaman dan tetap tidak menemukannya, tapi di keesokan siangnya malah menemukan nona muda mereka yang turun dari mobil di depan rumah sendiri, “Ah, nona sudah pulang, Anda tidak apa-apa?”


“Huhuhu…aku laparnya setengah mati. Mereka tidak memberiku makan. Dimana ayah dan Tante Mei?” Gong Tianer hampir menangis, ia kelaparan setengah mati. Tapi begitu ia menanyakan soal ayahnya dan Tante Mei, para bawahan langsung terdiam.


Begitu memasuki hall utama, langsung terdengar suara teriakan ayahnya, “Orang murahan. Kupukul kau sampai mati, kupukul sampai mati…”


“Ah! Ayah memukul Tante Mei lagi kah?” Wajah Gong Tianer langsung memucat.


“Tak boleh, Tante Mei bisa mati dipukuli. Kenapa kalian tak turun tangan!” Tiba-tiba teringat akan sesuatu, ia langsung berteriak, “Jangan-jangan ketika aku tidak ada disini, ayah selalu memukul Tante Mei? Betul tidak?”


Gong Tianer sudah lama sekali tidak melihat ayahnya memukul Tante Mei, jangan-jangan ia dipukuli ketika dirinya tidak ada di rumah? Pantas saja Tante Mei tidak suka keluar rumah, ternyata begitu!


Ia tidak sempat untuk berpikir, langsung naik ke lantai atas dengan cepat.


Pintu kamar tertutup, di dalamnya terdengar suara permintaan ampun dari Mei Xiyun yang berselingan dengan suara teriakan Gong Peixin, suara nafas yang berat, suara pukulan. Wajah Gong Tianer seketika memerah, ia tahu apa yang sedang terjadi di dalam, tapi itu terhitung penganiayaan. Ia tahu hobi khusus ayahnya, hanya saja setiap kali Tante Mei akan ditindas parah sekali…


Memikirkan hal ini, ia tak bisa peduli terlalu banyak, langsung memukul-mukul pintu. “Ayah, Tante Mei, aku sudah pulang. Aku sudah pulang, cepat buka pintu!”


Tiba-tiba tidak ada suara lagi di dalam. Beberapa detik kemudian terdengar suara teriakan senang dari Gong Peixin, “Anak baik, itu kau kah? Kau benar-benar sudah pulang?”


“Ayah, ini aku! Cepat buka pintu!” Gong Tianer berteriak.


Setelah sebuah suara pelan, pintu terbuka. Gong Peixin berjalan keluar dengan tegap, namun di rambutnya ada tetesan keringat, dan wajahnya kembali jadi melembut.


Begitu melihat Gong Tianer, Gong Peixin langsung memeluk putrinya. Ia memeriksanya dengan teliti, anaknya tidak disiksa, karenanya barulah ia tenang. Tapi kemudian ia berkata dengan kejam, “Aku takkan melepaskannya!”


“Tianer!” Mei Xiyun juga keluar. Wajahnya yang pucat agak memerah, wajahnya terlihat lemah, dan jelas sekali kalau ia baru saja merapikan pakaiannya, “Kau sudah kembali. Yang penting kau sudah kembali!”

__ADS_1


Sambil berkata, mata Mei Xiyun memerah, “Setidaknya kau sudah pulang! Huhuhu…”


“Tante Mei…” Gong Tianer maju memeluknya, “Aku sudah pulang!”


Baru memeluknya, Mei Xiyun langsung menghela nafas lega.


Seolah Gong Tianer sadar akan sesuatu, maka ia langsung melepaskan Mei Xiyun dan berbalik lalu berkata pada Gong Peixin, “Ayah, aku tak berharap ayah memukul Tante Mei lagi! Aku tak ingin melihatnya sedikit pun. Kalau Ayah selalu begitu, putrimu takkan memaafkanmu!”


“Tidak, tak ada. Tianer, ayahmu tidak memukulku, aku benar-benar tak dipukuli!” Mei Xiyun berkata dengan terbata-bata, sangat ketakutan namun malah berpura-pura tidak takut. Semakin dirinya begitu, Gong Tianer semakin mengerti.


Ia langsung membuka lengan bajunya, melihat bekas pukulan di kulitnya dan menunjuk, “Ayah, ini apa?”


Wajah Gong Peixin langsung jadi tidak enak dilihat. Ia terdiam, tapi tatapannya malah melirik sekilas pada Mei Xiyun dengan kejam.


“Tianer, bukan. Bukan seperti ini. Ayahmu tidak memukulku, aku sendiri yang menabrak sesuatu!” Mei Xiyun menjelaskan dengan tergesa-gesa.


“Tante Mei, kau tak perlu menutup-nutupi untuk ayahku! Aku sudah tahu semuanya!” Gong Tianer menggeleng, matanya tiba-tiba memerah, “Ayah, Tante Mei masih punya seorang putri kan? Kau melarang putri Tante Mei untuk masuk ke rumah kita?”


Gong Peixin dan Mei Xiyun langsung tertegun. Gong Peixin berkata, “Tianer, si bajingan tua itu yang memberitahumu?”


“Ayah, Tante Mei masih ada seorang putri kan?”


“Tidak ada. Benar-benat tidak ada!” Mei Xiyun menggelengkan kepalanya dengan kalut, “Tante Mei tidak punya anak. Tianer, Tante Mei hanya ada Tianer seorang!”


“Tante Mei, jangan bohong lagi padaku. Aku tahu putrimu itu bernama Mu Xue. Tadi orang yang mengantarku kemari yang memberitahuku. Dia bilang kalau kalian menyakiti putrinya lagi, dia akan membuat seluruh keluarga kita mati tanpa punya tempat untuk dimakamkan!”


Kedua orang tersebut langsung melongo.


“Ayah, kenapa Mu Xue itu putrinya Tante Mei, kenapa kau tidak membiarkan dia ikut dengan Tante Mei untuk tinggal di rumah kita? Aku tidak punya saudara, kau tahu seberapa senang diriku begitu mendengar aku memiliki seorang kakak? Tapi kenapa kalian tak membiarkannya datang ke rumah kita?” Gong Tianer berteriak keras-keras, matanya sudah memerah, “Kalian tahu seberapa kesepian diriku? Tahu seberapa besar keinginanku untuk memiliki saudara?”


Kata-kata yang diteriakkan Gong Tianer membuat Gong Peixin tertegun, lalu ia juga berteriak, “Nak, kalau kau menginginkan saudara, ayah akan pergi mencarikan di panti asuhan untukmu, Mu Xue tak bisa!”


“Kenapa?”


“Karena dia dilahirkan oleh Mei Xiyun si manusia murahan ini, aku benci semua yang dilahirkannya!” Gong Peixin mendengus dingin untuk sesaat.


Awalnya sudut bibir Mei Xiyun membentuk senyum menyindir, tapi kemudian ia tersandung, “Tianer, tidak apa-apa. Yang penting asal kau kembali. Aku akan menyuruh orang untuk memasak untukmu, jangan buat ayahmu kesal lagi, karena dia sudah mengkhawatirkanmu semalaman!”


Mei Xiyun menggenggam tangan Gong Tianer lalu menariknya turun tangga.


“Tante Mei…kenapa?” Setelah turun, Gong Tianer bertanya dengan suara rendah, “Apa karena ayah selalu memukulmu? Sehingga kau baru tidak ingin mengenal putrimu?”


Mei Xiyun menggeleng, “Bukan, Tianer. Aku tidak suka padanya, aku ini bukan seorang ibu yang baik. Diriku bukan lagi, dan untuk apa terus berpura-pura! Yang penting aku ini adalah ibu terjahat di seluruh dunia, aku juga bersedia menjadi ibu terjahat!”


“Bukan! Dimataku kau adalah seorang ibu yang baik, Tante Mei. Kau baik sekali padaku! Aku tak percaya kau tak suka pada putrimu sendiri!” Gong Tianer menggeleng.


“Tianer, jangan ngomong lagi. Kau lapar tidak?”


“Tante Mei, kau harus memberitahuku kenapa?”


“Benar-benar tidak suka padanya. Bukan aku baik padamu, tapi kau yang baik padaku. Tianer, memangnya kau tidak melihat aku tengah memanfaatkanmu? Sebenarnya kau adalah pelindungku. Ketika kau ada barulah aku aman. Ketika kau tidak ada, ayahmu akan memukulku. Beberapa tahun ini aku selalu memanfaatkanmu!”


“Tante Mei, aku tak percaya!” Gong Tianer menggeleng.


Mei Xiyun menatapnya, “Aku ini adalah orang yang sangat amat egois. Benar, egoisnya luar biasa. Aku baik sekali pada diriku sendiri, tapi tak peduli akan hidup atau matinya putra kandungku sendiri. Putraku sudah mati, kau tahu? Aku tidak sedih sedikit pun, dan malah merasa bebas! Ibu sepertiku ini egois sekali kan? Kalau aku tengah memanfaatkanmu lalu apa? Aku rakus akan kehidupan aristokrat, aku rakus akan kemewahan, memang kenapa kalau aku dipukuli dari belakang? Tapi di luarnya diriku ini mulus!”


“Bukan, bukan begitu. Tante Mei, jangan membicarakan dirimu sendiri seperti ini. Di hatiku kau ini seorang ibu yang baik, kau perhatian padaku. Ketika aku sakit kau peduli padaku. Kau ini seorang ibu yang baik! Meski aku tidak pernah memanggilmu ibu, tapi di hatiku kau ini seorang ibu! Aku tak ingin kau membicarakan dirimu sendiri seperti ini!”

__ADS_1


Tatapan Mei Xiyun menyiratkan rasa sakit, lalu menggeleng. “Anak bodoh. Itu semua demi memanfaatkanmu. Aku bahkan tak suka pada anak kandungku sendiri, bagaimana bisa berbaik hati padamu? Makanlah, setelah makan istirahat yang baik, jangan berpikir terlalu banyak!”


“Tante Mei!” Karena beberapa tahun ini Tante Mei sering disiksa, sehingga dirinya merasa sangat bersalah pada Tante Mei, sangat menghormatinya. Dan lagi Tante Mei juga sayang sekali padanya, ia tidak percaya dirinya adalah orang sejahat itu. Orang yang membicarakan dirinya seperti ini, bagaimana mungkin adalah orang macam itu?


“Kalau kau merasa diriku benar-benar baik padamu, maka dengar satu kalimatku. Kau tak boleh menikahi Mi Leii, dia tak mencintaimu! Yang dicintainya adalah wanita lain!”


“Tidak! Aku cinta pada Kakak Mi, aku hanya akan menikah dengan Kakak Mi!”


Saat ini, terdengar suara laporan dari luar pintu, “Nyonya, nona, Tuan Muda Mi datang!”


“Ah– Kakak Mi!” Gong Tianer langsung senang, “Aku ingin bertemu dengan Kakak Mi!”


“Tianer–” Mei Xiyun berteriak sesaat.


“Tak boleh pergi!” Gong Peixin berteriak dari lantai dua.


“Tidak! Aku mau pergi!” Gong Tianer sudah berlari keluar.


Gong Peixin tak berdaya. Berjalan sampai tangga, ia berdiri disana menatapi Mei Xiyun, lalu melototinya sesaat, “Malam nanti baru kuhabisi dirimu!”


Mei Xiyun menunduk, tidak berbicara–


Di ruang membaca rumah keluarga Pei.


“Anak muda, waktumu hanya tersisa beberap hari. Kalau dua hari lagi putriku tidak memanggilku ayah, kau jangan pernah muncul lagi!” Pei Lingfeng berkata tanpa segan-segan.


“Pak mertua, aku baru hendak membicarakan permasalahan ini denganmu. Aku bermaksud menikahi Xiao Xue minggu depan. Kalau dalam dua hari ini Xiao Xue tidak memanggilmu Ayah, maka apa Anda akan menyetujui dia menikahiku seminggu kemudian?” Sudut mata Qin Yinuo menampakkan senyuman penuh keyakinan.


“Menikah denganmu?” Pei Lingfeng mengerutkan alisnya.


“Pak mertua, untuk apa Anda sekeras kepala ini. Sejak awal Xiao Xue sudah menjadi mami dari anak-anakku, dan lagi perasaan diantara kami dalam. Sedari awaln kami sudah seharusnya menikah, kenapa Anda tidak mengikuti saja kemauan kami?” Qin Yinuo tertawa.


“Baik! Lusa itu hari natal. Kalau di hari natal kau masih belum bisa membuatnya memanggilku ayah, maka jangan berharap untuk bisa menikahinya!” Pei Lingfeng mengancam.


“Baik, begitu saja. Pak mertua tunggu saja akan kabar baiknya!” Qin Yinuo penuh dengan rasa percaya diri. “Sampai bertemu besok lusa, Pak Mertua!”


Qin Yinuo membawa Mu Xue pergi menjemput Cheng Cheng di sekolah.


Sepulang sekolah, Qin Yinuo dan Mu Xue berdiri di pintu masuk sekolah, dan langsung menarik perhatian banyak murid dan orangtua.


“Kenapa masih belum keluar?” Qin Yinuo agak tergesa-gesa.


“Sudah hampir. Cheng Cheng suka keluar yang terakhir, dia bilang tidak suka berdesak-desakan!” Mu Xue menjelaskan. “Untuk apa kau mencari Cheng Cheng?”


“Ada masalah!” Ia berkata.


“Masalah apa?”


“Masalah diantara pria!”


“Dia kan masih anak-anak!” Mu Xue berkata, merasa lucu.


“Bukan! Dia itu pria! Di mataku semua yang berjenis kelamin laki-laki itu pria. Dan aku takkan mengambil resiko membiarkan semua pria memelukmu! Bahkan anak sendiri juga tak boleh!” Qin Yinuo berkata dengan sangat bossy.


Wajah Mu Xue memerah, “Kau ini benar-benar membingungkan!”


“Sudah datang!” Tiba-tiba Qin Yinuo melihat sosok kecil dari kejauhan yang memapah sebuah tas besar. Di sampingnya malah diikuti banyak sekali anak perempuan, “Astaga! Xiao Xue, lihat!”

__ADS_1


__ADS_2