
Hello! Im an artic!
Qin Yinuo kaget karena Pei Lingfeng menelepon dirinya. Ia melirik sebentar ke sekeliling, menyadari dirinya masih di dalam KTV. Zeng Li dan Mi Lei masih tidur, maka ia hanya bisa berkata dengan pelan, “Berikaan dia sedikit waktu, biarkan dia pikir baik-baik, aku akan menunggunya selesai berpikir! Aku akan menunggunya sampai dia memaafkanku!”
“Besok dia ke Hokkaido!” Pei Lingfeng memberitahu informasi ini pada Qin Yinuo.
Hello! Im an artic!
“Aku hendak dinas ke New York!” Ia berkata. Tapi kemudian ia kaget, “Terima kasih pak mertua, aku tahu harus bagaimana!”
Mu Xue yang keluar dari ruang membaca, wajahnya memucat. Tiba-tiba ia melihat Cheng Cheng dan Mu Xue di koridor. Wajah kedua anak itu penuh dengan kekhawatiran.
Hati Mu Xue sakit, ia semakin menyalahkan dirinya. Ia segera berjalan kesana dan memeluk kedua anak itu, “Maaf! Mami salah! Mami terlalu egois! Kenapa bisa mami melupakan kalian dan pergi berlibur? Kenapa mami hanya memikirkan perasaan mami sendiri?”
“Mami, sebenarnya mami dan paman kenapa?” Cheng Cheng bertanya dengan muram.
Hello! Im an artic!
“Mami tidak mau daddy lagi kah?” Tian Yu sensitif sekali. Suaranya sedih, seolah tidak berani bertanya dengan suara besar, “Mami, apakah daddy sudah membuat mami marah? Jangan buang daddy, daddy kasihan sekali!”
“Bukan! Ini salah mami!” Mu Xue menggeleng, “Salah mami!”
“Kalau begitu kenapa daddy tidak datang?” Tian Yu menengadah, melihat maminya sedang menangis. Maka ia mengulurkan tangan kecilnya untuk menyeka air matanya, “Kenapa mami menangis?”
Saat ini perasaan Mu Xue kacau. Bagaimana bisa ia tenggelam dalam kesedihannya sendiri dan lupa dengan anak-anaknya, “Maaf, maaf. Mami terlalu egois! Bagaimana bisa mami hanya memikirkan diri sendiri, hanya memikirkan kesedihan sendiri, tapi lupa kalau kalian juga sama sedihnya!”
Saat ini, Pei Lingfeng berjalan keluar. Melihat bagaimana Xiao Xue memeluk kedua anak itu, hatinya berkedut, “Xiao Xue, maafkanlah Qin Yinuo demi anak-anak!”
Mu Xue menoleh melihat Pei Lingfeng, “Kalau kau adalah Papa Nanbei, kau juga akan berharap aku bersamanya kah?”
Pei Lingfeng menghela nafas, mengangguk dengan serius, “Ya! Kurasa ia juga sama sepertiku, berharap putri kami bahagia! Dan pria itu bisa memberimu kebahagiaan, membuatmu senang. Kurasa dia sama sepertiku, meski sudah mati pun juga akan bahagia! Kalau pria yang telah mengambil nyawa kami itu bisa memberikan kebahagiaan pada putri kami, kau juga berharap dia akan bersama dengan putriku. Karena dia adalah sumber dari kebahagiaan putriku!”
Mu Xue kaget. Hatinya tersentuh, lalu ia berdiri dan masuk ke dalam pelukan Pei Lingfeng, bergumam, “Ayah…ayah…”
Pei Lingfeng tertegun. Ia tak menyangka saat ini putrinya akan memanggilnya “ayah”, kenapa begitu mendengar kata ini, wajah Pei Lingfeng langsung berkedut sedih. Matanya memerah, memeluk Xiao Xue erat-erat, “Anak baik, putri ayah…”
“Ayah, apakah aku terlalu egois?” Ia bertanya. Hatinya masih terus kalut, “Apakah ayah Nanbei benar-benar takkan menyalahkanku?”
“Tidak akan. Dia pasti akan puas dengan menantu ini!” Pei Lingfeng menepuk-nepuk punggung Mu Xue.
“Mami, kami sudah bisa bertemu dengan daddy belum?” Tian Yu bertanya.
“Ya! Mami pergi mencarinya. Mami pasti akan membantu kalian mencari daddy kembali!” Ia menengadah, mengusap air matanya. “Ayah, aku pergi cari Qin Yinuo!”
“Aku juga pergi!” Tian Yu berkata dengan tergesa-gesa.
“Jangan!” Cheng Cheng menggeleng, menarik Tian Yu. “Mami punya kata-kata pada daddy, kita jangan pergi mengganggu. Kita tunggu mereka berbaikan baru pergi!”
“Betul! Cheng Cheng pintar sekali!” Pei Lingfeng menarik tangan kedua anak itu, “Kusuruh Du Jing untuk mengantarmu! Tidak, suruh Qin Yinuo yang datang saja!”
“Jangan! Ayah, aku pergi mencarinya sendiri!” Ia sudah berlari keluar dengan cepat.
__ADS_1
Pei Lingfeng melihat jam. Sudah pukul satu tiga puluh dini hari! Ia menghela nafas, pasangan yang tengah jatuh cinta memangnya harus bersusah payah tanpa peduli siang malam kah? Ia menunduk, melihat kedua anak yang saking mengantuknya tidak bisa membuka mata lagi, “Anak-anak baik, ayo pergi tidur, jangan khawatir lagi!”
Du Jing mengantar Mu Xue ke vila nomor 15.
“Apa dia akan ada disini?” Du Jing bertanya.
“Aku akan meneleponnya. Du Jing, kau pulanglah! Terima kasih!” Mu Xue berkata dengan tulus.
“Jangan sungkan denganku. Cepat masuk, aku pergi setelah kau masuk!”
“Ya!” Mu Xue mengangguk, lalu masuk secepatnya ke dalam vila. Saat ini barulah Du Jing pergi sambil menggeleng. Ia melihat rasi bintang. Malam ini, dirinya lagi-lagi kesepian!
***
Di dalam rumah gelap sekali. Mu Xue melihat tempat yang dikenalnya ini dengan hati berdebar-debar. Ini adalah tempat pertemuannya dengannya. Saat itu ia memakai topeng rubah, dan ia memiliki tatapan yang tajam. Ia ingat seberapa mengerikan tatapannya ketika itu.
Tapi kemudian, di dalam tatapannya hanya ada perasaan mendalam! Sementara dirinya seolah selalu melarikan diri. Mereka telah melalui banyak sekali hal, banyak sekali! Kenapa dirinya masih tidak memercayainya? Ia benar-benar bodoh sekali! Ia menyalahkan dirinya sendiri!
Vila yang dikenalnya ini, air mata yang telah ditahan lama oleh Mu Xue akhirnya berjatuhan. Ia naik ke lantai atas dengan pelan, di sana ada memori indahnya dengan Qin Yinuo.
Baru ia mencapai tangga, pintu berderit.
Hatinya berdebar. Ia berdiri di tangga, melihat ke arah pintu. Setelah kuncinya berputar, pintunya dibuka. Sebuah sosok tinggi dan besar muncul di pintu.
Qin Yinuo melihat vila sudah terang benderang. Rasanya dirinya sedang bermimpi, ia hampir tak memercayainya. Selain dirinya dan Xiao Xue, tak ada yang punya kunci tempat ini.
Ia berharap, tapi tak percaya. Hatinya bergetar. Ia takut ini bukan dirinya. Tapi begitu pintu dibuka, ia melihat orang yang tengah berdiri di tangga, maka hatinya langsung melompat-lompat bahagia.
Mata Mu Xue memerah. Diantara air matanya, wanita itu menatapinya. Ia juga mentapi wanita itu. Sementara sosoknya itu sebegitu besar, sepasang matanya dalam. Ia menatap begitu saja padanya, bagai bintang yang bersinar paling terang di kegelapan malam.
Itu memang suaranya, bukan halusinasi.
Qin Yinuo melangkahkan kakinya, berlari cepat ke hadapannya. Ia menunduk menatapnya, nafasnya kasar.
Mu Xue mencium bau rokok dan alkohol yang kental, kental sekali darinya. Hati Mu Xue sakit. Qin Yinuo sudah minum bir, dan minumnya banyak sekali. Pakaiannya berkerut tertimpa, sama sekali berbeda dengan dirinya sebelumnya.
Ia menatapinya penuh dengan air mata, lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus wajah Qin Yinuo. Ia bilang dirinya sudah jadi makin kurus, tapi sebetulnya Qin Yinuo yang paling kurusan, bahkan dagunya jadi tajam.
Tangannya yang putih mengelus wajah Qin Yinuo perlahan. Mu Xue menutupi mulutnya yang terisak dengan tangan. Qin Yinuo telah jadi rapuh sekali.
“Kedepannya kau tak boleh minum bir lagi!” Ia berkata sambil tersiak, “Kenapa kau tak bisa menjaga dirimu sendiri?”
Qin Yinuo menggenggam tangan Mu Xue. Untuk suatu saat, rasanya dirinya seperti di alam mimpi. Tapi tangan lembut itu memberitahunya, kalau dirinya telah kembali.
Tangan besarnya menariknya ke dalam pelukan, sudut bibirnya tersenyum.
Pelukan yang hangat, nafas yang hangat, Qin Yinuo langsung menurunkan pinggangnya dan menggendong Mu Xue. Ia menuju ke lantai dua, menendang pintu hingga terbuka, lalu meletakkannya di atas ranjang. Ia berlutut di samping ranjang, tangan besarnya menggenggam tangannya, suaranya yang serak bertanya, “Kapan kau datang?”
Suara seraknya penuh dengan semangat, Qin Yinuo menikmati rasanya memeluk Mu Xue. Ketika kehilangannya, hidupnya tidak sempurna lagi.
Ia sudah kembali!
__ADS_1
Artinya ia sudah memaaafkannya kah?
“Aku baru datang!” Ia berkata, suaranya bergetar.
“Masih akan pergi lagi?” Ia bertanya tanpa sadar.
Mu Xue tertegun, menggeleng.
Ia menatapinya dengan hampir tak percaya. Untuk suatu saat, keduanya tidak berbicara. Mereka hanya menikmati perasaan bersama.
“Maaf!” Xiao Xue berkata pelan. Ia merasakan tangan Qin Yinuo yang menggenggamnya langsung membeku, kemudian ia berkata, “Aku yang tak percaya padamu! Maaf!”
“Xiao Xue…” Qin Yinuo tak tahu apa maksudnya, tapi perasaannya memberitahunya kalau kata-katanya ini ada hubungannya dengan kecelakaan itu.
“Qin Yinuo, aku yang bersalah padamu. Cintaku yang tak cukup kuat. Aku yang mundur dengan rendah diri. Bisa-bisanya aku tak memercayaimu, aku yang terlalu egois! Bisa-bisanya aku mencurigaimu berbohong, mencurigaimu menipuku!”
Mu Xue meneteskan air mata dalam diam, hatinya penuh dengan perasaan bersalah.
“Istri bodoh, jangan minta maaf padaku. Aku memang memiliki tanggung jawab atas kematian ayahmu. Kalau aku mengalah padanya, mungkin dia takkan kenapa-kenapa!” Ada air dalam mata Qin Yinuo, lalu mengulurkan tangan untuk memeluknya, “Kedepannya kita takkan berpisah lagi!”
Mu Xue mengulurkan tangannya. Ia agak malu, tapi masih saja memeluk leher Qin Yinuo dengan penuh inisiatif. Kemudian ia membenamkan wajahnya yang memerah ke leher Qin Yinuo. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan hatinya, “Kau pergilah mandi, aku turun untuk memasak untukmu! Kau minum bir dengan perut kosong?”
Qin Yinuo mengangguk, tersenyum dengan hangat. Tatapannya yang jatuh pada Mu Xue penuh dengan kelembutan. Kemudian ia menariknya berdiri dan mulai melepas pakaiannya!
Mu Xue kaget untuk sesaat, wajahnya memerah. Meski ia pernah melihatnya telanjang, tapi begitu melihatnya melepaskan baju, ia masih malu. Ia membalikkan badan untuk melarikan diri, sebaiknya ia pergi memasak untuknya!
Tapi setelah Qin Yinuo melepas jaketnya, ia langsung menarik Mu Xue. Mu Xue kaget, ditarik sampai terseok-seok. Karena ia terbiasa untuk tidak berdiri stabil, maka ia langsung jatuh ke tubuhnya.
Qin Yinuo langsung menciuminya, mulutnya penuh dengan bau alkohol. Nafasnya kasar, hatinya berdetak tak karuan, bagai hendak melompat keluar dari dadanya. Tangan Mu Xue diletakkan di dadanya, untuk sesaat ia tidak tahu harus bagaimana, hendak mendorongnya, tapi ia tak bertenaga.
Ia menciuminya lama sekali, Mu Xue rasa dirinya hampir kehabisan nafas, barulah ia melepaskannya, lalu membenamkan diri di lehernya, dan Mu Xue tetap merasa sesak.
Kemudian ia mendengarnya bergumam pelan, “Kau ingin pergi berlibur besok kan?”
Mu Xue merasa aneh, “Bagaimana kau tahu?”
“Besok ikut kau dinas ke Amerika! Tunggu Cheng Cheng dan Tian Yu libur baur ke Hokkaido!” Ia berkata di samping telinganya.
Mu Xue masih ragu, dirinya agak pusing, “?”
“Benar-benar tidak akan meninggalkanku lagi kah?” Sepertinya ia tidak tenang, terus membenamkan diri di samping telinganya dan bertanya pelan.
Mu Ran merasa hatinya melompat-lompat, “Tidak! Sampai mati pun tak akan!”
Suara Mu Xue serak, membiarkannya memeluknya dengan erat, berkata pelan.
“Hidup kau adalah manusia milikku, dan setelah mati rohmu milikku!” Ia berkata.
“Ya!”Ia menengadah, “Cepatlah mandi, badanmu bau sekali!”
“Kau bilang aku bau? Aku sudah tidak mandi tiga hari” Ia berkata, suaranya kecewa. Hukuman Mu Xue terlalu kuat. Dirinya sudah tidak ingin hidup lagi, mana masih bisa memikirkan mandi!
__ADS_1
“Ya! Kau bau, bau sekali! Hehe!” Ia berkata, tapi masih bersandar di bahu Qin Yinuo dengan manja, menikmati perasaan diantara mereka, terus berkata, “Mandi, ganti baju dan turun untuk makan!”
“Baik!” Qin Yinuo mengulurkan tangan untuk mengelus wajahnya, ia tersenyum hangat sambil menatapi wajahnya yang cantik, berkata lembut, “Makan makanan dan memakanmu.”