
Hello! Im an artic!
“Ketemu di Ling Dian!” Begitu Zeng Li mendengar akan persetujuannya, ia langsung menetapkan tempat pertemuan.
Bar Ling Dian.
Hello! Im an artic!
Begitu kedua pria itu muncul, langsung memancing keributan.
Wajah Qin Yinuo yang dingin dan ganteng bagai ukiran patung. Sepasang matanya yang dalam sungguh menawan, membuat orang tenggelam di dalamnya.
Tatapannya jatuh pada salah satu tempat di sudut, ia segera berjalan ke arah sana.
Keduanya duduk, dan pelayan langsung datang menyuguhkan bir.
Hello! Im an artic!
Setelah Qin Yinuo duduk, ia menyalakan sebatang rokok dan mulai merokok.
“Nuo! kamu tidak merasa masalah kemarin itu agak terlalu sembrono kah?” Zeng Li meneguk bir, lalu mulai berkata.
Qin Yinuo terdiam, hanya saja jarinya yang menjepit rokok itu bergetar, namun gerakannya yang sedikit sekali itu tidak bisa luput dari tatapannya. Sebenarnya biasanya Zeng Li sudah terbiasa tertawa, jarang sekali ia menampakkan dirinya yang asli, begitu melihat reaksinya, Zeng Li berkata lagi: “Xiao Xue merawat anaknya seorang diri juga tidak gampang, kan kamu yang tertarik mengembangkan game itu, kenapa kamu malah hendak memecatnya? Aku merasa ini tidak sepertimu!”
“Ia memberimu keuntungan apa?” Qin Yinuo menaikkan alisnya. “Membuatmu berkata seperti ini?”
“Nuo! kamu ini sudah makan obat apaan?” Zeng Li menaikkan alisnya. “Kenapa kalau membicarakan Xiao Xue kamu jadi seperti ini?”
Mata dingin Qin Yinuo bergetar, wajahnya langsung murung. Ia terus terdiam, setelah mengisap sesaat, ia langsung menyemburkan asap mengepul, wajahnya tersembunyi di belakang asap, berkata pelan: “Karena anak itu!”
“Apanya anak itu?” Zeng Li tidak mengerti.
“Hackernya adalah anak itu!” Qin Yinuo berkata pelan.
“Apanya?” Zeng Li tertegun. “Bagaimana kamu tahu?”
Mungkinkah? Li He adalah orang hebat di bidang pemograman komputer, dia gelarnya tingkat Master, jangan-jangan firewall yang dibuatnya diserang hanya oleh anak kecil?
“Tebak berdasarkan insting!” Qin Yinuo meletakkan rokoknya. Dalam otaknya muncul sebuah wajah kecil, meski kesal karena anak itu adalah anak milik Mu Xue, tapi ia terpaksa mengakui, anak itu adalah seorang jenius!
“Berdasarkan insting? Tidak mungkin!” Zeng Li menggeleng. “Cheng Cheng cuma anak kecil! Meski IQ-nya tinggi sekali, tapi tidak mungkin sehebat ini, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak!”
“Mau taruhan?” Bibir Qin Yinuo terangkat.
“Taruhan?” Zeng Li bengong. “Nuo, tidak mungkin, kita sudah berapa lama tidak taruhan?”
“Akhir pekan ini aku mau mengadakan acara di rumah lamaku!” Qin Yinuo melirikinya sesaat, “Kalau kamu tertarik, pergilah melihat-lihat! Dengar-dengar sih ini acara perjodohan.”
“Eh? Ayahmu ingin menjodohkanmu?” Zeng Li selalu tahu Qin Mao Xiang ingin agar Qin Yinuo menikah, apalagi keluarga mereka punya bisnis besar, orang-orang tua pasti menginginkan anak cucu yang banyak, tentu berharap anaknya bisa cepat menikah lalu melahirkan beberapa anak untuk meneruskan bisnis keluarga. “Dan kamu setuju?”
Qin Yinuo selalu menentang perjodohan, tapi kenapa kali ini ia malah setuju?
Qin Yinuo hanya terus merokok, tiba-tiba ia tertawa, dalam tawanya malah seolah menertawakan dirinya sendiri, tertawa pahit.
Zeng Li menatapnya, entah kenapa, ia merasa dia tidak senang. “Kalau tidak ingin dijodohkan, ya jangan pergi, untuk apa masih setuju pula? Pernikahan tanpa cinta itu tidak bahagia, kamu harus berhati-hati!”
“Dia, pernah menghubungimu tidak?” Setelah terdiam, ia berkata pelan.
“Siapa?”
__ADS_1
Kemudian diam, ia terus merokok, sudut bibir Qin Yinuo berkedut, ia menghabiskan seluruh isi gelas bir ke dalam perutnya.
“Yang kamu bilang itu Yu Lan?” Zeng Li langsung mengerti. “Tidak, sudah lama sekali tidak kontak!”
Tangannya yang mengenggam cangkir itu tiba-tiba mengerahkan tenaga, tatapan Qin Yinuo langsung menjadi dalam. “Kalau ia mengontakmu, beritahu diam, di pihak Dokter Li sana sudah ada alat baru, bisa mengobati penyakitnya!”
“Oh! Baik!” Zeng Li mengangguk. “Nuo, ada perasaan yang semestinya perlu dilupakan!”
“Memang benar bisa dibilang lupa langsung lupa?” Qin Yinuo berkata pelan, seolah tengah menanyainya, namun seolah menanyai dirinya sendiri, kemudian ia berdiri. “Ayo pulang!”
“Eh! Masalah Xiao Xue kan belum kita omongkan!” Tapi Qin Yinuo sudah berjalan keluar, Zeng Li menatap punggungnya lama sekali, hari ini Qin Yinuo agak berbeda.
Setelah keluar dari bar, di jalanan ada sekeluarga tiga orang yang menaiki motor lewat di samping Qing Yi Nuo, seorang anak dijepit diantara dua orang dewasa, sang pria tengah mengendarai, yang Wanita memeluk anak itu dalam pelukannya, tidak membiarkan angin yang bertiup mengenai tubuh anaknya.
Qin Yinuo menatapi ketiga orang yang lewat itu, entah kenapa, hatinya terasa sakit, isakannya tersendat di tenggorokan, membuatnya tidak bisa berpikir terbuka, ia dan Tian Yu tidak memiliki kehangatan rumah! Ia menatap pada langit malam, tiba-tiba sebuah rasa dingin menyeruak di dadanya, membuatnya merasa dingin sampai tak bisa bernafas.
“Nuo! Kalau mengemudi hati-hati!” Zeng Li berjalan kemari, menepuk bahunya dengan penuh perhatian.
Qin Yinuo tertarik kembali dari lamunannya, setelah itu ia terdiam sesaat, ada apa dengan dirinya? Sejak kapan ia jadi sering sedih begini? Ia tidak berbicara, hanya mengangguk-angguk–
Mu Xue sudah mengantar anaknya pergi pagi-pagi, lalu membawa kotak itu ke perusahaan Qin, hanya saja ia tidak naik ke lantai atas, ia menunggu kedatangan Qin Yinuo di depan pintu.
Ia hendak mengembalikan barang padanya.
Setelah Qin Yinuo menghentikan mobilnya ia berjalan ke arah gedung dengan wajah dingin, dari jauh sekali, Mu Xue melihat sosoknya yang tinggi, ia hanya merasa asing sekaligus dekat, setelah menarik nafas dalam-dalam, ia berjalan pergi. “Presiden!”
Setelah tertegun sesaat, Qin Yinuo menengadah, tatapannya jatuh pada wajah Mu Xue yang putih, lalu melihat kotak di tangannya, ia tertegun, tidak berbicara, setelah menatapnya beberapa detik, belum menunggu Mu Xue berbicara, ia berjalan pergi, seolah tidak mengenal wanita itu.
“Presiden, harap Anda mengembalikan benda ini pada Tian Yu!” Ketika mereka berpapasan lewat itulah, Mu Xue berkata dengan terburu-buru.
Tubuhnya menengang, mereka berdua berdiri di pintu luar gedung, menarik perhatian banyak orang.
“Barang yang sudah diberikan kami tidak akan menerimanya kembali, kalau kamu tak mau maka buang saja!” Tatapannya beralih dari tubuhnya menuju ke kotak itu.
“Itu kan masalah Presiden sendiri, aku tidak ingin berhutang pada orang!” Setelah Mu Xue tertegun sesaat, ia masih tetap menaruh kotak itu pada tangannya, lalu berbalik dan berjalan pergi.
Qin Yinuo tidak melihatnya sekalipun, begitu membalikkan tangannya dan membuang benda itu di tong sampah pintu depan, tidak peduli sama sekali.
“Kau…” Mu Xue kesal sekali oleh perilakunya sampai tubuhnya membeku, menghentikan langkah kakinya.
Qin Yinuo menatapinya dengan tajam, berkata, “Jadi wanita jangan terlalu asal-asalan, hari ini kamu mengantar kembali barang ini karena ingin terus kerja di sini kah? Mu Xue, maaf sekali, harapanmu itu akan segera hancur!”
“Apa?” Ia melongo, rasanya sudah dipermalukan orang, emosinya langsung naik ke ubun-ubun.
“Kamu ini wanita yang licik sekali, tapi, niatmu sudah ketahuan olehku!” Setelah berbicara sudut bibir Qin Yinuo terangkat.
Tangan Mu Xue mengepal jadi tinju, ia berkata pelan, “Ternyata hati Presiden segelap itu, aku merasa beruntung sekali tidak bekerja di sisi Anda!”
Ia menenangkan amarahnya, lalu tersenyum, membalikkan badan dan pergi, sementara Qin Yinuo hendak mengatakan sesuatu tapi tertahan–
Pintu ruangan Presiden tertutup rapat, siapa pun tidak berani maju selangkah, pagi sejak Qin Yinuo masuk ke dalam ruangan, ia belum keluar sekali pun.
Di dalam ruangan, asap mengepul penuh.
Rokok dalam tangan Qin Yinuo tak terasa sudah hampir terbakar habis, sampai panas itu menyentuh tangannya, ia baru sadar kalau rokok itu sudah terbakar habis.
Sementara di atas meja, kotak itu sudah dipungut kembali, wanita itu malah tidak menginginkan hadiah ini, sialan, memangnya dengan memiliki hadiah ini dia bisa mati?
Ketika Mu Xue pergi, Qin Yinuo melihat sosoknya yang berjalan pergi dengan langkah besar-besar tanpa ragu, ia semakin kesal, karena ini adalah sutra yang dipilihnya sendiri, cocok sekali dengan kulitnya, tak disangka ia malah mengembalikannya.
__ADS_1
Membuka laci, ia melihat kotak lainnya, itu adalah korek api pemberian wanita itu, sebenarnya, itu adalah benda untuk membayarnya!
Qin Yinuo meletakkan kedua kotak itu bersama, ia mengeluarkan korek api silver dari kotak itu, hatinya jadi kacau dan ia memasukkannya lagi.
Zeng Li memasuki ruangannya, menyadari suasana hati seseorang hari ini jelek sekali.
Melihat ruangan yang penuh dengan asap, Zeng Li pergi membuka jendela. “Kalau kamu ingin bunuh diri jangan biarkan orang lain menghirup asap rokokmu!”
“Projek itu, kuserahkan padamu!” Qin Yinuo menengadah, jarinya yang panjang menjepit rokok, dan mulutnya memuntahkan asap putih. “Masalah game, aku tidak ingin melihat anak itu dan Mu Xue lagi, tapi game itu harus terus dikembangkan!”
“Kamu sudah mengubah niat awalmu?” Zeng Li tertegun.
“Masalah pribadi dan profesional harus dipisahkan!” Ia hanya berkata demikian.
“Nuo, kalau begitu bolehkah aku bertanya apa yang telah mengubah niat awalmu?” Zeng Li mengerjapkan mata, ia penasaran sekali.
“Keluar!” Qin Yinuo berkata dengan nada rendah.
Zeng Li memikirkan Mu Xue, dengan begitu ia bisa sering pergi melihat ibu dan anak itu, tiba-tiba ia tersenyum, “Baik, kamu tenang saja, game ini kupastikan akan dijadikan yang terbaik untuk tahun ini.”
“Terserah padamu!” Alis Qin Yinuo terangkat naik, matanya dalam.
“Kalau begitu apakah masih bisa menyuruh Cheng Cheng untuk mendesain paket baru?” Zeng Li terus bertanya. Ia tidak akan melepaskan kesempatan untuk membiarkan Xiao Xue dan anaknya untuk berkarya.
“Semuanya tergantung padamu!” Qin Yinuo berdiri. “Rapat sore ini kamu harus datang!”
Ia mengambil jas di atas sofa, lalu berjalan keluar dengan langkah besar-besar–
Di dalam sebuah cafe.
Dua wanita cantik duduk di samping jendela.
Wanita cantik yang mengganti pakaiannya dengan T-shirt dan jeans, memiliki mata besar yang memikat, lalu ia berkata pada wanita yang berdandan seksi di depannya: “Aku sudah dipecat!”
Kedua orang ini tentu saja adalah Mu Xue dan Mi Ling.
“Kamu bilang apa? kamu dipecat? Kenapa?” Wajah Mi Ling kaget sekali, bertanya: “Perusahaan Qin itu perusahaan besar yang bagus sekali, banyak sekali orang yang mau masuk ke sana!”
“Tak tahu, aku cuma bertemu dengan Presiden gila!” Mu Xue berkata, sampai sekarang ia masih tidak tahu kenapa dirinya dipecat.
“Qin Yinuo itu orang gila?” Alis Mi Ling berkedut. “Dia bukannya seorang kekasih yang populer? Aku belum pernah dengar kalau saraf otaknya agak gila?”
“Sudahlah, jangan omongkan dia lagi! Mi Ling, ini adalah uang yang sebelum kupinjam darimu, dan ini adalah uang sewa rumah!” Mu Xue memberikan amplop surat padanya.
“Hei! kamu masih tidak enakan denganku?” Mi Ling menaikkan alisnya. “Aku tidak kekurangan uang, sudahlah, setelah kamu menghasilkan uang yang banyak baru berikan padaku, sekarang tidak usah! Simpan saja dan sisakan keuntungan besar untukku ya!”
Sambil tersenyum, Mu Xue berkata: “Kamu mau komplen uang ini sedikit? Terimalah, kalau tidak aku dan Cheng Cheng langsung pindah tempat!”
“Baik! kamu ini kejam sekali! Aku terima!” Mi Ling takut ia benar-benar akan berbuat seperti itu, orang ini selalu keras kepala sekali, ia tahu itu. “Tapi kamu tidak punya kerjaan, gimana?”
“Aku tengah bersiap-siap mencari pekerjaan!” Mu Xue menarik nafas dalam-dalam. “Kalau ganti kerja sih, yang penting setahun ini aku juga sedang gonta-ganti kerja, setiap pekerjaanku waktunya tidak panjang, kupikir aku ini orang kerja yang paling berpengalaman sekarang!”
“Mending kamu pergi ke restoran abangku saja, kemampuanmu bagus sekali, restorannya membutuhkan seorang asisten untuk mengurus pesanan acara di restoran, kamu urus hal semacam ini, terima telepon, lalu mengurus susunan acara orang, gimana? Pekerjaan ini cocok sekali denganmu, kurang lebih dengan pekerjaanmu sebagai sekertaris!”
“Sudahlah, lebih baik aku pergi cari sendiri!” Ia tidak ingin merepotkan Mi Ling.
“Jangan dong, kakakku sedang mencari orang nih, kalau orang lain dia tidak akan tenang!” Sambil berkata, Mi Ling hendak menelepon.
“Jangan, Mi Ling, kamu biarkan aku coba pergi cari dulu!”
__ADS_1