
Hello! Im an artic!
MuXue tidak menjelaskan lebih lanjut.
“Mami, aku adalah laki-laki, tentu saja aku harus membeli rumah!”
Hello! Im an artic!
“Anakku, urusan rumah biarkan mami yang memikirkannya. Kamu hanya anak kecil, kamu belum dewasa dan belum saatnya memikirkan hal seperti ini!”
“Anak yang yang baik. Xiao Xue, ini adalah kontrak yang perlu kamu tanda tangani. Beritahu aku jika ada bagian yang perlu di rumah!” ujar Ceng Li. Setelah makan, Ceng Li mengantar Mu Cheng dan Mu Xue kembali ke rumah. Sebelum berpisah Ceng Li berkata, “Besok pagi aku akan datang menjemputmu! Kita harus ke rumah sakit mengecek bahumu!”
“Tidak usah repot-repot manager Zeng!”
“Paman, kenapa mami harus ke rumah sakit?” Percakapan tersebut menarik perhatian Chengcheng. Dia ingin tahu apa yang terjadi kepada ibunya, “Ada apa dengan mami?”
Hello! Im an artic!
“Mami baik-baik saja. Mami perlu ke rumah sakit untuk menjenguk seorang teman,” ujar Mu Xue. “Paman tampan!” Chengcheng memanggil Ceng Li.
“Ya Tuhan! Panggil aku paman Li!” ujar Ceng Li.
“Baiklah! Aku akan memanggilmu paman Li! Paman, kenapa paman Da Niao tidak datang sendiri?” tanya Chengcheng dengan penasaran.
“Chengcheng, jangan memanggilnya seperti itu!” Mu Xue merasa sangat tidak enak. “Hahahahaha …,” Ceng Li tertawa terbahak-bahak.
Wajah Mu Xue memerah.
“Karena dia sedang sibuk.”
“Apakah aku bisa bertemu dengannya?”
“Tentu saja, dia adalah atasan mamimu!”
“Kalau begitu tolong sampaikan terima kasihku kepada paman Da Niao!”
“Chengcheng, apakah kita bisa berhenti memanggilnya dengan sebutan seperti itu?” Mu Xue khawatir jika dia akan memanggil Qin Yinuo dengan sebutan seperti itu ketika bertemu dengannya. Pasti akan sangat canggung sekali!
__ADS_1
“Iya!” Chengcheng menganggukkan kepala.
Keesokan harinya Ceng Li menelepon Mu Xue di pagi hari, “Mu Xue, aku hampir sampai di rumahmu.”
“Cepat sekali?”
“Tentu saja! Bersiaplah!” Ceng Li tertawa.
Mu Xue bersiap-siap kemudian berjalan keluar dari gang. Ketika sampai di depan jalan, dia melihat sebuah sosok tinggi sedang merokok di samping mobilnya.
Kenapa dia ada di sini?
“Pak, kenapa anda di sini?”
“Bagaimana? Apakah kamu telah mempertimbangkannya?” tanya Qin Yinuo.
“Apa?”
“Pindahlah ke rumahku!” ujarnya.
Apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?
Tidak berapa lama kemudian terlihat mobil Ceng Li datang. Qin Yinuo melihat mobil tersebut kemudian bertanya, “Apakah kamu telah janjian dengannya?”
“Hah? Tidah, eh iya!”
“Iya atau tidak?” tanya Qin Yinuo.
Ceng Li keluar dari mobilnya kemudian menghampiri, “Wah, aku tidak menyangka kamu juga kemari!” “Aku pergi dulu. Aku tidak ingin mengganggu kencan kalian!” ujar Qin Yinuo bersiap pergi.
Kencan? Siapa yang berkencan?
“Nuo, mau kemana kamu? Aku ingin membawa Xiao Xue ke rumah sakit untuk melepas jahitannya. Apakah kamu ingin ikut?” tanya Ceng Li.
“Aku sibuk!” jawab Qin Yinuo kemudian beranjak masuk ke dalam mobilnya kemudian beranjak pergi. Ceng Li memandang ke arah Mu Xue, “Xiao Xue, ayo berangkat!”
Mu Xue menganggukkan kepa, “Manager Zeng, maaf telah merepotkanmu!” “Berhenti memanggilku manager. Panggil saja namaku!” ujar Ceng Li. Ketika selesai membuka jahitan di rumah sakit, Ceng Li tidak langsung mengantarnya pulang, “Kita makan dulu!”
__ADS_1
“Tapi ….”
“Tidak ada tapi,” ujar Ceng Li.
Merek tiba di sebuah restoran yang mewah. Baru saja beranjak keluar dari mobil, hidung Ceng Li mencium wangi parfum yang membuatnya batuk, “Uhuh … uhuk.”
“Wah, tuan Zeng. Kebetulan sekali!” sebuah suara terdengar menyapa.
Mu Xue dan Ceng Li membalikkan badan, tampak berdiri seorang wanita yang sangat cantik sedang menggandeng lengan Qin Yinuo.
“Nona Gao! Nuo, kebetulan sekali kamu juga datang ke sini?” sapa Ceng Li.
“Iya, kebetulan sekali!” jawab Gao Siqi dengan senang. Sudah laam sekali Qin Yinuo tidak mencarinya.
“Apakah ini adalah pacarmu?” tanya Gao Siqi memandang Mu Xue.
“Ah! Dia ku anggap seperti adikku!” jawab Ceng Li sambil melirik Qin Yinuo.
“Ayo kita masuk,” ajak Gao Siqi.
“Sudah ke rumah sakit?” Qin Yinuo bertanya ketika Mu Xue melewatinya. “Iya, hari senin aku sudah bisa mulai masuk bekerja,” ujar Mu Xue.
“Tidak perlu buru-buru,” jawab Qin Yinuo.
Setelah mereka masuk, Mu Xue melihat restoran tersebut sangat mewah. Dia merasa sedikit canggung.
“Tuan, nona, selamat malam!” sapa seorang pelayan sambil membawakan menu. “Xiao Xue, mau pesan apa?” tanya Ceng Li.
Wajah Mu Xue kebingungan melihat menu yang tertera. Tangannya mulai berkeringan dingin, dia tidak pernah makan di tempat seperti ini.
“Dua steak, medium rare. Nuo, mau minum apa?”Gao Siqi mulai memesan.
“Sebotol 82!”
Ceng Li melihat Mu Xue, “Xiao Xue, kenapa tidak pesan?”
“Mahal sekali!” Mu Xue menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ceng Li tertawa. Gao Siqi memandangi Mu Xue dengan tatapan sinis.
Qin Yinuo sama sekali tidak memandangnya, dia melihat ke arah jendela.