
Hello! Im an artic!
Yu Jinglan turun dari mobil, berjalan ke sisi pengemudi dan mengantarnya ke Kompleks Liyuan.
Sepanjang perjalanan, dia dan Song Yin tidak mengatakan apapun. Tatapannya terfokus ke depan. Dia bahkan tidak melihat Song Yin dari kaca spion, seolah-olah sengaja mengabaikannya.
Hello! Im an artic!
“Sudah sampai!” Saat mobil berhenti, Yu Jinglan berkata dengan serius.
Saat Song Yin keluar dari mobil, dia juga sama sekali tidak mengatakan apapun.
Lalu mobil itu dengan cepat meluncur pergi dan pelan-pelan menghilang sampai tidak terlihat lagi. Wajah acuh tak acuh Song Yin diwarnai dengan rasa bersalah. Mungkin terlihat lebih rumit daripada rasa bersalah.
Sayang sekali Yu Jinglan sudah pergi, kalau tidak dia akan bisa menemukan rasa keenganan dan nostalgia yang ada di matanya.
Hello! Im an artic!
Song Yin berdiri melamun di sana untuk waktu lama…sangat lama dan air matanya sudah terjatuh. Dia berpikir kalau dirinya masih tidak dapat lepas dari takdir ini!
Angin meniup pakaian tipis Song Yin. Dia berjalan naik ke atas sendirian. Belum berpisah tapi hatinya sudah merindukannya bercampur dengan rasa sedih dan suram!
Perasaan yang ada di dunia ini selalu berutang satu sama lain. Kamu berutang padaku dan sebaliknya. Lalu membayarnya satu per satu.
Hari berikutnya.
Pengacara Yu Jinglan menelepon Song Yin. “Nona Song, presiden memintaku memberikan padamu surat perjanjian untuk ditandatangani. Di mana kita bisa bertemu?”
Song Yin panik dan menggigit bibirnya, kemudian berkata dengan suara berbisik, “Di kafe di luar rumah sakit, jam sebelas!”
Kafe.
Pengacara Yu Jinglan , Tan Li datang sambil membawa koper. Dia duduk setelah menyapa. Wajah Song Yin sedikit pucat dan jika dilihat dari dekat, eye shadownya terlihat tebal dan berwarna biru. Sepertinya dia cukup lelah.
“Nona Song, presiden ingin memberikan pada Anda saham perusahaan sebesar 20%.” Pengacara Tan mengeluarkan dokumen-dokumen itu.
Song Yin mengira dia salah dengar, “Tidak, aku tidak menginginkannya.”
“Ini adalah keinginan Presiden Yu dan juga satu-satunya syarat yang disetujui olehnya.” Pengacara Tan menjelaskan padanya dengan blak-blakan. Nona Song, silakan Anda lihat. Ini adalah perjanjian transfer saham. Anda dapat langsung menandatanganinya. Setelah menandatangani ini, surat perceraian sudah dapat ditandatangani!”
“Tidak! Aku tidak ingin saham ini!” Dia tidak pernah berpikir untuk meminta sesuatu darinya, sama sekali tidak pernah.
“Maksud Presiden Yu adalah, jika Anda tidak menerimanya, maka tidak mungkin terjadi perceraian!”
“Aku tidak ingin saham! Aku akan meneleponnya sendiri dan berbicara padanya!” Song Yin dengan cepat mengeluarkan ponsel dan menelepon Yu Jinglan di depan Pengacara Tan.
Setelah dering telepon berbunyi tiga kali, suara Yu Jinglan yang rendah dan sedikit lelah terdengar dari ujung telepon. Hanya sebuah kata “halo” yang sederhana melalui telepon tetapi dapat mengetuk hatinya yang rapuh. Mendengar suaranya, tiba-tiba rasanya dia sudah ingin menangis.
Ternyata dia tidak sekuat yang dia kira!
Tapi dia tetap membulatkan tekad dan berkata, “Ini aku!”
“Aku tahu.” Dia berkata.”Kamu sudah tanda tangan?”
“Aku tidak ingin saham!”
“Yinyin, kamu harus tahu kalau itu adalah yang pantas kamu dapatkan. Hukum memberimu kekuatan seperti itu, kenapa kamu tidak mau?”
“Aku hanya tidak menginginkannya!” Song Yin menggigit bibirnya, “Aku hanya akan menandatangi surat perceraian, aku tidak mau sahamnya!”
__ADS_1
“Mau atau tidak, itu adalah milikmu!” Yu Jinglan berbicara dengan pelan, suara pria yang rendah itu sangat mengejutkan.
Song Yin mengerutkan bibirnya dan tidak berbicara. Ada rasa sakit di matanya. Setelah beberapa lama, dia berteriak dengan suara rendah, “Kakak Yu…”
Dia tidak pernah berpikir kalau Yu Jinglan akan begitu murah hati memberikan dirinya saham Grup Yu. Dia tahu kalau Yu Jinglan memperlakukan dirinya dengan sangat baik, tapi dia tidak menyangka akan sebaik ini.
“Yinyin, jangan keras kepala. Terima saja! Aku masih ada rapat. Lebih cepat tanda tangan lebih cepat selesai!” Dengan nada datar, “Tanda tangan atau tidak, itu adalah milikmu! Aku sudah menandatangani surat pengalihan saham!”
“Kakak Yu–”
“Baiklah! Aku ada urusan, begitu saja!” Tidak lagi berbelit-belit, nada bicaranya begitu datar.
Hatinya mulai sakit.
Pengacara Tan bersikeras dia menandatangani perjanjian pengalihan saham baru bersedia menulis surat perceraiannya. Jadi, dia bersikukuh untuk tidak menandatanganinya!
Pengacara Tan sedikit tidak berdaya.”Nona Song, Anda begitu bersikeras ingin bercerai, kenapa tidak menggenggam kesempatan ini?”
“Tidak! “Aku tidak ingin saham!” Masih kalimat yang sama, hidungnya sudah mulai berair dan dia hanya bisa merasakan jantungnya berdebar-debar.
Tan Li tidak punya pilihan selain pergi.
Ketika Song Yin kembali ke ruang perawatan, dirinya sepertinya orang linglung.
“Yinyin, kamu baik-baik saja?” Lan Xin bertanya dengan prihatin.
Song Yin tidak menanggapi, seolah-olah dia mendengar kata-kata ibunya tapi juga tidak mendengarnya.
Setelah Tan Li pergi, Song Yin tidak mengangkat telepon dari Yu Jinglan . Dia juga tidak tahu apakah dirinya sudah tanda tangan atau belum. Song Yin berpikir, mungkin dia sudah tahu.
Selama tiga hari berikutnya, Yu Jinglan ternyata tidak datang mencarinya, Xing Jiabai juga tidak datang.
Suatu hari ketika Song Yin melewati kios koran di rumah sakit, dia membeli sebuah surat kabar dan baru tahu kalau saham Grup Yu telah ditangguhkan selama seminggu. Dunia luar berspekulasi kalau Grup Yu sedang menghadapi krisis.
Grup Yu.
Wajah Yu Jinglan sangat lelah, dia mengusap alisnya.
Xing Jiabai duduk di seberangnya.”Perusahaan bernama Yinsi ini baru berdiri kurang dari tiga bulan tapi sudah berani mengakuisisi saham perusahaan kita.”
“Dapat mengawasi keluarga Yu menunjukkan kalau dia sangat mampu dan berani.”
Nada suara Xing Jiabai juga tidak cemas dan dia berkata dengan bercanda, “Sangat menarik. Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa yang menjadi presiden tua Yinsi. Katanya perusahaan ini didirikan di Australia dan kantor pusatnya berada di Queensland. Lan, apakah kamu musuh di Queensland?”
Yu Jinglan berkata dengan serius, “Lu Chennian.”
“Siapa Lu Chennian?” Xing Jiabai mengangkat alisnya.
Yu Jinglan mengerutkan kening dan berkata, “Kamu tidak perlu tahu!”
“Ada yang tidak perlu kuketahui? Apakah aku masih pemegang saham? Aku rasa aku masih memiliki hak ini, kan?”
“Dia membeli sekitar 10% saham.” Yu Jinglan melihat laporan keuangan dan berkata dengan serius.Tidak cukup untuk menjadi ancaman.”
“Tapi dana kita sekarang tidak berputar dengan baik. Kamu tidak mungkin tidak tahu, kan? Jika ibumu ingin menjual 20% sahamnya, lalu jika dibeli oleh orang yang bernama Lu Chennian, berarti dia mungkin akan memiliki 30% saham kita di tangannya. Begitu amarah ibumu meledak dan melakukan hal itu, maka kita benar-benar tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.” Xing Jiabai telah menyelidiki belakangan ini Du Liling sedang mencari seseorang untuk menjual saham.
Yu Jinglan juga sudah mendengar tentang ibunya ingin menjual saham dan sorot matanya menjadi lebih suram. Dia tahu setelah dia membawa ibunya pergi hari itu, kata-kata kejam yang diucapkan ibunya sama sekali bukan hanya ancaman. Saat itu, dia berkata, “Aku tidak berharap kamu jatuh cinta pada putri musuhmu. Kamu sudah merusak rencanaku, dan kamu sudah bersalah pada ayahmu yang berada di surga. Kalau begitu, hubungan ibu dan anak kita selesai sampai di sini. Dan jangan salahkan aku jika aku berbuat sesuatu.”
“Situasi keuangan kita saat ini tidak cukup untuk mengakuisisi 20% sahamnya. Bagaimana menurutmu?”
__ADS_1
Telepon internal berdering, dan Yu Jinglan buru-buru menjawab panggilan itu.”Bicara!”
“Presiden, Nona Mu datang lagi, katanya dia bisa memberikan dana pada Anda, tolong Anda temui dia!” Sekretaris Li berkata di telepon.
“Aku tidak mau bertemu!” Yu Jinglan berkata dengan suara berat lalu langsung menutup telepon.
“Lan, Mu Xue benar-benar tergila-gila padamu!” Xing Jia berkata sambil tersenyum lebar.”Dia sampai mengirim uang padamu tapi kamu tidak mau!”
“Tutup mulutmu!” Yu Jinglan meliriknya dan menelepon lagi, “Di mana Lu Chennian sekarang? Apakah penyelidikanmu sudah selesai?”
Penyakit Song Qingquan tidak kunjung membaik. Mungkin karena menyadari kondisi fisiknya, Song Qingquan meminta Lan Xin untuk membantunya mengurus prosedur pensiun dan tidak akan pernah bertanya tentang urusan pekerjaan lagi. Dia ingin pulang ke rumah dan menikmati hari tuanya.
Dan insiden video tersebut juga telah menjadi perbincangan warga kota Fengcheng. Hanya saja lambat laun akan terlupakan seiring berjalannya waktu.
Namun kesepakatan perceraian antara Song Yin dan Yu Jinglan masih belum tercapai. Yu Jinglan bersikeras untuk memberikan 20% saham kepadanya, sedangkan Song Yin juga bersikeras menolak.
Sejak bertemu dengan Pengacara Tan hari itu, dia tidak pernah menerima telepon dari Yu Jinglan lagi. Pengacara juga tidak menghubunginya. Dan ketika melihat berita mengenai krisis yang dialami Grup Yu, langsung membuatnya khawatir. Setelah bersabar selama sehari, akhirnya pada jam sepuluh malam dia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menelepon Yu Jinglan .
Ketika dia mendengar suara batuk di telepon, jantungnya sersaa berhenti berdetak. Dia tidak ingin mengakui, tetapi dia harus menebak apakah dia sakit?
Setelah batuk berulang kali, Yu Jinglan mengusap pelipisnya dan tidak menghiraukan demam tinggi di keningnya. Dia terus mengurus dokumen yang berada di tangannya. Dia tidak melihat nama yang berada di layar ponsel dan langsung menjawabnya.”Halo? “Uhuk uhuk–”
Mendengar suara batuknya, jantung Song Yin menjadi sesak, “Kamu baik-baik saja?”
Tiba-tiba mendengar suara Song Yin, Yu Jinglan sedikit terkejut. Apakah dia menelepon untuk membicarakan masalah perceraian lagi?
Yu Jinglan menahan rasa sakit yang hebat di jantungnya dan terbatuk kemudian berkata, “Apakah ada masalah?”
Nadanya sangat lemah karena dia tidak tahu bagaimana harus menghadapinya jika Song Yin membicarakan perceraian lagi.
Nada suaranya membuat Song Yin tanpa sadar mengerutkan kening, dan bertanya, “Apakah kamu sakit?”
Seharusnya dia merasa sangat senang karena akhirnya mereka bisa kembali ke keadaan normal dan tidak menyindirnya lagi. Sikapnya yang acuh tak acuh dan menjaga jarak membuatnya merasa lebih santai.
Tapi ketika dia mendengar suara batuk Yu Jinglan lagi, Song Yin mengernyitkan alisnya. Batuknya begitu hebat, dia pasti sakit. Apakah dia ingin batuknya berkembang menjadi pneumonia?
“Tidak ada hubungannya denganmu. Jika tidak ada apa-apa lagi, aku akan menutup telepon!” Dengan menahan rasa tidak nyaman di tenggorokannya, Yu Jinglan mendesaknya dengan suara dingin. Apa yang terjadi padanya? Yang mau bercerai dia, tapi sekarang masih peduli padanya?
“Kamu dimana?” Song Yin bertanya lagi, mengabaikan sikap acuhnya.
“Jika tidak ada apa-apa, aku masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Jadi begitu saja!” Yu Jinglan berkata dengan nada rendah yang dapat membuat orang merasa bergidik. Jika dia tidak menutup telepon, dia khawatir akan terbatuk lagi. Setelah berhari-hari begadang ditambah dengan pukulan itu, membuat kekebalan tubuhnya menurun drastis sehingga menyebabkannya terkena virus flu dan batuk yang sangat parah.
“Kamu berada di kantor?” Sebelum Song Yin selesai berbicara, telepon sudah ditutup. Dia akhirnya peduli padanya dan hampir meletakkan ponselnya, kemudian dia bergegas keluar.
Setelah menghentikan taksi, dia bergegas ke Grup Yu.
Larut malam.
Sudah lewat dari jam sepuluh, apakah dia masih ada di perusahaan?
Petugas keamanan masih ada. Ketika Song Yin turun dari mobil, kebetulan petugas keamanan juga mengenalnya.
“Apakah Presiden Yu masih ada di atas?” Song Yin bertanya terburu-buru.
“Ya, ada di sini!” Petugas keamanan buru-buru berkata. “Apakah Nyonya mau naik ke atas?”
“Aku ingin menemuinya, apakah aku boleh naik?”
Petugas keamanan mengira dia adalah istri Yu Jinglan sehingga menganggukkan kepala. “Anda boleh naik!”
__ADS_1
Di meja resepsionis tidak ada orang. Mereka semua sudah pulang kerja. Apakah hanya dia yang bekerja lembur? Song Yin naik lift ke atas.
Di dalam lift, pikirannya berantakan dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Berpikir tentang apa yang harus dia katakan jika bertemu lagi? Terburu-buru datang kemari mengkhawatirkannya, apakah dia akan salah paham?