
Hello! Im an artic!
“Apakah aku boleh bertemu dengannya? Aku ingin melihatnya!” Mu Xue tahu apa yang dikatakan tuan rubah benar adanya. Namun dia sangat ingin bertemu dengan anaknya! Dia ingin melihat rupa dan wajah anaknya!
“Karena kamu menolak uangku, maka aku tidak akan mengijinkanmu menemuinya,” jawab tuan rubah. Di balik topengnya, wajahnya tampak sangat marah.
Hello! Im an artic!
Kenapa wanita ini tidak menyentuh uangnya? Apakah dia bodoh?
“Tuan, aku mohon. Mengertilah hati seorang ibu sepertiku!” Air mata Mu Xue mengalir.
“Bisa saja ku kabulkan, asalkan …,” tuan rubah sengaja memotong ucapannya sambil memandang wajah Mu Xue memerah.
“Asalkan apa?” Mu Xue merasa penasaran. Dia tidak tahu syarat apa yang tuan rubah akan ajukan.
Hello! Im an artic!
“Apakah kamu bersedia melakukan apapun yang aku minta?” tanya tuan rubah.
Mu Xue termenung.
“Sudah, pulanglah. Melihat reaksimu aku rasa kamu tidak akan melakukannya. Namun sebagai rasa empatiku, aku akan memberitahumu bahwa kehidupan anakmu sangat baik. Ada pengasuh yang menjaganya dana dia tumbuh menjadi anak yang sangat rupawan. Hanya itu yang bisa ku katakan, pulanglah!”
Mu Xue sangat ingin bertemu dengan anaknya, “Tuan aku akan melakukan apapun. Aku rela membayar harga apapun untuk bisa bertemu dengannya!”
“Apakah kamu yakin?”
__ADS_1
Mu Xue tidak memiliki jalan lain. Jika memang ini satu-satunya cara maka dia akan melakukan untuk bisa bertemu dengan anaknya, “Iya,” jawab Mu Xue.
“Temani aku malam ini,” ujar tuan rubah.”……”
Mu Xue terkejut, dia seperti disambar petir, “Tuan bisa kah hal yang lain? Selain menemanimu?”
5 tahun yang lalu, demi adiknya dia telah kehilangan keperawanannya. 5 tahun kemudian, apakah dia masih harus menjual tubuhnya untuk bisa bertemu dengan anaknya kepada lelaki ini? Lelaki yang dia tidak tahu wujudnya.
“Pulanglah, aku tidak akan memaksamu,” ujar tuan rubah.
Hati Mu Xue bercampur aduk. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
“Apakah boleh jika aku melihat anakku terlebih dahulu?” tanya Mu Xue.
“Tidak,” jawab tuan rubah.
“Anda …,” Mu Xue merasa tuan rubah mengambil keuntungan darinya.
“Nona, ini adalah bisnis. Aku tidak akan memaksamu. Semua keputusan ada di tanganmu,” ujar tuan rubah dengan datar.
Mu Xue kehilangan kata-kata ….
“Aku tidak bisa melakukan itu! Namun aku ingin bertemu dengan anakku!” Mu Xue menangis tersedu-sedu. “Ayo ke sini,” ujar tuan rubah menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Mu Xue menggelengkan kepalanya.
“Aku akan memberikanmu waktu sehari untuk berpikir,” ujar tuan rubah. Setelah berkata demikian dia pergi meninggalkan Mu Xue. Mu Xue kembali ke rumah, dia tidak bisa tidur malam ini. Pagi hari tiba, dia berangkat untuk bekerja seperti biasa.
__ADS_1
Hari ini wajah Mu Xue tampak tidak seperti biasanya. Dia terlihat tidak segar dan kelelahan.
“Ada apa denganmu? Apakah sedang tidak enak badan?” tanya Qin Yinuo.
“Tidak, aku …,”
“Kamu tampak tidak sehat. Pulanglah lebih awal hari ini!” ujar Qin Yinuo.
Karena tidak tenang, maka Mu Xue mengambil ijin untuk pulang lebih awal.
Sesampainya di rumah dia meelepon sekolah Chengcheng untuk memberitahu bahwa Chengcheng tetap akan menginap di asrama sekolah untuk malam ini.
Waktu telah menunjukkan pukul 9, Mu Xue kembali ke rumah tersebut untuk bertemu tuan rubah.
“Aku akan menerima tawaranmu,” ujar Mu Xue. Dia sangat ingin bertemu dengan anaknya.
“Waktu 3 bulan sangat singkat. Setelah 3 bulan kamu bisa bertemu dengan anakmu! Kita lihat performamu!” ujar tuan rubah mengngatknnya.
“Satu lagi, selama waktu ini kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan lelaki mana pun.”
Mu Xue diam tidak bersuara. Selain Qin Yinuo, tidak ada laki-laki lain yang pernah menciumnya.
“Baik,” jawab Mu Xue. “Kemari!” perintah tuan rubah.
Dengan perlahan-lahan dan menangis teredu-sedu Mu Xue berjalan mendekat.
“Aku membencimu!” ujar Mu Xue sambil menggigit bahu tuan rubah dengan marah.
__ADS_1
Tuan rubah menahan rasa sakit tersebut sambil menggendong Mu Xue ke lantai 2. Perasaan ini persis seperti 5 tahun yang lalu. Dia merasa sepert mengulang malam itu …