
Hello! Im an artic!
Dia menggoyangkan kunci di tangannya, wajah Mu Xue langsung memerah, rupanya mereka melupakannya saat berciuman, dan tiba-tiba dirinya duduk lagi di sofa dan dia berjongkok dihadapannya.
Tangannya memegang wajahnya yang pucat dan penuh air mata itu, dia tersenyum melihat wajahnya yang jelek karena menangis, kali ini, tidak ada sindiran, tidak ada yang ditutupi, hanya ada rasa sedih. “Kamu sudah berdandan!”
Hello! Im an artic!
Mu Xue terpaku sambil memejamkan mata dan menarik nafas.
Dia menatapnya lekat-lekat, mata hitamnya seperti sumur yang bisa menelan orang kedalam dan selamanya tidak reinkarnasi! Pandangan itu penuh perasaan.
“Tapi sudah rusak karena menangis, seperti seekor kucing kecil!” Dia berkata pelan dan manja.
Mu Xue menatapnya, hatinya kosong dan sedikit sulit percaya.
Hello! Im an artic!
Lalu dia berkata dengan sedikit kesal: “Aku bersedia! Aku bersedia begitu!”
Terdengar protes dan marah, juga putus asa, Mu Xue tidak tahu saat ini dirinya seperti anak gadis yang manja sekali, dan dia hanya menatapnya, “Baiklah, kamu bersedia, terserah padamu kamu ingin bagaimana!”
“Untuk apa kamu kembali?” Mulutnya cemberut karena malu mendengar suara pria yang manja ini.
“Bagaimana kalau ada orang jahat yang masuk kalau aku tidak kembali?” Dia mengernyitkan alis, “Mungkin saja, sekarang sudah ada orang yang mengambil kunci dan membuat duplikat, masuk saat tengah malam, khusus mengganggu wanita lemah sepertimu!”
“Tidak mungkin!” Siapa yang akan menganggunya selain dia.
“Xiao Xue, jangan mengusirku pergi ya? Aku lelah sekali!” Dia menatapnya dan hatinya baru bisa tenang dengan menatapnya.
Dia terdengar memohon dan Mu Xue langsung merasa sakit hati.
Dia menarik nafas dan sangat ingin menangis. Tapi bagaimanapun juga tidak berkata ingin mengusirnya lagi, karena mata pria ini memerah, lelah dan juga kurus.
“Pergi tidurlah!” Mu Xue berkata
“Kamu mengizinkan aku tinggal?” Dia terpaku dan seperti sulit percaya.
“Pulanglah setelah cukup tidur!” Mu Xue mengontrol perasaannya dan berkata datar, lalu berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
“Kenapa kamu selalu begitu berlogika? Kenapa kamu mau mengusirku?” Qin Yinuo berkata dibelakangnya dengan putus asa.
“Aku hanya tahu kamu perlu istirahat.” Mu Xue berbalik dan berkata singkat, “Sudah berapa lama kamu tidak istirahat?”
Keduanya bertatapan lama sekali. Hati Qin Yinuo langsung dingin seperti gurun pasir, pandangannya terlihat sakit dan sedih, seperti tidak bisa menerima hidup yang berat ini. “Tidak tahu!”
“Cepat tidurlah!” Mu Xue berkata.
“Baiklah! Aku tidur!” Pandangannya jadi suram dan menunduk, wajahnya terlihat stress.
Mu Xue masuk ke dalam kamar mandi dan bersandar di pintu, dia membenamkan wajahnya ke dalam lengannya, mulai menangis dalam diam. Tidak berdaya dan terisak pelan.
Dia takut akan kehilangan logika dan histeris serta tidak memperdulikan segalanya, takut dirinya akan semakin mencintainya sampai tidak bisa melepaskannya!
Qin Yinuo berdiri diluar pintu, suara isak tangisnya menghancurkan hatinya, menyakiti pikirannya, dia tahu semuanya karena dirinya, dia melewati hari dengan buruk sekali!
__ADS_1
Mungkin, dia terlalu egois! Dia berpikir apakah tepat dengan mencarinya malam ini?
Mu Xue sudah cukup menangis, dia membuka air dan mulai mandi. Dia perlu berpikir jernih, kalau tidak, dia tidak berdaya menghadapi Qin Yinuo.
Mu Xue membenamkan kepalanya kedalam air yang hangat, dan baru mengangkat kepalanya setelah merasa tidak bisa bernafas, air matanya mengalir perlahan bersama air hangat melalui pipinya.
Akankah Mo Yilan pulih? Walaupun bisa pulih, apa dia akan kembali sakit kalau dia tahu Qin Yinuo tidak mencintainya lagi? Apa Qin Yinnuo selamanya akan merasa bersalah padanya kalau berulang-ulang begini?
Mu Xue membenamkan badannya sambil memejamkan mata, tidak ingin memikirkan apapun, tapi muncul wajah Mo Yilan yang pucat dengan jelas.
Setelah setengah jam, Qin Yinuo sadar Mu Xue masih belum keluar dan terlalu khawatir, Qin Yinuo segera berjalan kesana dan membuka pintu kamar mandi.
Dalam uap air, Mu Xue berada dalam air dengan tenang, memejamkan mata, tidak lagi bisa membedakan air mata atau air di pipinya.
“Xiao Xue!” Qin Yinuo hanya merasakan sakit hati yang membuat hatinya tertahan dan segera kesana, mengambil handuk disebelah dan menggendong Mu Xue keluar dari air.
“Qin Yinuo!” Mu Xue bersandar dalam pelukan Qin Yinuo dengan tenang, masih tidak membuka mata karena dia tidak tahu harus bagaimana menghadapinya, besok dia akan kembali ke sisi Mo Yilan!
Dulu dia berpikir dengan sederhana, melepaskan dan juga sudah melakukannya, tapi Qin Yinuo kembali lagi, Tuhan tahu dia sungguh tidak ingin melepaskan, saat ini dia baru tahu kalau melepaskan ini begitu berat.
“Xiao Xue!” Qin Yinuo menggendong Mu Xue ke atas ranjang seperti boneka keramik saja, memeluk badannya yang lemas dengan erat, melihat wajahnya yang setengah mati dengan tidak tenang.
“Xiao Xue, kamu baik-baik saja?” Masih terdiam, Qin Yinuo tidak pernah merasa setakut ini, dia yang tidak bicara ini menyayat hatinya dengan dalam, sakit sampai tak bisa bernafas.
“Qin Yinuo, aku tahu kamu mencintaiku, tapi cinta ini membuatku semakin rakus. Mungkin aku tidak melepaskan, kamu yang bertanggung jawab kalau tidak melepaskan! Aku tidak perduli, apa hubungannya nyawa seseorang denganku? Apa kamu tahu kamu akan membuatku histeris kalau terus menggangguku? Menjadi tidak bisa berpikir jernih? Aku tidak ingin menjadi begitu!” Akhirnya Mu Xue bicaar, suaranya lembut seperti tertiup dan hilang di udara.
Qin Yinuo hanya memeluk badan Mu Xue dengan erat, memeluknya dan memandangi wajah pucatnya dengan penuh perasaan, dia tidak tahu pandangan Qin Yinuo sekarang begitu panas dan penuh perasaan.
“Aku sudah melepaskan, kamu kembali lagi! Kamu akan membuatku tidak rela! Tidak rela!” Diam-diam, air mata mengalir dari matanya yang terpejam, Mu Xue tersenyum dingin dan menyedihkan.
“Tapi, Qin Yinuo!” Ucapannya terhenti, Mu Xue menarik nafas dalam, menenangkan hati yang sakit seperti disayat pisau itu, “Kamu masih memiliki Mo Yilan! Bagaimana? Beritahu padaku harus bagaimana?”
Tidak akan menderita begini kalau dia tahu harus bagaimana!
“Maka aku hanya bisa……” Mata Qin Yinuo menyipit, tiba-tiba dia menarik Mu Xue kedalam pelukannya dengan kuat, memiringkan pinggang dan menciumnya. Bibir itu tiba-tiba ditutupi oleh bibir Qin Yinuo yang lembut, menahan kata pergi yang akan diucapkannya itu.
Mu Xue berontak dan mndorongnya, tapi dia malah menahannya dengan kuat. “Tidak boleh pergi dariku, tidak boleh, tidak boleh……”
Suara khas pria yang rendah itu terngiang di telinga Mu Xue, bau rokok yang familiar di badannya mengelilinginya, kata tidak boleh yang berulang kali diucapkan, menghancurkan hati yang keras itu.
Sesaat, Mu Xue merasa hatinya tiba-tiba bergejolak.
Jari Qin Yinuo menahan dagunya dan mengangkatnya agar dia berhadapan dengannya.
Wajah tampan Qin Yinuo memenuhi pandangannya, mata hitamnya itu memikat sekali, cukup untuk membius orang, dia berkata pelan, “Aku selalu punya solusinya, tidak boleh pergi dariku!”
Ada kebingungan dalam mata Mu Xue yang jernih itu. Apa solusinya?
Pikiran Mu Xue menjadi kosong, selalu punya solusi? Selalu? Apa dia harus percaya padanya?
“Xiao Xue!” Qin Yinuo memanggil dengan begitu lembut, sampai membuat hati hancur.
Matanya panas dan dipenuhi air mata yang mengalir.
Rasa benci, sedih, marah, putus asa dan perasaan lain dalam hatinya bergabung menjadi sakit hati yang dalam sekali karena panggilan ini.
__ADS_1
“Tidurlah!” Mu Xue berkata.
Mu Xue melihat, badannya akan sakit kalau tidak tidur.
Qin Yinuo memeluknya, melalui pandangan yang dipenuhi air mata itu, wajahnya seperti berada dalam kolam air musim gugur, kabur dan jauh. “Baiklah! Tidurlah, kamu juga sudah lelah!”
Dia bisa melihat mata Mu Xue yang memerah, dia syok melihat air matanya dan langsung sedih sekali.
Dia kembali hancur saat melihat air matanya!
Dinding pertahanan dari besi itu langsung hancur oleh dua tetes air mata itu.
Dia menggenggam tangan Mu Xue, tangan itu lembut dan lemas dalam genggamannya, wanita ini seperti berontak sebentar, tapi kembali menyerah.
Pasrah digenggam dan dipandanginya, dia berbaring disana dan melihat Qin Yinuo dengan tenang, sedih dan lemah lembut. “Xiao Xue,” Qin Yinuo berkata: “Maaf!”
Dia mendesah dan mengucapkan maaf berkali-kali, akhirnya suaranya semakin pelan, tidak lama dia berbaring di pundak Mu Xue dan tertidur!
Dia menarik nafas dan melihat pria ini.
Dia melihatnya dengan fokus, air matanya sudah kering.
Pria ini kurus dan kesepian.
Lingkar hitam di matanya parah sekali, bulu mata yang lentik menyelimuti kelopak matanya, jenggot di dagunya sudah berhari-hari tidak dicukur, seperti rumput liar yang tumbuh liar setelah hujan.
Dia lelah begini karena dua wanita! Karena dirinya dan Mo Yilan! Mu Xue berpikir, dulu dia ini idola banyak wanita, kalau orang-orang itu tahu dia begitu bertanggung jawab, mungkin akan banyak wanita yang mengantri untuk menikah dengannya.
Qin Yinuo datang mencarinya dan berkata kalau dia melewati hari dengan buruk tanpa dirinya, dirinya yang membuatnya lelah, bukan Mo Yilan, tapi dirinya juga lelah!
Keduanya saling mencintai, tapi Mu Xue tidak berdaya melanjutkannya lagi.
Kalau bisa mulai kembali, Mu Xue lebih bersedia tidak pernah bertemu dengannya, agar dia bahagia, meneruskan hidup di dunianya itu, dan juga tidak pernah bertemu dengan Tian Yu, seperti sekarang, dia tahu anak itu hidup dengan baik di keluarga Qin, tapi, perlu penantian yang panjang baru bisa menemukan anak itu, Tian Yu ini keluarga Qin, dan juga anak Mu Xue, tapi kakek Qin juga kasihan sekali!
Dia harus bagaimana?
Tidak mungkin bersikeras menginginkannya!
Juga tidak bisa untuk tidak menginginkan!
Tarik menarik seperti ini membuatnya lelah secara fisik dan mental, air matanya kembali mengalir, tapi Qin Yinuo sudah tertidur, dia tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya sekarang!
Kalau bisa, dia sungguh ingin pergi, ingin menghindar! Walaupun orang lain akan berkata dia ini burung kalkun yang hanya bisa bersembunyi saat menemui masalah——
Keluarga Qin.
Cheng Cheng duduk bersama kakek Qin di sofa, dia sudah melihat kakek Qin dengan lama, matanya tidak berkedip dan saling bertatapan, matanya sedikit pedih! Akhirnya dia berkata: “Kakek tua, apa kamu sudah merubah pemikiranmu?”
“Anak kecil, kamu kalah dariku!” Mata Qin Maoxiang masih tidak berkedip.
“Kakek tua, kamu ini tidak ada kerjaan sekali. Apa tidak kekanak-kanakan sekali dengan memintaku bermain adu mata denganmu?” Cheng Cheng berkata dengan terus terang dan tidak mengaku kalah.
“Aku tidak ada kerjaan?” Qin Maoxiang terpaku, “Kamu orang pertama yang berani berkata begini padaku!”
“Paman Qin sangat kasihan! Tian Yu kasihan sekali!” Cheng Cheng berkata sambil mendesah.
__ADS_1