
Hello! Im an artic!
Suaranya nyaring dan dalam, dia terbelenggu oleh keinginan untuk melarikan diri, dia dipermalukan, dia takut ketegangan dan ketakutannya didengar oleh Rong Hanchi dan itu membuat Feng Baiyi tiba-tiba marah, memegangi wajahnya dan mencium wajahnya.
“Mmm…” erangannya tenggelam di dalam bibir dan lidah Feng Baiyi, ciuman tanpa otak itu merebut nafasnya.
Hello! Im an artic!
Tidak bisa melawan, tidak bisa terkendali, jiwanya selalu tidak bebas karena Feng Baiyi. Di kuasai oleh Feng Baiyi, Su Yan pun tidak tahan untuk menjepit pinggang Feng Baiyi, dia tahu bahwa perasaan inilah yang disukai Feng Baiyi, sepertinya semua pria menyukai hal ini, suka dijepit, suka ditarik, suka tersentak-sentak, sedangkan dia sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya…
Feng Baiyi sepertinya ingin melepaskan semua yang dia tahan selama ini, menjarahnya dengan sepenuh hati akhir-akhir ini. Keliaran saat ini adalah sesuatu yang belum pernah Su Yan lihat sebelumnya, begitu membuatnya tidak bisa bernapas dan tidak bisa melawan.
Tangan kecil Su Yan pelan-pelan mulai jatuh ke sprei, kukunya mencengkeram sprei dengan erat, mencoba menggunakan kekuatan dari luar untuk menahan teriakannya, tetapi itu tidak berhasil, dia tidak bisa menahan diri dan berteriak: “Ah…”
Dia berusaha menahan teriakan itu dengan sekuat tenaga, ini adalah rumah keluarga Feng, bagaimana Feng Baiyi bisa begitu berani, sama sekali tidak seperti gaya Feng Baiyi yang dingin, tetapi semua ini sudah terlanjur terjadi dan dia tidak dapat menghentikan apa pun.
Hello! Im an artic!
Tiba-tiba, terdengar suara barang jatuh lagi, membuat mereka berdua terkejut.
Su Yan terkejut, dia menepuk Feng Baiyi yang sedang berjuang keras, mengecilkan suaranya dan berkata, “Ada orang, ada orang, bagaimana ini? Feng Baiyi, aku tidak ingin didengar oleh orang lain, aku mohon padamu…”
Feng Baiyi benar-benar mengabaikannya, terus melanjutkan gerakan di bagian bawah, dengan cepat keluar masuk tubuhnya, saraf Su Yan pun tegang. Kecepatan Feng Baiyi semakin kencang, benar-benar menyiksanya.
Mata Su Yan langsung melotot, warnanya pucat, dia sudah mulai menangis, “Feng Baiyi, aku mohon padamu…”
Feng Baiyi mengerutkan kening, tapi ada senyuman di bibirnya, “Sayang, kamu tidak boleh menolakku…”
Bagian bawah Feng Baiyi masih ada di dalam tubuh Su Yan dan dia berdiri lagi, “Jangan tolak aku!”
“Aku tidak menolak, aku mohon, pelan-pelan sedikit!” Dia tidak ingin didengar oleh orang lain.
Feng Baiyi tersenyum, puas melihat Su Yan yang memelas.
Dia memandang wajah tampan Feng Baiyi yang sedang tersenyum jahat dan saat ini pikirannya pun benar-benar kosong. Hanya tersisa sebuah wajah tampan, lalu dia bergumam: “Feng Baiyi…”
“Panggil aku suamimu!” Katanya.
Dia tidak berbicara, juga tidak bereaksi, Feng Baiyi pun menyerangnya, membuat dia berseru. Feng Baiyi tiba-tiba mengerang dan menjadi galak, “Panggil atau tidak?”
“Suamiku…” Dia hanya bisa meminta belas kasihan.
Ketika dia meneriakkan kata ini, dia panik dan bingung, sedangkan mata Feng Baiyi semakin berbahaya, suaranya sangat serak dan sedikit genit, “Sayang, aku menginginkanmu…”
“Aku… aku tidak mau…” Su Yan tersipu malu dan berteriak cemas.
Tapi Feng Baiyi sudah seperti kuda liar yang lepas kendali, dia sudah tidak terkendali lagi, begitu mendesak, begitu gila…
Kamar sebelah.
Di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Darah mengalir di kepalan tangan Rong Hanchi saat ini, ternyata suara seperti benda jatuh barusan adalah suara tangannya yang meninju tembok, sendi-sendi dan jarinya di penuhi darah, mengalir setetes demi setetes.
Sedangkan pinggangnya hanya dilingkari dengan sebuah handuk mandi, dia baru saja mandi air dingin, otot-ototnya tubuhnya merontah-rontah dan wajahnya yang tampan dipenuhi kesedihan.
“Chi…”
“Keluar!” Rong Hanchi mengerang.
Feng Ling’er menatapnya dengan tatapan kosong, “Chi… tanganmu berdarah!”
“Keluar!” Terdengar suara mengerang lagi.
“Tidak mau!” Feng Ling’er memandang sosok tinggi yang kesepian yang sedang berdiri di kamar mandi, dia menggertakkan gigi dan berlari ke arahnya dan memeluk pinggangnya, “Chi, aku mencintaimu! Biarkan aku membantumu, oke?”
Wajahnya menempel di punggung Rong Hanchi yang sedang telanjang. Setelah terkena air dingin, hawa nafsu itu akhirnya berhasil ditekan oleh Rong Hanchi, tapi tiba-tiba muncul lagi karena Feng Ling’er yang mendekatinya.
Dengan napas terengah-engah, Rong Hanchi melepaskan tangan Feng Ling’er, memegang dagunya dengan keras. “Wanita menyedihkan, apakah menurutmu aku bisa menyentuhmu dengan cara ini?”
Feng Ling’er tertegun, mengetahui bahwa Rong Hanchi telah salah paham, air mata mengalir di matanya, “Chi, bukan aku, ini ulah kakek, aku tidak mengetahuinya!”
“Kamu tidak tahu? Mungkinkah kamu tidak tahu?” Mata Rong Hanchi dipenuhi dengan garis-garis merah, matanya terbuka lebar ketika dia menatap Feng Ling’er. “Feng Ling’er, kamu sedang membohongi siapa? Keluar! Bahkan jika aku harus mati sekalipun, aku tidak akan menyentuh wanita licik sepertimu!”
Dengan sekuat tenaga, tiba-tiba Feng Ling’er di dorong ke luar pintu oleh Rong Hanchi. “Pergi!”
“Chi! Benar-benar bukan aku, bukan!” Mata Feng Ling’er memerah karena terkejut, air mata menumpuk di matanya, dia berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir.
Rong Hanchi mendengus dingin, tanpa Su Yan, tanpa Yanyan-nya, apa gunanya? Dia tidak tertarik pada tubuh wanita lain.
Menatap kosong pada dirinya sendiri yang ada di cermin, samar-samar teringat ketika dia pertama kali bertemu Su Yan, waktu itu Su Yan masih seorang anak kecil yang nakal dengan senyum mempesona di wajahnya yang lembut. Anak yang masih berusia tujuh tahun itu dirawat olehnya. Sejak saat itu, mereka seperti keluarga, mendapatkan kekuatan dan kehangatan.
Selama 28 tahun, dia tidak memiliki wanita lain, hanya karena dia bersikeras menunggu Su Yan tumbuh dewasa, hanya Su Yan yang bisa menjadi wanitanya, tetapi dia tidak pernah menyangka akhirnya akan jadi seperti ini…
“Chi! Su Yan sudah menikah dengan kakak, jadi untuk apa kamu masih memikirkannya? Karena kamu telah memilih untuk bersamaku, maka lupakanlah dia!”
“Pergi!”
Lagi-lagi suara itu terdengar, tinju Rong Hanchi kembali membentur dinding. Darah berceceran, tangannya sudah terluka parah, bisa dilihat betapa sakitnya hatinya.
Siksaan obat perangsang bercampur dengan siksaan di hatinya, membuat wajah tampannya sangat kacau, menahan diri, mengendalikan diri, tapi setetes air mata masih terjatuh di pipinya, terdengar suara muncrat, terasa ada bau amis darah yang mengalir di tenggorokannya dan banyak darah yang menyembur dari mulutnya ke atas ubin yang putih itu.
“Chi, jangan menyiksa dirimu sendiri!” Feng Ling’er bergegas menghampirinya lagi, tapi lagi-lagi dia di dorong ke lantai oleh Rong Hanchi. Lantai yang basah pun membuat pakaiannya menjadi basah dalam sekejap, tapi hal itu tetap tidak membuat Rong Hanchi melihatnya.
“Feng Ling’er, aku akan memberitahumu hari ini, cerai, kita bercerai!” Tangan Rong Hanchi dikepalkan dengan kuat, seolah-olah dia tidak merasakan rasa sakit sama sekali. “Aku, Rong Hanchi ingin bercerai denganmu!”
“Tidak! Sampai mati pun aku tidak akan bercerai denganmu, sampai mati sekalipun tidak akan bercerai!” Bagaimana dia yang begitu sombong, bisa bercerai dalam waktu yang sesingkat ini?
Rong Hanchi mengangkat tangannya untuk menyeka darah di sudut mulutnya, api kemarahan membara di tubuhnya, dia memukul kaca dengan tinjunya lagi, kaca itu pun pecah berkeping-keping.
Rong Hanchi, yang menggenggam pecahan kaca di tangannya, mengayunkan tangannya dan begitulah cara sebuah pecahan kaca masuk ke perutnya.
Terdengar suara “poof”, darah terciprat ke mana-mana.
__ADS_1
“Ah…tidak…” Feng Ling’er putus asa. “Chi…jangan lakukan ini, jangan!”
Rasa sakit memperlambat efek obatnya. Rong Hanchi membuang pecahan kaca itu, handuk mandi yang putih bersih itu dipenuhi dengan darah. Benar-benar mengejutkan, “Aku sudah pernah bilang, aku tidak akan menyentuhmu bahkan sampai mati sekalipun. Sejak awal aku sudah mengatakannya, aku akan menepati janjiku dan jika kamu tidak menepatinya, maka bercerai saja! Hari ini aku bersumpah dengan menggunakan darah, aku tidak akan menyentuhmu, tidak akan menyentuh wanita mana pun, aku akan menepati apa yang aku katakan! ”
“Chi…” Feng Ling’er menggigit bibirnya, matanya dipenuhi ketakutan. Darah segar itu membuatnya ketakutan dan lemas. Dia bingung dan dia hanya bisa menangis dan berteriak pelan: “Aku akan menepatinya, aku akan menepatinya, ayo pergi ke rumah sakit, pergi ke rumah sakit!”
“Tidak usah!” Nadanya begitu dingin dan tenang, seolah-olah orang yang terluka itu bukanlah dia. Dia berjalan keluar dari kamar mandi, memunggungi Feng Ling’er, memakai pakaiannya, tanpa memperdulikan rasa sakitnya, membuka pintu dan berjalan keluar.
Feng Ling’er tercengang melihat jalan yang Rong Hanchi lewati, darah berceceran di lantai. Dia termenung, merasa seperti tercekik, hampir sesak napas!
Rong Hanchi berjalan keluar kamar, tanpa sadar tatapannya melihat ke arah kamar sebelah, samar-samar terdengar suara rintihan Su Yan. Dia pun tersenyum pahit, mengepalkan tinjunya di sisi tubuhnya dan darah di tangannya menetes lagi.
Yanyan, jika tidak bisa bersama di kehidupan ini, maka kita akan bersama di kehidupan selanjutnya! Kak Chi sangat mencintaimu! Sangat sangat mencintaimu!
Di koridor yang sangat sunyi itu, seolah bisa terdengar suara tetesan darahnya, ada rasa sakit yang tidak bisa tertahankan di dalam hati. Membenci takdir yang mempermainkan orang-orang, membenci segalanya, mengapa semuanya bisa terjadi secara kebetulan seperti itu?
Dia menuruni tangga, setiap langkah yang di ambilnya, ada darah yang menetes di ubin putih itu, benar-benar membuat orang terkejut.
“Hanchi?” Feng Dongnian melihat Rong Hanchi keluar, wajahnya pucat, dia sama sekali tidak terlihat seperti baru selesai dimanjakan. Feng Dongnian tertegun sejenak, lalu melihat darah merah yang ada di ujung kakinya. “Kenapa kamu berdarah!”
“Tuan Feng, aku, Rong Hanchi sangat menghormati Anda sebagai generasi pahlawan. Selama berkecimpung dalam dunia bisnis, Anda telah menciptakan legenda yang tak terhitung jumlahnya. Tetapi aku tidak menyangka Anda akan menggunakan cara licik seperti hari ini! Jika Anda berpikir bahwa Anda dapat memaksaku untuk menyerah, maka Anda salah! Aku, Rong Hanchi, tidak pernah bisa diancam!” Setelah berkata-kata, Rong Hanchi berjalan berjalan keluar dengan perlahan.
Ke mana pun dia berjalan, tetesan darah terus menetes di lantai.
Di malam hari yang gelap, sosok ramping itu menyuramkan wajahnya, Rong Hanchi berjalan keluar dengan tenang dan saat dia membuka pintu mobil, pandangannya tanpa di sadari tertuju ke jendela lantai dua, Yanyan! Yanyan-nya…
Selama begitu banyak malam, dia telah membayangkan tentang dia dan Su Yan yang hidup bersama, membayangkan Su Yan yang melahirkan anak untuknya, membawa Su Yan keliling dunia, menyayanginya sepanjang hidupnya, selama ada dirinya, Su Yan pasti akan mendapatkan kehidupan yang terbaik.
Tapi…
Tapi sekarang, tangan yang memegang pintu mobil tiba-tiba menegang, tatapan mata Rong Hanchi dipenuhi rasa sakit dan kesedihan, dia ingin mati, dia benar-benar ingin mati saat ini!
Tapi bagaimana seorang pria dewasa sepertinya bisa mengakhiri hidupnya dengan cara yang begitu ekstrim?
Memejamkan matanya dengan tenang, di bawah kegelapan, dia sekali lagi mengingat wajah kecil Su Yan yang cantik, memanggilnya Kak Chi dengan penuh kasih sayang, menggandeng lengannya dengan genit, seolah-olah dengan adanya dirinya, hanya akan ada kebahagiaan di dunia Su Yan.
Duduk di dalam mobil, menyalakan mobil.
Lantai dua.
Feng Ling’er akhirnya tersadar, darah yang memenuhi ruangan itu membuat matanya dipenuhi kesedihan, dia pun berteriak tajam: “Chi…Kakek… Selamatkanlah Chi…”
Dia terhuyung-huyung menuruni tangga.
Mungkin karena teriakannya terlalu keras, jadi Su Yan terbangun. “Feng Baiyi, apa yang terjadi?”
Dia mendorong Feng Baiyi dengan keras, dia mendengar teriakan Feng Ling’er, suara yang begitu menyedihkan dan dipenuhi keputusasaan, “Cepat pergi dan lihat!”
Feng Baiyi juga menyadari sesuatu, dia bangkit, mengambil pakaian di lantai dan melemparkannya pada Su Yan, keduanya berpakaian dengan cepat.
Kebetulan pelayan juga berlari ke atas untuk membukakan pintu, begitu pintu terbuka, dia melihat darah berceceran di lantai dan melihat Feng Ling’er menangis tersedu-sedu sambil memeluk kakeknya, dia pun panik.
__ADS_1
“Kakek, selamatkanlah Chi…”
“Ada apa dengan Kak Chi? Ada apa?” Su Yan dengan cepat menuruni tangga, wajah kecilnya langsung pucat.