
Hello! Im an artic!
Tiba-tiba ia merasakan sebuah rasa kasihan dalam hatinya. Air mata Qin Yinuo jatuh ke dalam hatinya. Mu Xue menahan nafas, takut tidak mampu menahan diri dan menangis.
Kemudian ia merasakan tangan besar Qin Yinuo yang mengelus wajahnya, mengelus alisnya dengan pelan, mengelus lukanya.
Hello! Im an artic!
Luka Mu Xue, Qin Yinuo bisa merasakannya.
Karena mereka berdua sama-sama adalah orang yang paling seharusnya bersedih!
Itu adalah anak mereka!
Ia baru tahu akan keberadaan bayi itu dan langsung kehilangannya. Hati Qin Yinuo sakitnya bagai disilet pisau. Ia lebih memilih untuk menusuk hatinya dengan pisau dibanding menahan rasa sakit ini.
Hello! Im an artic!
“Maaf Xiao Xue!” Qin Yinuo berkata pelan, takut membangunkannya.
“Harap kau keluar!” Tiba-tiba ia membuka matanya, menarik nafas dalam-dalam. Ia hanya menatapi langit-langit, ia bahkan tidak meliriknya sedikitpun.
Qin Yinuo langsung menengadah, “Xiao Xue, kau sudah bangun?”
“Harap kau keluar!” Mu Xue mengulang kalimatnya, “Aku tak ingin melihatmu!”
Tatapan Qin Yinuo yang dalam dan penuh kasih sayang menatapi wajah Mu Xue yang tenang, berkata lembut, “Xiao Xue, berikan aku satu lagi kesempatan, oke?”
“Maaf,” Ia menghela nafas panjang, Mu Xue menggeleng, “Aku yang bersalah padamu. Aku tak punya kata-kata untuk dikatakan, aku sudah membuat anak itu hilang.”
Mu Xue tak ingin melihatnya lagi, juga tidak tahu bagaimana bersamanya lagi. Meski saat ini ia ingin sekali masuk ke dalam pelukannya dan menangis, tapi…
“Xiao Xue, tak peduli apa katamu, kali ini aku takkan keluar. Biarkan aku menjagamu disini, biarkan aku merawatmu!”
“Tak butuh!” Ia berkata dengan dingin, tidak ingin memberinya kesempatan apapun. Ia tidak butuh lagi.
Saat ini, Mu Xue amat berharap bisa masuk ke dalam pelukannya, dada yang hangat dan menenangkan itu pernah jadi tempat yang paling disukainya. Tapi sekarang, seiring dengan anaknya yang hilang, hatinya tidak sama lagi! Meski ia tahu kalau menyalahkan Qin Yinuo juga tidak benar.
Melihat Mu Xue yang seperti ini, Qin Yinuo ingin sekali memeluknya, menciumnya, memeluknya dengan sebaik mungkin, lalu mengatakan maaf.
Ia ingin berbuat seperti ini, tapi tidak melakukannya.
Ia mengeratkan kedua tangannya di samping tubuh, tidak berani bertindak. Karena ia merasa terlalu bersalah membuat wanita ini merasakan banyak sekali penderitaan.
“Kau keluar!” Mu Xue agak emosi, sementara Qin Yinuo takut kalau ia akan emosi, maka ia segera berkata, “Baik, kau tak membiarkanku disini, maka aku keluar, segera keluar. Kau jangan emosi, dengan kondisi tubuhmu sekarang kau tak boleh emosi! Aku akan ada di koridor, kalau butuh kau bisa panggil aku, aku rela jadi kuda atau sapi untuk melayanimu, tapi harap kau jangan mengusirku!”
Nada suaranya yang begitu merendahkan dirinya membuat hati Mu Xue semakin sakit.
Qin Yinuo tak berdaya. Takut Mu Xue akan marah, ia hanya bisa keluar ke koridor.
Melihat Qin Yinuo keluar, Han Lie mengerutkan alisnya, “Dia sudah bangun?”
Qin Yinuo malah mengerutkan wajahnya, ia tidak suka Han Lie yang terlalu menaruh perhatian pada Mu Xue, “Kau siapa?”
Han Lie tertegun, mengeratkan bibirnya, “Kau tak perlu tahu!”
“Atas tujuan apa kau mendekati Mu Xue?” Qin Yinuo langsung menanyakan tujuannya.
“Memisahkan kalian!” Han Lie berkata dengan tenang.
Otak Qin Yinuo langsung seolah hampir meledak. Pria in benar-benar memiliki tujuan tersendiri, dan lagi tujuannya seburuk ini. Ia sejujur ini pula. Maka ia berkata dengan dingin, “Jangan harap!”
__ADS_1
Han Lie menaikkan bahunya, menantang, “Setidaknya sekarang ia bersedia berbicara denganku, dan ia tidak bersedia berbicara denganmu.”
Qin Yinuo terseok selangkah ke belakang. Ya, ia memang sudah kalah padanya di bagian tertentu. Tapi ia tidak akan mengalah, “Yang dicintai Xiao Xue adalah aku!”
“Tapi sepertinya kau mencintai Mo Yilan! Di hatimu, Mo Yilan selalu jadi yang pertama, kapan kau pernah meletakkan Mu Xue di tempat pertama?” Kata-kata Han Lie bagai petir di hari yang cerah, langsung membuat seluruh hati Qin Yinuo bergetar.
Benar!
Ia tidak! Ia selalu membiarkan Xiao Xue terluka!
Qin Yinuo memejamkan matanya dengan sengsara, menggelengkan kepalanya. Akhirnya ia duduk di atas kursi panjang dan menunduk.Wajahnya dibenamkan ke dalam sepasang tangannya, ia tak bisa menahan kesedihannya.
“Mo Yilan pantas kau perlakukan seperti ini kah?” Han Lie berkata sepatah kata lagi dan masuk ke dalam ruang pasien.
Apa maksudnya?
Kata-kata itu terus terulang dalam dada Qin Yinuo. Ia tahu Yilan sudah menjadi masa lalunya. Yang dicintainya dalam hati adalah Xiao Xue, tapi hal-hal yang dilakukannya selalu…
“Han Lie, kau pulang lah!” Begitu Mu Xue melihat Han Lie masuk, ia berkata dengan lembut, “Tunggu aku sembuh, aku harap bisa mendengar ceritamu sepenuhnya!”
“Tak takut kalau aku ini penyiksa sadisme?” Ia bertanya.
“Kau bukan!” Ia bersikeras.
“Baik! Kalau begitu cepatlah sembuh, sekarang sudah terlalu larut, aku takkan pergi, tunggu sampai hari terang saja! Sekarang kau tidurlah!” Han Lie menyelimutinya.
Subuh jam lima pagi di ruang tamu keluarga Qin.
Terdengar suara teriakan Tuan Besar Qin, “Apa kau bilang? Mu Xue hamil akan cucuku?Sekarang bayi itu sudah tak ada lagi? Sialan, kenapa bisa?”
Qin Yinuo menunduk, sulit untuk menutupi kesedihannya.
Nada suara Qin Maoxiang langsung sedingin es, “Kau ini apa gunanya? Cucu keduaku hilang begitu saja! Siapa yang mengizinkanmu pulang? Kenapa tidak menjaganya di rumah sakit?”
“Ya! Ayo pergi!” Tuan besar Qin mulai mengambil bajunya, masih juga tidak bisa menahan diri untuk mengomel, “Lihat seberapa tak bergunanya dirimu!”
“Ayah!” Qin Yinuo tertegun melihatnya, “Kau ini?”
“Ke rumah sakit, sergera bangunkan Tianyu!” Qin Maoxiang melirik sekilas pada jam. Hari sudah hampir terang, tidak apa kalau ia dibangunkan lebih awal, “Sebenarnya kau ini pria keluarga Qin atau bukan, tak berguna sama sekali. Masih butuh ayah untuk membantumu pula, masa seorang wanita pun tak bisa kau bereskan. Dimana bibi Zhang, Bibi Zhang, cepat masak sup ayam dan sarang burung. Suruh orang antarkan ke rumah sakit untuk nyonya muda!”
Qin Yinuo langsung tak bisa berpikir lebih banyak, mendengar kata-kata ayahnya.
Sementara Bibi Zhang segera memasak sup sesuai perintah.
“Pa, pelan sedikit!” Qin Yinuo tak pernah melihat ayahnya segugup ini.
“Kau pergi dulu ke rumah sakit, aku akan tiba membawa Tianyu. Wanita di keadaan seperti ini mana bisa ditinggal. Pasti sedih sekali, memang kalau kau dimarahinya bisa mati? Dan lagi, kau cuma perlu telepon ke rumah. Untuk apa kembali kesini, siapa yang menjaganya di rumah sakit?”
“Orang lain!” Qin Yinuo menunduk. Dan lagi pria yang ganteng sekali. Xiao Xue lebih memilih untuk menangis dalam pelukan pria lain dan tidak ingin bertemu dengan dirinya. Jelas sekali seberapa kecewa ia pada dirinya.
Ia juga tak berdaya, ia sudah berpikir panjang di rumah sakit, baru terpikir untuk membawa Tianyu datang. Kalau tidak ia khawatir Xiao Xue akan tergoda oleh pria itu, “Ayah, masih perlu jemput Cheng Cheng. Kalau ada Cheng Cheng mungkin ia akan lupa akan rasa sakit setelah kehilangan anak!”
“Kusuruh sopir pergi menjemputnya, kau cepat kembali ke rumah sakit. Menantuku mana boleh dirawat orang lain!” Qin Maoxiang semakin tidak puas pada anaknya.
Maka Qin Yinuo segera kembali ke rumah sakit.
Begitu Han Lie melihat Qin Yinuo kembali, ia agak kaget.
“Bagaimana keadaan Xiao Xue?” Qin Yinuo bertanya dengan tergesa-gesa.
“Sudah ketiduran!” Han Lie berkata dengan murung, “Karena kau juga sudah datang, aku juga sudah harus pergi. Hari sudah terang!”
__ADS_1
“Kau mau pergi?” Qin Yinuo hampir tak memercayainya.
“Kalau kau tak ingin aku pergi boleh juga, kau yakin?” Han Lie mengernyitkan alisnya, bertanya dengan licik.
“Cepat pergi!” Qin Yinuo sama sekali tidak menyangka akan hal ini. Bukannya pria ini punya maksud tertentu pada Mu Xue? Kenapa bisa pergi?
Ketika Qin Maoxiang tiba dengan membawa cucunya Tianyu di depan pintu, ia melihat Qin Yinuo duduk di atas kursi panjang. Maka ia langsung marah, “Memangnya kau tak bisa masuk?”
“Daddy!” Tianyu sudah lama sekali tak bertemu dengan Qin Yinuo, maka begitu melihatnya ia langsung pergi ke arahnya, menarik tangan Qin Yinuo, “Dimana mami? Mami di dalam ruangan kah?”
“Nak!” Qin Yinuo menggendongnya, seolah tengah menghirup tenaga dari anaknya, “Mami di dalam ruangan!”
Di waktu yang bersamaan, sopir juga membawa Cheng Cheng yang berlari mendekat di koridor.
“Ada apa dengan mamiku?” Begitu Cheng Cheng melihat Qin Maoxiang, Qin Yinuo dan Tianyu yang berdiri di depan pintu, ia jadi khawatir. Wajah kecilnya penuh dengan kekhawatiran, ia langsung mendorong pintu ruang pasien dengan terburu-buru. Begitu melihat Mu Xue yang tertidur pulas di atas ranjang, mata Cheng Cheng memerah.
“Mami!”
“Mami!”
Mata kedua anak itu memerah.
Mu Xue terbangun, begitu membuka matanya langsung melihat mereka, “Cheng Cheng, Tianyu, kenapa kalian datang?”
“Mami, kenapa mami bisa ada di rumah sakit?” Cheng Cheng menarik tangan Mu Xue, “Kenapa? Sebenarnya mami kenapa?”
“Mami punya adik lagi, tapi sekarang sudah tidak ada lagi!” Tian Yu berkata. Ketika datang kakek yang bilang seperti ini padanya, menyuruhnya untuk menghibur mami.
“Ada adik kecil?” Cheng Cheng mengerutkan alisnya, menatap Mu Xue, “Mami punya adik kecil, lalu tidak ada lagi?”
Mu Xue baru hendak menjawab, tapi begitu menengadah ia melihat Qin Maoxiang memasuki ruang pasien, maka ia jadi tertegun, “Paman, kenapa bisa kemari?”
“Mami, kakek khawatir dengan mami. Kakek sudah menyuruh nenek Zhang untuk membuatkan sup ayam dan sarang burung, nanti akan diantar kemari oleh sopir. Mami, kapan aku dan kakak Cheng Cheng bisa punya adik laki-laki dan perempuan?” Tian Yu berkata panjang. Ia membuat Mu Xue jadi makin khawatir, kapan? Tidak lagi, tidak akan ada lagi!
“Tian Yu, tak lama lagi pasti akan ada lagi!” Qin Maoxiang berkata dengan pasti, “Tunggu mamimu sembuh, pasti akan ada lagi!”
Hati Mu Xue bergetar, tak berkata apa-apa.
Ia tak menyangka Qin Maoxiang juga akan datang.
“Kenapa bisa begini!” Qin Maoxiang menyalahkan, menghela nafas panjang, “Rawat tubuhmu baik-baik, tunggu sembuh, bisa akan ada anak lagi!”
“Paman?!” Mu Xue kaget.
Saat ini Qin Yinuo juga berjalan masuk. Setelah semalaman, kumisnya sudah mulai tumbuh, ia juga kelihatan semakin lemah. Begitu melihat Mu Xue, hatinya penuh dengan rasa bersalah.
Cheng Cheng malah diam sekali. Ia menoleh menatap Qin Yinuo. Melihat ekspresinya, wajah Cheng Cheng semakin keras, ia bertanya pada Qin Yinuo dengan galak, “Paman, adik itu anak milik paman kah?”
Begitu Qin Maoxiang mendengarnya langsung marah, “Nak, kalau bukan milik keluarga Qin milik siapa lagi? Tentu milik Paman Qin!”
Tapi Cheng Cheng masih menunggu jawaban Qin Yinuo. Ekspresinya penuh dengan penilaian. “Benar kah, paman?”
Qin Yinuo mengangguk.
Mu Xue malah tertegun, “Cheng Cheng, jangan ngomong lagi!”
“Mami jangan khawatir!” Cheng Cheng menoleh untuk menenangkan maminya, lalu berkata pada Qin Yinuo, “Paman tidak melindungi mami dengan baik, sehingga kedepannya paman jangan datang menemui mami lagi! Mamiku tidak ingin bertemu denganmu, aku juga tidak mau!”
“Apa?” Qin Maoxiang dan Qin Yinuo langsung tertegun.
Mu Xue membelalakkan matanya, kenapa Cheng Cheng bisa berkata seperti ini? Dan lagi anak ini benar-benar melindunginya. Sementara dirinya sebagai mami jadi pihak yang dilindunginya. Hatinya langsung terasa hangat dan sekaligus sakit. Ia tak ingin bertemu dengan Qin Yinuo karena kesedihannya, tapi begitu anaknya berkata demikian, lagi-lagi hatinya sakit.
__ADS_1
“Nak, kau ini sedang memisahkan pasangan!” Qin Maoxiang membungkuk, menyetarakan tatapannya dengan Cheng Cheng.