
Hello! Im an artic!
Ia mengangguk tanpa suara. Lalu tangan Qin Yinuo melonggar perlahan, ia menengadahkan wajahnya yang penuh dengan air mata, merasakan kekosongan dan kesakitan dalam pelukannya, “Tak peduli bagaimanapun, posisi Nyonya Qin tetap kusisakan untukmu!”
Kaki Mu Xue yang berjalan pergi terhenti sesaat, tapi ia masih tetap pergi.
Hello! Im an artic!
Kali ini, ia jadi yang melarikan diri dari perkumpulan. Hanya saja kali ini dirinya sendiri, sebelumnya ia bersama Qin Yinuo.
Qin Yinuo membuka matanya dengan pelan, menatapi sosok yang menjauh pergi, lalu tersenyum tanpa suara. Wajahnya yang ganteng menampakkan rasa sakit, kenapa dirinya terus melukai Mu Xue? Atau mungkin melepaskannya adalah pilihan yang paling tepat dan paling tak berdaya.
“Nuo! Kenapa kau biarkan Xiao Xue pergi?” Melihat Mu Xue pergi, Zeng Li maju sambil tertegun. Kemudian ia baru sadar kalau Qin Yinuo tengah meneteskan air mata.
“Hubungan kami sudah berakhir!” Qin Yinuo membalikkan tubuhnya dengan penuh kesengsaraan, “Li, besok aku akan dinas ke New York!”
Hello! Im an artic!
“Kenapa?” Zeng Li bingung, pergi mengejarnya. “Kenapa bisa begitu?”
“Dia itu putrinya Mu Nanbei!” Qin Yinuo hanya berkata sepatah.
“Astaga!” Zeng Li melongo, “Tapi masalah itu kan juga tak bisa menyalahkanmu. Mu Nanbei yang mengendarai melawan arah, dia itu penanggung jawab utamanya!”
“Tapi akhirnya dia mati karenaku. Kalau aku tidak menentangnya, mungkin hari ini dia masih hidup!” Qin Yinuo menghela nafas.
“Kau mau pergi?”
“Tidak! Aku mau masuk untuk menyanyi!” Qin Yinuo mendorong pintu. Saat ini, Tianer dan Yangyang tengah menanyikan lagu sedih dengan penuh histeris.
Entah kenapa Yangyang bisa bernanyi sehisteris ini. Lalu Qin Yinuo menoleh sesaat pada Zeng Li, ia hanya mengangkat bahu, mendekati Qin Yinuo dan berkata, “Wanita memang begitu, perlu ditenangkan! Asal ditenangkan ya sudah!”
***
Akhirnya, Qin Yinuo menyanyi lagu pop sedih bersama Gong Tianer dan Zeng Yangyang.
“Dimana Xiao Xue?” Mi Lei dan Zeng Li bersulang lalu minum bir.
Zeng Li berkata, “Sudah pulang!”
Karena kepergian Mu Xue yang mendadak, maka semuanya tidak merasa seru.
Ketika pulang, ketiga pria itu tidak bisa mengemudi karena mabuk.
Zeng Yangyang melirik sekilas pada Mi Lei yang sudah mabuk setengah mati, berkata pada Tianer: “Kau antarlah Kakak Mi untuk pulang. Aku antar Kakak Qin dan kakak, bagaimana?”
“Biar aku antar kakak Qin saja, kau antar Mi Lei!” Tianer menolak.
“Kau benar-benar tak ingin berhubungan lagi dengannya?” Yangyang terdiam, tapi bertanya lagi, “Aku tak mau mengantar Kakak Mi Lei, dia itu tugasmu!”
Tapi ketiga pria itu sudah mabuk setengah mati, maka kedua wanita itu tak bisa menarik mereka keluar. Setelah berusaha sesaat, Tianer terengah-engah, rasa mual atas kehamilannya muncul lagi.
“Hmph–” Ia berlari untuk muntah di tong sampah, untung saja tidak ada yang keluar.
Yangyang melongo, tiba-tiba menyadari semua ini. “Kau hamil?”
Tianer langsung menoleh dan menutup mulut Yangynag, “Kecilkan suaramu!”
Untung saja mereka tidak mendengarnya.
“Benar-benar sudah hamil?” Yangyang bertanya.
__ADS_1
“Ya!” Tianer tidak menyembunyikannya.
Yangyang mengangguk, tatapannya agak aneh. Beberapa detik kemudian, ia berpesan, “Kau harus menjaga bayimu baik-baik. Kau harus melahirkannya, lalu membesarkannya di sisimu. Tunggu dia tumbuh besar dan melihatnya memanggilmu mami, perasaan itu pasti bagus sekali!”
“Yangyang?” Tianer bingung. Apa yang tengah dikatakan Yangyang? Kalau ia tidak merawat anaknya sampai besar memangnya mau bagaimana?
Yangyang tiba-tiba tersenyum, “Tunggu kau melahirkan bilang padaku. Aku akan pergi merawatmu dan anakmu!”
“Terima kasih!” Gong Tianer tersentuh sekali, tidak berkata apa-apa lagi. “Aku pasti akan memberitahumu dan kakak!”
Zeng Yangyang mengeluskan tangannya di perutnya, tiba-tiba berkata, “Aku juga ingin sekali punya anak! Ingin sekali!”
“Kalau begitu cepat cari pria dan menikahlah!” Tianer berkata.
“Tapi aku hanya cinta pada kakak!” Mengatakannya, Yangyang menoleh pada Zeng Li yang mabuk dan terbaring di sofa. Tatapannya penuh dengan kesakitan, “Tapi dia malah tidak menginginkanku!”
“Kenapa?”
“Mungkin karena dia tak bisa menerima kau tumbuh besar di sisinya! Katanya rasanya agak rumit. Meski kami ini bukan saudara kandung!” Yangyang membalas senyum cerah pada Tianer. “Sudahlah, kita tunggu disini sampai mereka sadar baru pergi. Yang penting kita juga tak bisa memindahkan satu pun. Kita ngobrol diluar!”
“Baik!”–
Mu Xue pulang sendirian ke rumah keluarga Pei. Cheng Cheng dan Tian Yu langsung berlari mendekat.
Mu Xue mengelus wajah kedua anak itu, lalu menampakkan senyum.
“Mami, dimana Paman Qin?” Cheng Cheng sensitif sekali. Sudah tiga hari ia tak bertemu dengan Qin Yinuo, maka ia punya firasat akan sesuatu.
“Dia…” Mu Xue menelan ludah sesaat, “Dia sibuk!”
“Kenapa paman tidak tinggal disini lagi?” Cheng Cheng bertanya lagi.
“Cheng Cheng, mami lelah, ingin istirahat. Kau bermain bersama Tian Yu, oke?” Ia benar-benar lelah, tubuh dan hatinya kelelahan.
“Tidak!” Mu Xue mengedutkan bibirnya, tapi tidak bisa mengeluarkan senyuman.
Pei Lingfeng berjalan kemari, berdiri di atas tangga. “Xiao Xue, kau kemari sebentar. Ada yang ingin kukatakan padamu!”
Mu Xue mengangguk pelan, ikut menaiki tangga.
Sampai di ruang membaca, Pei Lingfeng menyuruhnya duduk. Akhirnya Mu Xue tak bisa menahan kekacauan dalam hatinya.
“Xiao Xue, aku ingin menceritakan padamu hubunganku dengan Mei Xiyun!” Pei Lingfeng berkata, terus menatapi putrinya. Melihat wajahnya, hati Pei Lingfeng agak sedih. Mei Xiyun mendadak pergi dan melakukan hal seperti itu. Ia sudah menyuruh orang untuk pergi menyelidiki dan baru tahu kalau selama beberapa tahun ini Mei Xiyun terus hidup dalam keadaan disiksa.
Mu Xue agak melongo, tak mengerti mengapa tiba-tiba Pei Lingfeng hendak berkata demikian.
Mu Xue jelas-jelas kaget akan kata-katanya. Untuk sesaat ia bengong, lalu menunduk dan tak mengatakan apa-apa.
“Ketika aku kenal dengan ibumu, dia baru adalah seorang gadis berusia tujuh belas tahun dan masih SMA. Ketika itu aku karena terluka baru menerobos masuk ke rumahnya. Dia menolongku dengan berbaik hati! Tapi aku…”
Ketika itu.
Karena bertarung dengan para preman maka Pei Lingfeng terluka. Tubuhnya terluka parah. Ketika menerobos ke rumah keluarga Mei, Mei Xiyun menolongnya. Ia membantunya memerban lukanya, membantunya membeli obat. Ketika itu ia tidak punya keluarga lagi di rumahnya. Ia adalah seorang yatim piatu. Ia melewati hidup berdasarkan bantuan orang-orang di desa.
Ketika ia dirawat di rumah keluarga Mei, Mei Xiyun tidak merawatnya selama sepuluh hari tanpa meminta balas jasa. Di hari dirinya sembuh, akhirnya Pei Lingfeng tersentuh oleh kebaikan gadis itu. Suatu hari setelah makan malam, ia memerkosa Mei Xiyun. Ketika itu ia melawan dengan sekuat tenaga. Ia memohon padanya, tapi pada akhirnya ia tak melepaskannya.
Setelahnya, Mei Xiyun menangis lama sekali. Ia menyesal telah menolong Pei Lingfeng.
Ketika itu Pei Lingfeng juga sangat menyesal. Tapi ia sudah tersentuh dengannya, maka bersumpah untuk memperistrinya.
Akhirnya Mei Xiyun menerima kenyataan dan tinggal bersama Pei Lingfeng. Keduanya terpaksa berhubungan. Mei Xiyun tak pernah bilang dirinya mencintai Pei Lingfeng. Tapi semakin dirinya begitu, Pei Lingfeng semakin menyukainya. Atau mungkin ada satu pepatah yang benar, semakin tidak bisa didapatkan, ia semakin ingin mendapatkannya.
__ADS_1
Hanya saja, ketika akhirnya dirinya mendapatkan hati Mei Xiyun, ia membuat marah kelompok preman yang lebih besar. Menghadapi kenyataan yang kejam, ia tidak bisa menikahinya, atau kalau tidak istri dan anaknya akan jadi korban dari kelompok preman itu.
Tak berdaya, ia akhirnya memaksa Mei Xiyun untuk menggugurkan bayinya! Ia menyuapinya obat penggugur kandungan. Tapi tak disangka, dua puluh tahun kemudian, ia baru menyadari anak yang dipaksa untuk digugurkannya ternyata masih hidup.
Begitu Mu Xue selesai mendengar ceritanya, ia melongo.
“Xiao Xue, inilah kehidupan. Terlalu banyak hal-hal yang tak terpikirkan! Aku tak berharap kau memaafkanku, aku hanya ingin memberitahumu kalau kau berpisah begitu saja dengan Qin Yinuo, terlalu disayangkan! AKu tahu Mu Nanbei menyayangimu. Meski ia masih hidup, dia juga akan berharap kau hidup bahagia dengan Qin Yinuo!” Pei Lingfeng memberitahu kebenaran padanya. Memberitahu seberapa banyak penyesalan dalam hidupnya, terlalu banyak ketidak berdayaan.
“Kau pernah mencoba memintanya menggugurkanku?”
Pei Lingfeng memejamkan matanya, mengangguk dengan penuh sengsara, “Ya! Aku memang pernah berbuat seperti itu!”
“Tapi akhirnya ia melahirkanku!” Mu Xue tak mengerti kenapa ia bisa melahirkannya. Kenapa setelah melahirkannya sikapnya tidak baik padanya? Jangan-jangan karena ia membenci Pei Lingfeng kah? Ia memaksanya menggugurkan kandungan. Pantas saja, pantas saja, ia tidak suka pada dirinya! Saat ini, akhirnya Mu Xue bisa memahami Mei Xiyun! Ia pasti benci sekali pada Pei Lingfeng. Membencinya sampai hatinya berkerut!
“Xiao Xue, maafkan ayah. Ketika itu ayah benar-benar tak berdaya!”
Hati Mu Xue mencelos, bergumam, “Aku sudah tak menyalahkannya. Untuk apa aku menyalahkanmu? Tak peduli bagaimanapun, kalian sudah memberiku kehidupan, aku sangat bersyukur!”
“Xiao Xue!” Pei Lingfeng berteriak. Melihat wajah kecil yang kelihatannya rapuh.
“Aku ingin berlibur seorang diri!” Ia berkata.
“Kemana?” Pei Lingfeng tertegun, bertanya secara refleks.
“Hokkaido!” Ia berkata.
“Kusuruh Du Jing untuk menemanimu!” Pei Lingfeng khawatir.
***
“Aku ingin pergi seorang diri bisa?” Mu Xue juga tidak tahu dirinya kenapa. Ia hanya ingin keluar seorang diri. Mungkin hatinya terlalu lelah, terlalu sedih.
Akhirnya Pei Lingfeng tak mengatakan apapun, hanya mengangguk, “Baiklah!”
Ia berniat memerintahkan bawahannya untuk melindunginya, jangan seperti sebelumnya ia tertinggal di Hokkaido. Ia ingin ia bahagia, melindunginya, tidak ingin ia terluka. Tapi kisah cinta putrinya, sebagai ayahnya bagaimana mungkin ia ikut campur terlalu dalam? Tapi ia masih berharap ia dan Qin Yinuo bisa berbaikan.
“Xiao Xue, kurasa kau telah terlalu menyalahkan Qin Yinuo. Di kecelakaan itu, ia tak melakukan tindakan apapun, Mu Nanbei memang sudah minum bir!” Pei Lingfeng sudah menyuruh orang untuk memeriksa dokumen di ruang dokumen kepolisian. Ketika itu Mu Nanbei memang melawan peraturan lalu lintas, mengemudi sambil mabuk.
Mu Xue melongo, hatinya mencelos. “Dia…dia benar-benar mabuk?”
Pei Lingfeng mengangguk, “Ya! Kau tahu kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena Mei Xiyun ingin cerai dengannya, sehingga dia minum bir! Aku sudah menyuruh Du Jing untuk menyelidiki teman kerjanya kala itu. Sudah mencocokkan kejadian dengan banyak orang, Mu Nanbei memang terbukti minum bir!”
“Dengan begitu, tak bisa menyalahkan Qin Yinuo?” Mu Xue tertegun. Ia kira Qin Yinuo telah melakukan sesuatu akan kecelakaan itu, ia kira dirinya berbohong!
“Xiao Xue, masalah itu, Qin Yinuo tidak bersalah sedikit pun! Tapi ia malah mengganti uang ganti rugi dua kali lipat. Selama beberapa tahun ini, setiap tahun ia akan memberikan sebuket bunga di makam Mu Nanbei!”
Sebuket bunga?!
Mu Xue tertegun. Hari itu, ia bertemu dengannya di kuburan, menabrak jatuh bunganya…
Ia tak tahu harus bagaimana memikirkannya! Hatinya kacau mencerna informasi ini. Ia telah menyalahkannya? Ia tidak mendengar penjelasannya, ternyata dirinya tidak memercayainya?
“Presiden! Aku keluar dulu!” Mu Xue segera membalikkan tubuhnya dan keluar.
Pei Lingfeng menghela nafas, kapan ia akan memanggilnya “ayah”?
Pei Lingfeng mengambil teleponnya dan menelepon Qin Yinuo. Setelah lama sekali, baru terdengar suara serak Qin Yinuo yang kelelahan, “Halo! Pak mertua?”
__ADS_1
“Anak nakal, kau berencana bagaimana?”