AYAH, MAAFKAN AKU

AYAH, MAAFKAN AKU
Bab 322 Lan Juga Bisa Sakit


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Song Yin tidak tahan, juga tau bahwa dengan begini hanya akan mengekspresikan emosinya, sama sekali tidak dewasa, tindakan yang sangat kanak-kanak, melepaskannya, merengek. “Kenapa kamu tidak mau melepaskanku? Sebenarnya apa hutang keluarga Song padamu? Membuatmu dan ibumu begitu membalasku? Kenapa kamu tidak mau mengatakannya? Walaupun mati, setidaknya aku harus tau jelas!”


Song Yin mengangkat kepalanya, bibir merah lembutnya menjadi pucat, ada bekas darah di sudut mulutnya, bulu mata panjang dengan lapisan air yang tebal, menatap kosong kearah pria itu.


Hello! Im an artic!


Adegan ini, tidak mungkin tidak membuat pria ini merasa tidak tega.


Song Yin terisak dan menangis, suara tangisannya tercekat. Menatap Yu Jinglan , ia tak bersuara, wajahnya sangat menyedihkan, seolah-olah segunung rasa sakit menimpanya, membuat ia yang biasanya sangat tegar menjadi tak dapat menahannya.


“Katakan! Katakan kenapa?” Song Yin berteriak.


Yu Jinglan masih tetap tidak bersuara, tatapannya kacau.


Hello! Im an artic!


Song Yin berlutut, memeluk dirinya sendiri, suaranya pelan sedikit bergetar, namun juga tegas : “Aku…tidak akan… tidak memilih bercerai…hanya karena peraturanmu. Tidak peduli kamu setuju atau tidak, aku tetap mau cerai!”


Apa yang Song Yin inginkan, Yu Jinglan selamanya tidak tau, Song Yin juga tak akan membiarkannya tau lagi, karena, ia takut jika terus menerus, ia akan mendapat masalah.


Yu Jinglan menundukkan kepala, mengepalkan kepalan tangannya disisi tubuhnya, urat hijau mulai terlihat, ia menatap tubuh mungil yang berlutut di dekatnya, memejamkan mata dan menyembunyikan pikiran dan rasa sakit yang terlihat di tatapannya, kemudian membuka matanya lagi dan menjongkok.


“Yin Yin?” Ia memanggil namanya dengan pelan.


“Jangan memanggilku!” Song Yin menolak mendengar nada lembut seperti ini, karena itu palsu, semuanya palsu, semua kelembutan itu palsu. “Kamu tidak pantas memanggil namaku!”


Amarah Yu Jinglan meledak, seketika tatapan matanya suram, suaranya terdengar suram : ” Song Yin, Kamu jangan dikasih muka tak mau muka!”


Kata-katanya menusuk Song Yin, tiba-tiba ia berkata : “Sejak awal harga diriku sudah kamu injak, apa kamu merasa aku masih ada muka? Sejak awal aku sudah tak ada muka! Siapa yang sama sepertiku hidup dengan begitu tidak ada harga diri? Hanya sebuah senyuman darimu, perlakuan yang lembut darimu, aku akan berimajinasi kamu akan terus begitu lembut? Apakah bisa? Didunia ini, hanya ada orang bodoh sepertiku, aku adalah orang tolol! Sehingga berulang kali diancam olehmu, Yu Jinglan , aku membencimu, tidak mau lagi dikendalikan olehmu, aku mau mengendalikan diriku sendiri… . wu wu… .”


Song Yin ingin berusaha melindungi harga dirinya yang sejak awal sudah di injak olehnya, ia sudah begitu menahan selama ini, namun, yang ia dapatkan hanyalah drama yang sudah direncanakan.


Ia sungguh tidak mau begitu terus menerus, jika begitu terus, ia akan gila.


Yu Jinglan mengulurkan satu tangannya, menaikkan dagunya, menatap mata Song Yin yang bengkak dan merah, menggerakkan alisnya, tatapannya berhenti pada wajah kecil yang berlinang air mata.


Song Yin melihat ekspresi wajah biasanya pada parasnya yang tampan itu, suaranya menusuk namun lembut, “Kamu mau mencoba akibat membuatku marah?”


Song Yin gemetar, tidak ada sama sekali emosi di tatapannya, tapi itu malah membuatnya merinding.


Dengan cepat air matanya jatuh, menangis dengan sedih. “Apa sebenarnya yang mau kamu lakukan? Lalu bagaimana jika membuatmu marah? Apa akan mati? Atau hidup bagaikan mati? Saat ini aku tepat dalam kondisi hidup namun seperti mati, mau apalagi kamu? Lampiaskan saja, aku tidak takut!”


Yu Jinglan melihat tidak ada emosi dalam air matanya, Yu Jinglan menatap wajahnya, mengerutkan alis, berpikir sejenak, kemudian bertanya dengan serius : “Yin Yin, apa kamu pernah benar-benar mencoba rasanya hidup di neraka? Mau mencobanya?”


Song Yin merasakan emosi yang terlintas di tatapannya, dan juga kesepian, hatinya gemetar.

__ADS_1


Tiba-tiba Yu Jinglan menariknya keatas, menimpanya ke dinding, menahan wajah mungilnya dengan keras, mencium bibirnya dengan keras, lidahnya masuk kedalam mulutnya, membuat Song Yin tidak nyaman dan mendesah, seperti hampir kehilangan nafas. Tangan besar Yu Jinglan menarik pakaian Song Yin, menunduk dan mulai mencium bagian lehernya.


Ciuman demi ciuman, menggigit kulit Song Yin, menganggap dia sebagai mainan pelampiasan.


Ciuman dia sangat sengit, membuat Song Yin terus menolak, menghindar.


Namun, semakin Song Yin begitu, Yu Jinglan akan semakin gila.


“Kamu tidak seharusnya melibatkan wakil presidenku!” Suaranya rendah.


“Si…” Baju Song Yin dirobek olehnya.


“Kakak Yu____” Song Yin berteriak takut, sangat tidak berdaya.


Tiba-tiba Yu Jinglan menghentikan tindakannya, terengah-engah, menatapnya, ekspresi yang begitu tak berdaya, dia yang begitu polos. Untuk pertama kalinya Yu Jinglan berpikir bahwa Song Yin polos!


Yu Jinglan mengecap bibirnya, melototinya, Song Yin tidak berani bergerak, menangis terisak, air mata dan ingusnya bersamaan mengalir keluar, kemudian Yu Jinglan mengepalkan tangannya, memukul keras ke dinding, darah mencoreng dinding, dia membalikkan badan dan kembali ke kamar.


Hanya tersisa Song Yin di koridor, Song Yin berdiri, mengambil pakaiannya yang di lantai, sudah tidak bisa menutup lagi. Song Yin pergi membuka pintu, namun tidak dapat di buka, ia kembali lagi, pergi ke kamar sebelah, berjongkok menyandar dibalik pintu.


Air mata, tidak berhenti berjatuhan…


Yu Jinglan masuk ke kamar sebelah, berdiri di depan jendela besar, menyalakan sebatang rokok lagi, namun tetap tidak dapat menekan rasa hampa dalam hatinya.


Song Yin menangis hingga kehilangan energi, terjatuh di lantai, tidak dapat menahan kelelahan, akhirnya tertidur.


Yu Jinglan terbaring diatas ranjang, terjepit sebatang rokok di jari panjangnya, sudah sangat banyak puntung rokok di lantai, ia terus merokok, hingga kamar sudah dipenuhi asap rokok.


Dia adalah seorang pria yang tenang, percaya diri, dan tak banyak emosi, namun, saat ini, ia semakin emosi, ada beberapa emosi yang semakin tidak dapat dikontrol olehnya.


Sejak kecil ia sudah diajar, sebagai orang keluarga Yu, sebagai putra satu-satunya Yu Yitian, harus lebih berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatan, tidak boleh menunjukkan hati yang sesungguhnya pada siapapun, namun saat ini…


Ternyata dia juga adalah orang yang takut akan kesepian, dari sisi luar terlihat sangat baik, namun lubuk hatinya kesepian, dan hanya hatinya sendiri yang mengetahui itu, betapa hampanya dia ketika berdiri di antara keramaian orang, dan karena apa pula hampa ini?


Sering berdiam diri di dalam sebuah rumah kosong, dan ketika ada orang lain di rumah itu, dan aroma makanan yang sedap, suasana hatinya akan tidak stabil, dia merasa tidak lagi hampa.


Hanya saja, setelah ini, apa yang seharusnya ia lakukan?


Menghisap rokok, ia menghela nafas dalam. Berdiri, menuang segelas alkohol, menghabiskannya. Rasa pedasnya tidak membuat dirinya merasa lega, sebaliknya merasa semakin sakit. Bekas gigitan yang membekas di dadanya sangat sakit, namun tidak dapat dibandingkan dengan sakitnya hatinya…


Cerai! Aku mau bercerai denganmu! Aku tidak mau hidup didalam pengendalianmu!


Jantungnya berdetak kencang, tenaga tangannya menguat, gelas anggur di tangannya hancur berkeping-keping, rasa sakit membuatnya tersadar kembali, begitu ia melonggarkan tangannya, gelas retak itu terjatuh ke lantai dan mengeluarkan suara yang tajam.


Darah, ikut menetes dari tangannya, berceceran ke lantai yang putih. Mengangkat kepalanya, menatap sebotol alkohol yang masih penuh.


Malam gelap gulita, hati semakin hampa.

__ADS_1


Dia kembali ke Kasur, memejamkan mata merasakan sensasi sakit dari tangannya. Semakin sakit semakin bagus, dengan begitu, ia akan melupakan rasa sakit di sisi lain, rasa sakit di dadanya bahkan lebih sulit di tahan!


Walaupun memenangkannya pada akhir, walaupun Song Qingquan berlutut didepannya saat ini, apa itu akan membuatnya senang?


Dia merasa bingung, bingung dengan dirinya sendiri, bingung dengan masa depannya.


Memejamkan matanya, tersenyum pahit. Malam, selalu semakin panjang… .


Pagi hari.


Song Yin terbangun karena kedinginan, seluruh tubuhnya menggigil, tidak memakai baju, ia melihat ada lemari baju di kamar, ia berjalan kesana, membuka lemarinya, melihat ada pakaian wanita didalamnya, ia terbengong, matanya sedikit sakit, ia tidak terbiasa memakai pakaian orang lain, mengulurkan tangan menarik sprei, ia membungkus dirinya dengan sprei yang putih.


Terbengong melihat pakaian dalam lemari baju, sangat banyak baju wanita, kelihatannya, sangat banyak wanita yang pernah datang ke rumah ini, terpikir sampai sini, tidak tau kenapa ada sedikit rasa sakit dalam hatinya… . .


Ia membalikkan badan berjalan ke depan jendela, melihat lautan di jendela luar, sangat luas, ada kapal di lautan, ia melihat kearah kapal, berpikir ada pelabuhan yang menjadi sandaran kapal, namun bagaimana dengan dirinya? Dimana sandarannya?


“Indah?” Tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang, tidak perlu menolehkan kepala juga sudah tau itu adalah suara Yu Jinglan , ia memilih untuk tidak bergerak.


Perlahan Yu Jinglan mendekat, tangan hangatnya mendarat di tubuhnya dengan tak berperasaan, seperti sedang memberitahukan kepemilikannya, sesuka hati dan kejam.


Song Yin diam tak bersuara, ia tau apa akibatnya jika membuatnya marah. Apalagi berada dalam rumah yang dikunci, saat ini ia tak dapat keluar.


“Bicara!” Suara dingin itu terdengar dari atas kepala Song Yin.


Baru saja Song Yin membalikkan badan mau berjalan ke arah Kasur, Yu Jinglan sudah menahannya, menimpanya ke atas kaca, kemudian melepaskan sprei ditubuhnya, menarik ****** ********, hawa panas memasuki tubuh Song Yin.


“Aaa!” Rasa kesemutan membuat Song Yin berteriak tiba-tiba, wajahnya langsung memucat.


“Tidak ada lain kali lagi!” Yu Jinglan meneriakinya dengan kuat : “Kamu, hanya bisa diam di sisiku.”


Kakinya yang ramping melingkari pinggang Yu Jinglan , kedua tangannya menggenggam tirai dengan erat, dengan begitu, berulang kali dalam posisi memalukan ini, punggungnya menghadap ke pemandangan laut yang indah, merasakan sikap sesuka hatinya Yu Jinglan , sama sekali tidak diikuti perasaan apapun, karena hingga saat ini, tubuh Yu Jinglan masih mengenakan pakaian dengan sempurna.


Dari jendela hingga ke atas Kasur, Yu Jinglan melampiaskan semua kekesalan hatinya, hingga orang dibawahnya tidak dapat menahan, dan pingsan.


Suara air di kamar mandi berhenti, keluar dari kamar mandi dengan aroma sabun, rambut hitamnya sedikit lembab, berantakan bergantung di dahinya, memberikan kesan depresi pada orang, tubuh yang tidak ditutupi handuk itu terlihat sangat ramping, memancarkan pesona nama keluarga pria yang tidak dapat diremehkan.


Namun, saat ia menyentuh orang yang pingsan itu, tatapannya terlihat hampa.


Menundukkan kepala melihat bekas luka di tubuhnya, diatas dada, ada bekas luka yang bulat, ia menggigitnya dengan sangat kuat, hanya takut ini akan membekas selamanya, tidak dapat sembuh, dan meninggalkan bekas di dada kirinya.


Kesal semalaman, dan bagun pagi sudah bersikap seperti itu pada Song Yin, namun, tubuh yang sudah menderita semalaman pasti akan bersikap seperti itu, ia mulai bersikap sesungguhnya padanya!


Ketika Song Yin bangun, ada satu set kemeja denim, pakaian yang biasa ia pakai, namun itu semua bermerek, logonya juga belum digunting. Ia melihat ke sekeliling, tidak ada bayangan Yu Jinglan , tubuhnya sangat sakit, seperti terkoyak, ia menundukkan kepala melihat dan mencium bau obat, seketika wajahnya memerah.


Karena ia melihat, bagian intimnya telah dioles dengan obat….


Bangun, mengenakan baju. Tubuhnya sakit, namun hatinya lebih sakit.

__ADS_1


__ADS_2