
Hari yang ditunggu telah tiba, Rafael sudah siap untuk menandatangani peralihan kekuasaan atas perusahaan Arsenio.
Rafael terlihat berdiri bersama Arsenio dengan disaksikan dewan direksi dan juga beberapa orang penting dalam perusahaan.
Semua bertepuk tangan memberikan selamat pada Rafael.
Bahkan, Aeleasha juga hadir di sana untuk memberikan selamat. Hanya saja, pandangan mata yang sejak awal mengedar, tidak menemukan sosok wanita yang membuat Rafael kembali menjalin hubungan asmara.
Ya, Alesha tidak hadir di sana. Rafael sengaja tidak mengajak Alesha dengan alasan sedang sibuk dengan kuliahnya. Bahkan juga berkata bahwa Alesha tidak terlalu menyukai keramaian seperti yang terjadi saat ini.
Setelah selesai dengan penandatanganan berkas-berkas penting. Kini mereka menikmati makanan yang sudah dihidangkan di atas meja pandang di sudut ruangan itu.
Rafael duduk bersama Arsenio dan Aeleasha. Mereka kembali berbincang dengan santai mengenai perusahaan dan laporan-laporan yang sedang dikerjakan.
Lalu, seperti biasa, Aeleasha mengalihkan topik dengan bertanya tentang keberadaan kekasih Rafael yang tidak tampak di sana.
“Bukankah ini adalah hari besarmu. Kenapa kekasihmu tidak ikut datang kemari?” tanya Aeleasha yang sudah penasaran dengan kekasih Rafael.
“Dia itu pemalu, tidak seperti dirimu.” Rafael menjawab singkat sambil mengunyah makanan yang berada dalam mulut.
“Apa? Kamu pikir aku ini seperti apa?” Aeleasha merasa kesal dengan jawaban Rafael yang seperti sengaja mengejeknya.
“Honey, sudahlah. Kenapa kamu selalu menekan Rafael?” sahut Arsenio yang merasa
istrinya terlalu ikut campur, seperti menunjukkan sikap berlebihan karena ingin mengetahui seperti apa wanita yang dekat dengan Rafael atas dasar perjanjian.
“Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya merasa penasaran. Wanita seperti apa yang saat ini menemaninya. Bahkan, nama kami sangat mirip. Apa dia secantik aku?”
Rafael kembali terdiam dan enggan untuk menjawab karena hanya bisa menjawab di dalam hati.
'Di dunia ini, tidak ada satu pun wanita yang bisa mengalahkan kecantikanmu, Aeleasha. Bahkan kau sama sekali tidak memahamiku meskipun kita pernah tinggal serumah selama tiga tahun.'
“Baiklah, begini saja. Kamu ajak kekasihmu. Kita makan malam bersama. Anggap saja kita sedang double date. Bagaimana?” tawar Arsenio yang mendapatkan persetujuan dari sang istri.
Wajah Aeleasha terlihat berbinar dan antusias kali ini. Apalagi suaminya mendukung untuk mempertemukan dengan kekasih Rafael yang membuatnya merasa sangat penasaran.
“Aku akan berusaha untuk mengajaknya, tapi jika ia menolak, aku tidak mungkin memaksanya, kan?" Willy benar-benar tidak suka dengan situasi saat ini.
Apalagi melihat sikap mantan istri yang malah terlihat sangat bersemangat untuk bertemu Alesha dan tentu saja seperti biasa, tidak ada rasa cemburu sama sekali dari wanita yang sangat dipujanya tersebut. Hal itu sangat melukai harga dirinya.
“Baiklah. Setidaknya kamu sudah berusaha untuk mengajaknya datang, bukan?” Akhirnya Aeleasha menyahut untuk menanggapi perkataan pria yang dari tadi seperti tidak bersemangat di hari yang seharusnya penuh kebahagiaan.
Rafael menerima pesan singkat dari Alesha. Pesan itu berbunyi ucapan selamat atas peralihan kekuasaan hari ini. Wajah pria itu tersenyum, lalu membalas.
Ada undangan makan malam dengan pemilik perusahaan sebelumnya. Apa kamu mau datang bersamaku?
Entahlah, kondisi ibuku sedang tidak baik saat ini. Hari ini kondisinya tiba-tiba saja menurun. Aku sangat khawatir.
Begitu rupanya. Aku akan menjelaskan pada mereka.
Tapi, bukankah mamamu mengundangku makan malam juga? Ia berkata, mantan istrimu juga ada di sana.
__ADS_1
Jika kamu keberatan, bisa menolaknya.
Aku sungguh tidak tahu lagi. Kenapa mamamu mengundangku jika mantan istrimu juga ada di sana? Itu akan membuatku canggung.
Tidak perlu datang jika kamu merasa canggung.
Setelah membalas, tidak ada lagi pesan balasan dari Alesha. Rafael kembali fokus pada keadaan di pesta yang kini diadakan di kantornya.
***
Dua hari kemudian, di rumah Rafael...
Tiana sedang menyiapkan beberapa hidangan. Hari ini, sang ibu sudah mengundang keluarga Arsenio dan juga calon menantunya.
Wanita itu memasak dengan bantuan asisten rumah tangga. Sudah ada beberapa menu yang tersedia di atas meja makan.
Rafael baru saja sampai di rumah setelah bekerja seharian di kantor. Ia meregangkan dasi dan memanggil sang ibu yang sedang berkutat di dapur.
Rafael tampak terkejut saat melihat ada banyak hidangan di meja makan dan juga beberapa camilan seperti akan menerima tamu besar.
“Ma, ada acara apa ini? Kenapa ada banyak sekali makanan?”
“Bukankah Mama sudah bilang sebelumnya? Bahwa akan mengundang mantan istrimu dan suaminya untuk makan malam di rumah ini.”
"Aeleasha dan Arsenio?" Rafael memang mengetahui hal itu, tapi tidak pernah menyangka jika hari ini.
“Iya, Mama tidak sabar untuk bertemu dengan mereka. Mama juga mengundang Alesha untuk ikut hadir.”
“Memangnya Alesha juga datang? Kenapa tidak memberitahuku?”
“Sebentar, aku akan menghubunginya." Rafael berjalan menjauh sembari menuju kamarnya. Panggilan telpon itu akhirnya tersambung dan terdengar suara Alesha dari seberang.
“Apa hari ini kamu datang?” tanya Rafael memastikan.
“Iya, tapi aku bingung. Kondisi ibuku sedang menurun. Sepertinya aku tidak bisa ke sana. Aku minta maaf karena belum memberitahu mamamu tentang hal ini.” Suara Alesha terdengar panik dan cemas.
“Baiklah, tidak masalah. Aku akan memberitahu mama." Ada kekecewaan dari nada suara Rafael karena tidak bisa melihat Alesha menemani untuk menghadapi mantan istri yang sangat penasaran.
“Maaf. Aku harus mengurus ibuku," sahut Alesha yang mendengar suara lirih sang ibu.
Setelah itu, sambungan telpon berakhir dan Rafael kini memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
“Alesha tidak bisa datang. Kondisi ibunya menurun. Suaranya terdengar gelisah dan penuh kekhawatiran.”
Tiana yang sangat terkejut karena sama sekali tidak pernah menyangka jika calon besannya kembali mengalami masa tidak baik. “Bagaimana bisa? Bukankah di sana ada banyak dokter yang menangani?”
“Entahlah. Aku juga akan datang ke sana untuk menemui Alesha. Dia pasti sedang sedih dan membutuhkanku.”
“Baiklah, tidak masalah, tapi kamu harus ikut makan malam dulu.” Tiana tentu saja merasa tidak enak pada mantan menantu jika putranya tidak ada untuk menyambut kedatangan mereka.
Sementara itu, Willy hanya menggeleng perlahan. “Maaf, Ma. Aku baru saja makan di kantor bersama rekanku.”
__ADS_1
Kecewa, itulah yang dirasakan Tiana saat ini. Wanita paruh baya itu merasa jika putranya tidak perduli dengan apa yang ingin dilakukannya.
"Rafael, tunggu! Jangan seperti itu!" teriak Tiana yang masih berusaha untuk menghentikan sikap putranya yang berbuat sesuka hati.
Rafael sama sekali tidak memperdulikan larangan sang ibu karena langsung meraih kunci mobil untuk pergi ke rumah sakit.
Secara kebetulan, saat mobil Rafael keluar dari halaman rumahnya, mobil milik Arsenio masuk ke sana dan berhenti di depan pintu masuk.
Aeleasha turun dengan perasaan ingin tahu dan menelpon Rafael untuk bertanya, tetapi sayang tidak ada jawaban. Hingga melihat wanita paruh baya yang dari dulu sangat disayangi keluar dari rumah dan mempersilakan mereka masuk.
“Aeleasha, maaf. Rafael baru saja keluar untuk menemui calon mertuanya yang sedang kambuh di rumah sakit." Tiana benar-benar merasa sangat tidak enak dengan menampilkan wajah murung.
Meskipun mengetahui bahwa Aeleasha kini menggeleng perlahan dan masih mengulas senyuman untuk menunjukkan tidak mempermasalahkan hal itu.
Kini, Aeleasha mengerti semuanya, meskipun merasa curiga jika Rafael sengaja tidak ingin makan bersama. “Iya, Tidak masalah, Ma. Sepertinya putra Mama akan menjadi menantu yang baik."
“Rafael ingin berada di sana untuk memberikan dukungan pada Alesha. Karena itu, aku sangat meminta maaf pada kalian. Mama sangat merindukanmu, Aeleasha." Tiana yang dari tadi menahan diri, sudah tidak kuasa lebih lama karena sudah memeluk erat tubuh wanita yang semakin hari malah terlihat cantik tersebut.
“Tidak masalah. Aku senang Mama masih mau mengundangku datang.” Aeleasha kini mengusap lembut punggung wanita paruh baya tersebut ketika merasakan dekapan hangat."Mama pasti sangat merindukanku, bukan?"
“Tentu saja, bicara apa kamu ini. Seperti meragukan kasih sayangku sebagai ibu. Ayo, masuk dan kita makan bersama.” Tiana kini melepaskan pelukan dan berjalan di depan karena ingin langsung mengajak makan malam. Apalagi makanan sudah siap.
Sementara itu, Rafael dalam perjalanan menuju rumah sakit. Perasaannya sungguh lega karena tidak harus bertatapan dengan mantan istrinya.
Ia memang sengaja pergi dan menggunakan Alesha sebagai alasan. Sampai di rumah sakit, Rafael melihat Alesha duduk di samping brankar dengan mata sembab memandang ibunya yang kini masih menutup mata.
Rafael mendekat dan menyentuh bahu Alesha.
Sementara itu, Alesha mendongak. Wajahnya kini menatap Rafael. Ia berdiri, lalu mengajak pria itu duduk dan berbicara di kursi tunggu yang ada di depan kamar.
“Kenapa kamu datang?” Alesha merasa sangat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Rafael yang diketahui tengah ada janji dengan mantan istri.
“Aku ingin berada di sini untuk menemanimu menunggu ibu.” Willy menjawab singkat dan mendaratkan tubuhnya di ranjang perawatan calon mertua.
“Lalu, bagaimana acara makan malamnya?” Alesha mengusap bulir air mata yang sempat menghiasi wajah karena tidak ingin terlihat lemah di depan Rafael.
“Aku sudah mengatakannya pada mama. Aku yakin semua akan mengerti dengan keadaanmu.”
“Tapi ....“ Alesha benar-benar merasa tidak enak karena merusak acara makan malam keluarga Rafael.
“Sudahlah! Aku tidak masalah dengan hal itu. Jadi, bagaimana keadaan ibumu?” Rafael mencoba untuk mengalihkan pembicaraan karena malas membahas hal yang membuatnya sakit hati.
Alesha menjelaskan dengan tidak mengalihkan perhatian dari wanita paruh baya yang sangat disayangi. “Ibu baru saja mendapatkan obat dari dokter, setelah kondisinya menurun sore ini.”
“Aku ikut prihatin, lalu bagaimana dengan kuliahmu?” Rafael berniat untuk menghibur, tetapi suasana hatinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.
Alesha kini hanya mengendikkan bahu. “Ya, seperti yang kamu tahu, akhir-akhir ini semakin padat dengan tugas. Aku bahkan tidak yakin bisa melanjutkan semua ini.”
“Kenapa?” Rafael menyipitkan mata dengan jawaban Alesha yang tidak seperti tidak ada semangat.
"Ibu membutuhkan aku di sini," sahut Alesha lirih dengan menatap intens wajah pucat sang ibu.
__ADS_1
“Tenanglah, aku akan membayar perawat untuk menemaninya. Kamu hanya perlu fokus pada kuliah saja.” Tentu saja Rafael merasa iba dan tidak tega melihat wajah muram itu.
To be continued...