I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Melakukan sesuatu


__ADS_3

Perasaan Aeleasha memang sedikit lebih baik setelah mencuci muka dan kini bisa bersikap seperti biasa pada pria yang tadi mengungkapkan kalimat talak padanya untuk membantah apa yang diungkapkan mengenai teori cintanya barusan.


Ia tidak ingin kembali merasa malu karena kalah beragumen dengan pria yang sangat pintar memutar kata-katanya.


Sementara itu, wajah Rafael masih terlihat datar ketika membuka suara untuk menanggapi pertanyaan Aeleasha yang bisa dipahaminya.


"Tenang saja, ada orang yang akan datang untuk mengantarkan pakaian untuk kita bertiga."


"Untuk kami? Tidak perlu karena ada hanya pakaian yang kubawa," sahut Aeleasha yang membatalkannya keinginan Rafael.


"Maksudku pakaian renang. Tidak mungkin kamu membawa pakaian renang saat kabur dari New York." Rafael langsung berjalan menuju ke arah pintu keluar dan membukanya tanpa menunggu jawaban dari Aeleasha yang terdengar berlari mengejarnya.


"Apa? Berenang? Aku tidak mau berenang. Kamu dan Arza saja. Aku hanya akan melihat kalian saja." Aeleasha awalnya sangat terkejut dengan keinginan pria itu dan tidak ingin berenang saat mood-nya sedang buruk.


Rafael yang menekan tombol lift agar terbuka, kini menatap datar pada Aeleasha yang menolak mentah-mentah keinginannya. Tentu saja ia kali ini menyerang kelemahan wanita yang sudah masuk ke dalam pintu kotak besi tersebut dan membawa mereka turun ke lantai dasar.


"Aku sama sekali tidak menerima penolakan karena ini harus kulakukan sebagai bentuk balas budimu padaku. Kita harus terlihat seperti keluarga bahagia. Anggap keluarga kita seperti saat belum bertemu dengan si berengsek itu."


Lagi-lagi Aeleasha kali ini tidak bisa berkutik lagi dengan ancaman dari Rafael dan akhirnya ia memilih untuk mengangguk perlahan karena tidak ada hubungan lain selain menuruti keinginan pria yang sudah sangat berjasa padanya.


Hingga sudut bibir Rafael melengkung ke atas begitu melihat respon setuju dari Aeleasha. Kemudian ia beralih menatap ke arah balita di gendongannya.


"Akhirnya kita berenang bersama, Sayang. Arza pasti merasa sangat bahagia nanti." Mengusap kepala Arza dengan penuh kasih sayang.


Tentu saja pemandangan yang sangat menyejukkan mata tersebut berhasil menghibur perasaan yang terluka. Aeleasha kali ini memilih untuk berdamai dengan hati sejenak dan mencoba untuk menghibur diri sendiri serta putranya.


Meskipun menyadari bahwa itu hanya akan bertahan sebentar saja karena kesedihan akan kembali saat ia sendiri nanti. Namun, saat ini hanya ingin membalas budi dan juga menghibur hati yang terluka.

__ADS_1


'Brother bahkan memilih untuk memaksa agar aku melupakan sejenak bukan berat yang kurasakan. Aku tahu bahwa ia melakukan semua ini karena ingin sejenak melupakan perasaan kami sedang sama-sama terluka.'


'Baiklah. Aku akan bersenang-senang hari ini dan melupakan kesedihan yang ditorehkan oleh pria jahat itu,' lirih Aeleasha di dalam hati dan berjalan melangkahkan kaki jenjangnya mengikuti sosok pria yang saat ini menuju ke arah kolam renang.


Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah melihat beberapa orang yang sibuk berenang bersama anak dan istri dan terlihat bercanda tawa dengan benar kebahagiaan.


Aeleasha berharap ia juga akan seperti itu saat menceburkan diri ke dalam air yang berwarna kebiruan tersebut. Namun, seperti yang dikatakan oleh Rafael, bahwa tadi sedang menyuruh orang membeli baju renang untuk mereka.


Bahkan ia sudah melihat putranya yang memang dari dulu sangat suka berenang karena rumah mereka di New York ada fasilitas kolam renang dan sering digunakan Arza setiap pagi dan sore hari.


Bahkan putranya sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam air dan pada Rafael, sehingga ia memilih untuk membuka kedua tangan agar bisa menggendong bocah laki-laki tersebut.


"Ayo, Sayang. Berenang sama Mommy, ya? Bajunya dilepas dulu, oke!"


Namun, ajakannya sama sekali tidak dipedulikan oleh putranya karena lebih memilih fokus untuk segera masuk ke dalam air.


Rafael akhirnya tidak menunggu pakaian renang karena sudah mengajak Arza ke tepi kolam renang dan menurunkannya ke air tanpa melepaskan baju yang dikenakan.


"Arza senang?" ucap Rafael yang saat ini tengah mengarahkan bocah laki-laki itu seperti gerakan renang gaya kupu-kupu.


Namun, ia hanya berada di tepi kolam renang tanpa masuk ke dalam air. Itu semua karena ada dua ponsel dan dompet miliknya di saku jas.


Hingga ia menoleh ke arah Aeleasha dan memberikan kode pada wanita itu agar segera mendekat.


"Tolong lepaskan jasku karena ada dua ponsel dan juga dompet yang tidak boleh basah. Arza merengek agar aku ikut masuk ke dalam air karena ia tidak puas hanya dengan gaya seperti ini."


Aeleasha saat ini berpikir jika hanya melepaskan jas, maka pakaian dari Rafael akan basah kuyup. "Biarkan aku saja yang memegangi Arza. Lebih baik kamu lepaskan pakaianmu saat berenang."

__ADS_1


Refleks Rafael menatap intens wajah cantik itu karena perkataan wanita itu membuatnya merasa sangat bersemangat. "Apa kamu ingin melihat tubuhku? Hingga menyuruhku untuk melepaskan pakaian saat berenang?"


Aeleasha yang menyadari kebodohannya karena tidak berpikir sedikitpun tentang hal itu, kini hanya gara-gara kepala. "Astaga! Aku berpikir jika pakaianmu basah dan tidak mempunyai ganti. Itu saja, bukan karena ingin melihat tubuhmu."


"Rasanya aku sangat kecewa mendengarnya, tapi bukankah kau tetap akan melihatnya saat aku melepaskan pakaianku?" Rafael masih ingin menggoda Aeleasha karena itu seperti bisa menghiburnya ketika melihat wajah wanita itu memerah karena marah.


Hingga Aeleasha memilih untuk melepaskan jas yang dikenakan oleh Rafael daripada melihat tubuh dengan telanjang dada tersebut.


"Tidak perlu melepaskan pakaian karena aku akan membawa jasmu ini!" Aeleasha berniat untuk menjauh, tapi pergelangan tangannya ditahan oleh Rafael dan membuatnya merasa semakin kesal.


"Jangan marah karena aku hanya bercanda," ucap Rafael yang saat ini menatap intens sosok wanita dengan wajah memerah seperti yang diinginkannya.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengabadikan perdebatan mereka.


Saat Rafael menatap sekilas ke arah Aeleasha, ia merasakan ada kilatan kamera dan seketika mencarinya. Begitu melihat ada seorang pria yang memotret interaksinya dengan Aeleasha.


Refleks membuat Rafael bangkit berdiri dan seketika menyerahkan balita tersebut ke tangan Aeleasha.


"Kamu temani Arza dulu! Aku ingin membereskan sesuatu!"


Rafael berjalan mendekati sosok pria yang seketika langsung berwajah pucat begitu aksinya diketahui, sedangkan Aeleasha mengerutkan kening saat sudah menggendong putranya yang kembali merengek karena diangkat dari air. Bahkan saat ini pakaiannya sudah basah karena tubuh putranya dipenuhi air.


Hingga ia akhirnya kembali masuk ke dalam air ketika bocah laki-laki tersebut menangis saat tidak ingin berhenti bermain air.


Namun, ia yang merasa sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Rafael masih mengikuti langkah kaki pria itu dan seketika membulatkan mata begitu melihat apa yang terjadi.


"Astaga! Apa yang dilakukan oleh brother pada pria itu?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2