
Keesokan harinya di rumah besar keluarga Arsenio, Aeleasha yang merasa tidak enak badan akibat perbuatan gila dari sang suami semalam, membuatnya tidak bisa bangkit dari ranjang karena tubuhnya yang sangat lemah.
Akhirnya ia menyuruh baby sitter dan beberapa pelayan untuk menjaga putranya.
Namun, sebelum baby sitter berjalan keluar dari ruangan kamar, ia bertanya pada perawat putranya tersebut.
"Apa suamiku semalam pulang?"
Wanita dengan memakai seragam berwarna putih itu mengerutkan kening saat menanggapi pertanyaan dari sang majikan.
"Tuan Arsenio semalam tidak pulang ke rumah, Nyonya."
Kini, wajah Aeleasha semakin berubah muram. Semalam langsung tertidur dengan tubuh lemah dan tidak tahu apakah sang suami pulang atau tidak. Berpikir jika mungkin Arsenio tidur di kamar lain.
"Baiklah, bawa Arza ke taman untuk bermain! Aku ingin menghubungi suamiku."
Refleks baby sitter tersebut langsung menganggukkan kepala dan sudah menggendong bocah laki-laki yang baru selesai menghabiskan susu tersebut dengan menggendongnya.
"Kalau begitu, saya permisi, Nyonya. Tadi kepala pelayan sudah menghubungi dokter karena melihat Anda sangat pucat saat mengantarkan sarapan. Mungkin sebentar lagi dokter pribadi keluarga akan segera datang untuk memeriksa keadaan Nyonya.
"Terima kasih. Meskipun suamiku sudah tidak lagi memperhatikanku semenjak perusahaan mengalami masalah. Bahkan sepertinya lebih dari itu."
"Jangan berkata begitu, Nyonya, tuan Arsenio sangat mencintai Anda," ucap wanita itu seraya bergegas meninggalkan majikannya karena Arza merengek hendak turun saat tidak suka digendong.
Aeleasha hanya diam selama beberapa menit saat mendapatkan nasihat dari perawat putranya yang telah berlalu pergi.
'Bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah jika suamiku bahkan tidak mau kuajak bicara,' gumam Aeleasha yang kini merasa bingung akan apa yang dilakukan.
Setelah perasaannya lebih baik karena mencoba untuk berpikir positif, Aeleasha kini memilih untuk menghubungi asisten sang suami.
Sambungan telpon langsung tersambung dan tanpa menunggu lama, sudah mendapatkan jawaban.
"Halo."
__ADS_1
"Ya, Nyonya. Apa ada yang perlu Anda sampaikan kepada saya?"
"Apa kau tahu suamiku di mana?"
Hening ...
"Maafkan saya, Nyonya karena mungkin yang saya katakan ini adalah sebuah kabar buruk."
Mendadak perasaan Aeleasha menjadi tidak menentu dan ia pun mencoba menenangkan hati karena ingin mengetahui kenyataan yang sebenarnya terjadi.
"Katakan saja!"
"Tuan Arsenio ditipu oleh orang yang menyamar sebagai investor. Bahkan sangat terpukul. Lebih baik Anda membicarakan masalah ini dengan tuan Arsenio di apartemen?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari pria di seberang telpon, Aeleasha langsung memutuskan panggilan.
"Aku sangat yakin jika ada yang disembunyikan oleh suamiku. Bukan hanya itu saja. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat pergi karena rasanya percuma berada di sini saat hanya dicueki oleh suami sendiri."
Setelah beberapa saat berpikir, Aeleasha mulai melakukan panggilan internasional.
"Aeleasha? Apa maksudmu menyuruhku untuk membelikanmu tiket pesawat? Apa yang terjadi?" tanya Rafael yang merasa sangat terkejut dan berpikir jika mantan istrinya tersebut sudah mengetahui mengenai masalah orang tua Arsenio.
"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu di telpon karena ceritanya sangat panjang. Apakah kamu mau membantuku? Sampai di sana, aku akan mengganti uangmu dengan meminta uang dari ayahku."
"Astaga! Jangan berbicara seperti itu! Karena itu sangat menghina harga diriku sebagai seorang lelaki."
"Baiklah, aku tunggu kabar darimu, Rafael." Aeleasha memutuskan sambungan telpon tanpa mendengarkan jawaban dari pria yang masih belum bisa move on darinya tersebut. Ya, ia terpaksa menyusahkan Rafael lagi atas masalah yang terjadi menimpanya.
Sebenarnya ia tidak ingin melakukan hal itu, tetapi tidak tahu harus meminta tolong pada siapa karena sama sekali tidak mempunyai kenalan di New York.
"Kamu harus menyadari tidak bisa hidup tanpaku." Saat Aeleasha baru selesai mengumpat di dalam kamar, suara ketukan pintu terdengar dan membuatnya menyuruh orang di luar sana untuk masuk.
***
__ADS_1
Bunyi bel pintu apartemen, membuat Arsenio bangkit dari kursi kerja dan langsung berjalan keluar ruangan untuk membuka pintu. Tentu saja ia sangat tahu siapa yang datang mengunjungi, tak lain adalah orang kepercayaannya.
Sang asisten yang berdiri di depan pintu, kini menatap iba pada atasannya yang baru saja membuka dan terlihat benar-benar sangat kacau.
"Selamat pagi, Tuan Arsenio."
Tak ada jawaban sama sekali dari Arsenio, sedangkan sang asisten mengekor di belakang pria yang lebih terlihat seperti mayat hidup itu.
"Aku akan mandi dulu," ucap Arsenio yang kini melihat asistennya membawa makanan.
Kemudian berjalan ke kamar mandi dan berdiri di bawah shower. Arsenio sengaja mandi air dingin untuk bisa mendinginkan otaknya yang kacau.
Setelah lima belas menit berlalu dan pikirannya agak sedikit mendingan, ia pun keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaian kerja.
Setelah merasa cukup rapi, ia keluar dari ruangan kamar dan menghampiri asistennya yang duduk diam di ruang makan. "Makanlah! Aku sama sekali tidak berselera."
"Saya sudah sarapan, Tuan. Ini untuk Anda dari tuan Adelardo yang menyuruh saya untuk mengawasi Anda dan memastikan makan agar kuat melawan tuan Nick. Sebenarnya tadi pagi nyonya Aeleasha menghubungi saya dan menanyakan tentang kejadian semalam karena ingin mengetahui perkara sebenarnya."
"Jadi, tadi saya menceritakan semuanya, tapi nyonya sama sekali tidak berkomentar dan malah langsung menutup panggilan," ucap asisten yang kali ini tidak ingin menyembunyikan sesuatu yang ia ketahui.
Jantung Arsenio seketika berdegup sangat kencang. Perkataan dari asistennya yang mengatakan bahwa sang istri sama sekali tidak berkomentar apa-apa, membuatnya berpikir sang istri marah padanya.
Untuk sesaat Arsenio terdiam dan terlihat sangat bimbang
'Semuanya sangat berat untukku, tapi aku takut. Antara takut melepaskan dan takut menahan istriku di sampingku. Aku takut jika tetap mempertahankannya di sampingku, maka akan berkali-kali menyakitinya lagi.'
"Namun, aku pun juga takut jika benar-benar menceraikannya, hidupku akan berakhir di neraka. Aku masih sangat mencintai istriku, tapi sama sekali tidak berdaya. Aku takut dia tidak akan pernah memaafkanku."
"Kalau menurut saya, lebih baik Anda membicarakan tentang masalah ini baik-baik," sahut sang asisten menasihati.
Arsenio hanya menelaah perkataan dari orang kepercayaannya tersebut dan menimbang-nimbang keputusan yang akan diambil.
'Seumur hidupku, dua kali ini aku merasakan ketakutan yang amat sangat, yang pertama saat aku kehilangan orang tuaku dan sekarang saat mengambil keputusan ini,' lirih Arsenio dengan wajah penuh kebingungan sekaligus keraguan.
__ADS_1
Arsenio benar-benar bimbang untuk melepaskan Aeleasha karena merupakan putri dari wanita yang telah menabrak orang tuanya dan kabur tanpa pertanggungjawaban.
To be continued...