
Alesha mengamati dari kejauhan, lantas mengerutkan dahinya melihat reaksi resepsionis itu yang tampak terkejut.
Hingga tak lama kemudian wanita itu menghampirinya.
"Nona, mari ikut saya ke ruangan CEO," ajaknya dengan wajah berseri penuh senyuman karena beberapa saat lalu mendapat kemurkaan dari bos karena tidak langsung menyuruh wanita itu masuk.
Alesha bangkit berdiri, lantas mengikuti resepsionis itu di belakang. Ia melewati ruang kerja beberapa staf yang hanya terhalang oleh kaca tebal yang transparan. Beberapa saat ia merasa kalau orang-orang di sana menatapnya.
Hingga akhirnya beberapa saat kemudian ia tiba di depan ruangan Rafael. "Silakan masuk, Nona." Resepsionis itu mempersilakan sambil membungkuk hormat.
Sementara itu, refleks Alesha masuk dengan langkah kikuknya.
Sedangkan resepsionis itu kembali setelah mengantar kekasih atasan perusahaan. Ketika sampai ruang kerja pegawai lain, ia sudah dihadang oleh satu dua orang yang berada di sana.
"Laura, siapa wanita tadi?" tanya salah satunya.
"Kelihatannya dia baru pertama kali ke sini," tambah yang satunya lagi.
Resepsionis yang dipanggil Laura itu kemudian tersenyum penuh kemenangan seakan baru saja mendapatkan ikan besar.
"Kalian harus dengar berita eksklusif ini," ucapnya dengan intonasi yang dibuat lebih lantang. Sengaja memancing para pegawai lain untuk ikut mendengarkan.
Setelah puas dengan reaksi para staf yang sekarang sedang menatapnya, Laura menarik napas kuat-kuat kemudian mengatakan inti sarinya.
"Wanita tadi itu … adalah kekasih presdir Rafael."
Seketika, seisi kantor dipenuhi dengan decakan kagum dan riuh bisik yang kian ramai.
***
Sementara itu, Alesha memasuki ruangan kerja Rafael. Aroma maskulin langsung menyambutnya kala ia memasuki teritorial itu.
Ruangan itu terlihat bersih dan rapi. Detail furnitur, bingkai-bingkai yang terpasang di dinding, berikut benda yang menghiasi rak tinggi di ruangan ini tampak mengkilap. Terlihat sekali bagaimana ruangan ini begitu terawat.
"Silakan duduk."
Suara bariton itu membuat Alesha mengalihkan pandangannya.
Rafael mempersilahkan Alesha duduk di kursi yang tepat berada di hadapannya.
"Kita langsung ke intinya saja." Rafael membuka suara.
__ADS_1
Rafael kemudian menyodorkan selembar kertas ke hadapan Alesha.
Membuat wanita itu mengernyit heran. Alesha pun perlahan mengambil kertas itu, lantas membacanya dari kata demi kata tanpa terlewat satu pun.
Tentu saja, dengan pupil yang melebar sempurna.
Ia sontak menatap Rafael dengan mulutnya yang membulat.
"Apa ini?" tanyanya terkejut.
Rafael tersenyum ringan. "Apa yang kamu lihat?"
"Perjanjian … pernikahan kontrak?" tanya Alesha ragu-ragu.
Dalam surat itu berisi perjanjian pernikahan kontrak berikut dengan rincian utang yang Alesha minta, serta bulir-bulir lain yang ditambahkan secara terperinci.
Kontrak pernikahan itu akan berjalan selama satu tahun. Di bawahnya, sudah tertera materai yang butuh dibubuhi tanda tangan persetujuan.
Rafael mengangguk. "Bagaimana?"
Alesha masih tidak percaya. Ia kira Rafael akan memberinya pinjaman uang secara cuma-cuma.
Rafael masih tersenyum kecil lantas mencondongkan tubuhnya ke depan. "Nona, uang yang kamu minta itu sangat besar? Kamu tahu itu, kan?"
"Ya, benar." Alesha mengiyakan. Sedetik kemudian ia menyangkal. "Ralat, aku bukannya meminta, tapi meminjam."
Rafael kemudian menegakkan tubuhnya. "Aku telah membuat surat perjanjian ini semalaman. Tentu saja dengan penawaran yang sangat menguntungkan dirimu."
"Kamu bisa bebas memintaku memberikan uang itu secara cuma-cuma atau mengembalikan uang itu tanpa bunga. Coba saja kamu meminjam uang di bank atau instansi lain, apakah bisa menjamin sanggup membayarnya?"
Ucapan Rafael membuat Alesha melengos. Ada benarnya juga. Itulah mengapa ia tak sampai berpikir untuk meminjam uang di bank karena tidak yakin bisa membayar dengan bunga-bunganya. Namun, tetap saja, ini masih mengganjal dalam akal sehatnya.
"Namun, mengapa kamu dapat semudah itu mengajak orang yang baru dikenal kemarin sore untuk menikah? Ini benar-benar tidak masuk akal. Aku beritahu, meski tanpa surat perjanjian ini pun, tidak akan kabur dari tanggung jawab untuk membayar utangku."
Alesha menegakkan tubuhnya, menatap Rafael lurus dengan alis bertaut.
"Tenanglah, Nona. Ini bukan pernikahan sungguhan karena yang perlu dilakukan hanyalah pura-pura." Rafael kini menegaskan.
Alesha mengibaskan rambutnya ke belakang tiba-tiba saja merasa gerah, sebab energinya keluar banyak menghadapi situasi yang begitu ajaib.
"Lalu kenapa harus aku? Maksudku, kemarin kamu bertemu dengan teman-temanku juga, kan? Kenapa memutuskan untuk menjebakku?"
__ADS_1
Rafael terkekeh mendengar pertanyaan konyol itu. "Aku pun tidak tahu. Mungkin, entah kenapa timing-nya sangat tepat dan kau terlihat sangat membutuhkan uang."
Alesha mengernyit kesal. Memangnya wajahnya kelihatan sekali kalau sedang membutuhkan uang, ya? Namun, mau bagaimana pun itu memang benar. Alesha tidak bisa menyangkal.
"Aku perlu berpikir sebentar," ucap Alesha kemudian.
Mau dipikir bagaimana pun, Rafael adalah orang yang baru ia kenal kemarin. Alesha memang terbiasa bergaul dengan para sugar daddy, tapi hanya sebatas itu, besoknya ia pasti akan melupakan orang-orang itu.
Berbeda dengan kali ini, ia kira Rafael akan berakhir sama dan hanya tahu nama karena terikat utang saja. Namun, tidak disangka orang itu malah membuat persyaratan pernikahan kontrak.
Pernikahan kontrak, pernikahan pura-pura, atau apapun itu namanya, tetap saja membuat mereka terikat pada dasarnya. Terlebih lagi Alesha baru mengenal Rafael kemarin sore, iya tidak bisa mempercayai pria itu sepenuhnya.
"Aku tahu kamu akan ragu." Rafael bersuara, membuat Alesha membuyarkan lamunannya.
"Maka dari itu, aku sudah menyiapkannya dengan sangat matang. Aku telah mengundang saksi untuk perjanjian ini. Kamu bisa yakin dengan jaminannya karena dia adalah seorang pengacara dari instansi terpercaya."
Willy kini menatap Alesha lurus, mencoba meyakinkannya dengan tatapan seriusnya. "Dengan begitu, kamu bisa menuntutku jika sampai berbuat macam-macam."
Alesha tampak berpikir sejenak.
"Setelah kamu menandatangani surat perjanjian ini, baru bisa mendapatkan uangnya." Rafael menambahkan.
Benar, yang terpenting bagi Alesha adalah uangnya. Ia memainkan buku jarinya sembari berpikir. Mungkin, dengan terpaksa ia harus melakukannya.
"Di mana pengacara itu?" tanya Alesha dengan konotasi mantap.
Rafael melihat arloji di pergelangan tangannya. "Harusnya sekarang sudah sampai."
Ia lantas membuka teleponnya. Menekan panggilan untuk nomor Rudy. Panggilan itu langsung diangkat. Namun, suara panik yang diterima oleh Rafael.
"Jangan berisik, aku harus mengurus sesuatu di kantor polisi." Pria itu menjawab panggilan Rafael dengan nada sedikit berbisik.
Belum sempat Rafael bertanya, pria itu sudah langsung menutup teleponnya.
Alesha tidak tahu apa yang berada di balik percakapan telepon itu. Namun, melihat wajah Rafael yang tidak enak dengan mengerutkan dahi, membuatnya mengerti bahwa ada sesuatu yang terjadi.
"Aku akan menunggu."
Pada akhirnya Zaara memutuskan karena berpikir tidak ada jalan lain.
To be continued...
__ADS_1