I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Tidak berdaya


__ADS_3

Sampai saat ini, Arsenio dan Aeleasha masih berada di Jakarta. Mereka sengaja menunggu hingga pernikahan Rafael dilaksanakan agar bisa melancarkan rencana yang sudah diatur keduanya.


Aeleasha benar-benar menahan sang suami agar tidak segera kembali demi kebahagiaan mantan suaminya itu. Ia tidak ingin Rafael mengulang masa lalu yang membuatnya sakit dan menutup diri.


Meski pernikahan mereka dilakukan karena sebuah kontrak, Arsenio dan Aeleasha tidak akan membiarkan pernikahan itu sekadar permainan belaka.


Siang ini, Arsenio mengajak Rafael untuk makan siang bersama dan menyuruh mengajak kekasihnya yang memiliki nama sama dengan sang istri.


Meski awalnya menolak, Arsenio akhirnya berhasil membuat Rafael datang bersama wanita itu di sebuah restoran yang sudah dipesan secara khusus.


Dalam satu ruangan dan berisikan empat orang, Alesha tampak canggung dengan keberadaan dua orang yang berarti untuk Rafael. Demi menghormati keduanya, ia terpaksa mengikuti keinginan Rafael untuk datang.


“Seperti ini, kita terlihat seperti kencan ganda. Benar, kan Sayang?” ucap Aeleasha yang tersenyum pada sang suami.


“Sudahlah, kalian membuatnya canggung. Dia tidak begitu pandai berinteraksi dengan orang,” sahut Rafael yang merasa sukai mantan istri sangat berlebihan.


“Kami sudah bertemu di rumah sakit. Aku rasa tidak ada rasa canggung lagi. Anggap saja kita ini seperti saudara. Bagaimanapun, aku menganggap Rafael seperti saudara sendiri." Aeleasha menjawab perkataan Rafael dengan menahan rasa dongkol di dalam hati.


"Rafael sangat pandai melindungi seseorang, contohnya saja saat ini. Dia tidak ingin kamu merasa risi dengan kami.”


“Baiklah, waktunya makan siang. Aku harap kalian menikmati hidangan yang sudah kami pesankan khusus.” Arsenio kini berusaha untuk menguraikan suasana penuh ketegangan yang terjadi di antara mereka.


“Kapan tanggal pernikahan akan dilaksanakan? Kami sudah berencana akan tetap di sini hingga kalian melaksanakan pernikahan,” tanya Arsenio sambil mengunyah makanan.


Rafael baru saja menyuapkan makanan ke dalam mulut dan mengendikkan bahu. "Entahlah. Ibu Alesha masih dalam perawatan dokter."


“Tidak masalah, aku akan mengirim dokter ahli agar ibumu segera pulih dan kalian bisa melaksanakan pernikahan itu secepatnya. Bukankah lebih cepat lebih baik?” ujar Aeleasha pada Rafael.


“Sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat ini. Lagipula aku masih harus kuliah dan menyelesaikannya?” sahut Alesha mencoba sebisa mungkin untuk menunda pernikahan karena saat ini hal yang dipikirkan adalah Alex.


"Kamu bisa tetap kuliah meski sudah menikah dengan Rafael. Bukankah seperti itu?”


“Ya, kuliah bukanlah sekolah SMA yang perlu kelulusan untuk menikah.” Rafael menjawab singkat dengan perasaan berkecamuk sekaligus kesal pada apa yang dilakukan oleh Aeleasha saat ini seperti tengah mendorongnya untuk segera menikah.


Sontak ucapan Rafael membuat Arsenio dan sang istri tersenyum kecil.


Sementara Alesha hanya terdiam dan merasa sangat kebingungan harus menanggapi seperti apa.


“Permisi, aku ke toilet dulu,” pamit Alesha pada semua orang di sana.


Di toilet, ia tampak bingung. Di sisi lain ada Alex yang masih menunggunya. Bahkan perasaannya lebih cenderung memilih Alex jika bisa dilakukannya.


Hanya saja ia masih terikat dengan kontrak pernikahan yang sudah ditandatanganinya.

__ADS_1


“Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini?” gumam Alesha yang merasakan sangat kebingungan untuk memilih.


Tampak dari belakang, Aeleasha menyusul dan berdiri di sana untuk menenangkan Alesha.


“Alesha, kamu tidak perlu khawatir. Meski kamu tidak mencintai Rafael, setidaknya sudah berusaha untuk menolongnya menghindari perjodohan. Aku tahu perasaanmu karena dulu pernah merasakannya."


"Di mana aku hanya menganggapnya sebagai saudara laki-laki. Ini semua karena Rafael terlalu baik. Jika sekarang dia mendapatkan wanita yang sama seperti sebelumnya, mungkin itu sudah menjadi takdirnya. Dia tidak bisa memiliki wanita seperti keinginannya.”


Mendengar ucapan Aeleasha, membuat Alesha merasa bersalah.


Rafael selama ini sangat perhatian dengan kondisi ibunya yang saat ini sedang berada di rumah sakit.


“Baiklah, aku harap kamu bisa mengambil hikmah dari semua ini. Aku harap setidaknya buat Rafael senang, meski hanya sekali saja.”


Tidak menjawab, setelah kepergian Aeleasha, kini rasa bersalah dan menyesal muncul pada dirinya. Alesha termenung untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali bergabung dengan mereka di ruangan yang sama.


“Makan siang hari ini sangat menarik. Aku senang bisa melihat kalian datang. Apa perlu kita makan siang bersama lagi kapan-kapan?” tanya Aeleasha yang melirik sekilas ke arah Alesha saat baru saja mendaratkan tubuh di kursi.


“Aku sangat sibuk dan Alesha juga demikian. Sepertinya tidak bisa," jawab Rafael yang kini merasa tersiksa melihat raut kebahagiaan mantan istri.


"Sayang sekali." Aeleasha menampilkan wajah masam atas jawaban dari Rafael, tetapi tidak bisa melakukan apapun.


Mereka pun melanjutkan makan dan setengah jam kemudian selesai. Rafael kembali mengantarkan Alesha ke rumah sakit.


Pertemuan itu membuat Alesha terkejut hingga tidak bisa berkata-kata apapun lagi.


Alex berjalan menyapa mereka dengan ramah. Bahkan pria itu tidak menunjukkan rasa cemburunya, meski Rafael melakukan beberapa gerakan intim.


“Sayang, kita harus segera ke kamar ibumu. Bukankah kamu ingin segera melihatnya?” tanya Rafael dengan mengeratkan pelukannya.


“Iya.” Alesha menjawab dengan lirih dan berkali-kali menelan saliva dengan kasar.


Langkah keduanya kembali menuju kamar pasien. Alesha benar-benar merasa sangat cemas setelah pertemuannya kali ini.


Dalam hatinya, Alex pasti akan membalas apa yang baru saja dilihat saat mereka bertemu di kampus.


“Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan Alex?” tanya Rafael memastikan dan menatap curiga.


“Tidak, aku hanya merasa canggung dan bingung dengan mantan istrimu tadi.”


“Aeleasha? Ada apa dengannya?”


“Dia … terlalu terbuka.”

__ADS_1


“Ya, seperti itulah dia. Selalu terlihat seperti matahari yang mencerahkan keadaan sekitar.”


“Dan fakta lain, kamu tidak bisa melupakannya, bukan?”


“Sudahlah, kita tidak seharusnya membahas Aeleasha di sini.” Rafael kini sudah tiba di ruangan perawatan ibu Alesha dan menemani di sana.


Setelah dua jam berada di sana, kini Alesha memutuskan untuk kembali ke rumah. Ada tugas yang tertinggal dan berniat untuk mengambil pakaian ganti.


Rafael dengan senang hati mengantarkan Alesha untuk mengambil barang-barang di rumah.


“Kamu tidak perlu menunggu. Sepertinya aku akan tidur di rumah malam ini,” ujar Alesha memberitahu.


Rafael hanya mengangguk mengerti dan berpikir jika wanita itu lelah, sehingga ingin beristirahat.


Sementara itu, Alesha kini seorang diri di rumah itu. Perasaannya berkecamuk dan tidak menentu. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal, entah apa itu?


Selesai dengan persiapannya esok, ia hampir saja berbaring jika tidak mendengar suara pintu rumah yang diketuk.


Ia melihat ke arah jam dinding dan langsung berjalan ke depan untuk membuka pintu. Kini, ia membulatkan kedua mata begitu melihat seseorang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.


Ia melihat Alex berdiri di sana dengan menatapnya tajam.


“Alex? Bagaimana bisa kamu ada di sini?”


Alex mendorong tubuh Alesha untuk masuk. Pria itu kini memeluk dengan erat, seakan ingin menghilangkan bekas sentuhan Rafael tadi saat melihat di rumah sakit.


“Ada apa? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Alesha sekali lagi.


“Kamu masih bertanya? Untuk apa aku ada di sini. Tentu saja untuk bertemu denganmu. Seharian ini kamu seperti hantu yang tidak bisa aku cari. Ke mana saja?” sarkas Alex dengan wajah memerah karena dikuasai oleh rasa cemburu yang dari tadi ditahan.


“Aku memenuhi undangan makan siang, lalu … tunggu! Untuk apa aku menjelaskannya padamu?” Alesha bahkan memijat pelipis karena merasa sangat bodoh.


“Karena aku adalah seseorang yang selalu ada di pikiranmu.”


“Kamu terlalu percaya diri. Sudah malam, pulanglah! Aku membutuhkan waktu untuk beristirahat.”


“Aku akan berada di sini hingga kamu terlelap.”


“Tidak, Alex! Aku mohon, pergilah! Aku tidak ingin Rafael melihatmu di sini.”


“Rafael? Aku sudah memastikannya. Pria itu tidak akan datang kemari. Dia sudah kembali ke rumahnya.”


Alesha tidak bisa berkata apapun lagi. Kini, ia seperti seseorang yang tidak berdaya karena Alex tidak mau pergi meskipun sudah diusir olehnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2