I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Katakan sekali lagi


__ADS_3

Rafael yang baru saja mengirimkan pesan pada sang ibu, kini kembali mendengar suara dari mertuanya yang terlihat bangkit berdiri dari ranjang perawatan dan membuatnya merasa khawatir.


"Kamu jaga Alesha dulu sebentar karena Ibu mau ke toilet sebentar." Lia Nuraini yang sebenarnya merasa sangat tidak tega pada wajah babak belur menantunya, ingin sekali menyuruh dokter untuk memeriksa dan merawat.


Namun, ia sengaja memberikan pelajaran pada menantunya yang telah membuat putrinya bersedih karena harus menderita saat hamil tanpa perhatian seorang suami karena mendapatkan talak.


Ia memang hanya bersandiwara untuk pergi ke toilet karena ingin membiarkan putri dan menantunya tersebut berbicara empat mata untuk membahas masalah kehamilan yang ditutupi dan baru diketahui hari ini.


"Ibu bahkan masih belum pulih, kan? Apa pakai kursi roda saja dan diantar perawat?" Rafael bahkan saat ini berbicara sambil melirik ke arah Alesha yang dari tadi memilih untuk mengunci rapat bibirnya.


'Alesha membuatku seperti benda mati karena tidak peduli saat di hadapan ibunya,' gumam Rafael yang saat ini memilih untuk membiarkan wanita yang tengah memejamkan mata itu berbuat sesuka hati.


Ia berpikir akan berbicara setelah mertuanya pergi karena menganggap Itu adalah sebuah kesempatan langka untuk bisa membahas mengenai hal yang tadi diungkapkan oleh Alesha pada Alex.


Sementara itu, Lia Nuraini kini menepuk bahu lebar Rafael saat berlalu pergi dan melihat sekilas pada putrinya yang masih memejamkan mata.


Ia tidak menyalahkan sikap dingin putrinya pada Rafael karena berpikir bahwa semua itu merupakan ungkapan perasaan yang telah disakiti.


'Kamu pasti sangat menderita, putriku. Maafkan Ibu, Alesha. Karena semua hal yang terjadi padamu disebabkan oleh ibu. Ibu akan menunggu di luar untuk berbicara pada mertuamu mengenai nasib rumah tanggamu.'


Lia Nuraini yang saat ini berjalan menuju ke arah meja perawat, bertanya mengenai toilet dan ia pun berpura-pura ke sana, tapi kemudian keluar menuju ke arah parkiran. Ia yakin akan bertemu dengan besannya di parkiran, jadi membiarkan putri dan menantunya itu berbicara lebih lama.


Sementara itu di ruangan IGD, tadi perawat mengatakan agar lukanya segera diobati, tapi ia meminta waktu dengan alasan ingin berbicara pada sang istri.


Kini, Rafael mengambil kursi dan duduk di sebelah ranjang perawatan wanita yang masih memejamkan mata dari tadi. "Alesha, aku kamu saat ini masih belum tidur."


"Tidakkah kamu berpikir bahwa kita perlu berbicara untuk membahas mengenai masalah yang tadi belum selesai? Katakan padaku mengenai hal yang membuatku tidak mengerti karena aku bukanlah Tuhan yang bisa melihat segalanya."

__ADS_1


Rafael masih menunggu kelopak mata dengan bulu lentik tersebut terbuka dan menatap ke arahnya agar memberikan jawaban atas pertanyaan yang membuatnya merasa penasaran.


Namun, ia merasa bahwa Alesha saat ini tengah menguji kesabarannya karena masih betah mengunci bibir dan juga mata. "Alesha, aku tidak punya waktu lama karena tidak mungkin kamu mau berbicara setelah ada ibu dan juga mama."


Sebenarnya ia ingin membandingkan dirinya dengan Alex, yaitu mengatakan bahwa Alesha lebih mudah berbicara dengan pria itu daripada dirinya. Bahkan tanpa merasa ragu menjelaskan, padanya sangat sulit dan membuatnya seperti seorang pengemis.


"Maafkan aku, Alesha karena sama sekali tidak tahu jika sudah membuatmu hamil. Apakah itu terjadi saat malam pengantin? Apakah aku melakukannya malam itu saat dikuasai oleh minuman beralkohol?"


Rafael dari tadi berpikir mengenai kapan ia melakukan sesuatu hal yang bahkan tidak diingatnya. Hingga ia pun bisa mengingat pada hari pernikahan saat berada di hotel. Bahwa di pagi hari, ia bangun dalam keadaan tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya.


Jadi, sangat yakin jika terjadi pada saat itu. Namun, ia butuh jawaban ia dari bibir yang dari tadi mengatup rapat itu. "Maafkan aku karena menjadi seorang pria tidak berguna untukmu dan calon anak kita."


Rafael sudah kehabisan kata-kata dan mengatakan hal yang diyakini bisa membuat kelopak mata yang tertutup rapat itu segera terbuka. Hingga beberapa detik kemudian melihat Alesha membuka mata yang dipikirkan.


Alesha yang tadinya sama sekali tidak ingin menjelaskan apapun pada Rafael karena masih merasa sangat marah, seketika merasa terharu pada kalimat terakhir pria yang saat ini berada di hadapannya dengan wajah babak belur.


Kini, ia mengarahkan tatapan tajam pada Rafael dan berbicara sangat sinis. "Ya, kau melakukan itu saat mabuk dan bangun tanpa mengingat apapun yang kamu lakukan padaku. Hingga berakhir ada nyawa di sini!"


"Apa kau puas? Tenang saja, aku tidak akan menuntut apapun darimu. Kau bisa mengurus perceraian setelah aku melahirkan dan aku tidak akan pernah menuntut apapun darimu. Jadi, kau masih bisa memberikan perhatian pada mantan istrimu itu "


"Setelah aku melahirkan, kau pun bisa menikahinya." Kemudian Alesha memandikan wajah dan tidak ingin terlihat lemah karena berurai air mata saat mengatakan itu.


Alesha bahkan saat ini membenci diri sendiri karena tidak bisa menutupi perasaan cintanya pada pria yang Bahkan sama sekali tidak pernah mencintainya walau sedikitpun.


Karena hanya mencintai mantan istri yang juga dalam keadaan hamil seperti dirinya. Hal itu benar-benar membuatnya merasa sangat miris dan kali ini berpikir tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan Rafael setelah mengungkapkan cintanya pada Alex.


'Sial! Kenapa tadi aku mengakui semuanya? Aku benar-benar tidak bisa lagi berpikir jernih saat melihat Alex mengarahkan pukulan bertubi-tubi pada wajah Rafael. Bahkan saat ini lukanya sudah membiru dan harus segera dirawat, tapi tidak mau karena ingin berbicara denganku.'

__ADS_1


Jika Alesha tengah merasa miris pada nasibnya karena berpikir mencintai pria yang sama sekali tidak mungkin membalas perasaannya, sedangkan hal berbeda kini dirasakan oleh Rafael.


Ia saat ini terdiam membisu karena sedang meresapi semua perkataan dari wanita yang saat ini memalingkan wajah darinya. Semua kata-kata Alesha pada Alex memang sangat mengejutkannya.


Namun, Alesha kembali seperti biasa saat berbicara padanya dan membahas mengenai mantan istrinya. Padahal saat ini ia terluka karena mengetahui bahwa mantan istrinya berniat untuk kembali pada Arsenio.


Namun, seolah perasaannya yang terluka seketika sembuh begitu menyadari sesuatu. Kini, ia bisa membaca ada rasa cemburu dari Alesha. Bahkan ia saat ini menyadari jika kemurkaannya yang ditunjukkan pada Alesha karena merasakan hal yang sama.


"Alesha, tidakkah kamu menyadari sesuatu? Kamu selalu marah padaku karena merasa cemburu. Bahkan aku pun selalu marah padamu dengan menyalahkanmu karena berpikir kamu dekat dengan Alex. Apakah kamu tidak bisa melihat jika aku merasa cemburu?"


Rafael bahkan tidak mengalihkan perhatian walau sedetik pun dari sosok wanita yang masih memalingkan wajah darinya.


Sementara itu, Alesha saat ini mengerjakan mata karena merasa perkataan Rafael yang baru saja didengarnya bagaikan anak panah menancap tepat di hatinya.


Bahkan degup jantungnya saat ini berdetak kencang melebihi batas normal karena mendengar Rafael baru saja mengungkapkan memiliki perasaan yang sama padanya karena cemburu.


Ia akan menelan saliva dengan kasar untuk menormalkan perasaannya yang tidak menentu akibat pengakuan pria yang membuatnya tidak percaya sekaligus kebingungan.


Ingin sekali Alesha segera memastikannya dengan menatap netra pekat Rafael untuk mencari kejujuran di sana. Namun, tiba-tiba ia merasa tidak punya nyali untuk memalingkan wajah agar bisa melihat Rafael.


'*Apa yang harus kulakukan sekarang? Benarkah yang dikatakan oleh Rafael tadi bahwa ia merasa cemburu pada Alex? Bukankah cemburu merupakan tanda cinta?'


'Tidak mungkin! Mana mungkin Rafael mencintaiku*,' gumam Alesha yang merasa sangat terkejut dengan sentuhan lembut di telapak tangannya.


"Alesha, tatap aku dan katakan sekali lagi bahwa kamu mencintaiku."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2