
Tidak bisa dipungkiri ada rasa kecewa tentang pertemuan yang gagal antara Aeleasha dengan kekasih Rafael–mantan suami sirinya.
Aeleasha bermaksud untuk mengenal lebih dekat dengan wanita yang berhasil menarik Rafael untuk kembali menjalin hubungan.
Tepat setelah pertemuannya dengan ibu Rafael. Malam hari, Arsenio mengundang Rafael untuk datang ke tempat mereka. Sengaja ingin mengorek lebih dalam tentang hubungan Rafael dengan wanitanya.
Keduanya menyiapkan beberapa rencana hingga membuat Rafael tidak bisa berkutik dibuatnya.
Rafael baru saja datang. Ia masuk dengan kondisi lelah, tetapi berhasil menyembunyikannya demi pertemuan itu.
“Selamat datang. Masuklah!” ajak Arsenio sembari berjalan mengiringi Rafael.
Kini, mereka duduk dengan santai di ruang tamu.
Beberapa saat kemudian Aeleasha tampak hadir dengan membawa minuman dan camilan untuk mereka di sana. Suasana terasa hangat dan seperti berada dengan keluarga sendiri.
“Kamu pasti lelah. Minum dulu,” tawar Aeleasha sembari menuangkan minuman untuk Rafael.
“Terima kasih. Ada apa? Kenapa kalian mengundangku malam-malam seperti ini?” tanya Rafael yang langsung pada topik karena jujur saja sangat tidak nyaman situasi seperti ini.
“Kami merasa kecewa karena kamu tidak ada di sana saat makan malam. Apalagi mama sudah menyiapkan semua sejak beberapa hari lalu, ungkapnya pada kami."
"Kamu memiliki alasan yang kuat untuk bersama kekasihmu itu. Jadi, bagaimana dengan hubungan kalian? Kapan kalian akan melaksanakan pernikahan?” tanya Arsenio ingin tahu.
Wajah Rafael tampak ragu. Terlihat jelas jika ada sesuatu yang disembunyikannya dari Arsenio dan Aeleasha.
Hingga akhirnya, Aeleasha tidak tahan dengan kebisuan di antara mereka. Wanita itu segera menerka apa yang terjadi di antara Rafael dan kekasihnya saat ini.
"Pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan? Apa itu? Jelaskan pada kami apa yang kalian sembunyikan. Mengapa kamu sangat menghindari pertemuan antara aku dan kekasihmu?” cercah Aeleasha yang tidak tahan dengan sikap Rafael selalu menolak.
“Sayang, tenanglah. Aku tidak ingin kamu marah dan malah membuatmu kesal. Berikan Rafael ruang untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.”
Rafael mengangkat wajahnya dan menatap kedua pasangan itu. Ia pun mulai menceritakan tentang ksiahnya saat bertemu dengan Alesha.
Aeleasha sama sekali tidak pernah menyangka dan tidak bisa berkutik dengan penjelasan yang diberikan Rafael saat ini. Ia terduduk dengan lemas dan merasa kecewa saat pria itu memilih jujur dengan hubungan mereka saat ini.
Meskipun ia sudah mengetahui semuanya dan berpura-pura tidak tahu, tetapi masih kesal. Seolah Rafael yang jujur itu karena ingin membuatnya kembali dibebani rasa bersalah.
“Jadi, kalian hanya terikat dengan sebuah kontrak?” tanya Aeleasha yang berakting sangat terkejut seolah baru pertama kali mengetahui.
Sementara Arsenio hanya bisa tersenyum smirk melihat tingkah sang istri yang seperti seorang pelakon atau artis terkenal.
“Seperti yang sudah aku jelaskan. Aku melakukannya karena tidak tahan dengan omelan mama, sedangkan wanita itu membutuhkan biaya untuk pengobatan ibunya. Hubungan kami seperti simbiosis mutualisme karena sama-sama saling membutuhkan."
Rafael mengembuskan napas kasar karena harus menahan rasa malu ketika berbicara jujur pada mantan istri. Apalagi sangat risi dan terluka ketika melihat Aeleasha terlihat sangat bersemangat membahas kekasih palsunya.
“Meski begitu, aku yakin akan ada cinta di antara kalian. Kejar wanita itu!” Aeleasha masih mencoba untuk membuat Rafael berusaha untuk membuka hati.
“Terima kasih atas nasehatmu. Aku menghargai perhatian kalian padaku. Apakah hanya ini saja yang ingin kalian tanyakan padaku? Jika sudah, aku harus kembali ke rumah.” Rafael kini bangkit berdiri dari tempat duduk karena sangat tidak nyaman berhadapan dengan pasangan suami istri tersebut.
__ADS_1
“Rafael, apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu ini?” tanya Aeleasha sekali lagi untuk memastikan.
“Ya. Maaf jika kalian kecewa dengan semua ini," jawab Rafael tanpa keraguan atau pun berpikir terlebih dahulu.
“Yang terpenting, kalian tetap menikah, bukan?” Arsenio menguraikan suasana tidak nyaman di antara mereka.
“Ya, kami memang tetap akan menikah dengan surat perjanjian." Rafael berdiri dari tempatnya dan berpamitan.
Langkahnya dengan pasti menuju pintu keluar. Rafael benar-benar pergi dengan perasaan yang kacau.
Bagaimana bisa ia menceritakan aib itu pada kedua pasangan yang selalu membuatnya merasa sangat iri.
“Bodoh!"
"Kamu ini sangat bodoh, Rafael! Dengan seperti ini, tidak akan membuat Aeleasha kembali padamu, bodoh!” Rafael memaki dirinya sendiri.
Setengah jam kemudian, Rafael tiba di rumah dan segera masuk ke kamar tanpa menemui ibunya. Ia tidak ingin diberondong pertanyaan lagi seperti sebelumnya.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan menatap langit-langit kamat. Cukup lama ia tidak bisa tertidur karena tengah mengalami beban berat di pundak.
Hingga beberapa jam kemudian, lalu terlelap begitu saja yang menandakan rasa lelah dari pikiran dan juga fisik.
***
Keesokan paginya, Rafael kembali ke kantor. Sebelumnya, ia mengantarkan Alesha ke kampus terlebih dahulu karena ada kelas pagi.
Sampai di kantor, kembali bertemu dengan Arsenio.
***
Di sisi lain, Alesha baru saja memasuki area kampus. Langkahnya sedikit ragu karena tidak ingin bertemu dengan Alex dan kembali menjawab pertanyaan darinya.
Sial untuk Alesha, niat hati menghindar, tetapi Tuhan justru mempertemukan mereka tepat di lorong kampus yang menuju ruang kerja mantan sugar daddy-nya tersebut.
Pria itu berjalan di depan Alesha dengan tersenyum berkata. “Masuk ke ruanganku!”
Tidak ingin berdebat lebih lama, Alesha mengekor dan masuk ke ruangan itu. Dengan cepat Alex mengunci ruangannya dan memeluk Alesha erat.
“Alex, lepaskan!” ucap Alesha memberontak.
“Aku suka kamu memanggil namaku. Kamu tahu jika kita sedang berdua saja saat ini.”
“Tetap saja, ini lingkungan kampus.”
“Lalu? Ini ruanganku, terserah aku.”
Alesha sungguh tidak ingin berdebat dengan Alex. Ia bahkan merasa nyaman mendapatkan pelukan itu.
"Hentikan, Alex!" ucap Alesha yang mencoba untuk melepaskan pelukan. “Alex, aku memiliki calon suami. Kamu tidak bisa seperti ini padaku. Sejak awal, aku sudah menjelaskannya padamu, bukan?”
__ADS_1
“Ya, masih calon. Belum tentu kalian menikah. Aku akan menggagalkannya.” Alex bahkan merasa heran kenapa bisa bersikap segila ini.
“Alex!” Alesha mengarahkan tatapan tajam ketika berbicara dengan nada mengintimidasi.
“Ada apa?”
“Jangan membuat kacau hidupku. Hubungan kita tidak akan berhasil. Aku sungguh memohon padamu, sebaiknya kamu mencari
wanita lain!”
“Kamu yakin ingin aku melakukannya? Apa kamu yakin hatimu tidak akan tersakiti?” Alex masih merasa tidak yakin dengan perkataan dari sosok wanita yang telah menjungkirbalikkan perasaannya.
Sementara itu, Alesha sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakan karena benar-benar bingung saat ini.
Hingga beberapa menit berlalu dan sudah saatnya jam kuliah dimulai. Alesha memohon pada Alex untuk melepaskannya dan membiarkan wanita itu mengikuti kelas hari ini.
“Aku harus pergi."
“Baiklah. Setelah mata kuliah selesai, aku menunggumu di area parkir. Masuk ke mobilku.”
“Terserah!" Alesha berjalan keluar dan mengikuti kegiatan kuliah hari ini dengan baik.
Namun, setelah semua itu selesai. Alex benar-benar menunggunya di area parkir. Hanya saja, sebelum sampai di sana, sebuah telpon dari rumah sakit membuatnya segera pergi tanpa berkata apapun pada pria di mobil yang ada di parkiran.
Alesha memanggil taksi untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Perasaannya sungguh tidak tenang jika menyangkut ibunya.
Ia benar-benar dirundung perasaan tidak tenang selama kondisi ibunya belum membaik.
Sampai di rumah sakit, Alesha berlari menuju kamar pasien. Namun, saat pintu terbuka tubuhnya mematung dengan kehadiran sosok wanita yang kini duduk di samping brankar ibunya.
“Siapa Anda?”
“Kamu pasti Alesha, kan?”
“Iya.”
“Perkenalkan, aku Aeleasha Charlotte." Mengulurkan tangannya pada sosok wanita yang menjadi harapan besar untuknya membantu Rafael melupakannya.
“Aeleasha?” Alesha kini bisa melihat jika sosok wanita yang berdiri di hadapannya adalah mantan istri Rafael yang ternyata memiliki paras cantik dan elegan.
“Iya, nama kita sama. Aku tidak tahu ini sebuah kebetulan atau tidak, tetapi sepertinya Rafael memang sengaja melakukannya, bukan?"
Alesha hanya terdiam, rasanya ada yang mengganjal di hatinya saat ini. Lalu pandangannya mengedar mencari keberadaan pria yang disebutkan wanita itu.
Namun, sayangnya tidak ada siapa pun di sana selain dirinya dan wanita itu.
“Bisa kita berbicara? Tidak enak jika mengobrol di sini. Kita ke kantin rumah sakit saja, bagaimana? Oh ya, kamu tenang saja. Ibumu baik-baik saja. Tadi dokter sudah memeriksanya dengan baik.”
Mendengar penjelasan mantan istri Rafael tersebut, membuatnya tenang. Mereka memutuskan untuk berjalan bersama ke kantin dan sama-sama terdiam saat melangkah.
__ADS_1
To be continued...