I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Kenakalan sang suami


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Arsenio menghubungi Rafael...


Arsenio baru saja selesai menyuapi Aeleasha dan meletakkan piring pada nakas yang ada di sebelah kiri ranjang.


Beberapa saat yang lalu, setelah menidurkan Arza di kamar sebelah karena ia terbiasa melakukan itu, sehingga putranya selalu menginginkan ditidurkan olehnya


Aeleasha merasa sangat lapar karena dari tadi belum makan. Itu karena ia tidak akan makan malam tanpa sang suami.


Hari ini Arsenio pulang malam karena lembur, membuat ia banyak mengeluarkan tenaga ekstra dan menguras pikiran.


Awalnya, sosok wanita yang belum beranjak dari atas ranjang tersebut sama sekali tidak mau jika makan disuapi. Ia berpikir disuapi akan terlihat seperti anak kecil jika seperti itu. Namun, berubah pikiran begitu diancam oleh sang suami.


Hingga Arsenio merasa sangat senang saat berhasil membuat sang istri patuh padanya. Tentu saja ia tidak berhenti tersenyum saat menyuapi wanita dengan bibir mengerucut tersebut.


Melihat ekspresi wajah Aeleasha malah membuat Arsenio merasa sangat gemas dan semakin bersemangat untuk menggoda.


Arsenio yang baru saja menyerahkan air minum, kini berniat untuk menggoda saat istrinya masih terus menampilkan wajah masam seolah sedang kesal padanya. Bahkan ia sedang menahan diri, agar tidak sampai mencium bibir mengerucut yang membuat otaknya selalu traveling karena itu adalah candunya.


"Minumlah dulu dan jangan sampai tersedak seperti yang sering terjadi, Sayang. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa seperti tadi saat kesulitan bernapas. Seharusnya tadi aku memberimu napas buatan, tetapi tidak berpikir ke arah sana."


Ya, tadi Aeleasha haus dan tersedak minuman, sehingga digoda oleh sang suami.


Merasa mendapat nasib baik karena belum meneguk minuman, ia hanya menatap tajam sosok pria dengan tatapan nakal yang seolah ingin memangsanya tersebut karena jika itu terjadi, ucapan Arsenio akan menjadi kenyataan.


"Sudahlah, jangan membahasnya. Aku bisa tersedak seperti perkataanmu."


Ia merebut gelas dari jemari dengan buku-buku kuat tersebut dan mulai meneguk minuman dengan hati-hati karena tidak ingin apa yang dikatakan oleh pria dengan senyuman menyeringai tersebut terjadi.


Tidak ingin membuat sang istri tersedak, kini Arsenio hanya diam saja karena menatap intens semua pergerakan wanita dengan paras cantik tersebut.


Sebenarnya ia saat ini ingin memuaskan diri untuk menghabiskan waktu bersama Aeleasha dengan penuh kebahagiaan. Hal itu karena sang istri sudah memutuskan untuk hamil lagi dan ia sangat bersemangat untuk menebar benih di rahim wanita itu.


Seolah ia kali ini bisa melihat bahwa Aeleasha benar-benar sudah tidak sabar memiliki anak perempuan. Ia pun menerima gelas yang dikembalikan dan meminum air putih bekas wanita cantik tersebut karena tidak menghabiskan minuman.


"Minum dari bekas bibir wanita yang dicintai ternyata sangat nikmat. Jika dulu aku tidak pernah mau makanan dan minumanku disentuh oleh orang lain, kali ini aku malah menikmati bekasmu." Menaruh gelas pada meja.

__ADS_1


Sementara itu, Aeleasha yang sebenarnya merasa hatinya sedang berbunga-bunga, kini hanya berakting datar. Meskipun jauh di lubuk hati, ia merasa sangat bahagia karena merasa seperti seorang wanita yang paling beruntung karena dicintai seorang.


'Dia memang sangat pintar membuat seorang wanita lemah. Pesonanya telah meluluhlantakkan duniaku saat ini. Rasanya ingin sekali aku memeluk tubuh kekar penuh cetakan otot perut itu, tetapi tidak mungkin melakukan itu karena malu.'


'Jika sampai aku ketahuan tergila-gila padanya, yang ada malah aku akan dihabisi di atas ranjang setiap hari.'


Puas beragumen sendiri di dalam hati, mengungkapkan rasa gemas yang dirasakan dengan memberikan sebuah hukuman. Ia yang mempunyai niat jahat di otaknya, kini mengarahkan cubitan di lengan kekar itu.


Arsenio kini meringis menahan rasa nyeri. Sebenarnya, ia ingin sekali berteriak, tetapi tidak mungkin melakukannya karena akan dianggap sebagai pria lemah. Pada akhirnya, ia hanya membalas perbuatan sang istri dengan mengarahkan tangan pada pipi putih itu.


Tentu saja untuk membalas cubitan itu dengan melakukan hal yang sama, hingga membuat Aeleasha kali ini meringis kesakitan dan berteriak. Ia pun terbebas dari cubitan.


"Astaga, lepaskan tanganmu, Sayang!" ujar Aeleasha yang kali ini merasa sangat kesal pada jemari dengan buku-buku kuat itu mencubit gemas pipinya, sehingga berusaha untuk melepaskan diri.


Sementara Arsenio hanya terkekeh geli menanggapi wajah kesal wanitanya. "Sakit, kan? Makanya jangan coba-coba untuk mencubit lagi karena jika kamu melakukannya, aku tidak segan-segan untuk menghukummu. Atau kamu mau kuhukum dengan yang lainnya?"


Tatapan menyeringai kini ditunjukkan oleh Arsenio saat ini dan berhasil membuat sosok wanita yang ada di hadapannya refleks menggelengkan kepala, seolah ketakutan.


"Jika lain kali kamu mencubitku, aku tidak akan membiarkanmu lepas, Sayang. Ingat itu baik-baik, oke!"


Ada sesuatu yang saat ini terpikirkan di otak Arsenio saat ini. Setelah ia melihat bahwa bekas cubitan tersebut harus dibalas dengan hal yang serupa. Ia kini menatap pada tangannya yang memerah.


"Ini ... harus dibalas dengan hal yang serupa, Honey. Kamu sudah meninggalkan bekas pada tanganku, jadi harus merasakan hal yang sama. Perbuatanmu yang telah melakukan ini padaku, juga harus mendapatkan balasan yang setimpal."


"Sekarang kamu harus pilih salah satu hukumanmu. Apakah mau aku mencubitmu dan meninggalkan bekas seperti ini? Atau memberikan kiss mark sebagai ungkapan cinta? Atau sebuah gigitan penuh kenikmatan?"


Saat Aeleasha sama sekali tidak pernah menyangka akan mendengar Arsenio menyebutkan hukuman, kini wajahnya sudah memerah karena diliputi kecemasan. Apalagi ia saat ini tengah menelan kasar saliva dan tak lupa kulitnya seketika meremang mendengar kalimat terakhir.


Membayangkan bibir tebal sang suami mengisap kuat tubuhnya, tentu saja membuat ia bergidik ngeri, sehingga memilih untuk digigit saja karena yakin jika sang suami tidak akan menggigit kuat tangannya.


Tanpa membuang waktu, Aeleasha kini mengarahkan tangannya ke depan. "Nah, gigit saja tanganku sekarang. Seharusnya kamu sadar, mengenai apa alasanku tadi, kenapa sampai melakukan hal itu padamu."


Sebenarnya Aeleasha saat ini sangat takut akan digigit oleh Arsenio, hingga meninggalkan bekas di tangan karena ia pun bisa mengerti bahwa itu sakit rasanya.


'Sial! Apa suamiku benar-benar akan menggigit tanganku?' lirihnya di dalam hati dengan perasaan berkecamuk yang membuncah.

__ADS_1


Berbeda dengan apa yang saat ini tengah dipikirkan Arsenio. Jawaban itu makin membuatnya ingin menggoda wanita dengan wajah pucat tersebut. Kali ini, ia memilih untuk menyingkirkan tangan itu karena sama sekali tidak tertarik untuk menggigit pada bagian itu.


"Aku yang berhak menentukan mau menggigit di mana. Bukan kamu yang menentukan karena di mana-mana, cuma hakim yang berhak untuk mengeluarkan hukuman, bukan penjahatnya."


Beberapa kali Aeleasha mengerjapkan mata karena menangkap ada bahaya mengancam begitu bibir tebal yang selalu menciumnya tersebut seperti sedang mengeluarkan sebuah vonis hukuman.


"Astaga, kamu pikir aku adalah seorang penjahat? Kamu yang penjahat karena menghukum istri sendiri."


Puas mengungkapkan nada protes yang dirasakan, kini Aeleasha masih mengarahkan tatapan tajam pada Arsenio. Sosok pria yang terlihat sangat tenang dan menatap dengan tersenyum smirk, seolah ingin memangsanya hidup-hidup.


Sementara Arsenio yang saat ini sudah mengincar salah satu bagian tubuh sang istri, memilih untuk mendekatkan wajah dan berbisik di dekat daun telinga wanita dengan raut wajah memerah tersebut.


"Kamu benar, Honey. Aku memang penjahat dan kamu kali ini telah terjebak di sini. Jadi, tidak bisa ke mana-mana dan menolak apa yang saat ini kuinginkan. Kamu yang memilih hukuman digigit, jadi aku akan menggigitmu."


Awalnya, bisikan Arsenio di dekat daun telinga, membuat bulu kuduk Aeleasha meremang seketika. Apalagi suara nakal sang suami benar-benar membangkitkan rasa tidak nyaman dan ketakutan. Refleks ia menarik diri dengan mundur ke belakang untuk menghindar.


"Tunggu! Memangnya kamu mau menggigit di bagian mana? Gigit saja di sini!" Aeleasha menunjuk ke arah tangannya. Meskipun ia saat ini sangat berharap Arsenio mengurungkan niat untuk menghukum.


"Aku sama sekali tidak tertarik dengan tanganmu," ucap Arsenio yang kini sudah mengarahkan tangan untuk mencengkeram kuat lengan kiri Aeleasha agar tidak berkutik saat berada dalam kuasanya.


Sebenarnya ia dari tadi mengincar leher jenjang nan putih itu dan berniat mengisap dan memberikan jejak kepemilikan di sana. Namun, ia yang merasa sangat kecewa saat lebih memilih digigit, menandakan bahwa wanita itu lebih menyukai rasa sakit dari pada kenikmatan dan menghina harga dirinya.


'Kamu terlalu pandai menahan kendali diri, Honey. Aku akan membuktikan padamu, mampu membuatmu menunjukkan bahwa kau sangat memujaku,' gumam Arsenio yang kini tidak membuang waktu untuk memberikan sebuah kenikmatan dengan cara mengisap leher jenjang nan putih Aeleasha.


Aeleasha tidak bisa lagi berkutik saat tangan kekar Arsenio menahan tubuhnya dan belum sempat ia menormalkan degup jantung yang berdebar kencang, lagi-lagi ia harus merasakan bulu kuduknya meremang dan urat syaraf menegang saat kenyerian sekaligus kenikmatan meledak menjadi satu.


Isapan sangat kuat dari bibir Arsenio, kali ini benar-benar membuat Aeleasha mencengkeram ranjang dan memejamkan kedua mata.


Tak lupa suara ******* dan pergerakannya saat melengkung, seolah semakin mendekatkan diri pada pria yang belum berhenti mengirimkan denyut kenikmatan luar biasa pada tubuhnya.


Respon tubuh dan otaknya yang saling berlawanan, seolah berhasil membangkitkan rasa membuncah menyeruak dalam jiwa.


'Aku selalu kalah karena terbuai dan lemah pada suamiku,' gumam Aeleasha yang masih memejamkan mata saat merasakan urat syaraf menegang akibat kenakalan sang suami.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2