
"Iya, aku sangat puas, Sayang. Sekarang aku baru sadar jika sebenarnya Alex hanya sedang menjaga jodohku karena Alesha Indira adalah jodoh dari Rafael Zafran," sahut Rafael yang kini tengah mencium lembut bibir sensual sang istri yang telah membuatnya candu.
Sementara itu, Alesha hanya terkekeh geli mendengarnya dan kali ini ia merasa lega karena sang suami sudah menyadari bahwa kecemburuan yang baru saja ditunjukkan tidak akan membuat mereka bertengkar.
Apalagi cemburu yang ditunjukkan oleh Rafael merupakan tanda cinta untuknya, sehingga merasa sangat bahagia saat mempunyai seorang suami yang teramat mencintainya.
Kini, Alesha sudah membalas ciuman lembut dari sang suami dan sama sekali tidak ada nafsu di sana karena hanya berlangsung beberapa detik. Ia ingat sesuatu yang sempat terpikirkan olehnya.
"Sayang, bukankah kamu dulu pernah bilang ingin bertemu dengan Alex? Kapan?" Alesha berniat untuk ikut karena ia yang merasa bersalah pada Alex, ingin berterima kasih pada pria itu karena membuatnya bisa bersatu dengan Rafael.
"Aku ingin ikut menemui Alex jika nanti kamu menemuinya. Jadi, nanti katakan padaku, ya." Alesha berpikir bahwa sang suami tidak akan merasa cemburu jika ia ikut.
Namun, itu tidak seperti yang ia pikirkan karena kini kembali mendapatkan tatapan tajam dari pria yang sudah beranjak duduk di sebelahnya.
"Tidak! Kamu tidak boleh ikut! Biar aku saja yang bertemu dengan Alex untuk mengucapkan terima kasih karena telah merelakan rasa cintanya padamu saat kita bersatu." Rafael sebenarnya sudah sering menghubungi Alex dengan mengirimkan pesan serta menelpon.
__ADS_1
Namun, ia sama sekali tidak mendapatkan balasan apapun atas pesan dan juga telpon darinya tidak diangkat. Jadi, ia tahu seperti apa perasaan Alex setelah kehilangan Alesha.
Seolah Alex memutuskan hubungan dengannya dan tidak ingin bertemu ataupun mengangkat telpon darinya. Namun, ia tetap merasa berhutang budi pada Alex dan ingin mengucapkan terima kasih karena tidak mempersulit dirinya bersatu dengan Alesha.
Rafael bisa melihat wajah masam dari sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut. Akhirnya ia memilih menjelaskan agar sang istri mengerti apa yang ada di pikirannya saat ini bukanlah semata karena kecemburuan.
"Sayang, aku tidak mengizinkannya ikut karena khawatir jika Alex susah move on darimu. Apalagi aku pernah berada di posisi Alex dan bagaimana susahnya bangkit dari keterpurukan saat tidak bisa memiliki wanita yang dicintai telah bahagia dengan pilihan hatinya."
Rafael tidak menceritakan bahwa Alex memutuskan hubungan dengannya dengan tidak mengangkat telpon ataupun membalas pesannya karena khawatir jika sang istri merasa bersalah pada pria itu.
Alesha saat ini masih tidak membuka suara untuk berkomentar. Ia sebenarnya ingin menanggapinya, tapi berpikir hanya akan menambah masalah di antara mereka jika berdebat mengenai pria yang pernah dicintainya.
Ia tahu bahwa masa lalu bisa menjadi bumerang pada rumah tangga yang telah terjalin. Alesha berpikir bahwa apapun yang dikatakan oleh sang suami adalah demi kebaikan rumah tangganya.
Jadi, saat ini memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu dan menerima keputusan sang suami karena melanggar itu adalah jalan yang terbaik bagi rumah tangga mereka.
__ADS_1
"Baiklah. Tidak perlu menjelaskan apapun karena aku sudah paham." Alesha berniat untuk turun dari ranjang karena ini pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Namun, tubuhnya ditahan oleh tangan kekar sang suami yang saat ini seolah tidak mengizinkannya pergi.
"Aku belum selesai berbicara, Sayang. Jadi, jangan pergi dulu atau kabur dariku. Lagipula, kamu tidak akan pernah bisa mengerti perasaan seorang pria ketika melihat wanita yang pernah diimpikan menjadi istri, bahagia bersama dengan pria lain."
Rafael tidak menyebutkan jika ia mencintai Aealeasha karena khawatir jika sang istri akan cemburu dan murka padanya. Jadi, memilih untuk cari aman.
"Begitu juga dengan perasaan Alex saat ini, butuh waktu untuk menenangkan diri dari luka yang dirasakan karena kamu telah menjadi milikku seutuhnya."
Kemudian Rafael mengusap perut datar sang istri. "Apalagi di sini sudah ada buah cinta kita. Pasti akan semakin membuat luka menganga di hati Alex. Jadi, aku akan memberikan waktu untuknya menenangkan diri lebih lama."
"Setelah aku merasa sudah cukup untuk memberinya waktu menenangkan diri, baru akan menemuinya. Apa sekarang kamu paham apa yang kumaksud, Sayang?" Rafael kini tersenyum simpul begitu melihat Alesha sudah menganggukkan kepala.
Menandakan bahwa wanita itu benar-benar bisa mengerti pemikirannya serta perasaan Alex. "Mungkin wanita bisa bersikap biasa pada mantan, tapi berbeda dengan pria karena itu sangat sulit dilakukan."
__ADS_1
To be continued...