I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Panggilan tidak terjawab


__ADS_3

Pria dengan tubuh tinggi tegap itu mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan yang telah menggelap. Jalan raya tidak bisa dibilang normal sekarang.


Lalu lalang kendaraan sepulang kerja yang ramai membuatnya harus berkali-kali fokus dan waspada bila saja tahu-tahu ada kendaraan lain yang menyalip mobilnya.


Baru sampai di gerbang perumahannya, Rafael akhirnya bisa mengembuskan napas dengan tenang. Ia melewati satu persatu blok perumahannya yang berjejer rumah-rumah yang tiap petaknya cukup besar dengan desain elegan.


Hingga akhirnya ia sampai di blok nomor sepuluh, di mana rumahnya berada. Tampak gerbang besi itu perlahan terbuka semakin dekat mobil Rafael menuju, lalu tampak sebuah rumah berdinding putih gading dihiasi ornamen-ornamen berwarna abu-abu di sana.


Tidak terlihat begitu mewah, tetapi memberikan kesan nyaman ditambah dengan keberadaan pohon-pohon rambat dan pot-pot tanaman hias yang memberikan keasrian.


Kemudian Rafael memarkirkan mobilnya di basement.


Ia lantas melangkahkan kaki menuju pintu rumahnya.


Seperti biasa, ibunya sudah menunggunya di ruang tengah sambil menonton televisi setelah menyiapkan menu makan malam yang sudah dihidangkan dengan sempurna di meja makan mereka.


Rafael terlebih dahulu memasuki kamar. Kemudian ia berendam untuk menyegarkan tubuhnya serta pikirannya yang seharian kacau.


Ia sengaja berendam lama di dalam bathtub karena merasa bahwa ibunya akan membicarakan hal tentang pernikahan atau pencarian calon istri itu lagi.


Bukannya Rafael merasa sudah kalah, tetapi ia hanya ingin beristirahat sejenak saja sebelum kembali bersiap berperang dengan keadaan.


Pria itu berendam hingga ujung-ujung ruas jarinya keriput. Akhirnya, Rafael memutuskan untuk keluar karena tidak ingin juga membiarkan ibunya terlalu lama menunggu.


Sampai di meja makan, ibunya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sepertinya harimu berakhir dengan baik."


Rafael sontak menatap ibunya. Ia seketika mengingat bagaimana tadi telah menemukan seorang wanita yang ia cari-cari di penghujung hari. Ia lantas tersenyum kecil.


"Nak, sebenarnya Aeleasha— mantan istrimu itu wanita yang sangat baik. Kamu tahu ibu juga sangat menyukainya dan menyayangi seperti putri kandung sendiri."


Di tengah-tengah dentingan sendok yang beradu dengan piring, serta nasi dan lauk yang kian raib dilahap habis sang empunya, satu dua kalimat terucap beriringan dengan sebuah nama yang membuat jantung Rafael kembali berdesir.


"Asal kamu tahu. Setelah kepergiannya dari rumah kita, Mama selalu merasa kesepian dan rindu sosok menantu, sekaligus anak perempuan," lanjut wanita itu dengan pandangan mengarah pada satu titik, yaitu putranya yang masih diam membisu, seolah enggan untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Dua tahun yang lalu, Mama ingin sekali menahannya agar tidak pergi. Namun, tidak bisa egois dengan menahannya di sini. Hidupnya adalah miliknya. Dia memiliki kehidupan dan pilihannya sendiri dan kita pun memiliki kehidupan sendiri."


Wanita paruh baya itu melanjutkan dengan pandangan yang sekarang masih tertuju lurus ke arah Rafael.


"Kamu adalah pria yang baik. Kamu selalu memperlakukannya dengan baik, tapi kenapa Aeleasha tidak bisa menetap di sini?"


Itu adalah pertanyaan yang selalu Rafael pertanyakan.


"Jelas sekali karena sedari awal, hati Aeleasha sudah memilih pemiliknya."


Rafael tidak mengerti. Mengapa skenarionya harus seperti itu?


"Karena itu Mama selama ini tidak pernah memaksamu untuk melupakannya, tapi bukan berarti kamu tidak bisa." Wanita itu kini menatap anaknya dengan lembut.


"Mama akan sedih jika melihatmu selalu terpuruk seperti ini terus. Meski ibu tidak bisa memaksamu, tapi setidaknya bisa mengingatkanmu untuk mencoba."


Rafael masih terdiam, tidak tahu harus bagaimana menanggapinya.


Menyadari suasana menjadi canggung, Tiana kembali melanjutkan suapannya. Sengaja membenturkan sendok ke piring hingga berbunyi nyaring. Sampai kemudian ia mengingat sesuatu.


Tiana menatap Rafael dengan pandangan meledek, membuat pria itu menghela napas dengan kasar.


"Ma, tolong jangan mengingatkan kejadian buruk itu. Apalagi sampai mengulangi kejadian itu lagi." Rafael merengek dengan wajah memelas penuh permohonan.


Tiana tersenyum kecil. "Namun, ada sesuatu lain yang Mama dengar."


"Apa?" Rafael memicingkan mata karena merasa sangat penasaran.


"Gosip dalam rumah tanggamu, ternyata sudah jadi rahasia umum, ya?" Raut Tiana kini kembali berubah serius.


"Ah ... Mama seharusnya tidak usah didengarkan. Itu hanya asumsi mereka saja. Pasti banyak asumsi-asumsi aneh lainnya." Rafael menyahut seadanya, sudah terlalu bosan mendengar pembahasan tentang hal itu dari mulut Rudy.


"Rafael, Mama benar-benar tidak mengerti cara berpikirmu. Itu jelas-jelas masalah serius yang menyangkut nama baikmu. Ah, bukan hanya nama baikmu saja di sini, tapi gosip itu membawa nama Arsen dan Aeleasha, juga, bukan?" Tiana membuang napasnya sambil mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Itulah sebabnya, Mama berencana akan mengenalkan kamu dengan para anak gadis dari teman. Kamu harus benar-benar mencobanya, Rafael." Wanita itu melanjutkan dengan wajah khawatir.


"Itu benar-benar tidak perlu, Ma. Mama tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha sendiri dan membawa calon istri itu kepadamu."


Rafael menolak dengan tegas. Perjodohan? Jelas adalah sesuatu yang akan sangat merepotkan karena ini bukan hanya tentang ia dan seorang wanita lagi, tapi juga mengaitkan hubungan dua keluarga yang akan menjadi lebih rumit nantinya.


"Apa kamu bersungguh-sungguh? Bagus kalau kamu menganggap ucapan ibu serius."


Rafael mengangguk pasti. Meski tidak tahu bagaimana akhirnya nanti.


Setelah perdebatan panjang itu, Rafael memilih untuk memasuki kamarnya. Ia mengarahkan kedua tangan pada meja kerjanya. Memejamkan mata sesaat.


Ia berpikir apakah akan mampu menghadapi ibunya besok. Takut-takut sesuatu yang mendahului langkahnya dapat terjadi, terlebih ia tak cukup percaya diri bahwa persiapan rencananya sudah benar-benar matang.


Rafael tiba-tiba mengingat wanita yang baru saja ia temui di Mall tadi. Untuk sesaat ia begitu senang dan lega karena tiba-tiba saja menemukan wanita yang setidaknya memenuhi kriterianya serta persediaan bekerja sama dengannya.


Namun, ia kembali bertanya-tanya apakah wanita itu akan bersedia jika tahu Rafael berencana menjadikannya istri kontraknya nanti.


Sedang hening-heningnya ruangan kala Rafael berpikir dengan tenang, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya.


Rafael segera mengambil ponsel yang berada di atas nakasnya. Ketika ia membukanya, banyak sekali notifikasi di sana. Namun, ada satu yang membuatnya mengernyitkan dahi.


21 missed call


Nomornya tidak dikenal.


Rafael pada akhirnya membiarkan dan menghapus semua notifikasi itu lantas mengecek email-nya karena pasti ada satu dua urusan pekerjaan di sana.


Beberapa lama berkutat dengan pekerjaannya, ia tiba-tiba teringat dengan wanita yang tadi sore ia berikan kartu namanya.


Panggilan tidak terjawab itu mungkin darinya.


Rafael bergegas melihat riwayat panggilan itu dan kembali meneleponnya. Satu panggilan, lalu dua panggilan yang dilakukannya tak terjawab. Lelaki itu sedikit kesal. Apakah mungkin wanita itu membalas dendam?

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2