I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Mengidam


__ADS_3

"Aku sedang berusaha untuk mengendalikan semuanya agar tidak terlihat bodoh di depan kalian. Tapi kalian pasti sudah tahu bahwa semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan, bukan?"


"Jadi, tolong mengerti dan sekali lagi jangan sering mengingatkanku seolah adalah pria bodoh yang tidak berpengalaman dalam hal cinta. Aku pernah berada di posisi ini ketika istriku meninggal. Hingga aku bertemu dengan Alesha dan jatuh cinta, tapi akhirnya berakhir seperti ini."


Alex bahkan beberapa minggu terakhir ini sering menghabiskan waktu untuk sibuk bekerja, membuat sang ibu khawatir dan sempat mengatakan ingin menjodohkannya dengan putri rekan bisnis.


Namun, ia sangat marah dan menolak mentah-mentah karena masih belum bisa membuka hati pada wanita lain saat dulu menyerahkan hatinya hanya untuk Alesha dan merasa percaya diri akan bisa memiliki wanita yang dengan mudah berpaling darinya.


Bahkan ia bisa melihat raut wajah penuh penyesalan yang ditunjukkan oleh pasangan suami istri di hadapannya. "Kalian tidak perlu merasa bersalah padaku karena sepertinya memang ini sudah menjadi takdirku."


"Aku akan fokus mengurus perusahaan terlebih dahulu daripada memikirkan wanita yang mungkin akan kembali meninggalkan luka tak berdarah yang tidak mudah untuk disembuhkan." Sengaja Alex mengungkapkan sesuatu yang dirasakan bagaikan sebuah batu berat di pundaknya.


Berharap Alesha tidak memaksanya untuk segera mencari wanita lain dan melepaskan cintanya karena jika ia bisa mengendalikan hati, tidak mungkin akan terpuruk seperti ini.


Hingga beberapa saat kemudian, Alex menatap ke arah proposal yang berada di tangan Rafael. "Sekarang lebih baik kembali membahas mengenai pekerjaan. Bukankah kamu sudah membacanya? Atau masih perlu dibaca sekali lagi?"


Rafael yang saat ini sudah mendapatkan ultimatum untuk tidak melanjutkan masalah pribadi di kantor, kini kembali menatap ke arah dokumen di tangannya yang sempat ia baca.


"Aku tidak bisa langsung memutuskan karena ingin mempelajarinya lebih dulu. Tadi hanya membaca sekilas. Tentunya kamu tahu bahwa keputusan tidak bisa diambil terburu-buru, bukan?" ucap Rafael yang saat ini melihat Alex menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti maksudnya.


Apalagi ia tahu bahwa Alex sudah lebih dulu terjun di perusahaan dibandingkan dirinya yang dulunya hanyalah seorang karyawan rendahan dan mengalami keajaiban gara-gara kebaikannya pada Aealeasha.


Sementara itu, Alesha yang beberapa saat lalu merasa tertampar dengan perkataan dari Alex, sehingga membuatnya tidak lagi berani membahas mengenai perasaan pria itu yang ditunjukkan padanya.


'Alex kini kembali dingin seperti pertama kali aku bertemu dengannya saat menjadi sugar baby ketika ia patah hati karena ditinggalkan istri yang meninggal karena kecelakaan.'


Alesha bahkan berdoa untuk pria itu agar bisa hidup berbahagia dan menemukan wanita yang tepat serta sangat mencintai Alex melebihi dirinya.


'Semoga Tuhan mengabulkan doa-doaku karena aku tidak akan bisa hidup tenang sebelum melihat Alex menemukan pasangannya. Atau perlukah aku untuk mencarikan jodoh untuknya? Seperti aku yang tanpa sengaja bertemu dengan Rafael dan melakukan pernikahan kontrak?'


Alesha yang saat ini sibuk memikirkan idenya, berniat untuk membicarakannya dengan suami nanti saat Alex pergi dari ruangan. Hingga ia pun melihat saat Alex bangkit berdiri dari sofa dan mengulurkan tangan sebagai salam perpisahan.

__ADS_1


"Baiklah. Aku berharap akan mendapatkan kabar baik darimu dan setuju untuk memberikan suntikan dana di perusahaanku," ujar Alex yang saat ini tidak ingin berlama-lama duduk di sana dan melihat kemesraan dari Alesha dan juga Rafael yang membuatnya cemburu.


Rafael ikut bangkit berdiri dan sang istri pun melakukan hal yang sama. Ia pun menjabat tangan Alex. "Aku akan secepatnya mengabarimu."


"Terima kasih. Kalau begitu, aku akan kembali ke perusahaan karena ada banyak pekerjaan yang menanti." Kemudian Alex melepaskan tangannya dan sekilas menatap ke arah Alesha, tapi tidak ingin berjabat tangan dengan wanita itu.


"Semoga kamu selalu bahagia, Alesha dan jangan khawatirkan aku karena hal seperti ini tidak akan membuat seorang Alex Claire bunuh diri."


Kemudian ia berbalik badan tanpa menunggu tanggapan dari Alesha yang terlihat murung dan ia ketahui bahwa wanita itu tengah dikuasai oleh rasa bersalah padanya.


Paling tidak, ia masih mendapatkan perhatian Alesha dan tidak sepenuhnya hilang dari hati wanita itu. Begitu tangannya membuka kenop pintu, sebelum melangkah keluar, membuka suaranya.


"Aku akan mengundang kalian nanti jika memutuskan untuk menikah lagi." Lalu langsung beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kaki keluar dari pintu tanpa menoleh ke arah belakang lagi.


Hingga ia pun memegangi dadanya saat berjalan menuju ke arah lift. Begitu masuk ke dalam pintu kotak besi tersebut, ia sudah beberapa kali meninju dadanya yang terasa sesak dan seperti susah bernapas.


"Kamu bisa, Alex. Dulu kamu juga merasakan lebih dari ini saat istrimu meninggal, bukan? Jadi, hal seperti ini tidak akan pernah membuatmu terpuruk lebih dalam dari masa lalu."


Bahkan ia merasa degup jantungnya berdetak sangat kencang melebihi batas normal karena menahan segala rasa yang membuncah dan berkumpul menjadi satu di sana.


"Alex bukanlah pria lemah. Alex adalah seorang pria yang tidak akan pernah jatuh ke dalam lubang sama untuk kedua kali." Mengarahkan tangannya untuk meninju udara di sekitarnya demi bisa menenangkan perasaannya saat pikirannya selalu terbayang wajah cantik Alesha.


"Alesha, aku sangat mencintaimu," lirih Alex yang kini melihat pintu kotak besi di hadapannya terbuka dan langsung berjalan menuju ke arah loby.


Hingga beberapa saat kemudian tiba di parkiran dan masuk ke dalam mobil, lalu langsung mengemudikannya meninggalkan area perusahaan pria yang telah merebut wanita pujaan hati.


Sementara itu di lantai paling teratas bangunan gedung tinggi menjulang tersebut, terlihat pasangan suami istri yang saat ini berdiri di dekat dinding kaca raksasa dan menatap ke arah bawah.


Seolah keduanya tengah melihat mobil keluar dari area perusahaan yang tak lain adalah milik Alex yang baru saja pergi.


Alesha saat ini bisa merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya merupakan sebuah bentuk ungkapan cinta dari sang suami yang selalu ingin berdekatan dengannya.

__ADS_1


Kini, ia menoleh ke arah pria dengan rahang tegas dan pahatan sempurna tersebut. "Sayang, apa kamu tidak punya kenalan rekan bisnis wanita cantik dan pastinya berhati baik sepertiku."


Kemudian ia seketika tertawa karena merasa perkataannya sangat konyol karena memuji diri sendiri. Hingga ia merasakan nyeri pada pipinya karena dicubit oleh pria yang saat ini malah terbahak seolah menertawakan perkataannya.


Rafael benar-benar gemas pada sang istri yang selalu saja membuatnya tidak bisa berhenti untuk mengagumi dan mencintai.


"Dasar wanita kecentilan! Kamu harusnya sadar sebelum bertanya seperti itu padaku."


"Aku selama ini tidak pernah dekat dengan para wanita karena memang tidak tertarik. Jadi, mana mungkin aku bisa mempunyai kenalan seorang wanita cantik dan berhati baik sepertimu, Sayang."


Bahkan ia yang tadi bisa melihat raut wajah sedih dari Alex, seolah mengingatkannya pada kejadian di rumah sakit saat menceraikan Aealeasha agar bisa bersatu dengan Arsenio.


"Aku seperti melihat diri sendiri saat tadi Alex terlihat murung ketika patah hati karenamu. Aku benar-benar sangat iba, tapi ia pun juga harus menerima kenyataan dan tidak terus terpuruk." Rafael kini menanggapi permohonan sang istri agar tidak ikut campur dengan masalah pribadi Alex.


"Jangan berpikir untuk menjodohkan Alex karena kita tidak tahu apa yang saat ini ada di otaknya. Apalagi ia adalah seorang pria dewasa yang jauh lebih tua dariku dan pastinya pikirannya jauh lebih dewasa dari kita."


Rafael meminta pendapat istri yang saat ini terdiam seolah menimbang-nimbang perkataannya. Kebetulan ia mengingat sesuatu dan langsung mengeluarkan ponsel dari saku jas miliknya.


"Bawakan makanan ke ruanganku karena istriku lapar." Kemudian beralih menatap ke arah sang istri ketika mendengar suara di seberang telpon ingin dibawakan makanan apa.


"Kamu hari ini ingin makan apa, Sayang?"


Alesha yang tadi tengah memikirkan Alex, seketika terlupa dan membuatnya tiba-tiba ingin makan sesuatu yang segar-segar.


"Tiba-tiba aku ingin es teller dan sate kelinci, Sayang." Wajah Alesha sudah berbinar begitu membayangkan makanan-makanan yang ada dipikirannya.


"Apa? Sate kelinci? Astaga, ada-ada saja kamu ini, Sayang. Aku tidak tahu ada di mana penjualnya, tapi karena ini adalah pertama kali kamu mengidam, aku akan menuruti permintaanmu demi anakku."


Rafael langsung mengungkapkan permintaan sang istri pada asisten pribadinya agar mencarikan makanan untuk sang istri yang sedang mengidam makanan tidak biasa dan membuatnya bergidik ngeri membayangkannya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2