I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Membawa ke rumah sakit


__ADS_3

Bahkan ketika bekerja menjadi kasir dengan gaji yang tidak seberapa pun, Alesha selalu mengerahkan seluruh energinya untuk bekerja dengan baik. Hingga suatu hari, bosnya memberikan bonus padanya karena telah membantu meningkatkan angka penjualan.


Alesha yang sangat senang, akhirnya menggunakan sebagian uang itu untuk membeli makanan enak untuk ia makan bersama ibunya ketika pulang. Ia bahkan menceritakan tentang bonus gajinya dengan semangat dan membuat ibunya ikut merasa senang.


Ibu Alesha sendiri bekerja sebagai buruh pabrik. Pekerjaannya dihitung berdasarkan hasil kerjanya, membuat wanita itu seringkali menambah waktu dan kapasitas kerjanya menjadi batas maksimal untuk menghasilkan uang lebih.


Pekerjaan yang cukup berat itu seringkali membuatnya kelelahan, tetapi ibu Alesha selalu menyembunyikan rasa lelahnya di hadapan anaknya.


Namun, pada suatu hari, ada saatnya wanita itu tidak mampu lagi menyembunyikan rasa lelahnya. Saat itu, ia baru pulang kerja. Sore menjelang malam adalah waktu biasanya ia menyiapkan lauk pauk untuk makan malam karena sebentar lagi putrinya akan pulang.


Akan tetapi, karena tubuhnya yang sudah sangat lemah karena kelelahan, wanita paruh baya itu tanpa sengaja menjatuhkan piring berisi tahu yang baru saja digorengnya. Wanita itu ambruk dan jatuh pingsan.


Alesha yang baru saja pulang dan sampai di depan pintu sontak terkejut mendengar suara pecahan piring yang nyaring dari arah dapur. Gadis itu bergegas melihat keadaan ibunya, dan betapa terkejutnya ia melihat ibunya tergeletak pingsan.


Setelah itu, Alesha membawa ibunya ke rumah sakit. Dokter yang memeriksanya mengatakan kalau ibunya menderita penyakit jantung dan ia pingsan karena terlalu kelelahan.


Hari itu adalah hari yang sangat menakutkan bagi Alesha. Untuk pertama kalinya ia takut. Ia takut kehilangan satu-satunya keluarga yang ia punya, yang selalu menemani dan merawatnya tanpa bosan.


Ia takut kehilangan satu-satunya orang yang begitu menyayanginya.


Pada akhirnya, Alesha mendesak ibunya untuk berhenti bekerja setelah keadaannya stabil dan sudah diperbolehkan pulang. Bahkan setelah itu pun ibunya harus memeriksakan diri secara rutin.


Uang yang selama ini Alesha tabung telah habis untuk biaya perawatan rumah sakit. Namun, gadis itu tidak menyerah. Ia bahkan melamar kerja di tempat lain untuk shift malamnya. Gadis itu hanya bisa tidur beberapa jam dalam sehari.


Ia menjalani harinya dengan penuh kerja keras. Di mana pagi sampai sorenya ia bekerja untuk shift siang di minimarket. Sedangkan malamnya ia bekerja dengan mengambil shift malam di sebuah toserba.


Ia tidak peduli dengan jadwalnya yang nyaris tak punya waktu istirahat karena yang ia pikirkan hanya bagaimana menemukan uang untuk biaya pengobatan ibunya.


Ia hanya ingin ibunya dapat berobat dan mendapat perawatan. Ia sungguh takut tak bisa merawat ibunya dengan benar.


Hingga malam itu, Alesha sedang menjadi kasir di toserba seperti hari biasanya. Namun, pikiran Alesha kali ini semakin kalut.


Ia merasakan tubuhnya kian terasa lemas karena terlalu kelelahan. Wajahnya pucat pasi. Keringat dingin bergulir membasahi dahi dan anak rambutnya. Sampai kemudian ia disentakkan oleh suara seorang perempuan.

__ADS_1


"Sebentar, sepertinya setelah berkali-kali melihat, aku tidak salah orang. Anda ini yang tadi siang bekerja di minimarket itu, kan?"


Wanita ini, entah siapa, orang pertama yang peduli pada Alesha yang bekerja pagi dan malam. Ia masih ingat wangi khas parfum wanita di depannya, serta pakaian seksi yang terlihat mahal yang membalut tubuh seksi itu.


"Anda terlihat sangat kelelahan. Nona, sebaiknya Anda cuti dulu hari ini. Wajah Anda benar-benar pucat." Wanita itu menggelengkan wajahnya dengan penuh khawatir.


"Anda bisa pingsan kalau terus-terusan begini."


Alesha hanya tersenyum tipis. "Saya sungguh tidak apa-apa. Saya harus bekerja dengan baik. Anda tidak perlu khawatir."


Wanita itu masih bersikeras menyuruh Alesha istirahat. "Dengarkan saya, Nona."


Ucapannya terpotong. Alesha benar saja oleng karena tubuhnya tak mampu lagi menyangga. Wanita itu dengan segera membantunya duduk dan mengambilkannya minum.


"Kan, sudah saya bilang." Wanita itu merutuk.


"Terima kasih banyak," lirih Alesha.


"Nona, apakah Anda benar-benar sedang membutuhkan uang?"


Alesha menatap wanita itu, lantas mengangguk pelan.


"Aku ingin menawarkan sesuatu. Anda bebas menerimanya atau tidak. Kalau Anda ingin menghasilkan uang lebih banyak, Anda bisa bergabung dengan saya."


Wanita itu lantas membasahi bibirnya singkat, sebelum melanjutkan ucapannya. "Menjadi sugar baby."


Zaara cukup terkejut mendengar tawaran itu.


"Ah, sebelumnya perkenalkan, nama saya Ayla."


Walau akhirnya Alesha benar-benar menerima tawaran itu. Benar. Sejak mengenalnya, hidupnya berubah karena memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang banyak demi bisa merawat sang ibu yang harus sering kontrol di rumah sakit.


***

__ADS_1


Zaara berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Sambil menenteng heels-nya yang ia copot karena pegal, wanita itu bersandar pada dinding sambil pelan-pelan membuka kenop pintu rumahnya.


Ia lantas memasuki kamarnya. Menanggalkan pakaiannya satu per satu untuk membersihkan badannya yang lengket.


Setelah selesai dengan aktivitas kamar mandinya, ia tersenyum merasakan segarnya tubuhnya setelah seharian keluar ke sana ke mari.


Wanita itu memutuskan memakai baju tidur berwarna biru yang baru saja dibelinya bersama Faizah ketika mereka bertemu minggu lalu. Setelah selesai, ia lalu mengeringkan rambutnya di depan cermin sambil bersenandung.


Tiba-tiba saja ia teringat tentang pria kaya yang baru saja ia temui dan memintanya untuk menjadi sugar baby-nya di mall tadi.


Ia kemudian mengambil kartu nama yang disimpan di mejanya saat baru saja sampai rumah. Rasa senang menghampirinya ketika melihat cetakan timbul berlapis warna platina itu. Ia tak percaya bisa mendapatkan pria kaya raya sepertinya.


Rafael Zafran.


Alesha membayangkan seberapa banyak uang yang akan diberikan pria itu padanya nanti. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang tipis kamarnya dan langsung memeluk guling sambil tersenyum. Rasanya cukup melelahkan sekaligus menyenangkan hari ini. Alesha ingin mengistirahatkan diri.


Namun, baru saja kantuk ingin meraupnya, dikejutkan oleh suara benda pecah yang terjatuh. Suaranya terdengar renyah dan berat sekaligus. Ia perkirakan itu adalah pot di ruang tengahnya.


Jantung Alesha tiba-tiba saja berpacu dua kali lipat. Ia merasakan dejavu dengan kejadian satu tahun lalu yang begitu ditakutinya. Tubuhnya gemetar. Namun, wanita itu mencoba segera keluar dari kamarnya untuk memeriksa.


"Ibu?" Ia melirih dengan suara yang terdengar bergetar.


"Ibu?" Sampai di dekat arah saklar lampu ruang tengahnya yang masih gelap, Alesha sungguh berharap ibunya akan menjawabnya dan mengatakan kalau ia tidak sengaja menjatuhkan pot bunga.


Dengan tangan gemetar, Alesha meraih saklar lampu itu dan menekannya. Ia seketika terjatuh dan menutup mulutnya sendiri. Dilihatnya sang ibu tengah tergeletak di lantai yang dingin.


Alesha segera bangkit dengan sisa tenaga yang ia punya. "Ibu! Bangun, Ibu!"


Air mata meluruh tak mampu ia bendung lagi. Wanita itu segera keluar mencari bantuan untuk membawa ibunya ke rumah sakit.


Untunglah, beberapa tetangganya yang masih terbangun membantu mengangkat tubuh lemah tidak berdaya itu ke dalam taksi, sehingga Alesha setidaknya dapat menyelamatkannya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2