
Sebenarnya Alesha ingin sekali mengobati wajah Rafael dengan meminta caranya pada sang perawat agar memberitahunya. Namun, menyadari jika melakukan itu bisa membuatnya muntah, sehingga saat ini hanya menahan diri untuk tidak melakukan apapun.
Saat ini ia tengah duduk sambil melihat raut wajah perawat yang menampilkan wajah masamnya saat berniat pergi. "Maafkan saya, Suster. Oh ya, saya ingin pulang sekarang karena merasa lebih baik."
"Semuanya sudah diurus, nyonya. Mana mungkin Anda pulang saat dokter sudah menjelaskan jika kondisi sedang drop dan harus diinfus agar tidak lemas." Sang perawat benar-benar menahan kesabarannya agar tidak sampai mengumpat untuk meluapkan emosi pada pasien yang sesuka hati dan dua pria pembuat onar tersebut.
Alesha kini terdiam sejenak karena merasa jika apa yang dikatakan oleh perawat itu benar dan ingin menandatangani surat pernyataan seperti ketika masuk ke IGD bersama Alex ketika memaksa pulang.
Namun, tidak bisa melakukannya ketika mendengar suara bariton dari Rafael yang bangkit dari ranjang perawatan. Ia tadinya tidak mengerti kenapa Alesha tiba-tiba berubah pikiran dengan melarang perawat mengobati luka di wajah.
"Kamu harus dirawat di Rumah Sakit karena keadaanmu sangat lemah. Bahkan wajahmu pucat seperti itu, Alesha. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu dan anak kita," ucap Rafael yang seperti merasa aneh ketika mengatakan poin penting anak kita saat sama sekali tidak mengingat kapan melakukannya.
Meskipun ia menebak jika melakukan itu pada Alesha saat mabuk, tetap saja membutuhkan pengakuan. Ia bisa melihat wajah pucat Alesha berubah masam, persis seperti perawat yang kesal karena dipermainkan tadi.
Namun, ia hanya terkekeh geli melihatnya dan beralih menatap ke arah sang perawat yang masih berdiri di tengah-tengah mereka. "Saya menunggu ibu dan mertua, baru akan meminta bantuan untuk memindahkan istri saya yang bandel ini, Suster."
"Saat ada pasien masuk dan tidak ada tempat, maka istri Anda harus segera dipindahkan. Saya beri waktu sepuluh menit, jika ibu dan mertua Anda belum datang, tetap harus segera pindah ke ruangan." Tanpa menunggu tanggapan, sang suster segera beranjak pergi sambil mendorong troli.
Alesha pikir akan mudah seperti yang dilakukan oleh Alex ketika membawanya ke rumah sakit berbeda, hingga ia pun menyadari jika setiap tempat punya peraturan berbeda.
Apalagi tadi tidak langsung bilang tidak ingin opname di Rumah Sakit karena sibuk menghentikan pertikaian antara suami dan mantan pria yang pernah dicintai.
Kini, Alesha melirik sekilas ke arah sosok pria yang tengah menggenggam erat telapak tangan kirinya yang masih diinfus dan kembali merasa deg-degan atas pertanyaan yang ditujukan padanya.
"Maafkan aku, Alesha karena membuatmu menderita dengan kehamilanmu. Alex tadi sudah mengatakannya saat kamu belum sadar." Rafael masih mencoba untuk merendahkan harga dirinya sebagai seorang pria.
__ADS_1
"Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita bisa mulai semuanya dari awal, kan?" Dengan menampilkan wajah memelas, sambil meringis menahan rasa nyeri di wajah, kini Rafael tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari wajah pucat akibat hamil muda itu.
Tentu saja ia sangat tahu bagaimana seorang wanita yang hamil di trimester pertama karena dulu hidup bersama dengan Aealeasha yang sering muntah-muntah dan lemas.
Bahkan ia sangat tidak tega pada Aealeasha dulu dan berusaha untuk selalu ada ketika istri sirinya itu menderita. Namun, sekarang ia baru sadar jika sekarang hanyalah pria bodoh karena tidak tahu ketika istri sah sendiri mengandung benihnya.
Bahwa menantu kesayangan mamanya itu sebentar lagi akan memenuhi harapan untuk memberikan seorang cucu. Kemudian ia kini semakin mendekatkan diri di dekat ranjang dan merapikan anak rambut sosok wanita yang masih enggan untuk membuka mulut.
"Kamu pasti sangat menderita selama ini, Sayang. Aku tahu bagaimana perjuangan seorang wanita yang hamil muda. Maafkan aku karena tidak pernah ada untukmu dan anak kita."
Alesha tadinya berpikir akan terus marah untuk memberikan hukuman pada Rafael demi membalaskan kekesalannya.
Namun, ia tidak kuasa menahan perasaan bergejolak memenuhi jiwanya begitu kalimat terakhir pria yang menatapnya tanpa berkedip itu membuatnya lemah dan seketika luluh.
Hingga bulir bening air mata mulai menganak sungai di wajahnya ketika ia tak kuasa menahannya. Hingga suara tangisannya memenuhi ruangan gawat darurat itu.
Sementara itu, Rafael yang merasa semakin bersalah karena membuat Alesha menangis tersedu-sedu, refleks langsung memeluk erat tubuh yang bergetar karena efek menangis tersedu-sedu.
"Sayang, jangan menangis lagi. Apakah tidak cukup aku meminta maaf padamu? Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak bersedih seperti ini?" Saat Rafael masih memeluk erat tubuh lemah wanita yang ada dalam kuasanya, ia bisa merasakan pukulan bertubi-tubi dari Alesha yang meninju dadanya.
"Kau jahat, Rafael! Kenapa kau selalu perhatian pada Aealeasha, padahal ia tidak mengandung anakmu. Sementara aku yang jelas-jelas hamil benihmu malah kau sia-siakan." Akhirnya kini Alesha meluapkan semua yang selama ini dirasakan.
Bahkan ia tidak memberikan kesempatan pada pria yang berkali-kali dipukulinya itu untuk membuka suara. "Kamu selalu menunjukkan rasa cintamu pada Aealeasha agar aku sadar diri, tidak berarti apapun untukmu, bukan?"
Sementara itu, Rafael yang baru menyadari perasaan sebenarnya pada Alesha, setelah kemurkaan wanita yang masih meninju dada serta lengannya. Memang pukulan Alesha sama sekali tidak terasa apa-apa karena tenaga wanita itu sangat lemah.
__ADS_1
Jadi, membiarkan Alesha berbuat sesuka hati agar meluapkan semua yang dirasakan padanya demi menebus kesalahannya. Meskipun ia sekarang menyadari bahwa Alesha salah dan ingin menenangkan perasaan wanita itu setelah tenang.
Hingga beberapa saat kemudian, ia pun membuka suara saat tangan Alesha jatuh terhempas seolah kehilangan tenaga dan tidak lagi memukulnya seperti tadi.
"Kamu salah, Sayang. Bukankah seperti yang kukatakan tadi, bahwa aku baru menyadari cinta sejati setelah melihatmu mengakui perasaan cintamu padaku saat marah pada Alex."
Rafael bahkan kini menarik diri dan merangkum kedua sisi wajah yang dihiasi bulir bening air mata tersebut. "Aku mencintaimu dan menginginkanmu. Aku sama sekali tidak mengizinkanmu bersama dengan pria manapun, termasuk Alex."
"Bohong!" sarkas Alesha yang mencoba untuk memalingkan wajahnya agar tidak bersitatap dengan iris tajam berkilat milik Rafael.
Ia merasa jantungnya berdetak kencang kala bersitatap dengan iris pekat milik pria yang kini berhasil memporak-porandakan hatinya saat ini. Takut adalah hal yang kini membuat perasaan Alesha dipenuhi keraguan.
"Jangan memalingkan wajahmu!" Rafael makin mengeratkan kuasa pada pipi putih Akesha. "Aku jujur padamu, Sayang. Bahkan aku berani bersumpah atas nama mama. Bukankah kamu bisa melihat kejujuran di mataku?"
Alesha masih takut jika ia akan kembali disakiti oleh sosok pria yang membuatnya jatuh cinta setelah menyerahkan diri sepenuhnya.
"Bukankah selama ini kamu memuja Aealeasha dan sangat mencintainya? Bahkan aku tidak pernah melupakan kata-katamu yang selalu mengatakan sangat mencintainya. Lalu, sekarang kamu menyuruhku untuk mempercaya kata-katamu yang mencintaiku?"
Ada nada kegetiran defensif dari nada bicara Alesha dan Rafael bisa memahaminya, sehingga kini melepaskan kuasa dari wajah yang berubah sembab itu.
Bahkan kini ia mengusap bulir bening air mata yang menghiasi wajah wanita yang kini tengah hamil darah dagingnya. Berharap apa yang ia katakan akan membuat sang istri mempercayai dan memaafkan perbuatannya selama ini.
"Mungkin kamu tidak akan percaya saat aku menjelaskan semuanya melalui kata-kata, tapi aku akan buktikan melalui tindakan." Rafael bisa melihat jika Alesha sedikit lebih tenang dan mendengarkan penjelasannya.
"Aku akan menjadi seorang suami yang baik dan bertanggungjawab. Aku juga akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anak kita. Hingga suatu saat nanti ia akan berkata padaku seperti ini, 'Aku bangga memiliki ayah seperti Rafael Zafran'."
__ADS_1
To be continued...