
Saat ini, Rafael seketika bertepuk tangan karena merasa jika sikap wanita yang berdiri tepat di hadapannya tersebut sangat berani dan sama sekali tidak merasa takut padanya.
Puas bertepuk tangan, Rafael beralih merangkum kedua sisi pipi putih Alesha dan masih mengarahkan tatapan tajam penuh kebencian.
"Baiklah, lakukan apapun yang kau inginkan dan lihat siapa di antara kita yang menang. Apakah aku atau kamu! Sepertinya setelah bertemu dengan kekasihmu itu, mendadak berubah menjadi berani dan juga amnesia. Hingga kau melupakan jika memiliki seorang ibu yang memiliki riwayat penyakit jantung."
Kemudian Rafael melepaskan kuasa dan tertawa penuh seringai. Bahkan tatapannya yang dari tadi tidak beralih, kini bisa melihat ekspresi ketakutan di manik kecoklatan itu.
'Dasar bodoh! Kau tidak akan pernah menang melawanku, Alesha Indira. Sepertinya pria itu yang memberikan kekuatan padamu untuk melawanku, hingga kau melupakan segalanya. Bahwa kau tak lebih dari seekor semut di dekat gajah.'
Puas ungkapan perasaan di dalam hati, saat ini Rafael tidak menunggu respon dari wanita yang terlihat ketakutan tersebut karena bunyi denting lift terbuka terdengar dan ia langsung berbalik badan dan berjalan keluar menuju ke arah lobi rumah sakit.
Sementara itu, Alesha yang saat ini mengingat jika ia hanyalah seorang wanita lemah yang tidak punya apapun untuk dibanggakan, kini melangkahkan kakinya dengan perasaan tidak karuan serta tangan gemetar.
Alesha yang merasa sangat bingung harus melakukan apa begitu mendengar ancaman dari Rafael yang menyadarkannya mempunyai seorang ibu yang bisa kapan saja terkena serangan jantung jika mendengar kabar buruk.
Karena tangannya yang gemetar ketika membayangkan sang ibu berakhir kambuh, Alesha menggigit kuku ibu jari. Kebiasaan dari dulu ketika mengalami masalah, ia selalu melakukan hal itu dan seringkali mendapatkan omelan dari sang ibu.
Namun, hari ini tidak ada yang akan mengomel karena wanita yang sangat disayangi tidak ada di hadapannya. Hanya ada sosok pria dengan bahu lebar yang memakai kemeja berwarna hitam kini menghilang di balik dinding rumah sakit.
'Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Jika benar Rafael mengatakan semuanya pada ibu, aku yakin jika penyakit jantungnya akan kambuh. Bagaimana jika itu terjadi dan ibu meninggal? Apa aku bisa hidup sendiri dengan menanggung dosa besar seperti ini?'
__ADS_1
Alesha akan merasa untuk berjalan saja tidak mempunyai tenaga lagi, sehingga melangkah seperti seekor siput karena sangat lambat sambil masih terus menggigit kuku jari.
Saat ia berpikir jika Rafael akan pergi sendiri meninggalkannya, tetapi berjangkit kaget begitu mendengar suara klakson mobil saat ia baru saja keluar dari lobi.
Alesha tadinya berniat untuk naik kendaraan umum menuju ke rumah keluarga besar Rafael, tetapi begitu melihat mobil berwarna hitam yang berdiri tepat di hadapannya dan beberapa saat kemudian spion terbuka serta mendengar suara bariton dari pria di balik kemudi.
"Cepat masuk! Aku tidak ingin ibumu menuduh aku bukanlah pria bertanggung jawab karena biar kamu pulang sendiri!" Rafael merasa sangat yakin jika Alesha saat ini tengah merasa bingung serta ragu dan akan mengurungkan niat untuk melawannya.
Karena tujuannya menikahi Alesha hanya untuk mengalihkan perjodohan yang dilakukan oleh sang ibu, tapi jika pernikahan berakhir dalam satu hari, pasti wanita yang telah melahirkannya tersebut akan semakin memaksanya untuk kembali menikah dan lebih serius tanpa ada surat perjanjian seperti yang dilakukan bersama Alesha.
Ia tidak ingin itu terjadi dan masih membutuhkan Alesha di sampingnya sebagai tameng untuk tidak dicarikan wanita lain.
'Aku sangat yakin jika kau akan masuk ke dalam mobil dan memohon padaku,' gumam Rafael yang saat ini tengah bergerak untuk membuka pintu mobil tanpa keluar.
Kemudian mobil melaju meninggalkan area rumah sakit dan suasana penuh keheningan tercipta di antara dua orang yang sama-sama memikirkan mengenai nasib dari status pernikahan mereka.
Rafael tidak ingin memulai berbicara karena menunggu Alesha dan memilih untuk fokus mengemudi dengan menatap ke arah jalanan ibukota yang suasananya cukup lenggang karena hari ini bukanlah jam pulang kantor.
'Aku yakin beberapa menit lagi kau akan membuka suara dan memohon padaku untuk mengurungkan niat,' gumam Rafael tiba-tiba mengingat mengenai sesuatu yang membuatnya ingin bertanya.
'Sial, aku lupa menanyakan apa yang dilakukannya semalam padaku. Sepertinya aku harus menunggu sampai Alesha membuka suara.'
__ADS_1
Alesha yang hanya memikirkan mengenai keadaan sang, saat ini tidak bisa lagi menahan diri lebih lama karena harus berbicara dengan Rafael mengenai niat pria itu.
Kemudian ia menoleh ke arah sosok pria yang fokus mengemudi. "Satu bulan. Sebaiknya lakukan semuanya sesuai rencana. Maafkan aku karena hari ini menipumu dan membuatmu malu di depan banyak orang. Aku tadi hanya berencana untuk menjenguk Alex sebentar."
"Karena aku tahu bahwa kau tidak akan mengijinkan jika meminta izin untuk menjenguk Alex. Aku benar-benar sangat khawatir dan takut jika tidak bisa bertemu untuk terakhir kali jika sampai Alex meninggal."
Refleks Alesha memukul mulutnya sendiri karena menyadari bahwa perkataannya sangat buruk.
'Alex, maafkan aku karena berbicara hal buruk tentangmu. Karena takut pada Rafael, sehingga aku berubah bodoh seperti ini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada ibuku. Aku harus merendahkan harga diri di depan Rafael demi keselamatan ibuku.'
Alesha yang kini baru mengentikan tangannya saat memukul beberapa kali bibirnya, berharap bisa segera mendengar suara bariton dari Rafael yang setuju dan mau memaafkannya. Namun, ia hanya bisa meremas kedua sisi pakaian begitu Rafael menghinanya habis-habisan.
Bahkan jauh lebih parah jika dibandingkan dengan pertama kali menghina sebelum pernikahan.
"Ternyata wanita murahan sepertimu masih punya hati nurani pada ibumu sendiri. Aku kira, demi cintamu pada pria itu, akan menyerahkan seluruh hidupmu, juga termasuk nyawa ibumu dan menjadi anak durhaka."
"Sayang sekali. Padahal aku mengira kau akan memborong semua keburukan tanpa menyisakan untuk orang lain. Ternyata otakmu yang tumpul itu masih berguna." Puas mengejek, kini Rafael kembali melanjutkan tanpa melihat wajah wanita di sebelahnya tersebut.
"Sekarang katakan apa rencanamu padaku hingga membuatku tidak memakai apapun semalam? Apakah kau sudah memotretku dan akan menyebarkan di media sosial? Atau kau ingin memerasku dengan menjebak bahwa aku telah menidurimu?"
"Jadi, aku bisa memberikanmu uang banyak dan mengakhiri pernikahan tanpa masalah, sehingga kau bisa cepat kembali bersama Alex? Apakah kalian berdua yang merencanakan semuanya? Dasar sampah!" sarkas Rafael dengan wajah memerah yang kini sudah tidak bisa menahan amarah yang dari tadi ditahan dan ingin dilampiaskan pada wanita yang telah menipunya.
__ADS_1
"Aku tahu jika kau adalah seorang sugar baby, tapi apakah hanya demi bisa segera bersatu dengan dosenmu itu, rela melakukan berbagai macam cara menjijikkan?" Tatapan penuh kilatan amarah terpatri jelas saat ini dan Rafael benar-benar ingin memberikan pelajaran pada Alesha karena berani melawannya.
To be continued...