I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Bermimpi


__ADS_3

Sedangkan di seberang sana, ponsel milik Alesha dalam mode getar. Wanita itu tengah terlelap bersama mimpi-mimpinya, tetapi lama-kelamaan getar di sakunya itu mulai menggugah tidurnya.


Ia sontak terkejut melihat nama Rafael Zafran terpampang nyata di layar ponsel meneleponnya. Ya, tadi ia sudah menyimpan nama pria itu, agar memudahkan saat menghubungi. Tanpa mengulur waktu, wanita itu segera mengangkat teleponnya.


"Halo?"


Suara halus wanita yang menjawab telepon itu membuat Rafael di seberang telepon lantas bertanya. "Apakah kamu wanita yang tadi sore?"


"Benar. Oh, ya, Tuan. Aku Aeleasha Indira. Karena susah lafal namanya, panggil saja Alesha. Daripada bingung untuk memanggilku apa." Alesha menjelaskan.


"Baiklah. Ada perlu apa? Kenapa kamu tidak kunjung mengangkat teleponku setelah baru saja menelepon berkali-kali tadi?" tanya Rafael dengan nada sedikit kesal.


Alesha menggaruk kepalanya. "Ah, maafkan aku karena ketiduran tadi. Ponselku hanya mengaktifkan mode getar."


Willy berdehem mengerti. "Jadi, apa yang mau kamu katakan?"


Alesha secara tidak sadar meremas ujung-ujung bajunya sendiri. Sampai ia kemudian memberanikan diri. "Apakah boleh aku meminjam uang? Sebagai gantinya, aku akan menjadi sugar baby sampai kamu bosan padaku."


Alesha menjawab dengan intonasi percaya diri. Meski ia membutuhkan uang itu untuk operasi ibunya yang kritis, tidak mau ada orang lain yang mengetahui permasalahan pribadinya.


Ia sangat tidak suka terlihat menyedihkan di hadapan orang lain, apalagi di hadapan orang yang sama sekali tidak dikenal.


Kehidupannya selama satu tahun telah mengubahnya menjadi sosok yang kuat dan tidak mau terlihat lemah di hadapan siapapun. Dunia yang keras telah membuatnya mengerti, bahwa dunia ini tidak memiliki belas kasihan.


Ia pada akhirnya akan berusaha sendiri. Karena itu, ia harus terlihat kuat agar tidak ada yang berani menginjaknya.


"Begini, saat pulang tadi, aku melihat tas branded yang sangat menarik. Bagus sekali, sungguh berkilau. Tas itu seolah-olah berteriak padaku untuk mengeluarkannya dari penjara kaca." Alesha menjelaskan dengan hiperbolis.


Bohong, jelas. Ia sama sekali tidak pernah membeli barang-barang branded. Semua yang dibelinya adalah barang palsu. Daripada menghabiskan uangnya untuk membeli barang-barang seperti itu, ia lebih memilih menggunakan uangnya untuk pengobatan ibunya.


"Jadi, Tuan, bisakah kamu membantuku?" tanya Alesha dengan suara yang dibuat manis.

__ADS_1


Sementara di seberang telpon, Willy terlihat mempertimbangkan.


Ia lantas berpikir, ini merupakan hal yang bagus. Ia akan menjadikan itu sebagai umpan untuk memancing Alesha agar bisa masuk ke dalam rencananya.


"Tentu saja boleh," jawab Rafael ringan. Namun, ada syaratnya," lanjutnya cepat.


"Katakan! Apa saja akan kulakukan." Alesha menjawab dengan percaya diri.


"Kamu harus mengambil ceknya sendiri di kantorku besok," jawab Rafael dengan tersenyum smirk.


"Itu hal yang mudah. Akan aku lakukan dengan senang hati." Wanita itu menjawab dengan antusias.


"Saat datang ke kantorku, jangan lupa untuk berpakaian dengan sopan dan rapi. Aku akan mengusirmu jika berpakaian seperti tadi sore." Perintah selanjutnya, Rafael memberi sedikit ancaman.


'Jika ia datang ke perusahaan dengan rok mini dan tank top, pasti akan menjadi berita panas dan gosip yang mencemarkan nama baikku,' gumam Rafael yang kini khawatir jika sampai nama baik yang selama ini dijaga hancur hanya gara-gara wanita itu.


Zaara tertawa kecil. "Jadi, aku memasuki kantor untuk bertemu dengan tuan CEO. Tentu saja aku harus berpakaian rapi dan sopan. Itu sudah attitude dasar, pasti akan lakukan."


"Syarat selanjutnya, kamu tidak boleh berdandan tebal seperti tadi."


"Tentu saja aku sangat memperdulikan citra perusahaan ini dan siapapun yang berada di dalamnya, termasuk tamu. Semua orang yang berada di dalam kantor berpenampilan rapi. Alangkah baiknya kamu juga begitu agar diizinkan masuk ke sana."


Rafael menambahkan beberapa poin karena ingin Alesha mulai mengerti dengan kehidupan seorang pemimpin perusahaan yang menjadi panutan dari para staf.


"Baiklah. Aku mengerti, Tuan." Alesha bisa berbuat apa lagi selain menuruti semua persyaratan tersebut.


"Ada syarat terakhir." Rafael melanjutkan karena tiba-tiba ada yang teringat.


Sementara itu, Alesha membuka telinganya lebar-lebar, bersiap mengiyakan lagi semua persyaratannya.


"Saat kamu datang ke kantor, katakan kalau kamu adalah kekasihku."

__ADS_1


"APA?"


Alesha berakhir menutup mulutnya sendiri karena terlalu terkejut hingga tidak sengaja berteriak.


"Ah, maaf. Aku benar-benar kaget." Ia yang menyadari reaksi berlebihannya langsung meralat. "Tapi, kenapa?"


"Tidak perlu bertanya alasannya kenapa, karena kamu juga akan tahu sendiri nanti. Kamu mau tidak uangnya?" Rafael menjawab dengan intonasi mendesak.


"Mau, mau! Tentu saja aku mau. Demi tas mahal itu, akan melakukan semua persyaratan yang kamu berikan. Kamu tenang saja, aku akan melakukan apapun yang tadi." Alesha menjawab dengan nada gembira karena tengah berakting menjadi orang lain.


Meski tidak tahu alasan dan maksudnya apa, yang ada di pikiran Alesha hanyalah mendapatkan uang itu merupakan hal yang paling penting sekarang.


"Bagus." Rafael kini menjawab puas dan berpikir jika satu masalah yang dihadapi telah selesai.


"Terima kasih banyak, Tuan. Sampai jumpa besok!" Alesha pun merasa lega karena akhirnya mendapatkan jalan keluar atas biaya operasi sang ibu.


Dirasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Rafael menutup telponnya dari seberang.


Sementara Alesha yang tadi menjawab teleponnya di seberang telepon, kini kembali memasuki ruangan ibunya. Wanita itu menatap ibunya dengan senyuman di wajah.


"Ibu, jangan khawatir. Sekarang aku akan segera mendapatkan uang untuk operasimu. Ibu juga berjuanglah. Berjuanglah untuk sembuh."


Senyuman Alesha mengembang, kini disertai air mata haru yang bergelimang di pelupuk maniknya.


Ia pada awalnya mengira kalau semesta sudah tak mengizinkannya berharap lagi. Namun, dalam sekejap saja, kembali berpikir bahwa keajaiban itu memang sungguh ada.


Kini, ia merasa sangat lega karena akhirnya mempunyai uang untuk biaya operasi sang ibu.


'Rafael Zafran, terima kasih. Kamu adalah dewa penolongku. Jika tidak ada dia, mungkin aku harus menjual keperawananku demi mendapatkan uang operasi ibu. Kira-kira berapa uang akan kuminta dari pria yang merupakan CEO itu? Seratus atau dua ratus juta?'


'Lebih baik aku tanyakan saja dulu ke administrasi mengenai biaya operasi dan perawatan kira-kira menghabiskan dana berapa?' lirih Alesha dengan perasaan yang kini jauh lebih tenang karena akhirnya takdir berpihak padanya dengan mempertemukan pria bernama Rafael Zafran.

__ADS_1


"Semoga pria itu tidak menagih uang yang kupinjam dengan meminta tubuhku. Tidak, aku akan tetap perawan sampai ada seorang pria yang tulus mencintai dan melamarku. Tidak ada salahnya bermimpi karena sama sekali tidak ada yang melarang."


To be continued...


__ADS_2