I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Lelah dengan harapan


__ADS_3

Semenjak pembicaraan antara Alesha dan Rafael yang mengatakan sejujurnya mengenai mantan istri, hubungan keduanya semakin datar dan dingin.


Rafael yang lebih fokus pada mantan istrinya karena tidak tega hamil tanpa suami yang menemani, sehingga lebih mengutamakan Aealeasha yang bernasib malang.


Apalagi semenjak Alesha malam itu sama sekali tidak terlihat keberatan begitu ia menceritakan semua yang dilakukan pada mantan istri, sehingga berpikir bahwa wanita yang berstatus sebagai istri di atas kertas tersebut sangat mencintai Alex.


Jadi, ia berpikir jika keputusan yang diambil sudah benar dan tinggal menunggu waktu sesuai kesepakatan untuk mengajukan gugatan cerai di pengadilan.


Meskipun hari-hari dijalani seperti layaknya pasangan suami istri yang tidak mengalami masalah di hadapan sang ibu, tetap tidak bisa dipungkiri bahwa semua kepalsuan itu hanyalah bertahan beberapa hari lagi.


Bahkan Rafael menghitung bahwa waktu untuk mengajukan gugatan cerai tinggal satu minggu lagi dan memilih untuk menyerahkan semua pada pengacara tanpa harus turun tangan ataupun pergi ke pengadilan.


Ia bahkan merasa sangat kesal hanya dengan melihat wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut terlilit handuk kecil yang menandakan baru saja selesai keramas.


Memang ia dulu menyuruh Alesha untuk sering keramas agar dikira mereka setiap hari melakukannya karena pengantin baru, tapi yang dilakukan wanita itu berlangsung hingga 1 bulan.


Seolah ingin mengejeknya seolah terlihat ia adalah seorang pria hiperseks. Ia baru saja selesai berpakaian dan berniat untuk turun ke bawah bersama wanita yang kini tengah menyisir rambut di depan meja rias.


"Aku selama ini tidak berkomentar mengenai apa yang kamu lakukan, tapi sudah tiga minggu ini melihatmu keramas. Apakah kamu ingin terlihat di depan mamaku telah melayani suami dengan baik?" Rafael yang baru saja memakai dasi, masih tidak mengalihkan pandangan ke arah cermin.


Di mana ia bersitatap dengan manik kecoklatan milik wanita di depan cermin tersebut.


Alesha yang tadinya sibuk menyisir rambutnya yang basah, menghembuskan napas kasar ketika pertama kali dikomentari oleh pria yang selama ini sangat cuek dan tidak peduli padanya.


"Anggap saja begitu," sahut Alesha dengan sinis dan benar-benar tidak mood berbicara pada pria yang ada di belakangnya tersebut.


Ia berusaha untuk tidak memperdulikan semua hal mengenai Rafael dan mengiyakan apapun yang dikatakan pria itu karena malas untuk berdebat.


Alesha merasa bahwa energinya sudah habis semenjak mengetahui kenyataan sebenarnya.

__ADS_1


Tentu saja jawaban bernada ketus dari wanita yang terlihat seperti tidak menyukainya tersebut membuat Rafael menghembuskan napas kasar. Jujur saja ia sangat marah pada jawaban Alesha, tapi saat ini berpikir bahwa bertengkar hanya akan membuatnya emosi dan ketahuan oleh sang ibu.


Rencananya adalah ingin menggugat cerai tanpa memberitahukan pada sang ibu. Berpikir saat ditanya nanti, akan menjelaskan bahwa tidak ada kecocokan di antara mereka.


Jadi, sekarang menahan diri untuk tidak meluapkan amarah pada wanita yang terlihat sangat santai dan cuek padanya.


"Aku tidak ingin ibuku menganggap aku adalah seorang pria hiperseks jika melihatmu hampir sebulan selalu keramas setiap pagi." Rafael takkan berbicara sambil berkacak pinggang dan berharap Alesha mengerti serta tidak menurut api amarahnya lebih besar.


"Jadi, kamu malu jika mama berpikir seperti itu? Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan mandi wajib lagi." Alesha sebenarnya ingin mengatakan sesuatu hal yang lain, tapi hanya bisa mengumpat di dalam hati.


'Bahkan kau sama sekali tidak merasa malu saat dekat dengan mantan istri dan menipu mama. Sepertinya memang dunia sudah terbalik karena melakukan hal salah sama sekali tidak merasa malu.'


Alesha tidak ingin pertengkaran mereka berlanjut dan sekarang kembali berakting menjadi seorang istri yang baik ketika hendak sarapan sebelum sang suami berangkat bekerja.


"Ayo, kita turun sarapan karena pasti mama sudah menunggu." Alesha memberikan kode pada pria yang masih berkacak pinggang tersebut agar berjalan keluar karena tidak mungkin Ia yang pergi duluan.


Sementara itu, Rafael sebenarnya merasa tidak puas dengan jawaban Alesha yang selalu singkat dan berpikir bahwa wanita tersebut seperti sengaja memantik api amarahnya.


Tidak ingin membuang waktu hari ini, Rafael melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu. Tentunya seperti biasa, begitu melewati pintu ruangan kamar, seketika wajahnya berubah menjadi orang lain.


Karena saat ini langsung mengarahkan tangan untuk memeluk pinggang ramping Alesha yang baru saja keluar. Semuanya dilakukan demi akting mereka yang seolah-olah menjadi pasangan sempurna dan membuat semua orang iri.


Alesha sebenarnya selalu merasa tidak nyaman karena semakin lama tinggal bersama Rafael, selalu saja berdetak kencang degup jantungnya karena ulah pria yang selalu menjadi suami idaman ketika berakting di depan sang ibu.


'Jantungku sudah tiga minggu ini tidak aman dan mungkin satu minggu lagi akan meledak karena Rafael pasti menuntut cerai.'


Kalimat cerai dulunya sangat ditunggu, tapi sekarang membuatnya berharap bahwa waktu akan berlalu lebih lama karena tidak siap untuk kehilangan pria yang telah merasakan keperawanannya.


'Rafael sama sekali tidak mencintaiku karena hanya mencintai mantan istrinya, jadi aku harus merelakan semua yang dilakukannya padaku. Aku hanyalah rekan yang bekerja sama dengannya.'

__ADS_1


'Akan sangat lucu jika aku menangis karena diceraikan oleh suami yang sama sekali tidak peduli pada perasaan istri di atas kertas.'


Lamunannya seketika buyar begitu mendengar suara tinggi wanita yang sangat disayangi dan dihormati.


"Hari ini ada menu kesukaan kalian, Sayang." Tiana yang tadinya memeriksa sarapan di meja makan, kini menyunggingkan senyuman begitu melihat putra dan menantunya sangat romantis.


Tiana memang tidak memperbolehkan menantunya tersebut untuk melakukan pekerjaan rumah agar fokus pada sang suami dan cepat hamil karena ia ingin segera menimbang cucu.


Jadi, ketika melihat sikap romantis putranya pada sang istri, membuatnya merasa sangat bahagia dan berharap impiannya akan segera terwujud.


Alesha yang saat ini melepaskan tangan dengan buku-buku kuat di pinggangnya, segera berjalan menghampiri mertua.


"Terima kasih, Ma. Mama adalah ibu mertua yang sangat baik seperti malaikat." Kemudian memeluk erat wanita yang sangat disayanginya tersebut.


Bahkan sudah menganggap seperti ibu sendiri karena sudah banyak membantu dan selalu bersikap baik pada wanita rendahan sepertinya.


"Aku benar-benar menjadi seorang ratu di rumah ini. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh banyak orang."


"Memangnya apa yang dikatakan oleh banyak orang?" Tiana saat ini merasa sangat penasaran dan ingin segera mengetahui apa yang dimaksud oleh menantunya tersebut.


"Carilah pasangan yang meratukan, bukan membabukan." Alesha sengaja mengatakan kalimat dengan estetik agar mertuanya sedikit bingung dan membuatnya terkekeh geli melihat terlalu wajah penasaran serta ingin tahu.


Tiana yang seketika tersenyum dan mengusap lembut punggung menantunya yang setiap hari mandi wajib itu.


"Iya, kamu benar, Sayang. Mama harap kamu bisa segera hamil dan memberikan kami cucu."


Sementara itu, Alesha seketika melirik ke arah Rafael karena meminta pria itu menjawab pertanyaan seorang ibu yang memiliki harapan besar pada putranya.


'Aku benar-benar lelah dengan harapan mama yang selalu saja menginginkan putranya menikah dan segera punya cucu.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2