I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Perdebatan


__ADS_3

Wajah Aeleasha menunjukkan sebuah kekecewaan. Penjelasan yang diberikan oleh wanita di hadapannya yang berbicara jujur seperti apa yang disampaikan oleh Rafael beberapa hari lalu, membuatnya tidak tenang.


Bagaimana ia bisa tenang jika masalahnya adalah wanita itu ternyata tengah menyukai pria lain yang tak lain adalah dosennya sendiri.


Bahkan Aeleasha khawatir Rafael masuk ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya,.


Kali ini, ia ingin memastikan Rafael bahagia dengan wanita yang ada di hadapannya tersebut.


Seperti sebelumnya, ia sudah berdiskusi dengan Arsenio tentang hubungan yang dijalani Rafael saat ini.


Arsenio berencana akan menjebak Rafael dengan memberikannya obat perangsang demi kelancaran hubungan pria itu. Rencana itu akan dilaksanakan saat pesta pernikahan diadakan.


Namun, mendengar penjelasan dari Alesha saat ini, justru membuat Aeleasha berpikir akan menyetujui ide sang suami memberikan obat perangsang karena tidak ada cara lain lagi menyatukan mereka.


“Alesha, meski pernikahan kalian karena sebuah kontrak, aku yakin akan ada cinta yang muncul setelah itu.”


“Tidak mungkin. Aku … mencintai pria lain dan sepertinya … jika bukan karena pernikahan ini, aku pasti bisa kembali bersamanya,” jelas Alesha tentang perasaannya.


“Baiklah. Tidak masalah dengan keputusan kalian. Hanya saja, sebuah kontrak seperti itu memang harus dilakukan agar tidak merugikan salah satu pihak. Bukankah kontrak dibuat untuk saling menguntungkan? Jadi, Rafael juga harus mendapatkan apa yang sudah ia berikan padamu.”


“Aku mengerti tentang itu. Aku akan melanjutkan kontrak dengan menikah. Hanya saja, keputusan untuk berapa lama bertahan dalam kontrak, masih kami bicarakan.” Alesha berbicara dengan nada penuh keraguan.


Karena hatinya galau saat setiap hari mendapatkan sebuah rayuan dari Alex. Alesha memang selalu menolak Alex, tetapi hatinya tidak bisa berbohong jika ia sangat menginginkan mantan sugar daddy-nya tersebut.


Meskipun mengetahui jika kedatangan kaki ini sama sekali tidak berdampak apapun pada hubungan Rafael, tetapi Aeleasha tetap tidak akan menyerah untuk menyatukan mereka berdua. “Ya, kalian memang perlu bicara satu sama lain. Aku yakin, kalian memiliki jalan keluar.”


“Maaf, aku tidak bisa hadir di acara makan malam di rumah Rafael Kondisi ibuku sedang menurun dan membutuhkan aku di sini.”


“Tidak masalah. Bukankah yang terpenting kita sudah bertemu sekarang.” Aeleasha menyembunyikan kekecewaan dengan mengulas senyuman dan menyentuh lembut punggung tangan wanita itu. "Kamu adalah wanita yang baik."


“Kau belum mengenalku dengan baik, tapi aku tidak menyangka kamu akan sebaik ini padaku.” Alesha sebenarnya merasa tidak sepadan jika diaamdingkan dengan wanita cantik itu karena terlihat sangat baik dan cantik.


“Aku merasa memiliki hutang pada Rafael, tapi semua sudah terbayar saat dia menerima perusahaan yang diberikan suamiku. Selain itu, aku juga ingin melihat dia bahagia dengan pilihannya.”


Aeleasha kini hanya melanjutkan perkataannya di dalam hati. 'Aku berharap kamulah orangnya.'


“Sayangnya aku tidak bisa memberikan kebahagiaan itu.” Alesha langsung menyahut karena memang tidak mempunyai perasaan apapun pada Rafael karena hubungan di antara mereka hanya sebatas perjanjian semata.


Aeleasha terpaksa tersenyum, meskipun di dalam hati merasa sangat kecewa dengan jawaban wanita itu. Namun, tidak mungkin memaksa untuk menerima Rafael karena berpikir bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan, sehingga merasa tidak ada pilihan lain selain menyerahkan semua pada sang suami.


Setengah jam telah berlalu, mereka telah selesai dengan percakapan singkat yang penuh arti.


Setelah berpamitan, Aeleasha kembali ke rumahnya, sedangkan Alesha kembali ke kamar pasien untuk menemani ibunya.


Baru saja sampai di kamar ibunya. Ponselnya kini berdering dan menampilkan nama Alex di sana. Seketika ia teringat dengan Alex yang sudah menunggu di parkiran sejak beberapa jam lalu.


“Kamu di mana?” tanya Alex dari seberang telpon.


“Di rumah sakit. Kondisi ibuku jauh lebih penting saat ini.”


Mendengar alasan Alesha, membuat Alex terdiam sesaat. Tidak masalah jika alasannya karena sang ibu. Beruntung tidak mengatakan jika alasan utamanya pergi adalah Rafael.


Alex melepaskan Alesha untuk kali ini, ia pun menutup panggilan telpon setelah berbicara beberapa saat.


***

__ADS_1


Sementara itu, Aeleasha baru saja tiba di rumah dan langsung disambut dengan pelukan oleh suami dan putranya.


Bahkan ciuman lembut juga dilancarkan untuk menyambut wanita paling dicintai Arsenio.


“Ada apa? Kenapa wajahmu tampak murung, Sayang?” tanya Arsenio yang menyadari ada sesuatu tidak beres telah terjadi.


Aeleasha kini mendaratkan tubuhnya dengan kasar di sofa dan memangku putranya yang mendekatinya. "Rafael, aku rasa dia akan kembali pada lubang yang sama. Aku baru saja bertemu dengan wanita itu dan yang aku dapatkan adalah sebuah kenyataan pahit."


"Sayang, rencanamu untuk menyatukan mereka dengan obat perangsang, sepertinya kita harus memberikan obat itu pada keduanya.”


Mendengar rencana yang berubah, membuat Arsenio langsung mengangguk.


“Baiklah. Jadi, kita benar-benar akan menyatukan mereka karena obat. Dasar Rafael bodoh. Kenapa dia sangat suka sakit hati?” ucap Arsenio yang kini hanya geleng-geleng kepala mendengar semua cerita sang istri.


Sementara itu, Aeleasha hanya mengendikkan bahu. “Entahlah. Aku tidak ingin ia kembali bersedih dan menunggu lagi. Aku ingin melihatnya bahagia, Sayang.”


"Aku mengerti, dia sudah banyak berkorban untuk kita. Sekarang kita akan memberikan kehidupan yang nyata untuknya.”


“Kamu benar, apalagi Rafael sudah bukan pria miskin, dia memiliki semuanya. Perusahaan hingga jabatan.” Kini Arsenio merasa sangat senang karena sang istri tidak lagi melarang.


“Ya. Aku mendukungmu, Sayang.” Aeleasha kini sudah tidak mampu berpikir cara lain untuk membuat Rafael bersatu dengan Alesha.


Setelah percakapan itu. Mereka menikmati kebersamaan di rumahnya.


***


Sementara di sisi lain. Rafael baru saja selesai dengan pekerjaannya.


Kini ia memutuskan untuk menemui Alesha di rumah sakit dan memastikan wanita itu baik-baik saja.


Mencoba untuk mengacuhkan perasaannya saat ini, Rafael melaju dengan cepat menuju rumah sakit, tempat ibu Alesha di rawat.


Sampai di rumah sakit, Rafael melihat Alesha tertidur di sofa seperti biasa. Beruntung ia membawa makanan untuk Alesha karena bisa dipastikan wanita itu belum makan apapun saat ini.


“Alesha ... aku membawa makanan. Lebih baik kita makan bersma..”


"Rafael, kamu datang." Alesha membutuhkan waktu untuk sadar dari tidurnya. "Kamu dari tadi?”


“Tidak, baru saja sampai. Ayo, makan!”


Kegiatan makan malam itu membuat seseorang yang mengintip dari balik kaca yang ada di pintu masuk.


“Mantan istrimu datang.”


Mendengar Alesha berkata seperti itu, membuat Rafael menghentikan kegiatan makannya.


“Apa yang kalian bicarakan?”


“Tidak banyak. Ternyata ia wanita yang ramah dan juga sangat lembut. Aku bisa berbicara dengan santai tadi siang. Ia juga memberitahukan padaku tentang pernikahan kontrak kita.”


Rafael menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu pandangan matanya menatap wanita di depannya saat ini. Rafael menunggu kalimat selanjutnya dari Alesha tentang pertemuan siang ini.


“Hei, kenapa kamu seperti itu? Tenang saja, tidak ada yang terjadi di antara kami. Kami hanya membicarakan seputar kehidupannya di New York.” Alesha terkekeh geli melihat ekspresi wajah penuh kekhawatiran dari Rafael.


“Benarkah? Aeleasha memang seperti itu.” Rafael hanya menjawab singkat karena merasa sangat aneh membahas dengan wanita di hadapannya tersebut.

__ADS_1


“Apa kamu masih mencintai dia?” tanya Alesha yang kini menatap intens wajah tampan Rafael.


Pertanyaan itu sungguh menusuk Rafael. “Apakah jawabannya masih kamu butuhkan? Itu adalah hal yang sama sekali tidak penting buatmu.


Menyadari pertanyaan bodohnya, kini Alesha hanya menggelengkan kepala. “Tidak, sudahlah. Aku tidak akan membahasnya lagi.”


Sampai makan malam yang terlambat itu selesai. Rafael berpamitan dan kembali ke rumahnya.


Sikap pria itu membuat Alesha berpikir mengenai perasaan yang sebenarnya.


Baru saja Alesha ingin membenarkan selimut sang ibu, suara Alex membuatnya terkejut dan menarik pria itu keluar dari kamar ibunya.


“Alex! Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Apa kamu lupa? Siang ini kamu meninggalkan aku sendirian di area parkir.” Alex berbicara dengan nada suara tertahan karena tidak ingin kekesalannya membuat gaduh di rumah sakit dan mengganggu pasien lainnya.


“Itu salahmu sendiri! Kenapa kamu menungguku?” jawab Alesha dengan datar dan mengerucutkan bibir karena kesal.


Alex yang kini ingin membuat Alesha jujur padanya, kini menyahut singkat. “Aku menunggu kekasihku!”


“Aku bukan kekasihmu, Alex!” Alesha bahkan memijat pelipis mendengar jawaban Alex.


Perdebatan itu terjadi begitu saja, sampai akhirnya Alesha memutuskan untuk membawa Alex keluar dari area rumah sakit. Kini mereka berada di sebuah restoran cepat saji yang buka dua puluh empat jam.


“Alex, apa yang membuatmu datang?”


“Sudah kukatakan, semua tentangmu, membuatku tidak tenang. Cepat jelaskan padaku mengenai hubungan kita sebelum ini. Lalu, apa yang terjadi padamu hingga tidak ingin lagi bersamaku?”


“Tidak ada yang bisa kujelaskan saat ini. Aku tidak ingin merusak hubungan lainnya.”


Alex masih terlihat memaksa Alesha. Rasa penasaran tentang masa lalu mereka, membuat Alex tidak bisa tidur dengan tenang.


“Baiklah. Mungkin tidak sekarang. Atau aku bisa saja mencari tahu pada orang lain.”


Alesha tidak menjawab, kini tubuhnya bergerak ingin meninggalkan pria itu.


Rasa-rasanya ia sungguh tidak bisa terlalu lama berada di dekat Alex. Perasaannya semakin kuat jika terus bersama pria itu.


Alesha berpamitan, tetapi tangannya diraih dan ditarik kembali oleh Alex. Pria itu tidak melepaskan Alesha, hingga memaksa untuk masuk ke mobil dan membawanya pergi dari sana.


“Alex! Kembali ke rumah sakit!”


“Tidak sebelum kamu memberitahu tentang apa yang terjadi pada kita.”


Alesha kembali terdiam, hingga akhirnya ia mulai menyuarakan tentang masa lalu yang menyakitkan itu.


“Alex, saat itu, seseorang mencoba untuk memisahkan kita. Awalnya memang aku tidak memiliki perasaan apapun padamu."


"Begitu juga sebaliknya. Bahkan kamu adalah sosok pria kaku yang tidak perduli denganku. Sampai akhirnya hubungan ini membuatku sadar tentang perasaan yang semakin hari semakin berkembang. Aku ....“


“Siapa? Siapa yang berencana memisahkan kita?”


"Aku tidak bisa mengatakannya karena dan lebih baik kau cari tahu sendiri!" ucap Alesha kini bangkit berdiri dan meninggalkan pria yang selalu berhasil menjungkirbalikkan perasaannya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2