I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Perasaan yang berubah


__ADS_3

"Seharusnya kau berterima kasih padaku karena mengantarmu untuk bersatu dengan kekasihmu. Mana ada mantan suami yang sepertiku karena mau melihat mantan istri bahagia dengan pria pilihannya," sindir Rafael yang saat ini tengah menoleh sekilas ke arah wanita yang dari tadi diam dan sudah tidak lagi mengumpat ataupun berteriak padanya.


Sementara itu, Alesha yang tadinya sibuk untuk mencari sebuah ide menghentikan Rafael untuk mengantarnya, tidak kunjung menemukannya dan merasa bingung harus berbuat apa.


Hingga ia merasa bertambah semakin kesal, karena mendapatkan sebuah sindiran dari pria yang fokus mengemudi dan sekilas melirik ke arahnya.


Namun, ia hanya diam karena berpikir jika menanggapi sikap kekanakan Rafael, tidak akan ada habisnya dan masalah semakin bertambah rumit. Jadi, Alesha memilih diam dan kembali mencari jalan keluar untuk masalahnya saat ini.


'Bagaimana caranya menghentikan Rafael karena aku tidak ingin bertemu Alex,' gumam Alesha yang masih bingung karena tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.


Bahwa ia ini tinggal bersama sahabatnya untuk sementara waktu karena belum siap mengatakan pada sang ibu. 'Apa aku katakan saja padanya untuk mengantarkanku ke tempat Aila?'


Alesha masih mempertimbangkan apakah akan mengatakan pada Rafael dan membiarkan pria itu mengetahui bahwa ia tidak bertemu dengan Alex. Namun, ia mendengar suara dering ponsel milik pria yang tengah mengemudi itu.


Rafael tadinya berharap Alesha kembali membuka suara untuk menguraikan keheningan di dalam mobil, tapi karena tidak ada tanggapan sama sekali, ia pun kebingungan untuk mencari cara agar bisa membuat wanita itu marah dan kesal padanya.


Hingga saat ia lirik ke arah wanita yang masih menatap ke arah kiri, menyadari ada seseorang yang menghubungi dan langsung memasang earphone. Hingga mendengar suara dari wanita yang tadi menamparnya sudah kembali mengomel tanpa ia membuka suara terlebih dahulu.


"Antarkan Alesha ke tempat kos temannya karena tadi saat Mama ingin mengantarkan ke rumah ibunya, ia bilang belum siap karena khawatir jika terjadi sesuatu yang karena efek penyakit jantung."


Saat Rafael hendak membuka suara untuk menanggapi perintah sang ibu, sambungan telpon malah terputus dan seketika ia menoleh ke arah wanita yang memalingkan muka dari tadi.


'Apa yang selama ini dilakukan oleh Alesha pada mama? Hingga mama sekarang lebih menyayangi orang lain daripada putranya sendiri.'


Rafael kini terdiam karena tengah memikirkan perkataan sang ibu. 'Kenapa ia tidak meminta Alex menjemputnya atau mengatakan ingin bertemu? Kenapa memilih untuk bersembunyi di tempat kos temannya?'


Rafael mencari jawaban atas pertanyaannya, kini bisa melihat sekilas jika wanita yang dari tadi memalingkan wajah tengah menatapnya. Seolah merasa penasaran dengan siapa yang menelpon.


Namun, beberapa saat kemudian kembali berpaling saat ia ingin bertanya mengenai alamat tempat kos temannya, sehingga mengurungkannya dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Alesha.


'Baiklah, kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh wanita keras kepala dan arogan ini. Apakah ia akan turun saat tiba di rumah Alex? Aku jadi penasaran, apakah ia pernah datang ke rumah Alex atau tidak.'


Rafael saat ini memilih untuk mengikuti alur yang diciptakan oleh Alesha dan sengaja tidak mengatakan perintah sang ibu yang sangat perhatian pada wanita yang sudah berstatus sebagai mantan istri tersebut.

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain, Alesha yang dari tadi tidak menemukan ide untuk menghentikan Rafael, akhirnya memilih untuk berbicara jujur. Namun, sebelumnya berdehem sejenak untuk menetralkan suara. Kemudian menoleh ke arah sosok pria yang terlihat fokus mengemudi.


"Turunkan aku di tempat kos sahabatku karena aku untuk sementara waktu tinggal di sana. Aku tidak bisa pulang karena khawatir jika ibu terkena serangan jantung begitu mengetahui kita sudah bercerai."


"Aku minta maaf karena mengatakan pada mama, tapi sebenarnya yang menjadi penyebabnya adalah aku tidak tega melihat wajahnya yang sangat antusias ketika mendoakan rumah tangga putranya bisa sampai kakek nenek dan hanya maut yang bisa memisahkan."


"Aku tidak bisa mengaminkan doa mama dan itu membuatnya curiga dan akhirnya menyuruhku bersumpah atas nama ibuku untuk tidak menyembunyikan apapun darinya."


Alesha masih tidak melakukan pandangan pada Rafael dan berharap pria itu menyetujui dan mau mengerti apa yang diinginkannya.


"Jujur aku sangat lelah harus selalu bertengkar denganmu. Jadi, aku mohon mengertilah dan jangan mencampuri hidupku lagi karena kita sudah tidak ada hubungan apapun." Bahkan Alesha saat ini menyatukan telapak tangan untuk memohon pada Alex agar tidak mengantarkan ke rumah keluarga mantan sugar daddy-nya tersebut.


Namun, ia kembali harus bersabar karena Rafael tidak langsung menyetujuinya meskipun sudah merendahkan diri.


"Kenapa kau malah bersembunyi di tempat kos temanmu? Tinggal hubungi saja Alex dan memintanya untuk memberikan tempat tinggal untukmu agar kalian bisa bersenang-senang karena sudah bebas," ucap Rafael yang kini memutar arah karena tidak jadi menuju ke arah tempat tinggal Alex.


"Katakan saja alamatnya. Aku akan mengantarmu ke sana." Rafael menoleh ke arah sebelah kiri, di mana wanita yang saat ini tengah memerah wajahnya karena dikuasai oleh amarah ketika baru saja disindir olehnya.


Namun, entah mengapa ia malah suka melihat wajah memerah itu daripada wajah datar dengan mulut terkunci rapat seperti orang bisu.


"Aku memang selama ini menjadi sugar baby, tapi tidak pernah mengobrak tubuhku pada para pria seperti pelacur. Jadi, tolong jaga ucapanmu!" Alesha tidak bisa mengendalikan diri lagi jika menyangkut harga dirinya yang selalu diinjak-injak oleh pria yang sudah merenggut kesuciannya tanpa mengetahui.


Sialnya, ia tidak punya bukti untuk mengatakan bahwa pria itulah yang melakukannya dan ia masih perawan saat pertama kali bercinta dengan Rafael.


Sial, mungkin itu satu kata yang mewakili semua yang dialami oleh Alesha dan saat ini ia hanya ingin menenangkan diri di tempat sahabatnya.


"ini alamatnya!" Alesha menaruh ponselnya yang sudah menunjukkan arah ke tempat kos sahabatnya.


Ia memang belum mengatakan pada Aila akan tinggal di sana, yakin jika sahabat baiknya tersebut akan menerimanya dengan orang terbuka karena iba padanya. Apalagi ia merasa di sana jauh lebih aman karena ada banyak wanita yang tinggal.


Mungkin setelah jauh lebih tenang, akan memikirkan apa yang harus dilakukannya ke depan. Hingga ia kali ini kembali mendengar suara bariton yang selalu saja dengan mudahnya berbicara.


"Baiklah. Aku salah dan minta maaf. Kau adalah seorang wanita terhormat yang menjaga harga diri, bukan?" Rafael sebenarnya tidak ada niat untuk menghina harga diri Alesha, tapi selalu tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengungkit masalah Alex dan membuatnya sampai menyinggung perasaan wanita itu.

__ADS_1


Kemudian ia mengikuti petunjuk arah dari ponsel milik Alesha yang diletakkan di atas dasbor mobil. Ingin sekali ia bertanya alasan Alesha yang tidak mau bertemu dengan Alex. Namun, mengingat bahwa wanita itu baru saja mengancamnya penuh dengan amarah.


Akhirnya memilih diam dan tidak lagi mengungkit sesuatu hal yang berhubungan dengan Alex. Meskipun rasa penasaran sangat menyiksanya karena ia benar-benar ingin tahu apakah wanita yang kembali menatap ke arah sebelah kiri tersebut akan bertemu dengan Alex.


Hingga ia mengingat sesuatu hal yang penting mengenai kuliah wanita yang mengambil cuti satu bulan itu. "Apakah kau akan masuk kuliah lagi! Bukankah cuti yang kamu ambil habis beberapa hari lagi?"


"Bukankah sudah kukatakan untuk tidak mencampuri urusanku? Bisa tidak, kau membiarkan aku tenang sebentar saja! Aku pusing dan lelah." Refleks Alesha mengumpat tanpa pikir panjang karena saat ini merasa kepalanya seperti mau pecah saja.


Bahkan saat ini ia benar-benar banyak pikiran dan membuatnya merasa otaknya seperti hampir meledak saja. Namun, selalu mendengar ocehan dari pria yang dirasa terlalu ikut campur saat sudah tidak lagi menjadi suaminya.


Entah Sudah berapa kali Rafael merasa tertampan dengan perkataan Alesha. Namun, ia ingin mengetahui karena merasa turut andil dalam hal membiayai kuliah.


"Aku bukan ikut campur urusanmu, tapi ingin memastikan mengenai biaya kuliahmu. Jika kamu melanjutkannya, aku tetap akan membiayai sampai lulus Karena itu adalah bentuk tanggungjawabku sebagai mantan suami."


Alesha seketika menyahut tanpa menoleh untuk melihat ekspresi wajah Rafael. "Apakah aku harus merasa terharu dengan rasa tanggung jawabmu itu?"


"Tenang saja, aku tidak akan menggerogoti hartamu dengan alasan mantan istri seorang CEO perusahaan besar dan terkenal di kota ini." Alesha bahkan belum memikirkan mengenai kuliahnya karena saat ini memusingkan masalah yang berhubungan dengan pernikahannya dengan Rafael.


Saat tidak pernah mendapatkan kalimat bernada lembut saat menanggapi apapun yang dikatakan olehnya, Rafael merasa seperti tengah berada dalam lingkaran api yang membuat tubuhnya memanas.


Ia berusaha sabar saat Alesha selalu berbicara sinis padanya dan menganggapnya selalu salah. Karena merasa sangat lelah saat tidak ada habisnya berdebat dan bertengkar atas apapun yang dibahas, Rafael hanya mengembuskan napas kasar dan tidak lagi berkomentar apapun.


"Kapan kau tidak berbicara sinis atas apapun yang kutanyakan? Aku berniat baik, kau sinis, aku menuruti keinginanmu, kau pun marah dan mengumpatku."


Membiarkan pria yang duduk di sampingnya mengoceh sepuas hati adalah pilihan Alesha saat ini. Selain ia merasa sangat lelah meladeni sikap Rafael yang selalu mengambil prespektif sendiri sesuka hati.


"Aku lelah," sahut Alesha yang kini menyandarkan tubuhnya pada jok mobil dan memejamkan mata.


Sementara Rafael hanya melirik sekilas dan terbersit rasa iba di pikirannya. 'Kenapa sikapnya sangat aneh? Ia tidak terlihat seperti orang yang bahagia saat hendak bersatu dengan kekasihnya?'


Saat beragam pertanyaan memenuhi pikiran Rafael, hal yang berbeda kini tengah dipikirkan oleh Alesha.


'Bagaimana caraku mengakhiri hubungan dengan Alex? Lusa adalah hari di mana kami berjanji untuk bertemu dan tepat di hari ulang tahunnya."

__ADS_1


"Apakah aku harus menyakitinya di hari paling penting untuknya?' lirih Alesha yang kini merasa resah untuk mengatakan perasaannya bukan lagi untuk Alex.


To be continued...


__ADS_2