
Sementara itu, Aeleasha hanya geleng-geleng kepala dengan keputusan dari Rafael yang selalu berbuat sesuka hati. Apalagi ia merasa sangat aneh ketika mendengar dia itu selalu menyebut Arza putranya.
Jika ia pada posisi bukan menjadi istri Arsenio, mungkin tidak akan merasa aneh mendengar hal itu, tetapi berbeda kali ini karena jika sampai suaminya mendengar Rafael menyebut Arza adalah putranya, akan menjadi perang dunia antara mantan suami dan suami sah.
Meskipun ia tidak tahu bagaimana nasib rumah tangganya kelak dengan Arsenio, tetapi kali ini berpikir jika tidak akan selamat.
Rumah tangganya tidak akan pernah bisa dipertahankan setelah ia mengetahui perselingkuhan sang suami. Aeleasha saat ini menatap ke arah sosok wanita yang berenang tak jauh dari tempatnya.
Ia tadinya terlihat menampilkan wajah datar, tetapi seketika mengulas senyuman karena wanita itu menyapanya.
"Maafkan saya karena tadi membicarakanmu ketika berada di ruang ganti," ucap wanita den menggunakan pakaian renang berwarna merah tersebut dengan menampilkan wajah penuh penyesalan.
Sementara itu, Aeleasha sama sekali tidak merasa terganggu maupun tersinggung ketika menjadi bahan pembicaraan di ruang ganti tadi.
Apalagi dua wanita tadi memuji Rafael dan sama sekali tidak menjelekkan mereka. Hanya saja, ia merasa sedih karena pada kenyataannya tidak seperti yang dikatakan mereka.
Nasib rumah tangga yang sebenarnya tidak semanis itu karena penuh dengan penderitaan dan kesedihan. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaannya yang hancur berkeping-keping dan tidak bisa disatukan lagi.
Aeleasha kali ini mengulas senyuman palsu untuk kesekian kali. "Tidak masalah. Jangan minta maaf karena seharusnya aku berterima kasih karena kalian tadi memuji kami. Terima kasih karena sudah mengagumi suamiku dan juga keromantisan kami."
"Iya, aku dan temanku tadi memang sangat iri dengan keromantisan kalian sebagai keluarga kecil bahagia dan menjadi pasangan suami istri yang harmonis dan bahagia. Kalian benar-benar terlihat sangat serasi. Apalagi mempunyai seorang putra yang sangat tampan wajahnya dan juga menggemaskan."
Wanita dengan rambut sebahu tersebut mengarahkan tangannya untuk mencubit gemas pipi cabi balita laki-laki di hadapannya.
"Putramu sangat tampan dan menggemaskan. Semoga aku nanti bisa memiliki anak setampan ini jika sudah menikah nanti."
Aeleasha masih tersenyum simpul dan memilih untuk menyerahkan putranya pada wanita itu.
"Mungkin kamu bisa menggendong putraku dan mengajaknya bermain jika mau. Aku sedikit lelah dan ingin beristirahat dengan duduk di tepi kolam renang bersama suamiku."
Sengaja Aeleasha memanggil Rafael dengan suami karena pria itu tidak berada di dekatnya, sehingga tidak mendengar apa yang diucapkan.
Apalagi tadi ia sekilas melihat pria itu berenang sendiri setelah menyerahkan Arza padanya.
Tentu saja tawaran Aeleasha mendapat sambutan yang sangat baik dari wanita yang terlihat sangat gemas pada putranya.
"Tentu saja aku tidak keberatan dan malah sangat senang sekali bisa bermain dengan putramu, tapi apa dia mau? Bukankah putramu tidak mengenalku? Nanti dia takut padaku, bagaimana?" tanya wanita yang saat ini membuka kedua tangan lebar-lebar untuk mengajak balita laki-laki tersebut agar mau berenang bersamanya.
Ia bahkan mengajak temannya dengan melambaikan tangan mendekat dan membantu untuk merayu. Hingga sahabatnya tersebut langsung berakting menampilkan wajah lucu agar wajah laki-laki tersebut mau ikut dengannya.
Hingga usahanya seketika berhasil ketika Arza mengulurkan tangannya dan mau digendong oleh salah satu wanita itu.
"Putraku sangat mudah untuk diajak siapapun, asalkan kalian tidak membuatnya takut. Dari kecil, ia gampang ikut orang lain," sahut Aeleasha yang kini tersenyum simpul dan melihat putranya sudah bersama dua wanita yang tadi membicarakannya di ruang ganti.
Kemudian ia memilih untuk mengamati interaksi mereka dengan duduk di tepi kolam renang sambil menggerakkan kaki di dalam air.
Di saat bersamaan, Rafael datang menghampiri dan langsung mengungkapkan pertanyaan begitu melihat Arza bersama dua wanita yang tidak dikenal.
__ADS_1
"Siapa mereka? Apakah kamu mengenal dua wanita yang tengah bermain dengan Arza?"
Rafael memilih untuk melakukan hal yang sama dengan duduk di sebelah kiri wanita dengan pakaian renang berwarna biru tersebut.
Ia sebenarnya tadi merasa sangat terpesona melihat lekuk tubuh Aeleasha saat berjalan mendekat setelah mengganti pakaian.
Tentu saja memakai pakaian renang membuat lakukan tubuh wanita yang merupakan mantan istrinya tersebut terlihat sangat jelas dan berhasil menelan ludah dengan kasar. Namun, Rafael berakting dengan bersikap biasa saja di depan Aeleasha.
Padahal degup jantung tidak beraturan telah dirasakan ketika berdekatan dengan mantan istri. Bahkan posisi saat ini yang duduk bersebelahan dengan jarak dekat, semakin membuatnya gugup.
Namun, ia berusaha sekuat tenaga agar wanita di sebelahnya itu tidak mengetahui bahwa jantungnya seperti hampir melompat dari tempatnya.
Aeleasha refleks menoleh ke arah Rafael dan begitu menyadari posisinya yang teramat dekat, membuatnya sedikit menggeser tubuhnya.
Apalagi tadi jarak antara wajahnya dan pria itu teramat dekat dan terasa sangat aneh ketika bersitatap dengan iris tajam milik Rafael.
"Dua wanita itu adalah penggemar beratmu karena tadi memuji bahwa kamu merupakan seorang suami yang bertanggung jawab dan juga ayah yang sangat menyayangi putranya. Tadi, aku mendengar mereka berbicara di ruang ganti. Intinya, mereka memujimu dan berpikir kita adalah pasangan suami istri yang bahagia."
Seketika sudut bibir Rafael melengkung ke atas karena merasa sangat senang mendengar cerita dari Rafael.
"Ternyata, mereka adalah wanita yang sangat cerdas karena bisa berpikir seperti itu. Aku memang akan menjadi seorang suami yang bertanggung jawab dan ayah yang hebat seperti perkataan dua wanita itu."
"Seandainya wanita lain berpikir yang sama, mungkin nasibku tidak akan semalang ini." Rafael langsung menampilkan wajah muram begitu mengingat nasib rumah tangganya bersama sang mantan istri yang kandas.
Sementara itu, Aeleasha saat ini hanya diam dengan mengunci mulut rapat-rapat karena merasa bingung harus berkomentar apa. Kalimat bernada kesedihan dari Rafael, kembali mengingatkannya pada pria yang menjadi penyebab ia kabur dari rumah.
"Brother, bukankah kamu tadi mengatakan agar aku melupakan kesedihan dan bersenang-senang hari ini dengan menganggap ini adalah liburan keluarga kecil kita? Jadi, jangan merusak kebahagiaan ini. Aku ingin sejenak merupakan kesedihanku saat dikhianati."
"Aku ingin melupakan dengan menerima tawaranmu untuk bersenang-senang. Bukankah kamu ini mengajak kami berlibur dengan menikmati semua fasilitas di hotel mewah ini?"
Rafael yang merasa tertampar dengan kalimat Aeleasha, hanya bisa menelan ludah dengan. Akhirnya ia mengungkapkan apa yang direncanakan hari ini.
"Maafkan aku. Baiklah, hari ini kita akan bersenang-senang. Setelah berenang, kita lanjutkan dengan makan di restoran mewah, lalu berbelanja di Mall terbesar di kota ini. Aku ingin mengajak putraku bermain game sepuasnya. Itu, dulu merupakan keinginanku, tetapi tidak bisa mengajak Arza karena keuangan yang minim."
Di saat bersamaan, suara perut Aeleasha yang kelaparan terdengar begitu Rafael menutup mulut.
Refleks Aeleasha langsung memegangi perut dengan kedua tangan dan juga wajahnya seketika memerah karena merasa sangat malu. Memang ia sangat kelaparan karena semalaman tidak nafsu makan.
Selama di dalam pesawat, ia sama sekali tidak mengisi perutnya karena mengingat tentang foto-foto yang beredar di media sosial. Mana mungkin ia bisa makan dengan lahap ketika mengingat perselingkuhan sang suami yang membuatnya terluka.
Aeleasha awalnya ingin berbicara jujur pada Rafael, tetapi tidak bisa melakukannya ketika pria itu malah sibuk tertawa.
Tentu saja menertawakannya saat cacing-cacing di perutnya berbunyi dan memberikan kode agar segera diberi jatah.
Puas tertawa, Rafael mengarahkan tangan untuk mengusap rambut basah Aeleasha.
"Malang sekali nasib istriku karena kelaparan. Sepertinya pujian dari dua wanita itu ternodai karena seorang suami tidak memberikan makan pada istrinya."
__ADS_1
Sementara itu, Aeleasha hanya bisa mengerucutkan bibir begitu mendengar ejekan dari pria yang tidak berhenti mengusap rambutnya.
Seolah menganggapnya adalah seorang anak kecil. Ia seketika menghentikan perbuatan pria itu dengan menahan telapak tangan Rafael..
"Aku bukan putrimu, Brother!"
Rafael kembali tertawa menanggapi nada protes dari Aeleasha saat ini. "Jika aku memiliki putri cantik sepertimu, mungkin akan selalu menghajar para pria muda yang melirik ke arahmu."
"Nasib baik kamu bukan ayahku." Aeleasha menyahut dengan tersenyum simpul sambil melambaikan tangan pada putranya.
Sementara Rafael yang merasa tidak tega pada Aeleasha karena sudah kelaparan, memilih untuk membuka suara.
"Tentu saja aku bukan ayahmu, tapi ayah dari Arza. Tunggu di sini! Aku akan mengajak Arza kembali. Kita membersihkan diri dan mengganti pakaian. Kemudian langsung makan ke restoran karena aku juga sudah lapar."
Aeleasha hanya mengangguk perlahan dan tidak mengungkapkan ada protes saat melihat Rafael beranjak dari sebelahnya dan berjalan menuju ke arah dua wanita yang sedang mengajak Arza bermain air.
"Apa dua wanita itu tidak mempunyai pasangan? Kenapa berada di area hotel berdua tanpa kekasih atau suami? Rasanya sangat aneh melihat dua wanita bersenang-senang di sini."
Aeleasha sebenarnya tadi ingin bertanya pada dua wanita itu mengenai pasangan. Apakah mereka belum menikah? Namun, mengurungkan niat karena berpikir itu merupakan privasi.
Ia selama ini tidak pernah ingin tahu hidup orang lain. Apalagi jika menyangkut dengan masalah pribadi. Jadi, ia memilih untuk tidak bertanya dan hanya bisa menebak saja.
"Mungkin suami dua wanita itu bekerja di luar kota dan pulang beberapa minggu sekali. Atau memang belum mempunyai pasangan dan ini menghibur hati dengan bersenang-senang di hotel mewah."
Saat masih menatap ke arah dua wanita yang dihampiri oleh Rafael, ia merasa aneh.
Apalagi ketika melihat pria yang merupakan mantan suaminya tersebut mengarahkan jari telunjuk ke arahnya sambil berbicara dengan dua wanita itu.
"Apa yang sedang mereka bicarakan? Pasti tengah membahas tentangku. Brother selalu membuatku penasaran saja."
Sementara itu, Rafael saat ini berbincang sebentar dengan dua wanita yang diketahui tadi memujinya.
"Maaf, aku ingin mengajak putraku untuk mandi karena istriku saat ini sudah kelaparan. Aku merasa bersalah jika sampai wanita yang kucintai pingsan karena tidak kuberi makan."
"Anda pasti sangat mencintai istri. Itu terlihat jelas dan bisa dilihat oleh semua orang yang ada di sini."
"Bahkan membuat orang lain merasa iri. Istri Anda sangat beruntung memiliki seorang suami yang sangat perhatian. Semoga kalian selalu hidup bersama dan berbahagia selamanya," sahut wanita yang saat ini menyerahkan balita tersebut pada sang ayah.
Rafael seketika tersenyum lebar begitu mendengar pujian tersebut dan beralih menoleh ke arah mantan istri yang berada cukup jauh darinya.
Bahkan ia sudah mengarahkan jari telunjuk pada Aeleasha. "Ya, wanita itu sangat beruntung karena menjadi istriku karena aku sangat mencintainya."
"Terima kasih doanya. Semoga Tuhan mendengar doa dari orang-orang tulus seperti kalian dan mengabulkannya, sehingga aku dan istriku akan selamanya bersama."
Rafael melanjutkan perkataannya di dalam hati karena tidak mungkin mengungkapkan di depan dua wanita itu.
'Berikan aku keajaiban, Tuhan. Semoga Aeleasha bisa melupakan bajingan itu dan membuka hatinya untukku. Jika itu terjadi, aku akan langsung membatalkan pernikahanku.'
__ADS_1
To be continued...