
Alesha masih terdiam membisu di tempat saat mendengar suara bariton dari pria yang sangat dicintai. Ia menyalahkan dirinya karena sempat berpikiran negatif mengenai Alex. Bahwa berpikir jika pria itu melupakannya, sehingga sama sekali tidak menghubungi.
Saat Alesha hendak mengeluarkan suara untuk menanggapi, melihat panggilan masuk dari seseorang yang ingin dihindari. Ya, saat ini Rafael tengah menghubungi dengan melakukan video call.
Tentu saja ia tidak ingin mengangkat panggilan telpon dari pria yang sangat dibenci. Hingga mendengar suara bariton dari Alex.
"Alesha ... Sayang, kamu masih di sana kan?"
Alesha menelan saliva dengan kasar dan tidak ingin membuat Alex menunggu ia berbicara.
"Alex, kamu tidak terluka parah, kan? Katakan di mana kamu dirawat saat ini? Aku akan datang ke sana." Alesha kini langsung meraih tas selempang miliknya dan bangkit dari ranjang.
Nanti, saat hendak berjalan keluar dari ruangan kamar kos, tangannya ditahan oleh Stella dan mendapatkan tatapan tajam.
Stella yang mengetahui jika Alesha mendapatkan telpon lain, bisa menebak jika itu adalah Rafael. Tidak ingin sahabatnya mendapatkan masalah, sehingga ingin menasihati.
Bahkan kini berbicara dengan lirih agar Alesha memikirkan keputusan. "Angkat dulu telpon suamimu! Bukankah kamu sudah sepakat untuk menjaga nama baik Rafael selama menikah dengan tidak bertemu dengan Alex?"
Alesha yang hanya memikirkan keadaan Alex, melupakan jika saat mendapatkan sebuah ancaman dari Rafael. Kini, ia terdiam di belakang pintu dan mendengar suara bariton dari Alex yang mengatakan rumah sakit.
"Baiklah. Aku matikan dulu telponnya karena ibuku menelpon," sahut Alesha yang kini merasa lega karena pria di balik telpon tidak merasa curiga.
Alesha kini beralih menatap ke arah Stella. "Aku tidak perduli pada si berengsek itu. Biarkan saja nama baiknya tercemar karma memiliki istri yang berselingkuh. Lagipula ia bukanlah seorang malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan."
Stella bisa mengerti jika saat ini sahabatnya tengah dikuasai oleh amarah, sehingga tidak memikirkan dampak negatif dari akibat perbuatan ketika sedang dikuasai oleh kemurkaan.
Namun, ia tahu bahwa sahabatnya tersebut sangat menyayangi sang ibu dan rela melakukan apapun demi wanita tersebut, sehingga kini ingin mengingatkan.
"Jika kamu sama sekali tidak memperdulikan pria itu, lali bagaimana dengan ibumu? Bukankah sekarang ibumu tinggal bersama ibunya Rafael? Jika kamu terlihat berselingkuh dengan Alex, bukankah orang pertama yang tersakiti adalah ibumu?"
"Sementara Rafael mungkin hanya akan sebentar marah dan langsung menceraikanmu. Aku tahu jika itu adalah hal yang membuatmu bahagia karena akhirnya bisa bersatu dengan Alex, tapi apa kamu bisa menjamin jika ibumu tidak terkena serangan jantung?"
Refleks Alesha jatuh terduduk di lantai karena tiba-tiba merasa lunglai begitu semua yang diungkapkan oleh Stella benar. Ia bisa sejauh ini juga karena demi ibunya dan tidak mungkin membiarkan usahanya sia-sia setelah mengorbankan kebahagiaan dan juga kesuciannya.
"Kamu benar, Stel, lalu apa yang harus kulakukan?" lirih Alesha yang kali ini kehilangan semangat hidup karena merasa takdir selalu mempermainkannya.
Jujur saja saat ini Stella yang masih berdiri menjulang di sebelah kanan Alesha merasa sangat iba, tapi berpikir jika sebagai teman yang baik ingin mengingatkan demi kebaikan.
"Sebaiknya kamu angkat telpon dari Willy dan lihat apa maunya. Baru kamu bisa memutuskan. Bilang saja kalau kamu ada di sini bersamaku, agar tidak terjadi kesalahpahaman."
Saat Alesha masih belum membuka suara untuk menanggapi perkataan masuk akal dari saran Stella, ia kembali mendengar suara dering ponsel dalam genggaman.
__ADS_1
Seperti yang diduga, Rafael tidak berhenti menghubungi selama ia tidak mengangkat, sehingga kini berpikir jika apa yang disampaikan Stella tadi benar.
Akhirnya ia berdehem sejenak untuk menormalkan suaranya yang serak dan membersihkan sisa-sisa air mata yang menghiasi wajah.
Baru kemudian bergerak menggeser tombol hijau ke atas dan melihat sosok pria yang menatapnya dengan tajam. Bahkan iris berkilat milik pria itu seperti tepat menusuk jantungnya. Perasaannya sekarang sangat campur aduk karena bingung apa yang akan dilakukan.
Jika dulu ia akan dengan sangat lantang menolak perintah dari Rafael dengan sangat percaya diri, tetapi ia tidak bisa melakukannya hari ini. Apalagi setelah temannya mengingatkan, membuatnya berubah lemah di hadapan pria yang sangat dibenci.
Sedangkan di sisi lain, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Alex yang mengalami kecelakaan.
Tentu saja ia takut jika terjadi hal buruk pada pria yang sangat dicintai. Alesha ingin segera pergi dari ruangan kamar kos temannya untuk mengunjungi Alex di rumah sakit karena takut membuatnya menyesal.
"Kenapa dari tadi tidak mengangkat telponku? Bahkan aku juga mengirimkan pesan padamu tadi. Pergi ke mana kamu? Apa sekarang sedang bersama kekasihmu?" sarkas Rafael dengan raut wajah memerah karena dikuasai oleh kemurkaan.
Alesha menahan diri sekuat tenaga untuk tidak terpancing emosi, sehingga kini mengambil napas teratur dan mulai berbicara sesuatu hal yang dari tadi menari di otaknya.
Meskipun sebenarnya jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal karena akan mengambil keputusan.
"Maaf, aku tadi tidak tahu karena ada di luar kamar kos temanku untuk berbincang, sedangkan ponsel di dalam tas. Jadi, aku tidak dengar. Aku tadi pergi ke tempat kos temanku dan tidak membangunkanmu karena kamu tidur sangat pulas."
Alesha saat ini tengah mengarahkan kamera untuk menunjukkan bahwa apa yang dikatakan benar. Bahwa ia berada di tempat kos sahabatnya. Bukan bersama Alex seperti yang dituduhkan oleh Rafael.
Sementara di sisi lain, Rafael yang tadinya ingin bertanya mengenai hal yang terjadi semalam karena sama sekali tidak mengingat apapun, tidak jadi melakukannya karena ada orang lain.
"Lebih baik kamu cepat kembali ke hotel karena kita akan pulang ke rumah hari ini."
Alesha yang tidak ingin bertemu Rafael karena sama saja dengan melukai perasaannya, sehingga kini memilih untuk memancing emosi pria yang telah melupakan kejadian penting yang mengubah seluruh masa depannya.
"Aku harus pergi menjenguk dosenku yang sedang kecelakaan. Tadi beberapa teman menelpon dan menceritakan tentang kemalangan yang dialami dosen kami. Bukan hanya aku yang datang, banyak mahasiswa juga datang ke rumah sakit.
Alesha berharap Rafael percaya dan tidak menyuruhnya pulang cepat karena ia benar-benar sakit hati saat melihat Rafael.
Namun, bukan seperti yang diinginkannya karena saat ini ia melihat Rafael sudah tertawa terbahak-bahak menanggapi hal yang baru saja dikatakan. Tentu saja ia menyadari jika tipu muslihatnya bisa dibaca oleh pria yang menganggap perkataannya konyol.
'Sial! Rafael kini pasti berpikir aku hanya menipunya dengan mengatakan omong kosong. Meskipun sebenarnya itu benar, tapi paling tidak ia sedikit memahami perasaanku. Bahwa aku saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan Alex.'
Saat Alesha sibuk bergumam sendiri di dalam hati, ia berjenggit kaget ketika mendengar suara bariton dari Rafael.
"Jika sampai kamu berani melangkahkan menjenguk dosenmu yang pastinya adalah Alex, ibumu bisa mati. Bukankah itu yang selalu menjadi pertimbanganmu selama ini?"
"Aku akan menceraikanmu hari ini juga karena pergi menemui pria lain saat pernikahan baru satu hari. Jika sampai ibumu mendengarnya, bukankah akan terkena serangan jantung?"
__ADS_1
Rafael sangat yakin jika Alesha sampai pergi pagi-pagi sekali karena yang kecelakaan adalah Alex. Karena ia sudah mengetahui jika kelemahan Alesha adalah sang ibu, membuatnya tidak lagi bisa menahan diri untuk membiarkan berbuat sesuka hati.
"Dimana-mana, tidak ada seorang suami yang mengizinkan istrinya menemui pria lain. Apalagi itu adalah seseorang di masa lalu yang masih membuatmu merasakan sesuatu yang berbeda di hati."
"Jadi, sekarang putuskan apa yang akan kamu lakukan! Aku akan membebaskanmu karena tidak ingin menjadi suami yang terlalu mengekang istri. Pergilah jika ingin melihat sugar daddy-mu itu karena aku sekarang tidak akan menghalanginya."
Setelah berbicara dengan penuh percaya diri jika Alesha tidak akan pernah melawan dan pergi menemui Alex.
Rafael yang terlihat mendaratkan kasar tubuhnya di atas ranjang king size, bisa dilihat oleh Alesha.
Alesha bahkan kembali mengingat momen percintaan panas dan liar semalam di sana. Bahkan mungkin masih menyisakan aroma khas tubuh mereka ketika menyatu dalam peluh saat bercinta dengan penuh gairah beberapa kali.
'Aku benar-benar sudah gila,' gumam Alesha yang kini masih mengunci rapat bibir karena tidak bisa berkata-kata.
Setelah mengungkapkan kalimat mengejek dan menatap sinis pada wanita yang masih diam membisu tersebut, Rafael kini tersenyum smirk.
"Kamu ingin pulang sendiri atau kujemput? Jika ingin aku datang dan memperkenalkan pada teman-temanmu, kirimkan alamat tempat kosnya."
Sementara itu, Alesha masih terdiam di tempatnya dan tidak berkomentar apapun atas kalimat menohok dari pria yang seperti berhasil mengulitinya.
Ia bahkan merasa seperti seorang wanita yang sudah kehilangan seluruh harga diri karena kehormatannya telah direnggut oleh pria di atas ranjang tersebut.
'Menyebalkan sekali pria berengsek itu! Rasanya aku ingin sekali mencekik lehernya,' gumam Alesha yang kini sudah mengepalkan tangan dan ingin sekali mencekik dari kejauhan sosok pria yang berada di atas ranjang tersebut.
'Aku ingin mencekiknya hingga bola mata pria berengsek itu membeliak dan kesusahan bernapas.'
Selama beberapa detik ia terdiam dengan posisi tangan yang sama, hingga beberapa saat kemudian merasakan kakinya pegal karena dari tadi menekuk lutut.
'Jika aku tidak pergi menemui Alex, pasti akan berpikir macam-macam mengenai aku.'
'Aku sudah meminta waktu satu bulan, tetapi semuanya kacau seperti ini karena kami telah melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri,' lirih Alesha yang saat ini menarik rambutnya karena sangat frustasi.
Bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan apapun lagi ketika merasakan nyeri di kulit kepala karena satu-satunya yang dipikirkan adalah kesalahan ketika tidak bisa menjaga diri dan malah kehilangan sesuatu yang selama ini sangat berharga.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sudah tidak memiliki apapun lagi untuk dibanggakan. Tidak mungkin Alex menerima wanita yang sudah bercinta dengan pria lain.'
'Ia pasti akan sangat jijik padaku dan tidak mau menerimaku seperti dulu,' gumam Alesha yang kini sudah tidak lagi memiliki kekuatan.
Tubuhnya sangat lelah dan remuk redam. Belum lagi bagian inti miliknya masih menyisakan kenyerian luar biasa karena pria yang saat ini ditatap dengan tajam tersebut semalam menghajarnya habis-habisan dan tidak mengingatnya karena efek mabuk.
Bahkan ia merutuki kebodohannya sendiri karena semalam tidak bisa menolak setiap sentuhan pria itu ketika mengirimkan denyut kenikmatan yang membakar setiap urat syarafnya hingga menegang.
__ADS_1
'Dasar wanita murahan yang haus belaian. Kenapa aku bisa sangat bergairah dan tidak bisa menolak ketika Rafael melakukan itu padaku?'
To be continued...