I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Rumit


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 15 menit, mobil Rafael sudah berbelok ke rumah sakit terdekat dan langsung disambut brankar karena memang berhenti tepat di depan IGD.


Rafael lebih dulu mengangkat tubuh Alesha meskipun agak kesusahan dan membaringkan di atas brankar. Hingga ia pun menoleh ke arah sang mertua yang terlihat jelas wajahnya dipenuhi oleh kekhawatiran.


"Ibu tenang saja, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada Alesha. Mungkin Alesha hanya kelelahan." Rafael bahkan sudah mengusap lembut pundak dari mertuanya tersebut karena sampai kapan pun, ia tetap akan menganggap wanita paruh baya tersebut sebagai ibunya.


"Iya. Ibu akan ikut masuk, kamu parkir mobil dulu sana." Lia Nuraini kini melihat seorang pria yang baru saja datang, tak lain adalah dosen putrinya.


Ia merasa jika ada sesuatu di antara putrinya dan dosen itu, sehingga merasa situasi saat ini membuatnya tidak enak pada dua pria itu.


"Pak dosen, Anda ...."


Lia Nuraini merasa bingung untuk berbicara karena ia saat ini mendengar suara bariton dari Rafael yang mengungkapkan kemurkaan.


"Buat apa kau ikut ke sini? Apa kau tidak ada kerjaan? Bahkan kau tadi ke perusahaanku, sekarang ikut ke rumah sakit. Apa kau mempunyai hobi untuk menggangguku?" Rafael tidak jadi masuk ke dalam mobil karena kesal melihat Alex yang sudah datang.


Hingga ia pun merasa kesal begitu mendapat perintah dari security dan tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Alex.


"Maaf, Tuan. Mohon untuk segera parkir mobil di tempat yang tersedia karena ini jalanan untuk area IGD. Nanti akan menganggu orang yang datang membawa pasien gawat darurat," ucap security yang saat ini tengah menatap ke arah pria dengan penampilan sangat rapi ala kantoran itu.


Tanpa berbicara karena tidak ingin membuang waktu, akhirnya Rafael saat ini langsung masuk ke dalam ke dalam mobil agar bisa cepat kembali dan menghalangi Alex lebih dekat dengan mertua.

__ADS_1


'Aku tidak akan membiarkannya merayu ibu agar suka padanya,' gumam Rafael yang saat ini menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas untuk menuju ke arah parkiran.


Sementara itu, Alex yang beberapa saat lalu ingin berbicara pada ibu Alesha karena tidak ingin wanita paruh baya tersebut merasa shock begitu mengetahui kenyataan putrinya yang hamil dalam keadaan diceraikan oleh suami.


"Ibu, saya ingin bicara satu hal penting."


Lia Nuraini yang buru-buru masuk ke dalam ruangan IGD sebagai pendamping putrinya, tidak menyangka jika sang dosen mengikutinya dari belakang.


Sebenarnya ia ingin menyuruh pria itu menunggu di luar agar tidak melihat keadaan Alesha yang kini langsung mendapatkan penanganan dari petugas medis, tapi tidak jadi karena mendengar suara bariton pria itu.


"Hal penting? Apa ada hal penting lain selain keadaan putriku, Pak dosen? Apa tidak bisa ditunda karena saat ini Alesha sedang diperiksa dokter." Lia Nuraini ingin bertanya pada dokter yang tengah memeriksa putrinya.


Namun, ia tidak jadi melakukannya begitu sang dosen mengatakan sesuatu yang membuatnya memicingkan mata.


Merasa ada yang tidak beres dengan putrinya dan juga sang dosen, kali ini Lia Nuraini berjalan mendekati sosok pria dengan kemeja hitam tersebut. "Katakan saja sekarang dan jangan membuatku penasaran."


Saat Lia Nuraini menatap intens wajah pria yang ia ketahui lebih dewasa dari Rafael, kini menoleh ke arah sang dokter yang malah bertanya.


"Apa Anda adalah suami dari pasien?" tanya sang dokter yang saat ini baru saja memeriksa tanda-tanda vital pasien setelah perawat memasang infus.


Hingga ia pun memicingkan mata begitu melihat kedatangan pria lain yang baru saja tiba dan mengangkat tangan ke atas.

__ADS_1


"Saya suaminya, Dokter!" Rafael menekankan suaranya dengan napas terengah karena tadi berlari menuju ke arah IGD.


Ia tidak ingin Alex berbicara lama dengan ibu mertuanya, sehingga membuatnya buru-buru ingin menyusul ke sana. Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mendengar suara bariton dari sang dokter.


"Selamat, Tuan. Istri Anda kini tengah hamil 6 minggu. Jadi, pasien pingsan karena efek trimester pertama." Sang dokter yang baru saja menutup mulut, seketika membulatkan mata begitu melihat wanita paruh baya yang tiba-tiba pingsan.


"Ibu!" teriak Alex yang langsung menopang tubuh wanita paruh baya itu jatuh ke sampingnya saat kehilangan kesadaran.


Sementara itu, Rafael yang belum selesai rasa terkejutnya, makin shock ketika melihat ibu mertuanya pingsan. Namun, ia seketika beralih menatap ke arah sosok pria yang membuatnya merasa sangat murka dengan kepalan tangan.


"Bangsat kau Alex!" sarkas Rafael yang kini merasa sangat yakin jika Alex yang membuat Alesha hamil.


Alex yang masih menopang beban berat tubuh ibu Alesha, kini bisa melihat tatapan penuh kebencian dari sosok pria yang berdiri tak jauh dari hadapannya.


"Apa katamu? Apa kau sadar siapa yang pantas disebut bangsat?" teriak Alex yang saat ini tidak kalah murka, tapi ia saat ini seperti tengah mencium sesuatu yang tidak beres dari kemurkaan Rafael.


'Tunggu! Kenapa Rafael menatapku penuh kebencian seperti itu? Jangan-jangan ....'


Alex tidak melanjutkan perkataannya di dalam hati begitu mendengar umpatan dari Rafael.


"Bukankah kau yang telah menghamili Alesha?" Rafael bahkan sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari para petugas medis yang mengetahui masalah rumah tangganya yang rumit.

__ADS_1


Para dokter dan perawat saling berpandangan dan benar-benar bingung harus melakukan apa. Mereka hanya mencoba untuk menyuruh dua pria itu tidak membuat keributan di sana.


To be continued...


__ADS_2