I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Bersandiwara


__ADS_3

'Tidak ada gunanya aku bermusuhan dengan Rafael. Itu malah akan menyusahkan nanti ketika berpisah. Baiklah, lebih baik aku berdamai dengannya hari ini hingga seterusnya.'


"Alesha." Lia Nurani mengerutkan kening saat melihat putrinya seperti tengah banyak pikiran.


Lamunan Alesha seketika buyar begitu mendengar suara dari sang ibu yang sudah berada di hadapannya. "Ya, Ibu."


"Kamu seperti sedang tertekan dan banyak pikiran. Tenang saja karena semuanya akan berjalan lancar hingga acara usai." Wanita paruh baya tersebut mengusap lembut lengan putrinya yang kini duduk di tepi pembaringan.


"Iya, Bu. Aku tahu itu. Hanya saja, aku sedang memikirkan jika tidak tinggal bersamamu setelah menikah nanti. Aku belum membicarakan tentang ini, tapi sepertinya harus membahas ini dengan Rafael. Mama bisa tinggal bersama kami nanti."


Alesha tidak yakin apakah saat tinggal bersama sang ibu nanti akan membuat pernikahan palsunya ketahuan.


Sebenarnya akan lebih aman jika ia tinggal dengan Rafael hanya berdua, jadi bisa berbuat sesuka hati. Hingga jawaban dari wanita paruh baya tersebut membuatnya terdiam .


"Ibu akan tetap tinggal di sini, Alesha. Kalian adalah pengantin baru yang pastinya akan lebih nyaman tinggal berdua. Mungkin nanti setelah cucu Ibu lahir, baru tinggal bersamamu karena ingin menjaga anakmu."


"Jadi, jika kamu ingin Ibu tinggal bersamamu, cepatlah hamil dan jangan menunda kehamilan."


Alesha sama sekali tidak pernah berpikir akan hal itu karena pernikahannya hanyalah sebuah kepalsuan. Jika yang menikahinya adalah pria pujaan hati, mungkin akan bersemangat dan langsung mengiyakan permintaan sang ibu.


Berbeda saat ini, ia hanya tersenyum simpul penuh kepalsuan pada wanita paruh baya di hadapannya tersebut. "Kalau soal itu, serahkan saja pada Tuhan dan biarkan takdir bertindak. Aku mau mandi dulu. Bukankah satu jam lagi supir akan menjemput?"


"Iya, makanya Ibu tadi ingin membangunkanmu. Ternyata kamu sudah bangun. Bersiaplah. Ibu akan menunggu supir yang menjemput kita karena tadi mertuamu mengatakan jika sebentar lagi supir keluarga datang."


Alesha hanya mengangguk perlahan dan masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual membersihkan diri, sedangkan sosok wanita yang ada di kursi roda tersebut menyuruh perawat untuk membantunya keluar dari ruangan kamar putrinya.


Setengah jam kemudian, terlihat Alesha sudah sangat segar dan rapi dengan kemeja biru lengan pendek dan celana panjang. Sengaja ia memakai pakaian seperti yang disukai Rafael karena menganggap jika itu sebagian dari pekerjaan.

__ADS_1


Ia kini lebih menganggap jika Rafael adalah bosnya dan harus dipatuhi segala perintahnya. Seperti yang ia katakan tadi, ingin berdamai dengan pria itu dan menelpon Rafael.


Namun, terdengar nada sibuk dan membuatnya mengerutkan kening. "Apa ia masih sibuk bekerja dan berbicara dengan rekan bisnisnya?"


"Padahal aku ingin mengajaknya berdamai hari ini. Mungkin nanti saja menelponnya lagi."


Kemudian Alesha meraih tas selempang miliknya dan berjalan keluar dari ruangan kamar, sedangkan tas jinjing berisi beberapa pakaian ganti sudah ditaruh di ruang depan semalam karena sang ibu selalu saja mengatakan untuk segera menyiapkan."


Ibunya selalu mengatakan nanti ada yang terlupa saat hari pernikahan. Memang keluarga mereka dilarang melakukan apapun karena semuanya sudah diurus oleh pihak mempelai laki-laki.


Namun, ibunya tetap saja seperti orang sibuk karena menyiapkan makanan untuk beberapa tetangga sekitar yang datang untuk mengucapkan selamat.


Memang kehidupan di sekitar mereka begitu, selalu datang tanpa diundang karena itu merupakan suatu bentuk menghormati karena tetangga akan melakukan sebuah acara pernikahan.


Meskipun tidak di tempat mereka, tetap saja datang untuk mengucapkan selamat dan pastinya membawa oleh-oleh untuk sekedar membantu sang pemilik acara penting itu.


Saat berada di dalam mobil, Alesha kembali menelpon Rafael karena tidak ingin saat menikah nanti malah saling bermusuhan dengan saling dendam.


Namun, yang terjadi adalah masih sama seperti tadi. Panggilan sibuk dan membuatnya merasa sangat penasaran, dengan siapa Rafael berbicara dari tadi.


'Dari tadi ia sibuk berbicara dengan siapa sebenarnya?'


Tidak ingin membuang waktu, akhirnya Alesha kini memilih untuk mengirimkan pesan. Berharap nanti Rafael membacanya.


Aku ingin kita berdamai dan pernikahan palsu ini berjalan lancar hingga mengakhiri dengan baik. Jadi, sebaiknya bersikap biasa nanti, agar tidak ada yang mengetahui bahwa ini hanyalah sebuah kepalsuan. Jadi, maafkan aku jika melakukan kesalahan padamu.


Alesha kini langsung memencet tombol kirim dan menunggu jawaban dari Rafael.

__ADS_1


'Sebenarnya, ini bukanlah salahku karena meminta maaf saat tidak melakukan kesalahan pada seseorang. Rafael yang pertama bersikap ketus padaku dan menghinaku, tetapi aku masih merendahkan harga diriku dengan meminta maaf hari ini.'


'Namun, aku rela karena ini demi hubunganku dengan Alex nantinya. Aku harus menjalin hubungan yang baik dengan Rafael, agar tidak menyerang pria yang kucintai, ketika sudah memutuskan untuk berpisah dan menikah dengan Alex.'


Hingga setengah jam menempuh perjalanan, mobil yang membawanya sudah tiba di hotel mewah bintang lima yang menjadi tempat pernikahan mereka.


Saat ini, Alesha mengembuskan napas berat karena masih belum mendapatkan jawaban dari Rafael. 'Sepertinya ia masih marah padaku. Sudahlah, terserah saja. Aku tidak akan pusing memikirkan ini.'


Alesha kini sudah beranjak turun dari mobil dan membantu sang ibu untuk duduk di kursi roda. Kemudian mereka berjalan masuk ke dalam lobi hotel dengan dibantu supir yang membawa barang-barang dan juga perawat mendorong kursi roda.


Ia akan langsung dirias oleh make up artists yang sudah menunggu di salah satu ruangan hotel.


Sementara di tempat lain, Rafael masih bersantai di atas tempat tidur karena memang hari masih pagi.


Ia baru saja mematikan sambungan telpon karena tadi dihubungi oleh mantan istri dan mendapatkan banyak petuah dari Aeleasha. Memang awalnya adalah ucapan selamat atas pernikahan dan meminta maaf karena tidak bisa datang.


Namun, berikutnya adalah mendapatkan petuah, agar ia berusaha menjalani kehidupan rumah tangga bersama Alesha dengan menerima wanita itu sebagai seorang istri yang baik.


Embusan napas panjang kini terdengar memenuhi ruangan kamar Rafael. "Kamu tahu kalau aku hanya mencintaimu, tapi tetap saja mendorongku untuk melupakanmu dan mencintai wanita lain."


Baru saja Rafael menutup mulut, ia mendengar suara notifikasi dan langsung membacanya. Begitu mengetahui bahwa wanita yang akan dinikahi mengajak berdamai setelah empat hari tidak berkomunikasi, ia pun kembali mengembuskan napas panjang.


"Baiklah, aku akan bersikap layaknya seorang mempelai pengantin pria bahagia bersama Alesha Indira. Pernikahan sandiwara ini tidak boleh ada yang mengetahui hanyalah sebuah kebohongan."


Rafael pun memilih untuk membalas pesan dari Alesha.


Baiklah, aku pun juga minta maaf padamu karena sudah bersikap kasar. Kita berdamai saja. Aku pasti akan melakukan itu. Jadi, kita harus bersandiwara di depan semua orang hari ini.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2