I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menginap di tempat kakek


__ADS_3

Aeleasha yang saat ini masih merasa sangat malu berhadapan dengan sosok pria berparas tampan dan rupawan, hanya bisa menelan kasar saliva dan tidak bisa berbicara sepatah kata pun.


Apalagi saat mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, bahwa pria tersebut berhasil mengantarnya pada puncak kenikmatan yang dirasakan saat ia meledak dalam kolam hasrat.


Ingin segera menghindar dari tatapan sang suami yang saat ini mengunci tatapannya. Ia berharap pria yang telah berbuat gila tersebut tidak semakin menggoda. Ia sadar bahwa apa yang saat ini dikatakan oleh Arsenio memang benar.


Saat ini, tenaganya seolah habis dan tidak mampu untuk sekedar berjalan karena kehilangan daya.


Selain merasa malu, ingin segera membersihkan diri di kamar mandi. Ia pun kini terpaksa membuka mulut.


"Sepertinya hobimu adalah menggoda dan mempermalukan aku, sehingga dari tadi tidak berhenti menertawakanku. Sangat menyebalkan."


Saat Arsenio memang berniat untuk menggoda Aeleasha agar semakin merasa malu karena terlihat sangat menggemaskan. Ia merasa sangat senang dan selalu bersemangat melihat itu.


Namun, melihat ekspresi wajah masam sang istri sekarang berubah masam, membuat Arsenio tidak ingin mood wanita itu buruk.


"Jangan marah lagi karena aku tahu kalau kamu melampiaskan rasa malu dengan cara marah seperti ini."


Kali ini, Arsenio membungkuk untuk meraup tubuh seksi itu ke atas lengan kekarnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Masih menatap raut wajah cantik istrinya, Arsenio kini mengukir seulas senyuman dan tersenyum menyeringai.


"Sayangnya aku tadi tidak bisa melihat ekspresi wajahmu saat meledakkan gairah," ucap Arsenio yang kini telah menurunkan Aeleasha di lantai kamar mandi.


Sementara Aeleasha masih merasa sangat malu, sekaligus berbunga-bunga saat mendengar Arsenio selalu menggoda, tetapi ia hanya berakting biasa dan setenang mungkin.


Saat merasa malu, menyembunyikannya dengan cara memukul lengan kekar itu. Berharap perbuatannya itu bisa segera membuat pria dengan tatapan penuh seringai tersebut segera pergi meninggalkan ia di kamar mandi sendirian.


"Lebih baik keluar sekarang!"

__ADS_1


"Jadi, kamu ingin aku keluar setelah lidah tak bertulang ini mampu mengangkat pinggangmu?" Arsenio masih menggoda karena merupakan hal paling menyenangkan sepanjang sejarah hidupnya saat sama sekali tidak pernah merasa bosan menggoda sang istri.


"Baiklah. Aku sangat pengertian padamu, jadi akan keluar dan tidak akan membuatmu malu."


Akhirnya berjalan keluar dari kamar mandi. Meninggalkan sang istri dan saat mendaratkan tubuhnya di atas ranjang, mendengar suara notifikasi dari ponsel di atas nakas.


Ia kemudian membaca pesan dari pengacara perusahaan.


Tuan Arsenio, baru saja Rafael mengatakan akan menerima perusahaan yang Anda alihkan kekuasaan. Jadi, saya akan mengurus semuanya, tapi sepertinya membutuhkan Anda untuk menandatangani surat peralihan kepemilikan.


Arsenio kemudian langsung membalas pesan tersebut dan tersenyum simpul.


Tentu saja aku akan datang. Sepertinya aku butuh refreshing ke negara kelahiranku. Kau urus saja semuanya.


Setelah mengirimkan pesan itu, embusan napas lega kini dirasakan olehnya karena seperti terbebas dari beban berat yang selama ini dipikul.


"Akhirnya Rafael menerimanya, tapi apa yang membuatnya berubah pikiran? Aneh sekali. Apa ini karena wanita yang namanya sama dengan istriku? Jika benar begitu, berarti ada perkembangan dari hubungan mereka."


Selama di dalam gendongan Arsenio tadi mendengar godaan sosok pria dengan tersenyum smirk, sebenarnya ingin sekali kembali mencubit sang suami karena kesal, tetapi menahannya karena tidak ingin kembali dihukum.


Semenjak menikah, Arsenio memang sering menghukumnya jika ia melakukan kesalahan. Meskipun hukuman penuh kenikmatan, tetap saja merasa sangat malu.


Namun, kalimat ambigu pria dengan tatapan nakal tersebut, berhasil membuatnya mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan arti dari ucapan pria yang beberapa saat lalu sudah berlalu pergi.


"Apa maksud lidah tak bertulang mampu mengangkat pinggang? Suamiku selalu membuatku merasa sangat pusing dengan perkataan ambigunya."


Selama membersihkan diri, ia masih memutar otak untuk mencari jawaban atas perkataan Arsenio yang seperti sebuah teka-teki dan membuat kepalanya pusing. Tidak ingin semakin pusing, ia memutuskan untuk menanyakan jawabannya pada suami nanti setelah keluar dari kamar mandi.


Cukup lama ia berada di dalam kamar mandi karena ingin mengulur waktu sebanyak mungkin untuk membuang rasa malu yang dirasakan.

__ADS_1


Kemudian ia berjalan keluar dengan langkah kakinya yang telanjang menapaki lantai dingin itu. Aeleasha tengah membuka pintu kamar mandi. Ia sebenarnya merasa heran karena berada di dalam kamar mandi cukup lama, tetapi tidak mendengar suara sang suami seperti biasanya.


'Tumben sekali suamiku tidak berteriak saat aku lama di dalam kamar mandi. Padahal biasanya ia selalu cerewet seperti wanita karena mengkhawatirkan keadaanku jika terlalu lama di kamar mandi,' lirihnya yang kini baru saja membuka pintu dan samar-samar mendengar suara bariton dari sosok pria yang tengah membelakanginya.


Bahkan indra pendengarannya menangkap suara bernada senang saat memegang ponsel di dekat daun telinga.


Awalnya ia berpikir jika pria dengan bahu lebar nan kokoh tersebut sudah tidur. Namun, saat mendengar sang suami menyebut daddy, membuatnya mengerti dengan siapa pria yang membelakanginya berbicara.


'Suamiku sedang berbicara dengan ayah mertua?' lirih Aeleasha yang saat ini memilih untuk diam mematung di belakang sang suami dan mendengar percakapan antara anak dan ayah yang bukan merupakan orang sembarangan tersebut.


Sementara itu, beberapa saat setelah Arsenio menerima pesan dari sang pengacara perusahaan, ia mendengar suara dering ponsel miliknya mengalihkan perhatian dan tanpa membuang waktu langsung bangkit berdiri dari tempatnya untuk mengambil benda pipih yang tadi baru saja diletakkan kembali ke atas nakas.


Begitu melihat siapa yang menghubungi, ia kini langsung menggeser tombol hijau ke atas untuk mengangkat panggilan dari sang ayah angkat, tetapi sudah dianggap ayah kandung. Bisa didengarnya suara bariton dari seberang.


"Arsenio, bagaimana kabar cucuku? Sepertinya Arza melupakan kakeknya karena lama tidak datang ke rumah."


Arsenio kini mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar dan mengungkapkan jawaban atas pertanyaan sang ayah.


"Sepertinya Daddy merindukan Arza. Apakah ingin membawa Arza menginap selama beberapa hari di sana?"


"Kau memang putraku yang sangat cerdas karena selalu mengetahui apa yang kuinginkan. Aku sudah memesan banyak mainan tadi dan ingin cucuku melihatnya. Jadi, biarkan Arza tinggal di sini selama satu minggu. Bukankah kamu sedang proses membuat istrimu hamil anak kedua? Jadi, Arza tidak akan mengganggu kalian jika berada di sini."


Sudut bibir Arsenio seketika melengkung ke atas begitu mendengar suara bariton dari seberang telepon. Tentu saja ia tidak merasa keberatan dengan kemauan dari sang ayah.


"Tentu saja aku sama sekali tidak keberatan, Daddy. Arza boleh tinggal di sana selama satu minggu. Setelah pulang dari sana, akan mengajak istri dan anakku ke tempat kelahiran kami karena ada urusan penting yang harus dilakukan. Jadi, selama aku tidak ada, tolong urus perusahaan."


"Baiklah. Aku akan mengurusnya. Malam ini, Arza akan dijemput oleh kepala pelayan karena tidak bisa ke sana sendiri saat ada beberapa klien menawarkan tender besar. Jadi, saat ini sedang memeriksanya."


"Baiklah, Dad. Aku akan menyuruh istriku mengemas beberapa perlengkapan Arza." Arsenio kini langsung mematikan sambungan telepon setelah sang ayah mengakhiri.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2