I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Kemungkinan terburuk


__ADS_3

Seorang pria yang saat ini tengah tertidur pulas di atas ranjang king size hotel dengan sprai yang sudah berantakan, terlihat bergerak menggeliat dengan sesekali bersuara lirih. Silau cahaya matahari menembus kain korden berwarna putih yang menghiasi jendela kaca balkon.


Pria yang tak lain adalah Rafael masih sibuk melemaskan otot-otot yang terasa kaku meskipun belum membuka kedua mata karena merasa seperti dilapisi lem.


"Aaarrrh ...." Rafael kini meluruskan tubuh setelah tadi tidur meringkuk di bawah selimut tebal.


Beberapa saat kemudian, merasa sangat silau, ia refleks langsung menarik selimut dan menutupi wajahnya. Niatnya adalah ingin bermalas-malasan seharian karena menyadari mengambil cuti beberapa hari karena pernikahan dengan Alesha.


Refleks ia langsung membuka kedua mata begitu ingin melihat ke sekeliling. Hingga ia membuka selimut tebal berwarna putih yang tadinya menutupi wajah dan seluruh tubuh. Hingga cahaya matahari menandakan bahwa hari ini sudah siang.


Rafael mengerjapkan kedua mata begitu melihat ke sekeliling ruangan. Karena sangat sepi, ia kini menunduk menatap ke arah tubuhnya yang terlindungi selimut tebal.


Refleks ia membulatkan kedua mata begitu melihat keadaannya yang polos tanpa sehelai benang pun. Refleks Rafael bangkit dari posisi dengan duduk di tengah ranjang.


"Apa yang terjadi?" Rafael mencoba untuk mengingat apa yang terjadi semalam.


Namun, merasa kepalanya terasa sangat pusing dan membuatnya memijat pelipis. "Aaarggh ... kepalaku!"


Masih sibuk memijat pelipisnya, Rafael mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar dan pandang jatuh ke arah sofa.


"Semalam aku bersama teman-temanku dan karena kesal, jadi minum banyak, lalu mabuk. Saat kembali ke kamar, aku melihat ...."


Rafael tidak melanjutkan perkataannya karena masih berusaha untuk mengingat apa yang terjadi di dalam kamar dan begitu mengingat jika ia melihat Alesha baru saja keluar dari kamar mandi dan duduk di sebelahnya, ingatannya berhenti di sana.


"Apa yang terjadi setelah Alesha duduk di sebelahku? Aarrh ... sial! Rasanya kepalaku mau pecah." Rafael kini bergerak turun dari ranjang dan mengambil air minum di atas nakas untuk meredakan rasa kering di tenggorokan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku tidak mengingat apapun? Alesha? Di mana dia?" Rafael kini mengambil celana yang teronggok di lantai dan mengenakannya.


Ia membiarkan bagian atas tubuhnya telanjang dan menampilkan dada bidang yang datar. Kemudian berjalan untuk memeriksa sekeliling sambil berteriak.


"Alesha! Ke mana wanita itu? Bahkan ia tidak mengatakan apapun padaku sebelum pergi. Dasar wanita yang susah diatur!" Rafael kini kembali berjalan menuju ke arah sofa, di mana di dekat sana ada jas yang di dalamnya terdapat ponsel miliknya.


Setelah ponsel berada dalam genggaman, Rafael segera menelpon kontak Alesha dan ia menunggu sampai wanita yang pergi tanpa pesan tersebut mengangkat telpon darinya.


"Ke mana dia? Kenapa tidak diangkat juga? Apa wanita liar itu sedang menemui Alex? Awas saja jika sampai nanti kembali, aku akan memberikannya pelajaran." Rafael mengempaskan tubuh di atas sofa dan kini terdiam sejenak.


"Tenang! Aku harus mengingat kejadian semalam." Rafael mencoba memegangi kepala dan terdiam selama beberapa saat untuk mencoba mengingat apakah terjadi sesuatu antara ia dan Alesha.


"Aku tidak akan melakukan apapun pada Alesha karena hanya mencintai Aeleasha. Ini pasti ada kesalahan yang tidak kuketahui. Ataukah Alesha mencoba untuk menjebakku semalam? Membuat keadaan seolah-olah aku bercinta dengannya?"


Rafael kini menganggukkan kepala beberapa kali dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil mencari jalan penyelesaian dari permasalahan yang dihadapi.


"Aku yakin jika Alesha pasti yang melakukan membuat sebuah konspirasi untuk menjebakku. Ya, benar. Karena jika aku semalam bercinta dengannya, pasti akan mengingatnya, tapi yang terjadi sebaliknya."


"Aku sama sekali tidak mengingat apapun karena efek mabuk. Kenapa aku semalam terbawa emosi hingga banyak minum dan berakhir mabuk? Sial!"


Merasa harus segera menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, Rafael kini mengirimkan pesan pada Alesha karena wanita itu tidak mengangkat panggilan darinya.


Sebenarnya kau pergi ke mana pagi-pagi sekali tanpa membangunkanku? Apa sekarang kau sedang bersama Alex dan mengatur rencana untuk memerasku? Apa yang kau lakukan padaku semalam? Kenapa aku bangun tanpa menggunakan apapun di tubuhku?


Setelah mengetik pesan panjang lebar yang mewakili pertanyaan di kepalanya, kini Rafael langsung menekan tombol kirim dan menunggu jawaban dari wanita yang dianggap telah melepaskan semua pakaiannya semalam.

__ADS_1


Rafael berpikir jika Alesha adalah seorang sugar baby yang terbiasa melakukan hal itu bersama para sugar daddy. Jadi, berpikir bahwa apa yang ia pikirkan memang benar adanya.


Hingga ia merasa yakin jika sekarang menjadi korban selanjutnya dari Alesha. Embusan napas kasar terdengar sangat jelas memenuhi ruangan kamar yang menjadi tempat ia beristirahat semalaman tanpa mengingat apa yang terjadi.


Hingga beberapa saat kemudian, Rafael yang merasa jika Alesha benar-benar menguji kesabarannya, ingin memberikan pelajaran jika nanti wanita itu kembali.


"Baiklah, akan kulihat apa yang kau lakukan nanti saat kembali," ucap Rafael yang masih memegang ponsel di tangan dan menatap benda pipih tersebut.


Dari tadi ia menunggu jawaban dari pesan yang dikirimkan, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari Alesha.


"Ditelpon tidak diangkat, pesan tidak dijawab. Sepertinya benar jika wanita murahan itu tengah bersama Alex, sehingga tidak mau mengangkat telpon dan menjawab pesanku."


Tidak ingin semakin dibuat pusing memikirkan wanita yang kembali membuatnya merasa emosi, kini Rafael memilih untuk bangkit berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Memilih untuk berdiri di bawah guyuran air dingin yang keluar dari shower, Rafael berharap bisa mendinginkan kepala yang terasa sangat panas seperti hendak meledak karena emosi.


Bahkan selama di dalam kamar mandi, ia sesekali mengumpat untuk melampiaskan amarah.


"Sekali murahan tetap saja murahan. Sial! Aku memilih wanita yang salah untuk bekerja sama hanya gara-gara namanya sama dengan Aeleasha. Apalagi aku memutuskan semuanya karena emosi dulu, sehingga tidak bisa berpikir jernih karena kesal pada mama yang setiap hari memaksaku menikah."


Rafael yang kini masih sibuk menyesali keputusan untuk mengajak kerja sama Alesha yang merupakan seorang sugar baby, kini tengah memikirkan kemungkinan terburuk jika sampai wanita yang kemarin dinikahinya tersebut memerasnya.


"Aku harus berjaga-jaga dengan kemungkinan terburuk," ucap Rafael yang kini mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Berharap kejadian semalam yang tidak ia ketahui tidak akan mempengaruhi nama baiknya sebagai seorang CEO perusahaan besar.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2